Hijrah Atawa Habis Gelap Menuju Terang

society6.com

 

Monolog:

Agus R. Sarjono

Sodara-sodara sekalian, kalian mungkin tidak tahu betapa gelapnya hidup saya dulu. Gelap yang segelap-gelapnya. Bayangkan, saya bekerja di sebuah bank, dan saya melihat semuanya: sebagian samar-samar, sebagian terang benderang. Yang samar-samar misalnya segala macam pengeliruan Bank, kongkalikong dengan cukong soal penilaian agunan dan jumlah pinjaman, dan sebagainya dan lain-lainnya. Karena sebagian besar urusan beginian sering ada kaitannya juga dengan politik, maka saya tidak akan membicarakannya. Apa? Takut? Bukan! Sama sekali bukan karena takut.  Betul, belakangan ini ngomongin politik risikonya makin besar. Risiko ngomongin politik sekarang ini sama dengan harga barang kebutuhan sehari-hari, terus naik, tidak ada tanda-tanda bakal turun. Tapi bukan karena soal takut risiko saya menghindar isu politik.  Sekali lagi tidak! Isu politik sekarang ini saya hindari karena betul-betul tidak ada manfaatnya sama sekali. Lebih banyak mudharatnya.

Si Abu Bhersin, teman dekat saya itu, benar-benar sudah membuat saya pangling. Bayangkan saja, tiap hari tambah beringas, kayak habis makan cabe 12 biji ditambah jangkrik 3 biji. Stel kenceeeeng. Semua dilabrak dan dilindas habis dengan retorika dia yang keras, murah meriah, dan searah. Mertua, tetangga, teman sekerja, dilabrak habis tanpa pandang bulu, tanpa pandang jenggot, tanpa pandang kumis. Bahkan, tanpa pandang jenis kelamin. Caranya dia bicara itu lho, seolah-olah kalau calon yang didukungnya menang dia bakal merangkap jadi 3 mentri sekaligus. Apa? Enggak! Enggak! Dia enggak kenal secara pribadi sama calon yang dia dukung habis-habisan. Pernah ketemuan juga enggak. Apa? Bagaimana kenalnya? Ya lewat TV dan medsos, dong. Apalagi sekarang semua orang tahu medsos itu uber alles. Ngerti enggak uber alles? Apa Uber Car? Kayak Go-jek gitu, ya? Bukan! Uber alles itu istilah Jerman yang digunakan pada masa… ah sudahlah, saya jelaskan juga belum tentu pada mengerti. Nah, waktu tokoh yang dia dukung abis itu bergabung dengan tokoh yang dia benci abis, kalian harusnya lihat muka dia. Muka dia itu betul-betul jajaran genjang, bahkan sudah mendekati trapesium.

Ehh, sampai mana tadi? Kok ngelantur, ya. Oh iya, tentang betapa gelapnya hidup saya dulu. 7 tahun bekerja di bank, bayangkan! 7 tahun bergelimang dengan urusan riba. Riba itu seperti bara, bara api yang menyala. Orang bunyinya saja hampir sama: riba-bara, bara-riba. Untunglah sekarang saya sudah hijrah! Sudah berhenti total. Memang, pada awalnya saya dan keluarga saya merasa berat. Maklum biasa dapat gaji lumayan tiba-tiba berhenti bekerja. Memang, awal-awalnya sih jadi membebani orang tua karena harus mensubsidi kebutuhan keluarga kami. Tapi enggak apa-apa, wajar kan kalau orang tua berkorban untuk anaknya yang ingin masuk surga.

Tapi sekarang sudah aman. Saya putuskan untuk menolak bekerja di mana pun. Kata ustadz di YouTube juga, secara agama lebih afdhol berdagang daripada bekerja. Ustadz itu juga bilang bahwa dia lebih menghargai pedagang kakilima daripada karyawan. Maka, saya memutuskan untuk bisnis saja. Dan ingat, bukan sembarang bisnis, tapi bisnis yang syar’i: minyak wangi, madu, sorban, tasbih, pokoknya barang-barang yang suci. Saya juga tidak mau bisnis besar-besaran, selain memang tidak ada modal juga kan bisnis besar butuh karyawan. Nah, siapa coba yang mau jadi karyawan saya, kan kata ustadz lebih berharga pedagang kakilima daripada karyawan. Kalau agama kita tidak menyukai karyawan kan munafik kalau kita justru membuat orang seagama jadi karyawan kita. Tidak ah, kami kan bukan orang macam itu. Oh ya, kalau saya bilang minyak wangi, jangan salah paham dan tertukar dengan parfum. Parfum itu kan tidak jelas halal-haramnya, mana mereknya semuanya berbau kafir. Ini bukan parfum, tapi minyak wangi. Sekali lagi, minyak wangi! Nama-namanya juga Islami, seperti “Kasturi”, “Al Ajib”, “Syukron wa Gufron”, “Eabir al Shadha”, dan banyak lagi. Pokoknya semuanya halal.

