Helm di Kepala, Helm di Sejarah

Sebulan sebelum hari coblosan, 17 April 2019, koran-koran sesak urusan politik, dari berita sampai iklan. Di halaman-halaman besar, iklan dari KPU, partai politik, dan caleg sering mengecewakan mata pembaca merindui hal-hal keseharian: enteng dan berhikmah. Kangen berita berhikmah ditebus di Solopos, 29 Maret 2019. Berita berjudul “Sempat Dicuri, Helm Dikembalikan Disertai Surat” mengingatkan kita pada helm, bukan surat cinta atau surat suara.

Pada Rabu, 20 Maret 2019, Devi kehilangan helm saat berdinas di Puskesmas Penumping (Solo). Helm itu tiba-tiba kembali dilengkapi surat, 28 Maret 2019. Isi surat: “Mohon maaf sebelumnya. Manusia tak lepas dari sempurna. Kemarin aku khilaf berbuat jahat mengambil helm hitam ini karena pikiran lagi galau atau stres, isteriku masuk rumah sakit. Terpaksa mengambil helm ini, tak gadaikan temanku dulu buat beli obat. Dan sekarang dapat kasbon dari PT. Terus aku tebus helm ini. Aku kembalikan lagi. Aku niat kembalikan helm ini. Aku sadar telah berbuat dosa. Dan kelak dosaku biar diadili Gusti Allah.” Helm itu bagus berharga mahal. Helm dipilih dalam mengatasi masalah istri sedang sakit. Suami ingin bertanggung jawab meski mencuri. Helm jadi ingatan tentang dosa.

Berita itu mungkin berumur sehari di koran. Orang-orang lebih senang memandangi poster film dengan adegan Dilan naik motor tanpa mengenakan helm. Di belakang, ada si kekasih. Gadis tanpa helm. Dua remaja itu sering muncul di koran dalam jadwal pemutaran film di bioskop-bioskop. Dilan memang cakep jika tak berhelm. Milea tanpa helm tampak anggun. Rambut diterpa angin menambahi kecantikan. Helm kadang masalah bagi kaum remaja atau kaum muda. Puluhan tahun lalu, helm itu bikin repot dan “memalukan”. Kita belum mendapat berita bahwa Dilan-Milea kehilangan helm setiap hari. Mereka memutuskan tanpa helm saja ketimbang dicuri. Dua orang itu malah telanjur saling mencuri perasaan. Asmara mereka tanpa helm. Kita berdoa asmara mereka selamat di jalan, tak jatuh terluka atau kepala membentur jalan. Helm sering dilupakan dalam asmara, dari dulu sampai sekarang. Sepasang kekasih berkelana di jalan tak berhelm belum merasa itu salah atau dosa.

Di luar urusan pencurian dan asmara, helm itu simbol di bisnis ojek abad XXI. Sekian tahun terakhir, mata kita sering melihat helm berwarna hijau di jalan-jalan. Pengguna helm itu penumpang atau pengguna jasa ojek daring. Pengemudi mengenakan helm pelbagai warna. Helm hijau  itu memiliki dua nama sedang saling bersaing dalam industri ojek. Pilihan warna bisa sama mungkin berpikiran itu sejuk, cerah, makmur, dan lekas terekam tatapan publik. Ingat helm hijau, ingat bisnis ojek daring. Orang duduk di belakang wajib mengenakan helm agar selamat dan “mengiklankan” sepanjang perjalanan. Menaruh helm hijau di kepala ada harga atau tarif. Di Kompas, 29 Maret 2019, kita membaca laporan penentuan tarif batas bawah bagi ojek daring. Di situ, kita melihat gambar helm hijau ditaruh di atas meja. Lihatlah, ada dua kursi! Siapa bakal duduk di kursi mau bersantap helm? Eh, helm itu simbol makanan. Sekian orang boleh membantah dan mengajukan usul: “Pakailan helm saat kencan makan bersama kekasih!”

