Jendela Pertama di Muka Bumi

Romantic window with flowers by Ernesto Scudiero

 

Sejak ibunya meninggal, Jonan dan ayahnya sering duduk di teras. Keduanya kerap melamun seperti sedang larut dalam ratap kehilangan. Jarang bercakap, selain hanya menatap sekitar dengan mata nanar dan basah, samar-samar beriring isak. Mereka biasanya duduk di teras itu sesudah makan pagi, tepat ketika sinar matahari mulai menjamah bibit pohon lengkeng setinggi lutut di halaman rumahnya.

Wajah keduanya baru terlihat bahagia ketika mereka pindah ke samping rumah. Di samping rumah itu, Jonan biasa menyiram bunga dan ayahnya membuang ulat-ulat yang bermukim di bunga itu. Tapi keduanya menolak untuk berada di tempat itu secara bersamaan. Biasanya bergantian, seolah satu sama lain merasa sungkan jika sama-sama berada di tempat itu. Entah apa yang mereka permasalahkan perihal itu, yang pasti—di tempat itu, sambil berjibaku dengan bunga-bunga—keduanya sama-sama senang melihat sebuah rumah di sebelah utara rumahnya. Rumah itu sebenarnya rumah lama, tapi baru ditempati penghuni baru bernama Veliza setelah ia membelinya kepada pemilik lama.

#

Jonan menyiram bunga di samping rumahnya. Sepasang tangannya cekatan mengarahkan mulut timba yang dianyam dari daun lontar. Posisi yang sedikit miring membuat alir air membentuk liutan kecil sehingga mirip tubuh ular, melengkung ke bawah, tepat membasahi pangkal. Ia bolak-balik ke sumur yang terletak di pojok halaman untuk mengisi ulang timbanya.

Bunga-bunga itu berbanjar lurus, memanjang ke utara. Jonan menyiram dari selatan. Ketika tubuhnya bergeser semakin ke utara, hatinya semakin bahagia, terlebih saat ia melirik rumah Veliza di sebelah utara rumahnya yang berjarak sekitar 40 meter tanpa pagar pembatas. Ketika batang bunga terakhir basah oleh ricik air penghabisan, saat timba yang dipegangnya kosong tanpa beban, Jonan tersenyum, memaku tatapnya hanya ke arah rumah Veliza. Rumah itu serasa jadi sumber kebahagian yang sepintas bisa melenyapkan ingatan kepada mendiang ibunya.

“Jika kamu selesai menyiram, sebaiknya ke dalam saja. Jangan berdiam di sini, apalagi hanya melihat-lihat rumah Veliza. Itu kurang sopan,” tegur ayahnya yang seketika mendekat. Jonan tak  menjawab sedikit pun. Ia menaruh timba dengan cara dikurungkan pada ujung cagak pesampaian, lalu bergegas ke dalam.

Setelah Jonan berada di dalam, giliran ayahnya yang menatap rumah Veliza. Ia sebenarnya juga merasa bahagia ketika menatap rumah itu. Sebagaimana Jonan, rasa duka karena ditinggal istrinya jadi lenyap berganti kebahagian saat melihat rumah itu, hanya saja ia merasa sungkan jika Jonan juga berdiri di tempat itu.

“Rumah itu seperti pemandangan surga,” ayah Jonan membatin. Sepasang matanya nyaris tak berkedip. Bibirnya selalu tersenyum.

#

Veliza dan ibunya baru empat bulan menempati rumah itu setelah ia membelinya kepada Jimmy, pemilik sebelumnya. Rumah Veliza yang berjarak 40 meter di sebelah utara rumah Jonan berpoles pewarna biru dengan kombinasi pewarna kuning yang sebagian mengelupas di daun pintu. Sebenarnya tak ada yang unik dari rumah itu. Ukurannya juga kecil, halamannya masih berupa tanah, tanpa tanaman bunga. Rumput halus menyebar di atasnya bersama pupuran daun-daun gugur yang mengering. Veliza maupun ibunya jarang menyapunya.

Di bagian halaman yang berpasir, ada banyak sarang undur-undur. Di dekatnya, ada pohon mangga yang rimbun tak terurus. Sedang di bawah pohon mangga itu ada sebuah bangku kayu yang sebelah kakinya sudah diganti bambu, tepat menghadap ke rumah Jonan. Veliza dan ibunya hampir setiap waktu duduk di bangku itu sambil bercakap, kadang sambil bergantian mencari kutu, sambil memotong sayur, menganyam tas dari utas serut rotan, atau kadang hanya tidur-tiduran.

Jonan—yang baru sebulan berkenalan dengan Veliza—sering menyapa atau melambaikan tangan sembari tersenyum ketika Veliza dan ibunya duduk di bangku itu. Veliza dan ibunya pun membalas sapa Jonan dengan ekspresi yang serupa. Begitu pula dengan ayah Jonan. Ketika ia berdiri di samping rumahnya itu, ia akan menyapa Veliza dan ibunya atau kadang terjadi obrolan singkat dari jarak jauh.

Veliza menganggap Jonan dan ayahnya biasa-biasa saja, laiknya tetangga lain yang biasa bertegur sapa sebagai wujud keramahan. Tetapi Jonan dan ayahnya menganggap Veliza dan ibunya mempunyai keunggulan dibanding tetangga lain meski mereka warga baru di tempat itu. Itulah sebabnya—baik Jonan maupun ayahnya—diam-diam kerap memuji keluarga Veliza di hati mereka masing-masing dan diam-diam juga menatapnya dari jauh sebagai pengagum rahasia.

