Iram & al-Qur’an: Antara Fiksi, Sains, Iman

pixabay.com

Pernahkah Anda mendengar Rub al-Khali? Selain Gurun Sahara, gurun ini adalah gurun terbesar. Rub Al-Khali bahkan memiliki unsur kelebihan yang lain, yaitu mistis dan “mematikan”. Banyak pelintas yang raib tak tentu rimbanya. Jika sahara ada di Afrika, Rub al-Khali ada di dekat Semenanjung Arabia (Anda dapat melihatnya melalui citra satelit).

Tersebut sebuah naskah drama karya penyair Libanon, Khalil Gibran, yang berjudul Iram dzat al-Imad. Drama tersebut mengisahkan salah satu tokoh (yang diceritakan) yang dapat menembus lorong waktu, masuk ke masa lalu, menjelajahi gurun itu. Si tokoh bahkan, konon, dapat “menyaksikan langsung” kejayaan peradaban kaum Ad yang telah membangun Kota Kencana Seribu Tiang tersebut.

Tentu saja, yang ditulis oleh Gibran ini adalah karya fiksi sebab ia adalah drama, dan sebagai naskah, ia hanyalah salah satu genre dalam sastra (Dan sayangnya, bagian ini tidak saya temukan dalam banyak terjemahan Gibran yang beredar ada di Indonesia, termasuk di luar terbitan Pustaka Jaya yang notabene memiliki koleksi terjemahan paling lengkap menerbitkan karya-karya penyair Mahjar Libanon-Amerika ini; mungkin karena semua terjemahannya bersumber dari Bahasa Inggris sedangkan naskah yang ditulis berasal dari Bahasa Arab). Dalam naskah drama tersebut, Gibran menyertakan cupilkan kitab Siyar al Muluk-nya As-Syu’aibi. Nah, justru pada kata pengantar inilah rincian dan detil kota Iram tergambar cukup nyata.

Di dalam Al-Qur’an, kisah Kota Iram hanya disampaikan sekelumit saja, hanya dalam tiga ayat (6-8), pada Surah Al-Fajr. Adapun tentang kaum Ad disebut juga sepintas di surah yang lain:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ (6)

إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ (7)

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ (8)

6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?

7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,

8. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.

Ulama, sejarawan, ahli tafsir—termasuk Ibnu Katsir—dan pakar sejarah Arab, banyak menulis tentang kota rahasia ini, sejak dulu. Terkait nama yang oleh sebagian pendapat diperdebatkan antara nama kabilah atau nama kota, Muhamamd Jamaluddin al-Qasimi dalam Tafsir Al-Qasimi: Mahasinu Ta’wil (h.6148, juz 10) juga menyitir pendapat lain perihal Kota Kencana ini. Ia menyatakan bahwa kota tersebut dibangun selama 300 tahun (karena Syaddad sendiri—rajanya—berusia 900 tahun). Dalam Lisan al-Arab, kamus babon bahasa Arab, kata Ad dipahami sebagai sesuatu yang kuno. Dengan catatan, penggunaan kata ‘adiy’ dipakai sebagai kata sifat (adjective) untuk kekunoan, bukan isim ‘alam (proper noun). Pendapat lain: Ad juga dinisbatkan untuk penghulu kabilah yang nasabnya bersambung kepada Iram bin Sam bin Nuh AS.

Ini baru soal nama, banyak sekali pendapat dan banyak pula perbedaannya. Para orientalis yang berpijak pada Perjanjian Lama menyatakan bahwa nama ini, Iram, bersifat muannas (feminin). Ia mengacu pada Aadah, istri Lami’, cucu Sam bin Nuh atau ibu Yabal: tersurat di dalam Kitab Kejadian, dalam Perjanjian Lama. Sampai di sini, nama Iram belumlah benar-benar identik dengan kota raksasa kencana bagi sekelompok orang, mungkin suku atau kabilah, bernama Kaum Ad itu.

