Hamzah Bague Jassin

Sumber gambar: prawny.me.uk

 

Seorang lelaki Gorontalo, terlahir dengan nama Hamzah Bague Jassin, tetapi pada zaman Belanda malah menjadi Hans Bague Jassin (HB. Jassin). Nama itu dikenal di kalangan kesenian dan kebudayaan, khususnya sastra. Beragam puja dan puji masih mengiring kepulangannya sejak 20 tahun silam. Bertepatan dengan hari bersejarah Supersemar, ia meninggal pada 11 Maret 2000. Ia menitipkan sastra Indonesia untuk kita semua sebagai bagian dari laku lampah kehidupan.

Beranda Sastra #17 kali ini menggelar diskusi bertajuk “HB. Jassin: Sang Penjaga Sastra” bersama Eka Budianta, Sunu Wasono, dan dimoderatori oleh M. Hilmi Faiq, di Bentara Budaya Jakarta. Sebermula Eka Budianta mengawali pembicaraan dengan mengajukan beberapa pertanyaan seperti, adakah di antara kita yang pada tanggal 11 Maret lalu ziarah ke makam HB. Jassin di Taman Pemakaman Kali Bata? Apakah generasi masa sekarang mengenal HB. Jassin? Mengapa HB. Jassin penting dipelajari dan diteladani oleh generasi milenial?

Jassin, sedikit saya mengenalnya lewat bacaan dari buku, tuturan pengalaman kawan karib semasanya, dan amatan tidak begitu tajam. Membaca Jassin sebagai kehidupan sastra Indonesia yang utuh-menyeluruh, bukan sekadar nilai-nilai kesusastraan, melainkan kesusastraan nilai-nilai itu sendiri. Sebagaimana kehidupan Jassin seluruhnya tercurah kepada sastra Indonesia.

Keteguhan, kegigihan, ketekunan, keuletan, ketangguhan merupakan sebagian nilai yang terkandung dalam sastra, dan itu dihidupi-jalani Jassin, kemudian dikembangkan lagi. Ia senantiasa berproses bersama sastra Indonesia jangka panjang. Tidak mengherankan apabila sumber utama sejarah sastra kita berangkat dari apa pemahaman dan penjelasan Jassin mengenai sastra. Disadari atau tidak, ia mempunyai otoritas di ranah sastra, dan juga sedia bertanggung-jawab terhadap banyak hal demi kelanjutan sastra, terutama sekali kemaslahatan bersama.

Eka Budianta bercerita tentang permulaan ketika Jassin ditawari kerja sastra oleh Sutan Takdir Alisjahbana, ia langsung menerimanya dan menuju Batavia. Ia membantu dan mengasuh rubrik di majalah sastra pada masa itu. Setiap hari, Jassin gemar membaca apa saja. Baik koran kemudian mengklipingnya. Kadang juga buku lalu memberikan ulasan. Paling sering mungkin karya sastra yang berceceran di meja kerjanya seolah mengharap sekali agar dibaca supaya mendapat kritik darinya. Tanggapan dan kritik Jassin selalu ditunggu para pengarang serta dinanti para penyair. Mereka beranggapan suatu karya yang telah dinilai Jassin merupakan sertifikasi sastra yang keabsahannya hanya ia seorang yang mengesahkannya.

Satu buah hal kita petik dari pohon sastra Jassin, yakni sebagai kritikus sastra menyadari pentingnya dokumentasi. Ya, dokumentasi boleh dikata nasib bangsa. Dalam pandangan Jassin, dokumentasi adalah upaya meluaskan sastra masa mendatang, merawat masa silam, dan memperdalam di masa sekarang. Berkat pendokumentasiannya, Jassin telah banyak menghimpun karya sastra jadi buku. Sebagai manifestan, ia memilah dan menyeleksi karya sastra yang patut dibaca lagi layak dimuat. Ia tidak segan menolak karya yang dianggap menyimpang dari moral sastra yang ia pahami, misalnya seperti ini contoh baik untuk cerpen yang buruk! Baginya, sastra mengajarkan kepada kita untuk siap bertanggung jawab. Begitu pesan yang diburu dan dijejakinya di rimba sastra. Itulah mengapa sekitar tahun 50-an, penilaian sastra menurut Jassin ialah ada perasaan di dalamnya, bahasanya indah, ada logika, ada pemikiran konsep/filsafat, lalu ada keserasian bentuk dan isi. Lima poin ini menjadi patron pengajaran sastra dan metodologi kritik sastra yang kreatif.

