Hantu Kata

Di Nangamaha, ada pemain caci[1] mati di arena. Bola matanya yang kiri mencelat kala pecut lawan, yang dengan tepat menyasar area wajahnya, ditarik serentak. Darah muncrat. Ngeri mencekam wajah-wajah penonton yang dengan segera menjadi putih; darah turun ke kaki.

“Ada penonton yang sempat tidak bisa napas. Semua tegang. Sunyi sekali. Tapi tidak lama.” Temanku yang melihat peristiwa itu bercerita. “Satu anjing kurus sepertinya bawa kabur itu mata. Babi betul itu anjing!”

Dan, cerita selalu lebih hidup di kepala. Yang kudengar sekarang adalah napas terakhir lelaki malang itu bersama darah yang muncrat. Hrrrrrgh…crooot croot… hrrrgh cro … cr… Pemain caci itu kejang-kejang sebelum napas terakhirnya lepas. Duh! Betapa buruk memikirkan itu tengah malam seperti ini, saat sepeda motorku mogok di jembatan. Rumpun bambu nan lebat sedang menahan cahaya bulan.

Kaing anjing memecah malam. Aku tahu belaka dari cerita turun-temurun, tengah malam adalah waktu hantu bekerja. Hantu tak kasatmata. Jalannya lurus. Menyepak apa saja. Juga anjing kurus yang tak tahu apa-apa. Hantu itu, barangkali arwah pemain caci, mestilah menyepak anjing yang menggondol bola matanya. Ah! Pikiran yang buruk itu kuganti: yang menyepak anjing itu adalah Kata[2] yang datang membantuku. Lalu malam menjadi semakin buruk sebab Kata—yang setengah mati ingin kulupa—segera melahap ingatan.

***

Kata. Katarina. Kekasihku. Dia pernah bilang, jika mati dia akan menjadi penari di langit. Agar aku, semisal sedang dilanda rindu berat, bisa sesekali  mendongak, melihat awan putih serupa perempuan menari. Carik langit biru di tengahnya adalah selendang di pinggangnya. Kalau sampai waktuku, ikatkan selendang biru di pinggangku, Maka. Aku mau seperti Bunda Maria, pintanya ceria di rumah sakit, seolah kami sedang bicara tentang hari perkawinan.

Kata meninggal dunia sebulan kemudian, sebulan sebelum kami menikah. Kuikat selendang biru di pinggangnya. “Seperti selendang Bunda, Katarina. Menarilah di langit!” Kubisikkan ke telinganya yang dingin sebelum peti jenasah ditutup.

***

Angin mengencang, bambu-bambu menari liar, sesekali cahaya bulan berhasil menerobos. Kuengkol sepeda motor sekali lagi. Dua kali, tiga kali, dan lagi. Terdengar bunyi sia-sia di antara suara batang-batang bambu beradu: napasku yang memburu dan mesin yang ikut berjuang tapi tak sanggup hidup. Tangki bensin kubuka. Nyaris kering. Satu sepeda motor melintas, pengendaranya menoleh tanpa sedikit pun menurunkan kecepatan. Barangkali berpikir seseorang sedang sengaja beristirahat sejenak di pinggir jalan; pikiran macam apa itu?

“Memikirkan ini?” Kata tiba-tiba ada di hadapanku.

Dia tunjuk satu benda di tangannya. Bola mata berbalut debu. Kukira jantungku sempat berhenti bekerja. Darah melorot cepat sekali ke ujung kaki. Artinya sekarang wajahku pucat pasi. Mungkin telah seputih wajah Kata sesaat sebelum dibedaki perias jenazah.

“Apa kabar?” Kutanyakan itu dan terkejut karena pertanyaan itu aneh. Yang kupikirkan sebelumnya adalah yang paling benar pada situasi seperti ini: Bukankah kau sudah mati?

“Baik,” jawabnya, “Kau?”

Kami lalu bicara. Seperti dua sahabat yang lama tak berjumpa, berjuang mengais kenangan dengan basa-basi yang canggung. Juga bertukar cerita tentang peristiwa di Nangamaha siang tadi.