Sayyid Khamis dalam Al-Qashah ad-Dini Bayn at-Turats wa at-Tarikh (h.32-34), mengumpulkan banyak pendapat pakar mengenai lokasinya. Sebagian besar menyatakan Iram berada di Yaman, tapi secara pasti masih diperdebatkan, apakah antara Aden dan Hadramaut (menurut pendapat kebanyakan), atau Damaskus (menurut Said bin Musayyab, bahkan Al-Mas’udi di dalam Muruj ad-Zahab menyatakan bahwa Iram adalah nama alias dari Damaskus itu sendiri hanya saja dalam versi bahasa Ibrani), atau Alexandria (menurut Al-Qurtubi). Bahkan, Jurji Zaidan dalam “Arab pra Islam” meyakini “Ad Iram” sebagai frasa yang juga mengacu pada Taurat dan mitologi Yunani. Sementara itu, dalam kitab Ma’al Anbiya fil-Quran al-Karim, Afif Abdul Fattah menyimpulkan bahwa jika mengacu ke Ahqaf, maka lokasinya terletak di antara Yaman dan Oman, memanjang antara Hadramaut ke Syihr (h.86).

Akan tetapi, pendapat akan keberadaan kota tersebut ada juga yang menyangkalnya, tanpa menyangkal keberadaan kaumnya. Ibnu Khaldun, misalnya, memungkirinya dengan mengatakan bahwa Iram adalah nama kabilah, bukan nama negeri. Senada dengannya, Dr. Muhammad Bayumi Mahran, pengarang buku Dirasat Tarikhiyah min al-Qur’an al-Karim yang relatif kontemporer masa hidupnya, juga mengatakan pendapat serupa, bahwa kaum Ad memang eksis, tapi “negeri surga” yang dibuatnya itu tidak pernah ada, hanya isapan jempol, sebagaimana deskripsi yang menyatakan bahwa postur tubuh kaum Nabi Hud ini setinggi pohon kurma. Bantahan ini juga selaras dengan pendapat yang menyatakan dari sudut pandangan kebahasaan bahwa yang disebut “tiang-tiang” di ayat tersebut adalah “bagian tertinggi dari sebuah kemah”. Alasannya, bangsa Arab sangat dekat dan identik dengan kondisi tempat tinggal seperti itu, bukan tiang dalam makna literal. Jadi, mengacu pada pendapat-pendapat di atas, apabila ada orang yang memaknainya sebagai “postur tubuh yang sangat tinggi” itu wajar dan argumentatif.

Menurut pendapat yang lazim kita ketahui, kaum Ad adalah kaumnya Nabi Hud yang hidup setelah era “Banjir Nuh”. Setelah Nabi Nuh dan kaumnya mendarat dan tinggal di Bukit Al-Judi, mereka beranak-pinak. Bertahun-tahun sesudahnya, mereka menyebar. Nah, salah satu dari kelompok itulah ada yang disebut “kabilah ‘Ad”. Kabilah ini terdiri dari wanita dan lelaki yang kuat-kuat. Perawakannya besar dan kekar. Mereka kemudian tinggal di pegunungan yang bergua-gua. Itulah Bukit Ahqaf. Pegunungan ini membentang di antara Yaman dan teluk Oman.

Allah Swt. mengutus Nabi Hud alaihis salam untuk mereka. Nabi Hud merupakan putra Abdullah bin Ribah bin Al-Khulud bi ‘Ad bin ‘Aush bin Iram bin Sam bin Nuh as. Bangsa ini hidup makmur karena dikaruniai tanah yang subur. Sayangnya, perangai mereka buruk. Mereka suka merampok dan membegal sesamanya. Hukum mereka adalah hukum rimba. Yang kuat berkuasa, yang lemah tidak berdaya.

Kaum Ad tinggal dalam kemah-kemah (itulah mengapa ada pendapat yang mengatakan bahwa imad adalah bagian daripada kemah). Setelah itu, mulailah mereka melupakan akidah. Mereka kembali menyembah berhala. Salah satu berhala mereka bernama Hatar. Prestasi mereka, di bawah pimpinan Raja Syaddad (menurut keterangan Nashiruddin Abi Said As-Syairazi al-Baidlawi di dalam kitab Tafsir al-Baidlawi (h.184), Syaddad adalah penerus kepemimpinan sang ayah [Ad] karena saudaranya yang bernama Syadid, meninggal) adalah membangun sebuah kota raksasa. Impian mereka terhadap kota ini adalah menciptakan “Surga di Bumi” karena mereka mendengar surga hanya sebagai cerita. Setelah kota ini jadi, dipastikan tak ada satu kota pun di dunia yang menandinginya. Itulah kota Iram, kota raksasa bersepuh kencana dengan seribu menara.