Pendokumentasian, bagi Jassin, ialah kerja mengolah nilai-nilai kehidupan. Dari jerih payah pengarsipan, ia telah mewedar kehidupan yang gemah ripah nilai. Sebut saja satu nilai dalam hati sendiri dan itu sudah dalam pengelolaan Jassin. Membaca Jassin berarti menyerap kesusastraan nilai-nilai. Apa pun yang kita ketahui tentang nilai baik dan buruk tergantung pemahaman masing-masing mengenainya. Siapa pun boleh merumuskan sendiri tentang maksud kesusastraan nilai-nilai. Kita sama pembelajar tentang apa yang meng-inti dan paling esensial dari kehidupan sastra Jassin. Ia bekerja di sastra selalu membaca koran, karya sastra, dan beberapa buku. Tak ada waktu tak membaca. Membaca menjadi kerja hidup bagi Jassin.

Pekerjaan Jassin tetap sebagai pengarang, penyunting, dan kritikus sastra. Ia banyak mengasuh di majalah sastra. Pernah berminat pada penulisan cerpen dan puisi, kemudian ditinggal pergi. Menuju kepenulisan kritik serta beberapa ulasan sastra, dan sudah banyak dibukukan. Aktivitas lainnya yaitu menerjemahkan, di samping sebagai editor. Tiada hari tanpa berkutat dengan sastra. Jassin senantiasa menggeliat dan bergulat di sastra. Apa yang dikembangkan Jassin umumnya bersifat edukatif dan apresiatif, ia bersikap sejalan dengan kepekaan dan perasaan ketimbang teori ilmiah sastra, yang sebenarnya kita tahu ia pun mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam hal itu.

Satu nilai lain lagi, ia ke mana-mana selalu membawa buku. Kadang dibagikan secara cuma-cuma (bagi Jassin: tanda ikhlas) kepada teman sejalan. Kadang sebagai hadiah ketika ada teman atau mahasiswanya sedia membaca puisi, atau memang ingin mengajukan pertanyaan penting tentang sastra kepadanya. Ia pun sering menghadiri acara sastra kemudian menulis tentang kegiatannya. Siapa saja tentu menunggu kehadiran Jassin pada setiap gelaran sastra, kenang mereka jika ada Jassin, pembicaraan mengenai sastra menjadi meluas dan mendalam, dengan kata lain lebih berbobot. Agak serius tapi tetap santai, apalagi kalau ia sedang duduk bersama Mochtar Lubis, pembaca dan penulis senang mendengarkan keduanya berbicara. Begitulah Jassin sebagai apresiator, mentor, dan kritikus yang penyayang. Ia mencintai sastra dan manusia seperti tak ada bedanya, barangkali keduanya telah menyatu dan lebur dalam pengayoman dan kepengasuhan hidup Jassin.

Jassin amat menghayati peran saat sastra sedang membutuhkan, bahkan ketika sastra bermasalah di hadapan publik. Di ruang pengadilan, Jassin pernah menjadi hakim ketua, penuntut umum, penasihat hukum, bahkan juga terdakwa. Di sana ia membela sastra dan pengarang dengan akomodatif, kritis, protektif dalam melihat jangka panjang dan kepentingan seluas-luasnya. Berkali-kali sastra menjerat Jassin ke proses hukum, sekali pertanggunganjawab berguna kapan pun saja sesuai apa yang ditulisnya dalam Pembelaan Imajinasi. Ia membela Chairil Anwar yang dianggap plagiat dengan mengatakan tidak demikian karena Chairil telah menerjemahkan puisi dengan baik. Begitu pula kasus heboh sastra tentang pemuatan cerpen “Langit Makin Mendung” Ki Pandjikusmin—yang sampai sekarang hanya Jassin yang tahu orangnya dan ia sangat melindunginya saat pengadilan berlangsung. Sampailah pada polemik menerjemahkan al-Qur’an sebagai “Bacaan Mulia”, saat itu ketika Jassin sedang dirundung duka setelah istri keduanya meninggal, maka setiap gelisah ia kembali membaca al-Qur’an, kemudian timbul niatan untuk menerjemahkan dan itu telah dilakukannya. Tentu masih banyak masalah-masalah lain yang sastra hadapi, meski Jassin hanya seorang diri.

Terhadap para penulis muda yang karyanya dirasa baca dan perlu untuk masyarakat sastra, Jassin harus mencari dan menemuinya. Sekadar memberi tanggapan, saran, pujian, ataupun kritikan. Biasanya kalau tidak kedatangan tamu, Jassin sering bertamu ke rumah siapa saja yang ingin ia datangi. Para penulis pun senang mengadakan pertemuan dan mengajak Jassin omong-omong sastra. Jelas ia juga seorang promotor sastra yang bijak bestari, bakti hidup dan kasih ia dermakan kepada sastra belajar manusia.

