Indonesia Bersetrika

Orang mengenakan pakaian rapi itu sedap dipandang mata. Baju dan celana tampak sudah disetrika licin. Bekas lipatan masih tampak. Busana memang patut dikenakan setelah disetrika. Bocah-bocah di SD pernah mendapat pengertian dari guru. Baju atau celana sudah disetrika berarti membuat si pemakai sadar kerapian dan terlindungi dari kuman-kuman sempat menempel di kain.

Di SD, bocah-bocah pernah diajarkan cara melipat baju. Pelajaran tentang ketelitian, kesabaran, dan kerapian. Mereka pun dianjurkan mengerti peristiwa menyetrika. Baju atau celana telah kering mestilah disetrika dan dilipat apik untuk disimpan di lemari. Pelajaran kerumahtanggaan kadang disikapi secara mbeling oleh murid laki-laki. Konon, peristiwa itu cenderung milik perempuan.

Pada masa lalu, kebiasaan mencuci dan menyetrika diajarkan sejak bocah. Masa lalu sulit terulang. Kini, urusan mencuci dan menyetrika bergantung berat dan duit. Datanglah ke kios-kios memasang spanduk berbahasa Inggris ingin mengentengkan beban orang harus mencuci atau menyetrika. Di tempat bisnis, kita melihat mesin cuci dan tumpukan pakaian. Kita pun melihat orang menggerakkan benda berkabel maju-mundur. Orang itu sedang menyetrika, selalu rajin demi memenuhi kepuasan para pelanggan atau konsumen. Kita melihat sambil membaui cairan-cairan menguap. Sekian orang mengatakan itu wangi.

Adegan itu bisnis. Di rumah, menyetrika itu sering membebani bagi para pemalas. Kesibukan berulang setiap hari. Tumpukan pakaian selalu ada. Di situ, ada seragam sekolah, seragam kerja, dan segala jenis pakaian. Tukang setrika di rumah mungkin ibu. Adegan menyetrika bisa lesehan di lantai sambil menonton televisi. Ada pula ibu memilih duduk atau berdiri dengan menyetrika menggunakan meja. Peristiwa itu mungkin diiringi lagu-lagu dari radio. Duh, radio? Para pemilik masa lalu saja merasa marem mencuci dan menyetrika ditemani radio.

Peristiwa menyetrika di rumah itu “kewajiban” keseharian jika ingin semua penghuni berpenampilan sopan, rapi, dan elok. Di bisnis, urusan menyetrika mendatangkan untung besar tapi mengabarkan kemalasan ribuan orang. Bisnis itu berada di sekitaran kampus dan masuk di kampung-kampung. Bisnis ditanggung cepat. Orang tak perlu menunggu lama untuk mengenakan pakaian sudah rapi dan licin. Para penunggu itu berada di masa lalu saat mau menyetrika dimulai dengan membakar arang, mengipasi, dan menunggu panas. Ia masih kuno, menyetrika dengan benda memiliki patung kecil jago di bagian depan. Benda itu juga berat. Tangan cepat pegal dan capek.

* * *

Kita ingin membandingkan dengan situasi mutakhir. Ada orang sengaja merepotkan diri untuk menyetrika. Ia itu pemberani. Lelaki memilih menyetrika bukan di rumah. Di puncak bukit batu, ia menyetrika dengan dandanan pendaki. Meja dan setrika ada di ketinggian. Adegan itu dipotret dan dipasang di majalah National Geographic Traveler Volume 2 Nomor 2, 2010. Foto memikat tapi aneh. Keterangan di majalah: “Seorang petualang melakukan aksi ekstrem, menyetrika di puncak bukit batu di Custer State Park, Dakota Selatan.”

Di Indonesia, kita tak usah meniru. Peristiwa bukan bermaksud merampungkan pekerjaan di rumah. Foto cuma berurusan dengan tantangan bagi para petualang dan kehebohan foto. Kita tak ingin ada orang mati gara-gara menyetrika di ketinggian. Ia mungkin menyetrika puluhan baju dan celana. Capek dan gagal memiliki keseimbangan. Jatuh! Kita menduga ada angin kencang menerpa orang sedang menyetrika. Jatuh! Kita sarankan pada para pelaku fanatik menyetrika agar memilih tempat teduh, aman, dan bersih. Jangan mati gara-gara salah pilih tempat!