Seperti disinggung di atas, seorang ulama cum sejarawan, Asy-Syu’aibi, di dalam Siyar al-Muluk (kisah para raja), menuturkan kisah kaum ini dalam sebuah petilan dengan narasi ala fiksi, mirip cerita rekaan khas produk sastra lama. Hal itu, barangkali, disebabkan karena tema yang diangkat terlalu besar, berada di luar batas logika kita yang bahkan hidup di teknologi supercanggih seperti sekarang. Sejauh ini, tidak ada penggambaran yang lebih rinci daripada paparan As-Syu’aibi. Inilah petikannya:

“Alkisah, setelah Syaddad bin ‘Ad menguasai dunia, ia mengutus 1000 orang panglima. Setiap satu orang panglima diiringi oleh 1000 pasukan. Mereka mencari tempat yang luas, airnya melimpah, udanya segar, dan jauh dari gunung. Untuk apa gerangan? Ia akan membangun sebuah ‘kota emas’.

Tempat itu akhirnya mereka temukan. Raja Syaddad lalu memerintahkan arsitek dan tukang bangunan untuk membuat gambar kota segi empat dengan ukuran 40 farsakh per segi. Masing-masing sisinya 10 farsakh (1 farsakh = kurang lebih 8 kilometer atau 3,5 mil).

Di tempat itu, mereka mulai bekerja. Mereka menggali dasar. Batas kedalamannya adalah jika galian menyembur air. Lalu, dasar itu ditimbuni batu akik Yaman hingga rata ke permukaan tanah. Setelah itu, mereka mengelilinginya dengan tembok setinggi 500 zira’. Tembok tersebut bukanlah tembok biasa, melainkan dinding bersepuh perak dan berlapis emas. Jika matahari terbit, orang akan tersilau ketika melihatnya.

Lebih dari itu, Syaddad juga memerintah para pekerja untuk menggali seluruh tambang emas untuk membuat 1000 istana. Jumlah ini sesuai dengan panglima kerajaannya. Setiap istana memiliki menara setinggi 100 zira’. Menara ini dihias dengan batu zabarjad (zamrud) dan batu yakut berhias emas.”

Itulah Kota Iram. Dalam penelitian arkeologis kontemporer, kota tersebut memiliki ibukota bernama “Ubhur”. Dan seperti kaum Tsamud, mereka yang kaya raya akhirnya lupa pada Tuhan Yang Mahakuasa.  Imbauan Nabi Hud agar mereka kembali sadar dan melangkah di jalan Allah, tidak digubris. Sebaliknya, nabi mereka diolok-olok, seperti kelakuan orang kaya yang kebetulan punya kuasa sering begitu di masa dulu, bahkan juga sekarang. Tak pelak, Allah lantas menurunkan azab kepada mereka. Bencana ini datang dalam dua tahap yang dijelaskan dalam Surah Al-Haqqah, ayat 6-7.

Dulu, selain orang yang beriman, tidak ada yang percaya akan keberadaan kaum dan kota itu: “Ad” dan “Iram”. Pasalnya, puing-puingnya tidak ditemukan; artifaknya tidak ada; fosil manusianya tidak ditemukan. Singkat kata, Kaum ‘Ad tidak punya bukti sejarah. Jadi, wajarlah jika orang ragu akan keberadaannya sebagaimana mereka tidak percaya akan kaum ‘Ad, kota Iram, serta azab Allah yang membuat mereka binasa. Mereka hanya tahu dari “qala wa qila”, atau “qala al-qail”, dari “katanya” ke “katanya”, hanya bersumber dari “tutur-tinular” suku Badui Arab Pegunungan semata-mata.