Menurut kesaksian Eka Budianta dan Sunu Wasono, ia pribadi yang lembut, pemurah, rendah hati, besar pula hatinya terhadap cercaan dan hinaan, gemar beramal walau tahu ekonominya pun seret, dan gambaran luhur kepribadiannya akan jauh lebih jujur kalau kita sendiri yang belajar kepadanya dengan membaca tentang ia sekaligus karyanya. Sebagaimana tercermin saat Jassin mendapat serangan, entah kritik atau bentuk amarah, ia memilih sikap diam padahal tahu orangnya, sementara kawannya JS. Badudu sungguh teramat kesal ketika Jassin hanya mendiamkan hal itu terjadi. Keadaan demikian justru kerap membikin Jassin khawatir, kalau-kalau seseorang yang mencibirnya akan mendapatkan balasan justru dari kawan-kawan Jassin sendiri yang bereaksi.

Jassin bisa dibilang jauh lebih besar dari semua cacian dan pujian yang diterima. Keduanya sama dapat tempat, masing-masing porsinya seimbang. Hal itu memang tidak melemahkan, malah makin kokoh menguatkan pendiriannya. Dan ia hanya mau menyanggah apa substansi kritik yang ditujukan kepadanya asalkan menurutnya untuk perbaikan, pengajaran, dan pengembangan sastra.

Sebagai dokumentator dan arsiparis, ia siap bertahan dengan data sastra yang dikumpulkannya. Tapi, ia tak sedia mempertahankan kebenaran sendiri, untuk itu ia kadang minta pendapat kawan-kawannya sesudah membaca buku beserta kritik darinya. Agar menimbang-nimbang sendiri menurut pembaca mana yang keliru dan mana yang tepat.

Akan tetapi, kesemuanya itu kembali kepada diri masing-masing, mau atau tidak mau, melanjut-jalani sastra yang telah ia rintis di awal permulaan. Sedia atau tidak, mengolah titipan berupa dokumentasi arsipnya kemudian mengedarkan proses pembacaan sekitar hal ihwal sastra. Sanggup atau tidak, meneruskan apa yang sudah ia mulai sejak mula kelahiran sastra hingga akhir hayatnya, kini tibalah saatnya giliran kita mengambil tongkat estafet membawa sastra ke mana-mana. Sebab tak ada lagi Jassin, tapi paling tidak, biar sedikit semampunya kita turut ambil bagian apa pun itu. Bukan berarti pula kepulangan Jassin ke singgasana Kerajaan Penyair Allah, sama juga berarti menguburkan kritikus sastra. Tidak. Barangkali memang benar di antara kita mungkin tak mampu menjadi kritikus sekaliber Jassin, tapi toh menilai dan menimbang sastra suatu bentuk keharusan juga.

Kedua pembicara mungkin agak kecewa terhadap perkembangan sastra dan kritik dewasa ini. Lantaran tidak adanya penjaga gawang sastra, siapa pun jadi bisa mengklaim dirinya sastrawan ataupun penyair kalau karyanya turut serta menyumbang antologi bersama dan telah menerbitkan sebuah buku. Ya, apa mau dikata ternyata kita tak punya penjaga gawang sastra, yang menahan laju bola (karya) akan masuk goal sastra atau tidak. Melenceng, tertangkap atau terkena tiang gawang. Tapi meskipun tanpa kiper, penendang (penulis) bola belum tentu bisa masuk langsung ke gawang. Artinya, cemas dan khawatir boleh saja, tapi jangan terlalu sampai menyempitkan ruang gerak sastra.

Kita pun tahu Jassin besar jasanya kepada sastra untuk kita semua. Untuk itu sastra masih terus berjalan ke arah kemauan dan tantangan masyarakat sekarang. Sementara kita bisa mulai mengisi data apa yang belum tergarap oleh Jassin. Kembali menyusun, menata dan mengembangkan menuju pendayagunaan seluas-luasnya kehidupan sastra. Semoga dengan demikian turut melangsungkan tongkat estafet titipan Jassin kepada kita. Mengejar sastra yang Jassin telah sampai dan selesai. Di titik inilah permulaan kita merancang-bangun kehendak sastra sekarang. Walau masih jauh, biar selangkah pun gerak namanya.

13 Maret 2020

Syahruljud Maulana
Latest posts by Syahruljud Maulana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.