Insan Kamil

cloudfront.net

Judul di atas menunjuk kepada seseorang yang telah dianugerahi kesanggupan untuk menampung sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala. Secara fisik, dia tidak lain merupakan makhluk sebagaimana orang lain pada umumnya. Akan tetapi secara ontologis dia adalah pengejawantahan dari kehadiran hadiratNya yang begitu gamblang terbaca pada berbagai tindakan dan perilakunya.

Dialah manusia sempurna yang kepadanya telah dianugerahkan karunia terbesar. Yaitu mendapatkan Allah Ta’ala itu sendiri. Mana ada karunia yang lebih besar di dunia ini dan di akhirat nanti dibandingkan dengan mendapatkan hadiratNya? Tak ada dan tidak akan pernah ada. Sungguh, beruntunglah manusia sempurna itu.

Yang pertama dan paling utama dari manusia sempurna itu tidak lain adalah Nabi Muhammad Saw. Dan setelah beliau adalah orang-orang yang paling mirip secara kualitatif-spiritual dengan beliau dari kalangan para nabi dan wali yang tersebar di dunia ini dari dulu hingga sekarang yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu orang.

Tentang manusia sempurna itu, Allah Ta’ala telah berfirman dalam salah satu hadis qudsiNya, “الإنسان سري وأنا سره/ Dia itu adalah rahasiaKu dan Aku merupakan rahasianya.” Artinya adalah bahwa “alamat” Allah Ta’ala itu tersimpan rapi pada diri insan kamil. Mengamatinya dengan ketajaman mata batin akan menjadikan kita atau siapa saja menemukan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan-perbuatan hadiratNya. Sedang bagi si insan kamil, Allah Ta’ala itu merupakan pelabuhan dari seluruh hidup dan matinya.

Secara spiritual, insan kamil itu merupakan sumbu bagi berlangsungnya kehidupan di seluruh alam raya. Bagaimana mungkin tidak, sedangkan kepadanya diserahkan oleh hadiratNya tidak saja pengetahuan secara detail tentang segala sesuatu yang ada dan terjadi, tapi lebih dari itu dia juga dianugerahi kesanggupan untuk mengaturnya sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Secara rohani, seluruh partikel alam semesta mengitarinya dengan penuh khidmat.

Ada pertalian yang sangat indah dan kuat antara seorang insan kamil dengan Allah Ta’ala. Dialah perpanjangan tangan hadiratNya dalam mengelola berlangsungnya roda-roda kehidupan. Karena itu dapat dimaklumi dan dipastikan bahwa ilmu pengetahuan yang ada pada diri insan kamil merupakan salinan langsung dari ilmu yang dimiliki oleh Allah Ta’ala. Baik ilmu itu secara global maupun secara terperinci.

Pertalian itu juga sangat indah dan kuat antara pena (al-qalam) dengan roh seorang insan kamil. Dalam konteks kepustakaan sufisme Ibn ‘Arabi, yang disebut pena Ilahi itu tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mendetail tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta. Semua ilmu pengetahuan itu tertata dengan rapi di cakrawala roh insan kamil.

Demikian pula antara Lawh Mahfuzh dengan hati seorang insan kamil, pertalian di antara keduanya sangat sublim. Dalam konteks ini, Lawh Mahfuzh itu dipahami sebagai “tempat” pembukuan dan pencatatan segala sesuatu yang berlangsung hingga batas tertentu. Karena itu, tidak satu daun gugur pun yang tidak terdeteksi oleh pengetahuan seorang insan kamil.

Pun, antara istana (al-‘Arsy) Ilahi dengan jasmani seorang insan kamil terdapat pertalian yang kukuh. Sebagaimana juga antara kursi hadiratNya dengan nafsu seorang insan kamil. Konotasi istana Ilahi itu menunjuk kepada persemayaman nama-nama Allah Ta’ala yang dipakai untuk mengatur semesta. Sedang yang disebut dengan kursi Ilahi itu tertuju kepada posisi perintah dan laranganNya.

Begitu sangat indah dan kuat hubungan antara insan kamil itu dengan hadiratNya. Sampai-sampai Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Barangsiapa melihatku, maka sungguh dia melihat Allah Yang Mahabenar.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

 

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!