Ia (Selalu) Dicemburui

Di pasar buku loak di Solo, dagangan terus berdatangan dan tak habis-habis adalah novel. Tumpukan novel bekas dengan ukuran kecil dan warna-warni. Novel-novel ditulis Motinggo Busye. Kita melihat novel itu sepi dari peminat dan pembaca. Puluhan tahun lalu, kios persewaan buku menjadikan novel-novel gubahan Motinggo Busye sebagai menu unggulan, selain puluhan novel gubahan Marga T, Mira W, Maria A Sardjono, V Lestari, Ashadi Siregar, Teguh Esha, dan lain-lain. Ribuan orang menjadi pembaca novel-novel bercerita “ringan” tapi membikin kecanduan. Di kalangan pengamat, puluhan novel Motinggo Busye resmi mendapat sebutan novel pop.

Novel-novel telah masa lalu. Kita mengetahui nasib novel dijual murah tapi masih sulit mendapatkan pembeli. Novel-novel itu tak lagi memikat, kalah dengan novel-novel pop dari Marga T dan Mira W. Puluhan judul novel dua pengarang itu masih sering cetak ulang. Pembaca terus bertambah, dari masa ke masa. Konon, novel-novel itu menjadi bacaan terwariskan di keluarga, dari ibu ke anak sudah beranjak dewasa. Novel mereka masih sering mejeng di toko buku meski edisi-edisi lama terus beredar di pasar buku loak. Dulu, nasib novel-novel Motinggo Busye ada di para pembaca “fanatik”, sebelum perlahan kekurangan dan kehilangan pembaca.

Ia pernah dimarahi oleh sesama pengarang. Motinggo Busye dituduh lupa sastra dan memilih menulis novel-novel pop menghasilkan duit sekarung. Tuduhan cuma ditanggapi dengan tawa. Motinggo Busye menganggap orang-orang cemburu dan berlagak paling “suci” dalam lakon pernovelan di Indonesia. Pada masa Motinggo Busye dicemburui, ia tetap tercantum sebagai sastrawan besar di Indonesia. Pembuktian dari pengarang kelahiran Lampung, 21 November 1937 adalah raihan penghargaan bergengsi di sastra masa 1950-an dan 1960-an. Pamusuk Eneste dalam buku berjudul Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1981) mencatat: “Dramanya, Malam Jahanam, memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama yang diselenggarakan Bagian Kesenian Departemen PP & K tahun 1958. Sedangkan cerpennya, ‘Nasehat untuk Anakku’, mendapat hadiah dari majalah Sastra tahun 1962.”

Motinggo Busye masih nama sering disebut di kelompok teater kampus sampai sekarang. Lakon berjudul Malam Jahanam dan Badai Sampai Sore masih sering dimainkan di kampus-kampus. Dua naskah itu dipilih dalam mengerti garapan teater berkecenderungan realis. Salinan naskah masih tersebar di sekian kelompok teater. Kalangan teater menganggap naskah-naskah Motinggo Busye itu “puncak” dari masa lalu. Posisi di teater digenapi Motinggo Busye dengan masuk ke kancah perfilman masa 1970-an. Sejak masa 1950-an sampai 1970-an, ia dicemburui gara-gara sering beruntung, tenar, dan mendapat honor berlimpahan.

Di kalangan penikmat novel-novel pop, Motinggo Busye dikagumi dengan persembahan novel-novel berjudul Cross Mama, Tante Maryati, Retno Lestari, dan lain-lain. Kita menduga ada kolektor memiliki ratusan judul novel digubah Motinggo Busye berselera sastra dan pop. Kolektor itu tentu memiliki pula novel-novel Motinggo Busye mulai berselera islami, menjauh atau mengesankan oposisi dari novel-novel terdahulu. Gelagat terbaca di novel berjudul Sanu Infinita Kembar (1985). Novel itu dituduh bukti Motinggo Busye ingin kembali ke sastra, tak kebablasan di kubangan novel pop.

Kritikus legendaris HB Jassin memilih memberi pujian meski mengetahui ada masa Motinggo Busye kegirangan di novel pop. HB Jassin (1985) berkomentar bahwa novel-roman Sanu Infinitas Kembar itu “mencapai kedalaman yang belum pernah kita saksikan dalam roman-romannya terdahulu. Satu buku yang memerlukan kesadaran total untuk memahaminya.” HB Jassin itu orang baik. Beliau senang melihat si pengarang tenar insaf dan menempuhi jalan sastra bergelimang filsafat dan religiositas. Novel terbitan Gunung Agung itu memiliki pengantar pendek dari pengarang tampil sebagai “filosof” membantah kecemburuan orang-orang saat ia menjadi produsen novel pop. Motinggo Busye menjelaskan: “… tokoh Sanu tidak ingin mati selaku ‘manusia suci’, bahkan, pernah menolaknya. Sanu hanya ingin menjadi manusia biasa dengan kelebihan dan kekurangannya.” Kesantunan berlanjut di penulisan novel-novel memuat pesan-pesan agama alias berdakwah.

