Hitam dan Kenangan

Para pembaca novel berjudul The Glass Palace (2008) gubahan Amitav Ghosh mungkin mengingat perkara kolonialisme, asmara samar, keluarga, dan perkebunan. Novel belum laris di Indonesia itu menguak sejarah perkebunan karet di Asia Tenggara. Tanah-tanah luas dan subur di negara-negara Asia Tenggara memungkinkan pembesaran industri ban di Eropa berbahan baku karet. Masa lalu kolonialisme mengikutkan pengisahan karet dikirim ke pelbagai negara jauh, dikembalikan kelak ke Asia Tenggara berupa ban-ban. Kehadiran ban melekat pada godaan otomotif. Novel itu pedih tapi pembaca masih mungkin melacak kesejarahan perkebunan karet dan ban-ban di roda menggelinding di jalan-jalan, dari masa ke masa. Kita mengingat novel   gubahan pengarang asal India untuk mengerti situasi mutakhir mengarah ke urusan ban.

Maret, bulan ban. Tiga koran memuat berita ban berbeda peristiwa dan pengertian. Jawa Pos, 10 Maret 2019, memuat berita berjudul “Sulap 500 Ban Bekas Jadi Pot, Dilengkapi Lima Gazebo.” Ban itu ban. Kita sudah tahu ban itu ban tanpa perlu imajinasi melaju seribu kilometer. Berita dari Cangkiran, Mijen, Semarang, Jawa Tengah. Kampung rimbun sayur dan berpameran ban. “Untuk menambah kesan menarik, taman didesain lebih elegan dan berwarna. Sebanyak 500 ban bekas dicat dan disulap menjadi pot atau tempat tanaman dengan ditata rapi,” tulis wartawan Jawa Pos. Kita berkunjung ke kampung itu bakal melihat ada sekian tanaman: cabai, kacang panjang, kol, sawi, pare, gambas, dan bunga matahari. Ban-ban turut memberi arti dari keinginan warga kampung menanam dan memanen untuk memasak di dapur. Kampung itu bercerita ban.

Di Kompas, 12 Maret 2019, kita melihat foto dijuduli “Daur Ulang Ban Bekas.” Tema ban menjadi penting. Keterangan di foto: “Pekerja memasang alas kursi berbahan baku ban bekas yang  siap dijual ke sejumlah tempat di Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Senin (11/3/2019). Mereka mendaur ulang sampah ban bekas kendaraan bermotor menjadi kursi, tempat sampah, hingga pot tanaman.” Pembaca mengerti ada kerja gara-gara ban bekas. Kerja mencari rezeki. Ban-ban telah dianggap bekas dipandang sebagai bahan membuat benda-benda baru. Ban berfaedah setelah berubah rupa dan fungsi.

Di desa-desa, sejak puluhan tahun lalu, kita mengenal sandal ban. Sandal-sandal ban dipaku itu biasa dijual di pasar-pasar tradisional. Pedagang keliling kampung pun sering menawarkan sandal ban. Sandal ban bersaing dengan sandal jepit dengan merek-merek terkenal. Sandal ban lebih berat tapi berharga murah. Pengguna sandal ban adalah orang-orang kuat di gerak kaki dan kebal malu. Di mata, ban bekas menjadi sandal kadang tampak artistik. Sandal itu hasil kerja para tukang memberi arti lanjutan dari ban-ban bekas.

Ban-ban di dua koran itu masih mengarah ke benda, semula digunakan di mobil sebelum “pensiun” dan berpindah ke tukang loak. Ban-ban bukan sampah. Ban masih mungkin digarap dengan imajinasi dan perangkat-perangkat sederhana di kerja menghasilkan sandal, kursi, dan pot tanaman. Kerja itu bakal berlangsung lama. Pemilik mobil di Indonesia terus bertambah, dari hari ke hari. Kita bisa menghitung jumlah ban bekas selalu bertambah. Ban-ban dengan pelbagai merek. Ban tetap saja berwarna hitam. Gagal menjadikan ban berubah bentuk, orang-orang biasa menaruh ban di atap seng. Konon, beban ban itu mampung melindungi seng dari angin kencang. Ban terhormat berada di posisi atas, berkebalikan dengan takdir: menggelinding di roda menempuhi jalan-jalan aspal, batu, dan tanah.