Bagaimana? Sama saja? Tidak lah, tidak sama saja. Parfum itu hampir semuanya mengandung alkohol. Alkoholnya bukan sedikit, lho. Sudah jelas dalam agama alkohol yang menjadi biang minuman yang memabukkan itu sangat dilarang. Kalau perlu di sini saya kutip beberapa dalil yang saya download dari internet mengenai keharaman alkohol dan hal-hal yang memabukkan. Karena alkohol adalah minuman yang memabukkan, dan minuman yang memabukkan haram hukumnya, maka jelas sekali kan bahwa alkohol itu haram. Makanya sodara-sodara sekalian, hati-hati, jangan sembarangan. Rasul kita menyunahkan untuk memakai wangi-wangian, tapi ingat jangan sampai badan kita dikotori oleh wangi-wangian yang beralkohol, karena sekali lagi alkohol itu haram hukumnya. Jangan sampai kulit kita ternoda cairan yang memabukkan.

Dulu itu, bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik, akhi dan ukhti, betapa mengerikan kalau saya ingat seluruh hidup saya. Hampir tiap hari tidak pernah tidak berbuat dosa, dengan setan pun seperti sudah saudara. Bayangkan, setiap hari saya makan-minum secara sembrono. Maklum masih jahiliah. Belum tahu mana yang syar’i mana yang tidak. Sering sekali dulu saya makan, minum, ngemil, pakai tangan kiri. Padahal, jelas sekali makan pakai tangan kiri itu salah. Hanya setan yang makan dengan tangan kiri. Saya ngeri membayangkan hidup saya sebelum ini. Bayangkan, kalau sehari saya memasukan makanan dan minuman besar dan kecil dengan tangan kiri sebanyak 33 kali saja, maka dalam setahun paling tidak saya sudah melakukan 356.400 dosa. Kalau itu dikalikan dengan usia saya sekarang, maka 356.400 X 33 = hampir 12 juta dosa. Dosa saya ini pasti lebih besar dibanding dosa setan dan iblis, karena setahu saya setan dan iblis memang makannya pakai tangan kiri, tapi mereka tidak pernah ngemil. Karena iblis tidak pernah ngemil, maka jelas jumlah makan pakai tangan kiri manusia lebih banyak dari iblis. Ini belum ditambah pakai jajanan-jajanan lain seperti seblak, tahu dinamit level 1-6, bakso, kue kamir, dan kebab.

Dosa tadi, sodara-sodara, belum ditambah dengan dosa main musik dan mendengarkan musik. Lho, iya, dulu jelek-jelek begini saya itu anak band, lho. Bahkan, istri saya si wanita sholehah itu, dulu meleleh hatinya waktu saya tampil main band. Saya masih ingat kok lagunya, begini.

I can tell by your eyes that you’ve probably been cryin’ forever

And the stars in the sky don’t mean nothin’ to you, they’re a mirror

I don’t wanna to talk about it, how you broke my heart

If I stay here just a little bit longer

If I stay here, won’t you listen to my heart, whoa, my heart?

(Ke samping) Astaghfirullah, kok saya mengotori mulut saya dengan lagu dan musik, sih. Tuh kan, tambah lagi dosa saya. Sebetulnya, sejak hijrah, saya dan istri saya suka sama lagu ini nih.

Oh ya jamalu ya jamalu

Oh ya jamalu ya jamalu

Oh ya jamalu ya jamalu

Sidnan nabi ya jamalu

 

Lagu ini lagu religius, lho. Yah, tapi musik tetap musik, haram hukumnya. Baik musik religius apalagi musik yang tidak religius, tetap haram. Lebih khusus bil khusus musik dangkal seperti dangdut koplo itu, Ya Allah, pasti merusak moral. Jelas! Hayoh siapa di sini yang suka dangdut koplo? Pasti kan di kepalanya isinya cuma goyang melulu.