Posisi Motinggo Busye di sastra Indonesia masih tegak dan terhormat. Horison edisi Maret 1987 memuat pengakuan-pengakuan Motinggo Busye. Sejak mula, ia telah memiliki patokan: “Saya tetap membedakannya. Saya mempunyai selera sastra yang baik dan selera pop yang baik.” Pengakuan mengandung maksud keseriusan dan kesungguhan dalam menulis puluhan novel disadari beda cap: sastra dan pop. Para penuduh diharapkan menerima keterangan si pengarang. Motinggo Busye tak lupa mengaku memiliki dalil dalam penulisan cerita-cerita mulai filosofis dan agamis. “Buat saya ada beberapa ayat yang betul-betul kena pada pengalaman pribadi, misalnya, ayat melarang orang bermegah-megah.”

Pada 1990, Motinggo Busye memberi novel ke umat sastra dengan judul Fatimah Chen Chen. Sekian pembaca mengakui itu novel islami. Pada usia bertambah tua, Motinggo Busye dengan kesadaran sastra religius. Ia terus menulis, semakin membuat cemburu bagi kalangan pengarang menganut paham “malasisme”. Orang-orang bertambah kagum melihat daftar buku ditulis Motinggo Busye terus bertambah dan beragam. Sejak masa 1950-an, Motinggo Busye menulis cerita pendek, drama, novel, dan puisi. Sekian teks sastra telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, prancis, Jerman, Korea, Cina, Jepang, dan lain-lain. Ia memang pengarang besar, pengarang patut dicemburui.

Motinggo Busye menunaikan haji pada 1994. Ia masih beridentitas pengarang di Tanah Suci. Pulang ke Indonesia, ia bergelar haji dan “semakin” diakui penulis novel religius. Ilham menulis novel diperoleh di Plaza Masjidil Haram, Mekah. Terbitlah novel dalam kemasan sederhana berjudul Purnama di Atas Masjidil Haram. Novel diterbitkan Firdaus, Jakarta, November 1994. Novel dipersembahkan ke istri: H Lashmi binti Bachtiar. Novel itu warisan penting dari pengarang tenar mengembuskan napas terakhir pada 18 Juni 1999.

Tokoh bernama Burhan diceritakan berasal Indonesia mendapat keinsafan dan petunjuk ke iman selama tinggal di Arab Saudi. Di akhir novel, Motinggo seperti memberi nasihat. Istri Burhan meninggal: “Istriku mendapat kehormatan disembahyangkan oleh jemaah shalat Jumat di Masjidil Haram dan kemudian dimakamkan di pekuburan seberang kawasan Harat Albab….” Hari-hari berduka berlalu, Burhan menekuni agama dengan membaca kitab-kitab. Pada suatu hari, ia membeli kitab berjudul Nahjul Balaghah.” Pada saat membeli kitab, ia bersua perempuan pernah terlibat kasmaran setelah lama tak saling berkirim kabar. Perempuan itu bernama Siti Fatimah Eva Martinez. Di belakang Burhan, Eva Martinez mengatakan tentang buku itu digubah “Imam Ali yang universal, dihargai di dunia Timur maupun Barat.” Burhan memberi salam. Dua orang itu berpisah tanpa ada lanjutan jalinan perasaan. Si pengarang memberi nasihat bijak ke pembaca.

Kita mundur dulu ke masa bocah. Motinggo Busye menjadi orang selalu beruntung. Pada saat bocah, ia memiliki ratusan buku gara-gara ada Mobil Boekoe Balai Poestaka ditinggal pergi sopir. Pada 1942, pesawat terbang milik Jepang menembak ke segala arah. Mobil itu ditinggal pergi. Orang-orang kampung mengambil aki, spion, ban, dan lain-lain. Motinggo Busye bersama bapak dan kakak memilih mengambil buku-buku. Kenangan terindah ditulis 1987: “Bayangkan saudara-saudara, sejak 1942, semua buku itu, mulai dari cerita anak-anak sampai buku Haji Agus Salim dan Mohammad Hatta, aku lalap. Jadi masih kecil aku sudah baca buku filsafat….” Ia resmi jadi bocah kutu-buku. Beruntung! Buku-buku bukan dari pembelian atau pemberian tapi “penemuan” di zaman perang.

Masa lalu membentuk Motinggo Busye sebagai pengarang ampuh, menghasilkan ratusna buku. Bermula ratusan buku melahirkan ratusan buku, dari novel pop sampai novel religius. Bersikap ke para pencemburu, Motinggo Busye mengatakan: “Orang salah terka selama ini. Mereka kira Motinggo Busye paling menggebu cari duit. Tidak. Aku tidak cari duit. Tapi duit yang sering mencariku… Allah masih selalu sayang kepadaku, sebab dalam kitab suci, ada hamba-hamba Allah yang diberikan rezeki mendadak oleh-Nya.” Motinggo Busye memang sering beruntung dan kita berhak cemburu. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.