Horor Joker dan Bagaimana Kita Memahami Kegilaan

 

Malam itu, tepat saat film “The Dark Knight Rises” diputar untuk pertama kalinya, seorang pria asing melangkah ke depan layar sinema menghadap ke arah penonton. Ia mengenakan topeng, jubah hitam, rompi antipeluru, dengan rambut kemerahan, dan menggenggam sebongkah pistol. Sebelum pria tolol itu melepaskan peluru bertubi-tubi kepada penonton, ia sempat memperkenalkan dirinya kepada aparat kepolisian: “I’m Joker.”

Korban pun berjatuhan, sebagian yang lain histeris ketakutan. Ada 12 orang yang tewas, dan 70 orang lainnya terluka. Sementara sang pria yang membayangkan dirinya sebagai Joker, James Holmes, berhasil diringkus oleh aparat kepolisian. Peristiwa horor itu terjadi di studio Aurora, Colorado, Amerika Serikat, pada 2012 silam, dan akhirnya menyisakan trauma yang panjang bagi para korban yang selamat.

Di tahun ini, pada 2 Oktober kemarin, film “Joker” besutan Todd Phillips pun resmi tayang di seluruh layar lebar belahan dunia. Pujian atas film ini bertebaran, termasuk cemoohan dari para kritikus film. Richard Brody, dalam artikelnya di The New Yorker, menyebutkan bahwa “Joker” merupakan film yang sangat rasial, provokatif, dan sangat membingungkan. “Joker” adalah pengalaman menonton kekosongan yang langka dan mematikan.

Hal serupa diungkapkan pula oleh Joe Morgenstern di The Wall Street Journal, bahwa jika Anda merasa tidak cukup cemas dalam hidup Anda, Joker bisa menjadi jawabannya. Jika tidak, cari tempat lain untuk hiburan.

Bahkan, jauh sebelum film ini dirilis, Joker telah menimbulkan serangkaian kontroversi. FBI dan Amerika Serikat mengeluarkan peringatan bahwa film “Joker” dapat memicu kekerasan secara nyata. Peristiwa penembakan di Aurora menjadi acuan dari sikap keberatan tersebut.

Para keluarga korban peristiwa penembakan itu pun menyerukan agar pemutaran film “Joker” dihentikan. Mereka melayangkan surat kepada Warner Brothers, produser dari pembuatan film itu, agar perusahaan tersebut menyumbangkan dana kepada kelompok-kelompok yang membantu para korban kekerasan senjata. Hingga akhirnya, di beberapa kota Amerika, aparat kepolisian melakukan penjagaan ekstra ketat di setiap bioskop yang menayangkan film “Joker”. Para penonton dilarang memakai topeng atau mengenakan kostum sang anti-hero.

Di Indonesia sendiri, pro dan kontra perihal film “Joker” mencuat di media sosial. Ada orang-orang yang memuji, ada pula yang mengutuk. Sebagian besar yang memuji film ini, berargumen bahwa kegilaan yang dialami Joker mampu memberikan kita informasi atau pemahaman lebih tentang orang-orang yang mengalami depresi dan gangguan kejiwaan, agar dapat memperhatikan mereka lebih jauh, atau singkatnya, menumbuhkan simpati berlebih kepadanya.

Sementara orang-orang yang mencela, memahaminya dalam kerangka moralitas tertentu. Film ini dianggap sangat membahayakan anak-anak di bawah usia dan para remaja untuk membenarkan aksi-aksi kekerasan. Serangkaian adegan psikologis memberikan horor tersendiri.

Menyaksikan kontroversi dan perdebatan tersebut, muncul pertanyaan dalam benak saya: Seberapa hororkah film ini sehingga pemerintahan Amerika begitu ketakutan? Apakah benar-benar dapat mendorong terjadinya kekerasan atau efek semacam itu? Jika benar, bagaimana hal itu bisa terjadi? Saya pun menyempatkan diri untuk menyaksikan film ini secara langsung.

Sejauh pengalaman saya menonton film “Joker”, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Meski, harus diakui, kegilaan Joker sedikit banyak memberikan efek horor tersendiri bagi kondisi psike mungkin juga sebagian orang lainnya. Tapi, tentu saja itu hanya sebatas dalam film, tak lebih dari fiksi belaka. Setelah film ini berakhir, tak ada yang membuat diri saya merasa terancam. Tak ada masyarakat sipil yang menenteng senjata api dengan bebas di jalanan layaknya di negeri Paman Sam sana.