Kumulai dengan kisah dari yang kudengar dari temanku:

Tangis seorang perempuan penabuh gendang adalah yang pertama memecah hening panjang setelah pemain caci itu tumbang. Seperti komando bagi suara-suara berikutnya yang mulanya terdengar ragu lalu menjelma riuh tanpa kendali. Udara penuh: jerit histeris, derap kaki berlarian tak tentu arah, teriak panik panitia di pengeras suara yang meminta penonton tak panik, tangis keras anak-anak, raung ambulans, nama Yesus dan Bunda Maria diteriakkan berulang, lengking perempuan memanggil-manggil anak-anak mereka yang tersesat di kerumunan, semprit polisi yang ditiup kencang meminta kerumunan menyibak agar ambulans dapat leluasa mengantar korban, dan suara-suara yang lain.

Kata menyambung dengan cerita yang, menurutnya, sungguh terjadi:

Saat ambulans berhasil keluar dari kerumunan, jiwa pemain caci itu terlepas dari raganya, terbang ke langit, bertemu dirinya lalu mereka saling jatuh cinta.

“Untuk apa? Bagaimana dia bisa segera ke langit?” Aku terkejut (lagi) sebab pertanyaan aneh lainnya keluar begitu saja.

 “Langit adalah tujuan segala jiwa, Makarius sayang,” bisik Kata.

Napasnya meruapkan wangi kesturi. Tak hilang sepanjang dia lanjutkan cerita, seperti merdu suaranya yang tak lekang dari ingatan. “Di langit, waktu tak seperti di bumi,” lanjutnya.

Kuduga, dia katakan itu agar tak mendengar pertanyaan aneh lainnya: bagaimana mungkin dalam waktu yang singkat kalian saling jatuh cinta?

Kata lalu menguji kesungguhan lelaki itu dengan permintaan yang dia pikir lebih sulit dari tantangan mana pun dalam kisah cinta yang dia baca: matanya yang satu lagi.

“Mata?”

“Supaya dia tak lagi lihat perempuan lain,” terang Kata sebelum lanjut bercerita tentang lelaki itu hendak mencongkel matanya yang tersisa, tetapi urung sebab Kata melarangnya.

“Dia harus lihat aku menua.”

“Tapi di langit semua akan abadi, kan?” Pertanyaan aneh lagi.

“Kau tidak takut?”

“Pada apa?”

“Hantu.”

“Tidak pernah!” Aku berbohong.

“Kau masih sama.”

Batang-batang bambu beradu. Melahirkan suara campur-aduk. Atau hatiku yang sedang galau membuat segala bunyi terdengar kacau?

Malam ini memang telah lama rusuh—sejak seorang teman bercerita bahwa pemain caci itu mengalami nasib sial sebab sebelum bertanding dia kencing di compang. “Kencing di altar doa adat itu dosa besar. Nenek moyang ada di sana. Itu laki-laki kena kutuk,” begitu ceritanya.

Aku pernah dengar kisah seperti itu. Pantangan bagi lelaki yang hendak turun ke arena caci: bercinta pada malam sebelum turun gelanggang, peralatan caci disentuh lawan jenis ketika akan bertanding, memaksakan jam bertanding ke panitia pagelaran.

Menurut temanku, pemain caci yang mati itu juga melakukan hal terakhir, yang membuatnya dikutuk dua kali: bola mata copot, nyawa lepas. “Itu baru dua hal. Kita tidak tahu apa yang dia buat tadi malam,” tambahnya.

Kuceritakan itu kepada Kata:

“Tadi belum gilirannya turun. Dia paksa panitia karena yang akan turun di pihak lawan adalah mantan dari pacarnya. Sebelumnya dia kencing di compang. Tidak tahu juga persisnya karena aku tidak ke Nangamaha.” Tak kuceritakan dugaan lain bahwa pada malam sebelumnya dia bercinta dengan seorang gadis di belakang ratak, kemah yang disiapkan penyelenggara bagi para petarung yang datang dari tempat-tempat yang jauh.

“Iya. Kau di kamar seharian merindukanku.”

Kata bilang begitu sembari menimang bola mata di tangannya. Lalu mendekat. Mengecup keningku sebelum meludah ke tangki sepeda motor yang masih terbuka, kemudian menghilang bersama angin yang bertiup lebih kencang. Wangi kesturi tertinggal. Aku hampir kencing di celana. Takut luar biasa. Bertemu hantu Kata.