Berita berbeda dipasang di Media Indonesia, 13 Maret 2019. Berita berjudul politis: “Wapres Bukan Ban Serep”. Duh, ban muncul lagi tapi bersanding dengan serep! Ban tak lagi benda seperti di Semarang atau Kendal. Ban berada di metafora politik. Pemunculan “ban serep” sudah dimulai sejak masa Orde Baru. Presiden tak pernah berganti tapi wakil presiden berganti. Nah, celotehan demokrasi memungkinkan predikat ke wakil presiden sebagai ban serep. Sebutan “merendahkan” jika ditilik dari peran mengacu ke konstitusi dan beban besar di pembangunan nasional.

Pada 2019, ban serep “siuman” dari pelupaan sejak keruntuhan rezim Orde Baru. Hari-hari menuju 17 April 2019, orang-orang mengulangi celoteh dan tebakan bahwa wakil presiden di periode 2019-2024 mungkin berperan sebagai “ban serep”. Celotehan berlebihan di hari-hari panas oleh polemik, kebohongan, kemarahan, dan fitnah. Komisioner KPU lekas memberi penjelasan menanggulangi kemunculan lagi celotehan “ban serep” di publik: “Presiden dan wakil presiden itu satu kesatuan. Wapres bukan ban serep. Bukan cadangan juga. Sehingga, kualitas wapres itu pun menentukan seberapa kualitas bangsa kita selama lima tahun mendatang.” Kita sampai di ban dibebani masalah-masalah politik. Ban serep itu datang terlambat, setelah kita mendapati ban-ban bekas di Semarang dan Kendal.

* * *

Kita kembali mengurusi ban di roda saja, menghindari ribut politik menginginkan demokrasi menang. Ban-ban itu iklan bertebaran di pelbagai majalah, sejak masa 1950-an. Kita memilih dulu iklan ban di majalah masa 1990-an. Iklan mengarah ke para pemilik mobil, usaha bengkel, atau toko otomotif. Ban-ban bagi mobil. Iklan ban sepeda onthel, sepeda motor, dan bus jarang tampil di majalah-majalah. Pada masa 1990-an, ban masih berwarna hitam. Kita mengesahkan ban memang hitam, lama menanti ban itu merah, kuning, biru, hijau, dan ungu.

Di majalah Tempo, 20 Januari 1990, iklan ban dari Goodyear. Ban ada di mobil. Ban itu berguna di mobil, bukan ban cuma ban ditaruh di lantai atau rak. Mobil cakep dan mulus menggunakan ban Goodyear. Pilihan bermaksud membenarkan penjelasan: “Ban high performance, nyaman dengan tingkat kebisingan rendah.” Oh, ban bisa membikin bising. Nah, bising memicu pusing. Di jalan, orang-orang kadang mendengar suara ban: cit, cit, cit. Peristiwa mengerem memberi orkes ban bergesekan dengan aspal.

Ban itu tak mutlak karet. Simak saja keampuhan ban: “Eagle GA memberikan pengendalian yang sangat responsive karena dibuat dengan konstruksi radial tubeless bersabuk serat baja dengan tambahan lapisan pelindung untuk high performance.” Dua kata di belakang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kita menuduh para pemilik mobil berurusan dengan ban mestilah menguasai bahasa Inggris agar terhindar malu.

Para pengguna mobil di jalan-jalan kota sering macet jangan cemburu pada para pengendara mobil di tontonan Formula 1. Roda-roda terlihat mulus dan hitam. Roda sering tampak berasap. Ban-ban berputar cepat banget. Mata kita mustahil menghitung putaran secara tepat. Ban bukan sembarang ban. Pada sekian putaran, roda-ban mengalami pergantian. Ban-ban itu membuat jutaan orang terpana.