Indonesia justru memiliki pemaknaan setrika di ruang politik. Para pembaca majalah Tempo biasa merenung di garapan sampul mungkin memiliki ingatan atas sosok Joko Widodo. Foto-foto Joko Widodo di Tempo sering aneh dan memikat. Kita tak sedang mengingat foto-foto di acara-acara atau peristiwa-peristiwa resmi. Kita mundur ke Tempo edisi 30 April-6 Mei 2018. Majalah setahun lalu, majalah dengan tampilan sampul bersahaja dan mengesankan.

Lihatlah, Joko Widodo mengenakan kaus oblong! Ia sedang menyetrika baju kotak-kotak. Setrika itu tak tampak memiliki kabel menuju sumber listrik. Ah, setrika mutakhir tak berarang dan tanpa kabel! Gerakan tangan tampak luwes. Ia menyetrika dengan pengharapan-pengharapan. Joko Widodo tak sedang berbisnis mencuci baju dan menyetrika. Pada saat menyetrika, ia itu Presiden Republik Indonesia. Kita tentu memberi pujian jika di keseharian Joko Widodo menyetrika pakaian untuk dikenakan di pelbagai acara. Ia sibuk tapi masih sempat menyetrika. Jeda dari adegan-adegan politik dan rutinitas kenegaraan.

Ilustrasi garapan Kendra Paramita itu berkaitan hajatan demokrasi menuju 2019. Judul besar di sampul: “Menuju Laga Berikutnya.” Di halaman opini, kita membaca kalimat-kalimat menguatkan ilustrasi Joko Widodo sedang menyetrika baju diramalkan mau dikenakan (lagi) dalam pemilu, 17 April 2019: “Sebagai inkumben dalam pemilihan presiden 2019, Joko Widodo hampir memiliki segalanya: kekuasaan, birokrasi, dan kesempatan luas untuk bertemu dengan pemilih.” Penulis opini lupa bahwa Joko Widodo pun memiliki setrika. Bukti ada di ilustrasi. Kita sangsi setrika itu pinjaman dari tetangga. Joko Widodo memiliki duit untuk membeli setrika tanpa arang dan kabel. Ia pun menyetrika demi diri rapi, santun, dan bersahaja.

Duh, menyetrika di National Geographic Traveler dan Tempo berbeda dalih dan arah. Di puncak bukit batu, menyetrika berisiko kematian. Adegan menyetrika oleh Joko Widodo bisa berakibat menjadi presiden lagi atau kalah. Setrika ada di pembuatan simbol dan sebaran makna politis, dipindahkan dari pengertian domestik. Pembaca lega tak mendapati merek di setrika digunakan Joko Widodo. Setrika itu terbebas dari nalar bisnis menguntungkan perusahaan dan distributor. Kita berharapan ada keteladanan dari ilustrasi di Tempo. Menyetrika itu enak dan perlu!

* * *

Kita mundur ke masa Orde Baru. Setrika belum pernah dipilih Soeharto atau pejabat dalam mengumumkan kebijakan-kebijakan pembangunan nasional atau mengukuhkan politik pantang kalah. Penampilan para pejabat masa Orde Baru pasti necis dan rapi. Mereka tak perlu menyetrika. Pekerjaan itu sudah ditangani para ahli. Mereka itu bergaji dengan kesaktian menyetrika. Pejabat mengenakan baju dan celana tak bersetrika bakal membikin malu negara dan bangsa.

Para ahli itu menggunakan setrika dengan pelbagai merek. Kita tetap memastikan mereka mustahil menggunakan setrika jago dengan arang. Masa Orde Baru, kemajuan tampak dari peningkatan jumlah benda-benda elektronik atau berlistrik. Setrika itu termasuk benda penting dalam capaian-capaian pembangunan nasional. Soeharto mungkin malu jika masih melihat jutaan orang menggunakan setrika arang. Indonesia harus bermartabat dengan benda-benda berlistrik.