* * *

Pada masa lalu, helm jadi dalih polisi bekerja keras di jalan. Polisi bertugas mengadakan tertib di jalan. Para pengguna jalan diusahakan selamat tanpa kecelakaan berakibat luka dan kematian. Di jalan, helm itu penting di pemenuhan undang-undang. Orang mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan helm berarti melanggar. Ia harus diadili! Hukuman berupa denda duit. Orangtua menasihati pada kaum muda sering berkeliaran di jalan: “Pakailah helm sebelum mendapat hormat dari polisi. Helm membuatmu selamat. Helm menghindarkan kepalamu dari panas matahari. Helm tak membuatmu kehilangan ketampanan dan kecantikan. Helm itu menandai tertib lalu lintas dan terhindar dari kemungkinan memberi duit denda.”

Di Indonesia kebijakan bagi para pengendara sepeda motor mengalami masa-masa sulit. Publik menolak dan menggugat. Orang-orang berani mengejek itu kebijakan murahan. Ingat kebijakan helm, ingat polisi bertubuh ceking bernama Hoegeng. Pada masa Orde Baru, ia menginginkan helm wajib dikenakan para pengguna jalan. Ia sabar dan berani  meladeni segala cemooh dan gugatan. Argumentasi kebijakan terang: disiplin, selamat, tertib.

Kita menilik masa lalu helm di Indonesia dengan membuka majalah Tempo, 17 Januari 1976. Helm itu penting! Iklan bergambar helm memiliki pesan: “… iapun dapat berjasa bagi anda!” Pada masa 1970-an, helm masih benda aneh, lucu, dan wagu. Orang menduga benda itu berat di kepala. Helm membikin hidup semakin sumuk. Helm memicu pusing. Helm mengingatkan astronot dan robot-robot. Semula, orang-orang cekikikan dan emoh mengenakan helm. Benda itu harus dibeli sebelum ada di atas kepala. Orang-orang pelit membelanjakan duit untuk helm.

Di bawah gambar helm, pembaca disodori laporan kematian di jalan. Jumlah korban kecelakaan di Jakarta: 1969 (214 orang), 1970 (243 orang), 1971 (256 orang), 1972 (291 orang), 1973 (324 orang). Jumlah terus meningkat, dari tahun ke tahun. Laporan berguna dalam memberi seruan agar orang-orang berhelm: “Menurut catatan para ahli bedah korban kecelakaan lalu lintas yang mati pada umumnya disebabkan benturan pada kepala.” Nah, lindungilah kepala dengan helm! Konklusi dari iklan: “Pakai helm, lebih selamat.”

Polisi dan pelbagai pihak rajin berkhotbah helm. Orang-orang masih sulit menurut. Mereka selalu memiliki dalih agar kepala terbebas dari helm. Kebebalan itu berlangsung puluhan tahun. Helm belum idaman. Helm masih benda langka. Pihak produsen sepeda motor turut mengakali dengan memberi hadiah jaket dan helm bagi para konsumen. Pemberian hadiah itu dimaksudkan membenarkan undang-undang lalu lintas. Helm-helm memiliki merek Honda, Suzuki, atau Yamaha menandai ada ajakan berhelm. Pengguna tak mengingat helm itu dibeli tapi hadiah.

Helm masih masalah rumit di masa 1980-an. Di majalah Kartini edisi 26 Agustus-8 September 1985 kita melihat karikatur bertema helm. Kita melihat ibu berdandan anggun mengendarai skuter. Ibu itu memakai gelungan. Rambut tampak “membesar” tapi elok. Oh, kaum ibu dulu berdalih tak mengenakan helm gara-gara bersanggul atau pakai gelungan. Helm bakal merusak tatatan rambut dan menambahi beban di kepala. Ibu molek itu mendapat peringatan polisi dengan menujuk papan bertuliskan: “Anda Memasuki Kawasan Wajib Helm.” Pada hari berbeda, ibu itu melintas lagi dengan tampilan berbeda. Polisi diam melihat ada ibu mengenakan helm berukuran besar memiliki antena. Duduk di belakang, si bocah berlagak mengenakan helm berupa topi meniru tokoh kartun dari Amerika Serikat. Ibu itu memenuhi kewajiban berhelm.