Iklan mengimajinasikan Formula 1 ada di Tempo, 2 Februari 1991. Iklan menjelaskan kecepatan, kekuatan, dan kemolekan. Keterangan awal: “Juara dunia Mercedes-Benz memakai ban Goodyear Eagle Radial.” Ban itu dilarang digunakan untuk pit onthel atau sepeda roda tiga digunakan kaum balita. Pengguna pit roda dua dan balita tentu menghamburkan uang untuk nekat menggunakan ban itu demi gengsi seperti kecepatan di Formula 1. Keampuhan dipamerkan pengiklan: “Banyak persamaan antara ban yang kamu buat untuk Juara Dunia Mercedes-Benz C11 dan ban yang kami buat untuk kendaraan Anda. Persamaannya adalah penerapan teknologi.” Para tukang di Semarang dan Kendal masa lalu mungkin pernah mendapat ban-ban bekas seperti di iklan. Ban dimulai dengan keunggulan-keunggulan menjadi bekas digarap dengan taktik mencari rezeki.

Ban-ban di jalan beraspal berbeda dengan ban di tempat-tempat memiliki batu, lumpur, air alias jalan terjal. Ban melintasi segala tantangan. Ban cakep gampang ternoda atau kotor. Ban itu digunakan oleh mobil-mobil petualang di alam liar. Ban produksi Gajah Tunggal disajikan di Gatra, 13 Mei 1995. Lihatlah, mobil putih itu kuat dan kotor! Mobil memiliki ban khusus. “Disain telapak berpola blok zig-zag dan konstruksi double steel belted menghasilkan daya cengkeram yang prima dan tangguh di segala medan,” tulis di iklan. Ban masih saja diterangkan dengan istilah-istilah asing.

* * *

Kita beralih mengingat agak jauh ke pengisahan dan pengiklanan ban di masa 1950-an. Iklan-iklan ban menginginkan berdampak ke bisnis otomotif. Para pengguna sepeda onthel, sepeda motor, dan mobil terus bertambah di Indonesia dalam masa revolusi. Mereka bergantung pada ban. Jalan-jalan belum semua beraspal alias mulus. Ban-ban gampang bocor, menipis, dan rusak.

Di majalah berisi cerita pendek, puisi, dan ulasan, iklan ban turut memberi arti ke pembaca. Kisah edisi Februari 1955 memuat iklan ban dari Goodyear menghiasi cerita pendek berjudul “Wonosari” gubahan Subagio Sastrowardojo. Bacalah cerpen tapi pengabaian iklan separuh halaman agak sulit. Lihatlah, 17 ban dengan pelbagai ukuran ditampilkan membawa ajakan: “Selamanja menguntungkan bila membeli jang paling baik.” Merek itu mengaku “paling baik” bagi orang-orang berkendara di jalan-jalan seantero Indonesia.

Pembenaran dari pengakuan: “Paling baik karena tiap ban Goodyear mempunjai telapak dan rangka jang istimewa dibentuk untuk  memberikan Tuan djumlah kilometer jang terbanjak, penghematan terbesar dan pekerdjaan jang sebaik-baiknja.” Ban ada di pikiran orang-orang berduit dengan mengartikan jalan adalah modernitas ditandai seliweran sepeda motor dan mobil. Kaum jarang berduit pun turut mengartikan meski dengan jenis ban berbeda. Mereka berpikiran ban untuk sepeda onthel. Ban berharga murah ketimbang ban-ban besar di mobil.

Pada masa lalu, para pengguna sepeda onthel tak diabaikan oleh pengiklan ban. Iklan sederhana dipasang di Star Weekly, 30 September 1961. Perempuan bertas sedang naik sepeda. Ia itu murid atau mahasiswa. Penampilan orang terpelajar mengendarai sepeda onthel mengingatkan masa 1950-an adalah masa berkeringat demi ilmu. Iklan tak cerewet memberi pesan: “Ban sepeda luar dan dalam. Roda Masa bermutu tinggi dan tahan udji.” Kita melihat dua ban dan menebak nama perempuan. Ia mungkin bernama Sarinah, Dewi, atau Siti. Di sepeda onthel, ia menuju sekolah untuk mengisi ilmu, berharapan ban tak gembos atau bocor selama di perjalanan. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.