Hikayat Belajar

aroundesign.altervista.org

Belajar sudah berumur tua. Sejak manusia ada, kegiatan belajar juga sudah ada. Saat itu, manusia belajar dari dan dengan alam. Mereka berburu. Semula berburu tanpa alat, kemudian berburu dengan alat. Semula dengan batu-batu kasar, kemudian dengan logam-logam yang pipih. Semula berpindah-pindah, kemudian bertahan di suatu tempat. Mereka mulai bertani. Mereka mulai paham membaca untuk apa ada hujan, untuk apa pula ada matahari. Mereka belajar mengusahakan tanah. Mereka tak lagi membiarkan biji jatuh ke dalam tanah begitu saja dari pohonnya. Mereka sudah menggemburkan tanah lalu menjatuhkan benih ke atasnya.

Beda dengan belajar, sekolah sebenarnya masih sangat belia. Institusi yang disebut sekolah itu masih berumur 200-an tahun. Di Indonesia bahkan umurnya lebih belia lagi. Kampus justru lebih tua. Harvard berumur 400-an tahun. Ironisnya, sejak kelahiran institusi sekolah itu, belajar dibuat menjadi hak paten sekolah, terutama di negara kita ini. Pengertian belajar menjadi ringkas: pergi ke sekolah. Di luar itu, jika seorang anak pergi ke laut, pergi ke sawah, bermain bersama rekan sebaya, mengamati tumbuh-tumbuhan, membantu orang tua berjualan, kesemua hal itu akan dianggap sebagai bukan belajar.

Di sinilah sekolah membuat belajar menjadi jauh dari kehidupan, bahkan dari alam. Betapa tidak, perhatikanlah lamat-lamat ke sekolah kita. Di sekolah, siswa memang belajar tentang apa itu matahari, bahkan lengkap dengan berbagai literatur dan perangkatnya. Namun, mereka tak pernah terpanggang matahari. Siswa juga belajar tentang apa itu bulan. Sementara itu, pada malam-malam, mereka malah dipaksa harus mengerjakan banyak PR tanpa pernah menikmati malam. Mereka tak pernah diminta mengamati kapan bulan berwajah pipih, lonjong, hingga bulat penuh.

 

Pernah Jaya

Sejak sekolah ada pula, maka belajar dibuat menjadi sepenggal-sepenggal. Belajar tentang bulan berarti harus belajar fisika. Belajar tentang pertanian berarti harus belajar biologi. Padahal, nenek moyang kita sejak dari dulu belajar dari gejala-gejala alam, seperti dari pengamatan bentuk bulan tanpa mengerti apa itu fisika dan biologi. Dari bentuk bulan itu, mereka tahu kapan mencangkul, kapan menanam, dan kapan direncakan menuai. Alam memberikan mereka pelajaran sekaligus pengalaman.

Memang, jika dilihat dari kacamata keberhasilan, pertanian saat itu cenderung tidak terukur. Kita tak tahu berapa hari harus menunggu. Tidak ada batasan waktu yang teliti. Sama halnya, keberhasilan tingkat pembelajaran saat itu pun tak terukur. Tidak ada angka-angka. Tidak ada batasan kurikulum. Tidak ada jumlah pertemuan minimal. Tidak ada kualifikkasi guru profesional. Namun, bukan berarti pada masa itu leluhur kita tak pernah belajar. Buktinya, jauh-jauh hari sebelum ada kurikulum, bahkan sebelum ada Indonesia, leluhur sudah bisa menciptakan Candi Borobudur yang dikagumi dunia.

Berbagai literatur juga membuktikan bahwa daerah kita ini pernah jaya sejaya-jayanya di laut sehingga kita dengan bangga menyanyikan lagu dengan salah satu liriknya: nenek moyangku seorang pelaut. Kita sudah pernah menjadi “Macan of Asia” pada masa kejayaan Sriwijaya meski saat itu belum ada kurikulum yang pasti. Kini, setelah sekian lama, kita bermimpi lagi untuk menjadi “Macan of Asia”. Ironisnya, untuk menggapai mimpi itu, kita memikulkannya pada sebuah institusi yang masih sangat belia: sekolah.

Dikatakan ironis karena sekolah kita tidak saja hanya masih belia, tetapi juga masih sangat gagap untuk mengadaptasikan pengetahuan dengan lingkungan sekitar. Kita ingin kembali menjadi “Macan of Asia” sementara kita tidak jeli melihat salah satu alasan mengapa Sriwijaya pada akhirnya merosot adalah karena wewenang “Orang Laut” dikurangi. Sriwijaya adalah kerajaan maritim. Mengurangi “Orang Laut” berarti mengurangi nyawa. Kurang lebih, begitulah yang kini sedang terjadi pada pendidikan kita.