* * *

Helm mengakibatkan demonstrasi. Dulu, kaum mahasiswa manjadikan helm sebagai tema perlawanan dan gugatan demi demokrasi. Penerapan aturan kewajiban berhelm bagi pembonceng kendaraan bermotor dilawan dengan demonstrasi. Berita dimuat di majalah Jakarta Jakarta, 20-26 November 1987. Berita mungkin sudah dilupakan saat Indonesia semakin menjadi negara moncer gara-gara jumlah kendaraan bermotor terus bertambah. Puluhan juta orang rajin membeli sepeda motor pelbagai merek, mengendarai sepeda motor di jalan-jalan beraspal di desa dan kota. Jumlah sepeda motor mungkin dilampaui jumlah helm.

Petikan berita: “Sabtu, 31 Oktober 1987. Pukul 09.00. Demonstrasi antihelm pecah di Ujungpandang. Ribuan pemuda di kota terbesar Indonesia Timur itu turun ke jalan dengan tingkah beringas. Para pengendara sepeda motor mereka cegat. Helm-nya diminta, lalu dibanting sampai pecah. Mereka melintas dari satu jalan ke jalan lain. Dari mulut mereka, tak henti-henti terdengar yel-yel dan teriakan anti-wajib-helm. Semakin panjang mereka berjalan, jumlah massa semakin bertambah. Di antaranya ada yang tampak mengenakan seragam pelajar dengan lambang OSIS. Jumlah pengendara sepeda motor yang mereka cegat juga semakin banyak. Pecahan helm tumpah ruah di mana-mana.”

Kaum muda abad XXI pasti tak pernah memiliki kliping bahwa masa lalu helm di Indonesia adalah demonstrasi dan kematian. Sekian orang dalam demonstrasi diberitakan terluka dan tewas saat para petugas melakukan pembubaran demonstrasi. Peristiwa itu menimbulkan prihatin di kalangan mahasiswa di pelbagai universitas. Mereka memutuskan maju ke DPR RI untuk memberikan seruan dan penentuan sikap atas helm. Masalah semakin rumit.

Puluhan tahun berlalu dari demonstrasi, kita mudah melihat kaum muda mengenakan helm warna-warni. Lihatlah, gambar bunga-bunga di helm milik gadis. Di helm khas lelaki, kita melihat ada gambar dan stiker bertema musik, film, dan komunitas. Helm malah sempat jadi tempat pameran kata-kata dan gambar. Pada abad XXI, kaum muda sadar berhelm tapi peka estetika dan kemanjaan. Helm mereka pun mahal. Helm jarang ditaruh di sepeda motor. Mereka memilih menitipkan pada petugas parkir. Pada suatu masa, kita juga melihat helm terus ada di kepala. Orang berjalan atau masuk ruangan tetap berhelm seperti sedang berkeliaran di Bulan. Konon, helm itu berharga jutaan rupiah. Helm berat dan sulit pecah meski dihantam seribu tangan.

Estetika helm abad XXI ditambahi helm di bisnis ojek daring. Perkara helm malah kebablasan ke politik. Di Solo, kita mendapat berita ada helm digambari tokoh politik di hari-hari menjelang coblosan. Helm mulai tema besar dan menggemaskan tapi tetap ada di peristiwa kecelakaan menambahi daftar korba terluka dan tewas di jalan. Sejarah helm di Indonesia mungkin bukan perkara besar di Indonesia. Kita diam-diam menanti ada orang sinting mengerjakan skripsi atau disertasi mengenai helm. Nah, garapan ilmiah itu kelak diterbitkan agar jadi bacaan mengingatkan dan berhikmah. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    menarik 😀

  2. Anonymous Reply

    LIKE THIS

  3. Anonymous Reply

    Keren mas 😄

Leave a Reply

Your email address will not be published.