Dosa saya makan dengan tangan kiri kalau digabung dengan dosa saya mendengarkan apalagi memainkan musik, kan banyak banget. Ngeriii membayangkannya. Semua ini masih ditambah muka kelimis yang ingkarussunah. Kumis boleh klimis, tapi jenggot? Yah, walaupun bulu kita tidak selebat bebuluan timur tengah, tapi jenggot harus lah dipelihara. Pakai jenggot lebih afdhal dibanding tidak pakai jenggot. Siapa tadi yang nyeletuk “ciee milenial, ikut tren pemain sepak bola ternama ya!” Maaf ya, meskipun Lionel Messi atau Metallica pakai jenggot, tapi itu kan jenggot yang duniawi sifatnya. Bukan jenggot ukhrowi. Kasusnya mirip wangi-wangian versus parfum. Dari dua contoh tadi saja jelas, si Metallica itu kan haram karena musik haram. Sedangkan Messi dan sepak bola memang belum, tapi tunggu aja tanggal mainnya. Paling sebentar lagi juga haram.

Hidup di zaman sekarang itu kudu kuat. Di mana-mana godaan melulu. Koran isinya godaan. TV isinya godaan. Internet, wahhhhh itu biangnya godaan. Itu sebabnya kita harus membatasi pergaulan supaya tidak tercemar. Kalau kita bergaulnya dengan yang se-ikhwan kan aman. Kepercayaan dan keyakinan kita mengenai agama makin hari jadi makin teguh. Tidak gampang diganggu pikiran aneh-aneh, aliran aneh-aneh. Itu sebabnya di hp saya, saya pasang gambar ustadz saya sebagai foto profil supaya setiap saat setiap waktu saya ingat sama pengajian-pengajiannya. Dengan berpegang pada satu ustadz maka keyakinan kita akan teguh. Asas tunggal itu bagi saya bukan Pancasila, tapi satu ustadz saja. Tidak terombang-ambing aliran ini aliran itu. Tidak terpeleset ke bid’ah. Padahal semua bid’ah itu dholalah. Dan ujungnya pasti naar, api neraka. Hiiiy, ngeri, kan.

Saya kadang-kadang itu enggak ngerti, kenapa ya mereka yang disebut kiai dan ulama kok sering sekali berbuat salah. Banyak dari mereka kelihatannya ngajinya sudah sangat lama, bahkan mungkin dari sejak muda, tapi kok bisa kalah pengertiannya sama ustadz kami, padahal ustadz kami yang cerdas dan brilian itu kelihatannya belajar agamanya juga baru kemarin-kemarin, bahasa Arabnya juga istilahnya paling pol masih intermediate, lah. Tapi, mungkin penyebabnya kecerdasan dan kebrilianan itu, ya. Iya, dong. Coba apa selain itu? Ngajinya kalah lama sama mereka, bahasa Arabnya kalah fasih sama mereka, tapi banyak dari para kiai itu tidak tahu bahwa makan dengan tangan kiri sama dengan cara makan iblis. Tidak tahu mana yang bid’ah mana yang syar’i. Istrinya saja kerudungnya pada pendek, sama sekali tidak syar’i. Dengar-dengar katanya dari mereka ada yang menulis kitab dalam bahasa Arab, entah kitab apa saya juga tidak tahu, di pengajian kami juga tidak dibahas. Sudah ditulisnya pake bahasa Arab yang kita enggak ngerti, paling-paling juga isinya urusan bid’ah. Ustadz kami itu lain, dong. Karena cerdas dan brilian, ustadz kami dengan jelas, tegas, tanpa keraguan, tanpa waswas, tahu persis mana yang haq dan mana yang batil. Tahu persis kerudung yang syar’i itu ukurannya seberapa, dari mana ke mana, kainnya sepanjang apa. Tahu persis celana lelaki itu ukurannya sampai mana! Tahu persis bulu apa saja yang boleh dan tidak boleh bertengger di wajah lelaki. Jelas dan gamblang!! Tidak ragu-ragu dan plin-plan kayak ulama tua itu. Tahu persis mana yang berhak masuk surga dan mana yang pantasnya masuk neraka. Karena memang cerdas dan brilian, ustadz kami bisa melihat dengan sejelas-jelasnya bahwa sistem yang berlaku sekarang ini adalah sistem thogut! Sudah sistem thogut masih banyak berkiblat ke barat, padahal barat jelas-jelas thogut! Jadi thogut pangkat dua.