Bagi saya, yang tak asing dengan tradisi psikoanalisa dan sastra, horor dalam wujud kegilaan dan kekerasan seperti dalam film “Joker” telah menjadi hal biasa. Ia sering kali ditemui, dalam kasus tertentu, khususnya dalam karya sastra. Misalnya, dalam novel Marques de Sade, yang sangat dikagumi oleh filsuf kondang Michel Foucault, banyak menampilkan kekerasan sadistik dalam perversi seksual. Dan dalam fiksi/karya sastra, itu sah-sah saja.

Sebentuk kegilaan lain, bisa kita jumpai pula dalam novel Beloved (1987) karya Toni Morrison. Sethe, sang tokoh perempuan utama, membunuh anak terkasihnya yang baru berusia dua tahun. Hal itu ia lakukan karena situasi yang tanpa harapan dari perbudakan Afrika-Amerika. Dalam kerangka moral tertentu, apa yang dilakukan Sethe bisa jadi dipandang biadab. Sebagaimana halnya bagi kalangan kulit putih, yang memandang kegilaan Sethe secara rasis, dan menganggap tindakannya itu sebagai suatu tindakan yang keji. Konyolnya, kalangan kulit putih tak mempersoalkan tindakan biadab yang dilakukan olehnya atas penindasan terhadap orang-orang kulit hitam.

Ada perkataan Sethe yang sangat menggetarkan: “Jika aku tak membunuhnya, ia akan mati jua pada akhirnya, dan ini sesuatu yang tak dapat kutangguhkan.” Perkataan ini sebenarnya hampir mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Joker.

Dalam sebuah adegan, saat sang presenter televisi dalam suatu acara mengatakan bahwa pembunuhan bukan hal yang patut ditertawakan. Arthur Fleck, yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix dengan sangat baik, menimpalinya dengan tenang: “Jika kalian semua memilih tak peduli dengan kemiskinan, maka biarkan saya untuk berlaku tidak peduli pada pembunuhan.”

Tentu saja, tak semua orang harus sepakat dengan apa yang dikatakan Arthur Fleck ataupun Sethe. Itu hal biasa. Tapi, yang harus diperhatikan di sini adalah bukan hanya serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Joker, tapi apa dan mengapa Joker melakukannya demikian, menjadi super villain, seorang bandit atau pembunuh berantai.

Dalam film yang berdurasi 122 menit ini, dikisahkan bahwa Arthur Fleck merupakan lelaki kesepian, miskin, dan sakit mental. Ia hidup bersama ibunya yang sakit. Ayahnya, Thomas Wyne, yang merupakan Wali Kota Gotham, tak mengakui Fleck sebagai anaknya. Diperparah lagi dengan resesi ekonomi di kota Gotham yang mengharuskan pemangkasan jaminan sosial, hingga membuat Fleck tak mendapatkan kesempatan untuk perawatan psikologis. Penyakit mental yang dideritanya, yang membuat ia selalu terbahak histeris, dan terkadang membuat orang lain jengkel padanya, harus ia tanggung sepanjang hidupnya.

Ia pun hanya bisa menjadi badut jalanan, yang selalu dicemooh oleh sekelompok bocah. Dalam hal ini, Fleck—meminjam istilah Julia Kristeva—menjadi abjeksi, yang selalu ditolak karena dianggap horor, dianggap mengganggu identitas individu dan akhirnya seluruh sistem tatanan sosial-politik. Fleck yang akhirnya menjelma Joker, menjadi ancaman bagi pemerintahan Gotham yang di ambang kebangkrutan, setelah penembakan tiga pemuda konglomerat di sebuah kereta.

Karena itu, bukanlah kebetulan jika film ini seakan-akan mencerminkan kondisi masyarakat dunia yang lebih banyak memunculkan sederet ketidakadilan: ketimpangan ekonomi, korupsi, rasisme, pelecehan, kekerasan, dan lain sebagainya. Yang kerap kali memunculkan serangkaian depresi atau gangguan kejiwaan, seperti halnya Arthur Fleck.

Namun, yang harus diperhatikan, Joker bukan sekadar manifesto miserabilist, seseorang yang menikmati depresi dan kesuraman hingga melakukan serangkaian teror. Film ini lebih dari itu, dan sarat dengan pesan-pesan politik yang mencerminkan kondisi kelas bawah, serta menggelorakan perlawanan kaum lemah terhadap sistem ekonomi politik yang kapitalistik. Maka tak mengejutkan jika pemerintah Amerika menjadi waswas.

Dalih pelarangan film “Joker” oleh pemerintah Amerika karena ditakutkan memicu kekerasan secara nyata, seperti penembakan di Auora oleh James Holmes, hanyalah fobia berlebihan dalam bingkai politis. Hal itu, sebetulnya, tak akan pernah terjadi (atau dapat diminimalisir), apabila penggunaan senjata api di Amerika dapat dibatasi secara ketat.