Satu sepeda motor berhenti. Pengendaranya turun. Menawarkan bantuan menghidupkan sepeda motorku. Aku setuju saja. Pertanyaan ‘mengapa kau mau melakukan itu’ kukira tak akan berguna,  telah terlalu banyak peristiwa terjadi tanpa persetujuanku hari ini.

Dia melakukannya. Berhasil dalam sekali engkol. Sebelum sempat kusampaikan terima kasih, lelaki itu telah ada di sepeda motornya. Perempuan di boncengannya melempar sesuatu sembari mengatakan sesuatu, tentang kenangan atau semacamnya. Tak terdengar jelas sebab batang-batang bambu beradu semakin kencang. Kutangkap. Berlendir. Dengan bantuan cahaya bulan yang akhirnya berhasil mengintip, aku tahu itu bola mata. Kulempar sekuat tenaga lalu tak ingat apa-apa lagi.

***

Hari ini aku bangun pukul sepuluh. Tak ada yang berubah di kamarku. Deret buku di rak tetap tak rapi. Kuingat, kemarin hendak kubereskan tapi tak selesai setelah foto Katarina kutemukan tersembul dari buku Puisi-Puisi Cinta W.S Rendra tepat di halaman “Bunga Gugur”, peristiwa yang membatalkan niatku ke Nangamaha dan menghabiskan siang yang panjang merindu Kata lalu memutuskan berhenti bersedih pada sore hari—mengunjungi temanku sebab berkumpul dan mendengar cerita adalah cara terbaik menghalau rindu.

Dari kamar kudengar seseorang memaku-maku sesuatu di teras depan sembari berdendang. Sepupuku sedang sibuk membuat kotak kecil. “Aku minta maaf, Kak. Kemarin tidak sempat pamit. Tadi malam, pulang langsung tidur. Dan mimpi buruk berkali-kali sampai Kakak pulang. Tapi sekarang aman,” katanya ketika kuhampiri.

Setelahnya, begitu banyak peristiwa yang kami lalui hingga langit barat memerah.

***

Setelah memasukkan bola mata yang kemarin dipungutnya dari Nangamaha ke kotak yang dibuatnya, dia ajak aku ke rumah duka. Dia tahu alamatnya dari temannya di rumah sakit. Kami antar bola mata lelaki malang itu untuk dikuburkan bersama jenazahnya. Dalam perjalanan, kusempatkan mendongak. Awan putih membentuk sepasang pengantin berdansa. Kenapa kau tak menungguku? Kutahan air mataku sebelum akhirnya lepas di rumah duka, entah untuk siapa. Puisi “Bunga Gugur” menari di kepala: … Baiklah kita ikhlaskan saja/ tiada janji ‘kan jumpa di sorga/ karena di sorga tiada kita ‘kan perlu asmara …

***

Sepupuku bercerita. Ketika penonton di Nangamaha hiruk-pikuk ketakutan, dia bertarung dengan seekor anjing yang berusaha memakan bola mata pemain caci itu. Dia menang. Bola mata itu dia selamatkan. Terpaksa dibawanya pulang dengan ngeri sebab tak berhasil menemukan orang-orang yang bersedia dititipi padahal belum tahu rumah lelaki itu dan hari sudah hampir malam.

“Eh, siapa yang tadi malam antar Kakak pulang? Sepasang kekasih sepertinya. Yang perempuan cantik sekali. Pakai selendang biru. Laki-lakinya pakai penutup mata sebelah seperti bajak laut. Malam-malam. Aneh sekali,” katanya.

“Kau yang aneh. Bawa orang punya bola mata ke sini,” gerutuku. (*)


[1] Caci, tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang lelaki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Manggarai – Flores, Indonesia.

[2] Nama Kata diambil dari lagu balada Manggarai karya Makarius Arus, Oe Kata E …. Cerpen ini adalah interpretasi bebas terhadap lagu itu.

Armin Bell
Latest posts by Armin Bell (see all)

Comments

  1. Cordinus Magul Reply

    Mantap om Armin. Saya baru tahu pantangan bagi para pemain caci… 😄😄

    • Armin Bell Reply

      Hehehe… Terima kasih banyak, Kae.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!