Ehhh tapi urusan sistem politik dan perthogutan itu saya sebetulnya tidak begitu jelas, istri saya juga waktu saya tanya tidak begitu mengerti. Jadi, urusan-urusan ruwet semacam ini kita kesampingkan saja. Kalau sampeyan mau tahu juga, ikut saja pengajian ustadz kami, beliau sih semuanya tahu jelas. Beliau tahu jelas hitam putihnya semua urusan. Tentu saja kalau dunia kita ini dibagi menjadi dua, yaitu hitam dan putih, jelaslah ustadz saya itu hanya dan hanya dan hanya di pihak putih. Tidak seperti kebanyakan kiai lama yang tidak jelas hitam-putihnya, bahkan serba abu-abu. Mutuskan siapa yang masuk neraka siapa yang masuk surga saja tidak mampu! Itu sebabnya sejak saya dan istri saya mengaji pada beliau kami juga pelan-pelan jadi menyadari dan tahu betapa hitamnya jalan yang kami tempuh dulu, betapa hitamnya jalan yang kalian tempuh sekarang. Beragama kok pada enggak pakai ilmu, makanya salah semua. Makanya, ngaji dong sama ustadz kami yang cerdas dan brilian itu, biar pada tahu mana yang benar, biar pada punya ilmu.

Waktu kita tidak banyak. Maka sodara-sodara, para ikhwan dan ukhti, mari sama-sama kita tinggalkan cara hidup yang hitam dan berpindah alias hijrah ke cara hidup yang putih seperti kami dan kelompok kami. Ingat, agama kita itu akan terpecah jadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Kan kasihan dan rugi kalau kita sudah cape-cape beribadah, ibadahnya tidak diterima malah masuk neraka. Saya sering kasihan kepada ke-72 golongan lain yang terancam masuk neraka itu. Apakah sodara-sodara mau? Tidak, kan? Makanya segera bergabung dengan pengajian dan ustadz kami. Insya Allah selamat. Bukankah sodara-sodara pernah mendengar lagu lawas

Insyaflah Wahai Manusia

Jika Dirimu Bernoda

Dunia Hanya Naungan

‘Tuk Makhluk Ciptaan Tuhan

Dengan Tiada Terduga

Dunia Ini Kan Binasa

Kita Kembali Ke Asalnya

Menghadap Tuhan Yang Esa

Dialah Pengasih Dan Penyayang

Kepada Semua Insan     

Astaghfirullah! Astaghfirullah! Kok saya nyanyi lagi, sih? Padahal saya sudah tahu bahwa musik dan lagu itu haram. Astaghfirullah! Wuaduhh, saya yang sudah hijrah saja masih mudah terpeleset dan lupa apa lagi mereka yang belum, ya. Pasti setiap detik kepeleset. Ngeriii.

Sodara-sodara, hati-hati kalian yang belum hijrah. Saya tahu kalian itu belum pada hijrah. Buktinya, kalian tidak membeli barang-barang syar’i seperti minyak wangi, madu, sorban, tasbih, dan barang-barang suci lainnya yang saya jual. Kenapa kalian tidak meninggalkan barang-barang yang subhat dan membeli barang-barang syar’i dari saya. Kalau sodara-sodara beli wewangian dari saya, yang mereknya saja sudah jelas islami, daya pikat wewangian itu bukan sembarangan, lho. Kalau yang memakai lelaki, yang akan terpikat itu adalah perempuan-perempuan sholehah, dan kalau yang memakai perempuan yang tergoda itu lelaki-lelaki sholeh. Yang saya jual itu bukan wewangian beraroma berahi, tetapi wewangian beraroma surgawi. Yang benar saja, masak sudah seminggu lebih belum juga ada yang beli! Para selebriti saja andaikan tahu bahwa di dunia ini ada wewangian beraroma surgawi pasti akan beli, apalagi kaum yang sholeh dan sholehah. Tapi mengapa, mengapa kaliah enggan membelanjakan uang kalian di jalan yang suci? Why? Astaghfirullah, jadi kelepasan lagi pakai bahasa kafir. Astaghfirullah hal adzim.