Kita banyak menghamba pada doktrin-doktrin pendidikan luar negeri. Kita kurang mengadaptasikan materi pembelajaran dengan lingkungan sekitar kita. Kita, misalnya, selalu menganggap negara lain lebih beradab hanya karena mereka jarang mengganggu orang lain. Kita terlupa satu hal bahwa karakter orang luar negeri memang cenderung individualis. Kalau belum pernah ke luar negeri, tontonlah film-film Eropa. Dari berbagai film itu kita akan mengerti bahwa hubungan keluarga di sana lebih mengutamakan profesionalisme daripada emosionalisme. Apakah kita harus seperti mereka?

Sudah saatnya kita memerdekakan pendidikan kita dari cengkeraman ala Barat, apalagi standarnya. Benar bahwa Barat sudah menelurkan banyak kesuksesan. Peraih nobel dan penemu dalam adab kontemporer ini selalu dimenangkan mereka. Namun, jauh sebelum adab kontemporer, kita sebenarnya boleh dikatakan selevel dengan mereka. Terbukti, satu dari tujuh keajaiban di dunia berasal dari Indonesia. Malah lagi, jika Atlantis memang benar-benar ada, tak salah rasanya jika kita mengaku diri sebagai bangsa paling ulung saat itu. Kita tak tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

Nah, saya sengaja menuliskan ini agar kita kembali serius dan mengerti karakteristik pendidikan kita. Mencontoh Barat adalah hal baik. Namun, menduplikasikannya dan mencangkokkannya ke sistem pendidikan kita secara langsung justru akan membunuh kesejatian diri kita. Tubuh kita tak sesuai dengan sistem itu. Saya tak sedang anti-Barat. Sebaliknya, saya hendak mengatakan bahwa pada dasarnya, organ tubuh kita tak kalah mewah dari orang-orang Barat. Jika pembuatan Candi Borobudur, apalagi negeri dongeng Atlantis tak bisa menjadi contoh, kita bisa melihat kiprah tiga Bung “besar”: Karno, Hatta, dan Sjahrir.

 

Tak Ada Pembelajaran

Ketiga Bung di atas mengecap pendidikan sebelum kemerdekaan. Saat itu, kita belum membuat pendidikan menjadi institusional. Dana pun belum melimpah untuk pendidikan. Namun, siapa sangka, ketiga Bung ini bisa melenyapkan penjajahan yang sudah hampir 4 abad lamanya. Ketiga Bung ini, secara khusus melalui Bung Karno, bahkan tak hanya membebaskan Nusantara, tetapi juga sebagian besar dari Asia dan Afrika. Saaat itu, Indonesia yang masih berumur muda sudah sangat disegani dunia. Indonesia disebut-sebut akan bisa mengulangi sukses lama: membuat “Candi Borobudur” baru.

Sayang, negara adidaya saat itu sangat takut jika-jika Nusantara kembali jaya. Maka, dengan konspiratif, mereka mematikan potensi itu. Lebih sayang lagi, potensi itu kini semakin lenyap karena sistem pendidikan kita semakin megesampingkan rasio. Semua mendadak melulu karakter. Arti belajar pun menjadi sangat sempit, apalagi ukurannya. Sekolah menjadi satu-satunya sumber belajar. Sekolah menjadi tukang stempel dan bukti bahwa pelajaran itu sah. Seperti disebutkan di awal tulisan ini, siswa tak dibiarkan lagi menghikmati alam.

Kita menyepelekan anak yang pergi ke pantai lalu mengamati laut, menangkap ikan, melihat gejala-gejala alam secara perlahan. Kita menyepelekan anak yang pergi ke pasar, melihat transaksi jual-beli, melihat onggokan sampah. Kita menyepelekan anak yang pergi ke sawah, menanam benih, lalu merawatnya. Sebaliknya, kita mengagumi anak yang pergi ke sekolah dengan jubelan tas yang melimpah, selekas itu pergi ke gedung baru bernama bimbel hingga larut. Kita menganggap mereka sebagai sosok pembelajar.

Padahal, sesungguhnya, mereka hanya mesin belajar. Mereka bahkan tak tahu untuk apa mereka belajar. Jika tahu, mereka hanya tahu bahwa belajar semata agar juara 1, agar kelak bisa bersekolah di tempat yang favorit, agar diterima di PTN ternama, agar bekerja dengan gaji melimpah. Belajar sudah melulu di dalam gedung dan dari dalam buku. Lama-lama, kita akan terasing dari alam. Saya pikir, tak salah mengulangi kritikan Iwan Pranoto yang menyebut bahwa saat ini, di sekolah kita memang sedang melimpah-limpahnya kata “belajar”. Sayang, di sana tak ada pembelajaran. Oh!

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)

Comments

  1. Novita Reply

    mantab mas
    salam dari Yogyakarta

  2. Mongek Reply

    Esai Bang Riduan selalu enak dibaca meskipun sebenarnya saya kurang mengerti

  3. Witri Reply

    Saya merasa menjadi lebih terbuka soal belajar dan hakekatnya. Tulisan yang bagus dan bermanfaat. Terima kasih Mas Riduan!

    • Nuri Reply

      Sangat menyadarkan pola berfikir. Keren!

Leave a Reply

Your email address will not be published.