Sebelum arkeolog Nicholas Clapp mengumumkan penemuan reruntuhan itu pada tahun 1992, kisah di atas—lebih-lebih jika dituturkan dengan gaya eksposisi seperti As-Syu’aibi—cenderung dianggap fiktif dan karenanya wajar jika ia disebut fiksi. Untunglah Clapp telah menemukan puing-puing kota ini. Citraannya difoto melalui satelit. Foto tersebut menunjukkan adanya “kota yang tertimbun pasir”, kira-kira 183 meter dari permukaan. Setelah penggalian dilakukan, barulah kota itu bisa dilihat.

Berdasarkan data dari kitab Hayat wa Akhlaq al-Anbiya’, karya Ahmad as-Shabahi ‘Audullah, setelah malapetaka itu terjadi, Nabi Hud tinggal di Hadramaut, Yaman. Beliau diangkat menjadi rasul ketika berusia 40 tahun dan wafat pada usia 150 tahun.

***

Andaikan kita iseng menghitung usia batuan sedimen Bukit Al-Judi, zona yang diperkirakan tempat berlabuhnya perahu Nabi Nuh yang terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia, atau di daerah di Asia Kecil, antara Irak dan Turki sekarang, lalu memperkirakan usia artifak kaum Ad yang hidup setelah masa Banjir Bah itu, berubahkan iman kita andaikan sains modern membantahnya? Sejauh ini, sejarawan menyatakan bahwa kaum Ad hidup di kisaran 2000 hingga 2300 tahun sebelum-Masehi. Dari situ, kita bisa utak-atik usia Nabi Adam dengan menjumlah masa hidup tiga nabi sebelumnya, tentunya dengan prakiraan waktu hidup para nabi itu secara rata-rata. Lalu, andai saja, sains modern menemukan fosil yang usianya jauh lebih tua dari masa kehidupan nabiyullah Adam alaihissalam di bumi ini, apa pendapat kita terkait iman?

Mahia yang kita dapat dari kisah di atas adalah soal eksistensi Allah, iman, dan balasan, serta keunggulan kita sebagai Umat Muhammad yang “kontrak”-nya tidak akan diazab langsung di dunia kalau melanggar, berbeda dengan umat terdahulu. Jadi, nyatanya, latar tempat dan waktu dalam konteks kesejarahan kisah di atas itu hanyalah “bonus”, sebatas limpahan pengetahuan tentang masa lalu dan medan analisa sejarah dan sains modern. Maka, apabila ilmu pengetahuan dapat mengukuhkan keberadaan dan kebenarannya, manusia akan semakin percaya. Tapi, bagi para manusia pilihan, ia sudah tidak ada lagi pengaruhnya. Sayyidina Ali berkata: “Andaikan tabir penutup kegaiban itu tersingkap, tidaklah sedikit pun aku bertambah keyakinan”. Jika iman sudah di puncak, tak ada keraguan yang mampu menggoyahkan, baik oleh penjelasan ilmiah, lebih-lebih oleh celoteh para pendongeng. Dan di atas itu semua, Allahu a’lam.

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi

Latest posts by M. Faizi (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Lagguk

  2. Ilham J. Reply

    Andai saja naskah drama itu bisa diangkat menjadi film, ah semoga 😁

  3. Ilham J. Reply

    Dan film itu bisa dimix menjadi fiksi ilmiah, dan digarap hollywood, maka akan lebih banyak non muslim ingin mempelajari Qur’an.
    Meski sains modern suatu saat menemukan bukti empirik yang bisa saja tdk bersesuaian dgn Qur’an terutama mengenai rentang waktu, justru akan menjadi perdebatan yang panjang, yang akan membuat makin banyak orang mempelajari Qur’an.
    Toh tidak tertutup kemungkinan pengetahuan skrg akan terus menerus diupdate dan di upgrade yang tidak menutup kemungkinan akan makin mengokohkan apa2 yang difirmankan Allah SWT di dalam alQur’an.
    Semoga Allah selalu mencurahkan hidayah pada kita semua. Aamiin

  4. M Faizi Reply

    JUDULNYA “Iram dzat al-Imad” mungkin kalau versi English jadi Pillars of Emad atau City Iram of the Pillars atau City of Pillars

Leave a Reply

Your email address will not be published.