Okelah kalau memang kalian tidak mau berwangi-wangi, mau dibiarkan saja badan berbau macam itu, tapi paling tidak jaga kesehatan dong. Apa lagi coba yang lebih menyehatkan selain madu? Apalagi kalau madunya ditambah dengan habatussaudah! Daripada berpikir pada mau memadu istri dan daripada para istri cemas takut dimadu, kan lebih baik mengkonsumsi madu betulan. Dijamin sehat. Dijamin halal.

Dasar kalian ini orang yang keras kepala tak mau hijrah juga. Madu, sorban, tasbih, dan macam-macam dagangan saya yang serba baik itu masak iya sih sudah hampir dua minggu tidak ada yang laku. Bangsa ini bangsa apa? Betul sekali ucapan ustadz saya bahwa sistem yang ada sekarang ini sudah tidak beres dan harus segera diganti karena tidak sesuai dengan syariah. Coba kalau cita-cita suci ustadz saya untuk mendirikan khilafah berjalan lancar dan sukses, pasti kan undang-undang dan sistemnya tidak akan ngawur seperti sekarang. Di negara khilafah, pastilah wewangian, madu, sorban, tasbih dan barang-barang suci yang saya jual tentunya akan dijadikan kebutuhan pokok. Pasti tidak ada lagi warga negara di bawah khilafah yang tidak pakai wewangian yang syar’i. Jelas kan, memang sudah waktunya kita dirikan negara khilafah!!

Eh, tentang apa yang saya bilang tadi, yaitu yang tentang khilafah-khilafah itu, tolong hanya terbatas buat kita saja ya, jangan disebarluaskan. Betul lho! Kalau begitu terima kasih ya. Eh bukan! Bukan terima kasih, tapi jazakumullah! Saya pulang dulu ah, mau segera sholat Isya. Oh ya, jangan lupa malam ini idola saya Moh. Salah akan bertanding. Saya juga sebetulnya suka sama Mane dan terutama Klopp, tapi yang muslim kan Moh. Salah, jadi saya itu akan nonton demi Moh. Salah, bukan demi yang lain-lainnya. Apa? Haram? Enak saja, ini sepak bola Bro, bukan catur!! Sepak bola sih tidak haram. Moga-moga jangan diharamkan, kalau haram, hiburan kita apa dong? Apa!! Poligami?? Hey jangan keras-keras, itu istri saya sedang menuju ke sini. Iya, iya sudah, jangan bahas-bahas poligami, kalian mau bikin rusuh rumah tangga saya ya. Apa sunah? Ah tidak, tidak, jangan dibahas, pengajian istri saya belum sampai di situ. Sudah ah. Kalian ini sudah tidak belanja, malah mau bikin perkara. Saya bilang juga apa, sudah waktunya sistem kita diganti dengan khilafah.[]

Agus R. Sarjono

Penyair, esais, dan penulis lakon. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Finlandia, Serbia, Turki, Jepang, China, Korea, Vietnam, dan Arab. Bersama Berthold Damshäuser menjadi penerjemah dan editor Seri Puisi Jerman. Buku puisinya terbarunya Gestaten meine nama ist Trubsinn (2015) terbit di Berlin. Dramanya Atas Nama Cinta (2001) dan The Theatre (2015).
Dosen Jurusan Teater ISBI Bandung ini pernah menjadi redaktur majalah sastra Horison (1997-2013) dan salah seorang ketua Dewan Kesenian Jakarta (2003-2006). Kini ia menjadi pemimpin umum Jurnal Sajak dan pemimpin redaksi Jurnal Kritik. Ia pernah menjadi sastrawan/ilmuwan tamu di International Institute for Asian Studies, Universitas Leiden (2001); Heinrich Böll Haus, Langenbroich (2002-2003); Universitas Bönn (2010) dan Wiepersdorp Schloss, Brandenburg (2014). Ia Mendapat Hadiah Sastera Mastera dari Malaysia (2012) dan Sunthorn Phu Award dari Thailand (2013).
Agus R. Sarjono

Latest posts by Agus R. Sarjono (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Daleem. Top markotop.

  2. Anonymous Reply

    Epick mas. Mempesona dan penuh siratan makna

  3. KN Krise G Reply

    Wohohoho. Mbois.

  4. taufiq qurrahman Reply

    sarkas… matap

  5. Adhyra Irianto Reply

    Sarkas, dalam dan “gurih”. Terima kasih pencerahannya mas..

Leave a Reply

Your email address will not be published.