Rentetan penembakan yang dilakukan oleh Joker, saya kira, merupakan cerminan dari kondisi Amerika Serikat saat ini. Bisa pula dimaknai sebagai kritik atas kepemilikan senjata api yang begitu bebas. Sebab itu, Joker tak bisa hanya dipandang sebagai seorang bandit psikotik, tanpa melihat akar persoalan di balik semua aksinya. Kegilaannya hanyalah simtom, gejala, dari kebobrokan sistem ekonomi-politik Gotham.

Kegilaan sering kali menjadi horor, dan dalam hal ini horor itu adalah Joker. Tapi, justru dalam kegilaannya itu, sang subjek Joker telah mendobrak tatanan sosial-politik yang mengekang, menindas, dan merenggut segala hal yang berharga darinya. Salvoj Žižek menyebut kegilaan sebagai penarikan diri dari dunia aktual (yang carut-marut). Kegilaan merupakan negativitas mendasar yang tak bisa dihapuskan dalam diri manusia. Saya dan juga Anda, memiliki potensi yang sama untuk menjadi “gila” atau melakukan aksi kegilaan. Dan nyatanya, tak ada yang lebih gila daripada sebentuk kekerasan (struktural) yang dilakukan negara kepada rakyatnya sendiri seperti yang terjadi pada Joker, termasuk masyarakat kita hari ini.

Dedi Sahara

Mahasiswa sastra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Belajar di ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) UPI, Asosiasi Psikoanalisis Indonesia (API), juga bagian dari kelompok belajar Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin. Selama ini aktif menulis puisi, esai, dan menerjemahkan karya fiksi dan artikel ilmiah. Dan menjadi bagian dari redaktur Apresiasi Buruan.co. IG: @dediahmaad.
Dedi Sahara

Latest posts by Dedi Sahara (see all)

Comments

  1. Fans 2019 Joker Reply

    Artikelnya keren banget mas,

    Saya juga udah nonton Joker dan saya suka banget sama filmnya, temenku bilang filmnya biasa aja tapi menurutnya alur ceritanya bagus.
    Padahal Joker itu salah satu karakter terjahat di cerita Batman tapi filmnya bikin saya jadi bersimpati sama Joker, soalnya beberapa orang ada yang kayak Arthur Fleck, yang sering ditindas oleh masyarakat yang nggak peduli sama orang-orang yang memiliki penyakit mental.
    Selain Joker, mas coba aja baca komiknya Batman: The Killing Joke. The Killing Joke juga menceritakan originnya Joker tapi namanya bukan Arthur Fleck, melainkan Jack Napier.

    • Oka Rimba Reply

      Komik itu sudah difilmkan di Batman (1989), yg main Jack Nicholson. Bukan serem seperti sekarang, castnya ini memerankan kriminalitas yg malah cenderung komikal. Jatuhnya jadi ngeselin banget, keren sih

      • Fans 2019 Joker Reply

        Kalau mau jujur sebenarnya saya suka nonton Batman 1989, sama The Dark Knight dimana si Joker diperankan oleh almarhum Heath Ledger, jadi masing – masing Joker berbeda-beda di berbagai adaptasi film.

        Kebetulan saya mau tanya, kira-kira bagaimana anda menganalisis dan membedakan karakteristik Joker, misalnya;
        – Batman (1989) Joker
        – The Dark Knight Joker
        – Joker 2019

        Kalau menurut saya, 2019 Joker kemungkinan masih ada sisi baiknya sedangkan versi Dark Knight dan 1989 sudah sangat keji, bagaimana menurut anda?

  2. Dhedhe Reply

    Maaf sekadar koreksi. Untuk waktu perilisan, tidak serentak tanggal 2 Oktober. Itu hanya di beberapa negara Asia seperti Indonesia dan India. Di negara asalnya sendiri tanggal 4. Dan di beberapa negara Eropa rilis lebih lama.

  3. Satrio Reply

    Mantap dah, bagus menafsirkan film Jokernya dibumbui refrensi yg segar. Salutt.

  4. Syilva Reply

    Artikel yg bernas… Sukak.

  5. LSFN Reply

    Tipo buat nama Zizek nya, harusnya Slavoj bukan Salvoj, selebihnya keren sih

  6. Coker Reply

    Lope pull

  7. Ulfah Reply

    Tak ada yang lebih gila daripada sebentuk kekerasan (struktural) yang dilakukan negara kepada rakyatnya sendiri seperti yang terjadi pada Joker, termasuk masyarakat kita hari ini.

    Kereeen… 😍

Leave a Reply

Your email address will not be published.