Dulu, Toshiba dan Philpis itu merek terkenal. Setrika keluaran Toshiba dan Philips idaman keluarga Indonesia. Harga tak murah. Keluarga miskin di desa-desa harus bersabar menunggu panen padi melimpah untuk bisa membeli setrika Toshiba atau Philips. Di kota, keluarga-keluarga melek literasi dan rajin membaca majalah-majalah wanita boleh berharapan mendapatkan setrika dari sayembara. Di majalah Sarinah, 17-30 Maret 1986, dimuat pengumuman: “Sayembara Gelombang VII Menyambut Hari Kartini dan Peringatan Super Semar.” Pengumuman meriah hadiah. Mata pembaca takjub. Pembaca pun tergerak: “Raihlah produk-produk Toshiba dengan kualitas dunia.” Di urutan keenam, hadiah berupa 50 setrika merek Toshiba. Lihatlah, setrika itu berwarna merah! Orang mendapat setrika mungkin bertambah nasionalis. Ia menyetrika bermisi memperingati Hari Kartini dan mengingat babak awal kebesaran nama Soeharto. Setrika masih hadiah. Bukalah majalah Femina, 30 Mei-5 Juni 1991, kita membaca “Sayembara Besar Femina I – 1991”. Sekian hadiah bisa didapatkan pembaca: mobil, mesin cuci, setrika, dan jam dinding. Dua puluh setrika merek Philips menjadi hadiah diperebutkan ribuan pembaca.

Pada 2019, setrika itu hadiah masih menggiurkan. Kita bisa berdoa mendapatkan setrika asal mengikuti kuis bertema kopi diselenggarakan Solopos. Setrika tetap hadiah. Apakah setrika juga kado terindah bagi pengantin? Kita meragu ada orang memberi kado setrika. Kado itu seperti perintah pada pengantin agar rajin mencuci dan menyetrika. Mereka itu bekerja, tak sempat mencuci dan menyetrika. Kado berupa setrika anggaplah “penghinaan” dan suruhan! Setrika untuk hadiah ulang tahun bagi lelaki atau perempuan berusia 17 tahun? Duh, hadiah itu petaka!

Pada masa 1990-an, bisnis setrika dikabarkan baik dan menguntungkan. Rumah-rumah tanpa setrika listrik berarti belum maju atau gagal menikmati kesuksesan pembangunan nasional. Kita simak iklan menandai selera setrika masa 1990-an. Iklan dimuat di majalah Kartini edisi 5-18 Maret 1990. Ajakan dari perusahaan menghasilkan setrika uap: “Tukarkan seterika bekas anda dengan seterika uap Black & Decker baru.” Kita memahami itu tukar-tambah. Benda lama ditukar benda baru dengan menambahi duit.

Zaman tukar-tambah setrika memberi andil di sejarah kaum keranjingan menyetrika demi kerapian Indonesia. Keterangan penting: “Seterika uap Black & Decker, yang jauh lebih baik daripada seterika listrik konvensional, kini dapat Anda peroleh dengan cara tukar tambah. Bawalah seterika bekas milik Anda, tipe apa saja, merek apa saja, dan dalam keadaan apa pun. Seterika bekas tersebut akan kami nilai dengan harga yang menarik.” Bujukan untuk berpihak ke setrika uap. Para pemilik setrika arang bekas tak perlu repot ikut menukarkan dengan setrika uap.

* * *

Pada 2019, kita mungkin bakal melihat adegan orang menyeterika di film berjudul Laundry Show. Pemberitaan di Jawa Pos, 2 Februari 2019, membuat kita mulai lumrah menulis dan mengucap laundri, berasal dari bahasa Inggris. Film disutradarai Rizki Balki itu semakin mengesahkan bahwa menyetrika itu pekerjaan menghasilkan duit, setiap hari. Penonton usahakan melihat setrika, jangan selalu memandangi Gisel Anastasia.

Selama puluhan tahun, kita diajak menggunakan istilah penatu ketimbang laundri. Ajakan itu sering gagal pada abad XXI. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, penatu diartikan “usaha atau orang yang bergerak di bidang pencucian (penyetrikaan) pakaian.” Istilah itu sulit melariskan film jika dipaksa diganti judul menjadi Penatu. Kita malah tergoda membuka pula pengertian setrika. Di situ, kita membaca arti setrika adalah alat melicinkan pakaian dan sebagainya (dibuat dari besi, cara memakainya dengan dipanaskan).” Kita mungkin keterlaluan harus membuka kamus untuk mengerti setrika. Kita mendingan menonton film atau menyetrika di rumah sambil mendengarkan lagu-lagu tercengeng di dunia. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.