#

Jonan berpikir, tidak baik selalu berdiri di samping rumahnya apabila hanya untuk melihat rumah Veliza. Apalagi ayahnya juga sering ada di situ. Hal tak menyenangkan lainnya ia juga merasa sungkan kepada Veliza dan ibunya ketika mereka melihat Jonan selalu ada di samping rumahnya dan pandangannya kerap terlempar ke arah mereka.

Jonan mencari cara agar dirinya bisa melihat Veliza dari tempat yang tidak diketahui oleh dia dan ibunya. Akhirnya Jonan punya inisiatif untuk membuat lubang pada tembok rumahnya di bagian utara yang lurus dengan rumah Veliza. Di balik lubang itu nantinya ia akan leluasa melihat Veliza; mengaguminya diam-diam seraya berupaya untuk memiliki hatinya.

Saat Jonan mengutarakan keinginannya untuk melubangi tembok itu kepada ayahnya, ayahnya langsung menyetujui, bahkan menyuruh untuk segera melakukannya. Ia menyambut gembira usulan Jonan. Sepasang matanya berbinar-binar, berpadu untai senyum yang terus rekah. Ia menunjukkan jari jempol kepada Jonan.

Pada hari yang disepakati oleh keduanya, akhirnya bagian tembok yang mengarah ke rumah Veliza pun dilubangi. Jonan begitu bersemangat mematuk ujung linggis ke tembok itu hingga patahan tembok itu berjatuhan. Ayahnya lebih bersemangat lagi, ia juga turut melubangi dengan mengapak bagian yang sudah diberi garis. Keduanya sama-sama bekerja melubangi tembok mengikuti garis segi empat agak panjang yang sebelumnya mereka sepakati.

Perlahan, sebuah lubang kecil akhirnya menganga, mengirim seberkas cahaya ke dalam ruangan. Jonan mengamati lubang itu, rumah Veliza mulai terlihat dari lubang itu. Jonan tersenyum bahagia, membuat ia lebih giat lagi menusukkan linggis hingga lubang lebih lebar. Ayahnya juga tampak ceria saat melihat rumah Veliza dari lubang itu.

Lubang tembok semakin lebar, nyaris memenuhi garis ukur yang mereka buat. Cahaya yang masuk semakin terang. Udara yang menyelinap ke dalam ruangan juga semakin besar. Jonan tersenyum kepada ayahnya, ayahnya juga membalas dengan senyuman, ia mengangguk sambil mengacungkan jempol. Setelah lubang itu mencapai ukuran garis segi empat, tepatnya ketika rumah Veliza bisa dilihat dari dalam, Jonan dan ayahnya berjabat tangan mengekspresikan keberhasilannya. Lubang itu dibiarkan menganga sepanjang siang. Sedang di malam hari, lubang itu ditutup dengan kain.

Di balik lubang itu tersedia sebuah bangku panjang yang menghadap ke utara. Jonan kembali menemukan hal ganjil; lagi-lagi ayahnya selalu berebut untuk duduk di dekat lubang itu. Mulanya mereka bergantian, tapi pada akhirnya—karena dorongan sebentuk rasa di masing-masing dada mereka untuk melihat rumah Veliza—keduanya tidak sungkan duduk bersama di dekat lubang itu, menatap rumah Veliza atau tepatnya menatap penghuninya.

Lubang tembok itu bagi Jonan dan ayahnya serasa lubang ajaib yang bisa menembuskan pandangan mereka ke arah taman surga. Bagi keduanya, memandang rumah Veliza dari balik lubang itu adalah upaya menyemai benih kebahagiaan yang takk bisa diganti dengan kegiatan apa pun. Saking bahagianya,  Jonan dan ayahnya sudah sempurna melupakan mendiang ibu. Mereka juga melupakan teras dan bunga-bunga di samping rumahnya, bahkan kerap lupa makan dan mandi.

“Aku sungguh bahagia bila melihat rumah Veliza dari balik lubang ini,” tegas ayah Jonan suatu ketika.

“Kenapa, Yah?”

“Rahasia,” jawab ayah Jonan singkat.

“Saya juga bahagia melihat rumah itu dari sini. Alasannya juga rahasia,” sahut Jonan melirik ayahnya, kemudian mereka tertawa bersama.

#

Suatu hari seekor kuda bagus masuk halaman rumah itu, ternyata ayah Veliza baru pulang dari rantau hendak menyiapkan acara pertunangan Veliza. Dua hari berikutnya tiga kereta datang beriringan, orang-orang berpakaian indah turun dari kereta itu membawa beberapa perangkat lamaran penuh hiasan mewah.

Kini di balik jendela pertama itu, Jonan dan ayahnya sering berurai air mata. Jonan menangis memang ingin diketahui ayahnya agar ia bisa mencurahkan luka hatinya kepada si ayah, tapi Jonan bingung karena ayahnya juga sering menangis di tempat itu. Si ayah juga punya keinginan yang sama, supaya tangisnya diketahui Jonan dan ia ingin mengutarakan luka hatinya kepada Jonan. Hingga tibalah suatu pagi, saat keduanya dipisau hening bercampur isak, dengan tatap sayu dan kelopak mata membengkak, obrolan mereka mulai terbuka.

“Ayah dari kemarin kenapa menangis?” suara Jonan terdengar sedikit gemetar.

Ayahnya melirik wahah Jonan perlahan, sejenak menyeka air mata, “Aku sebenarnya mencintai ibu Veliza tapi ternyata dia punya suami,” ia menunduk dan meneteskan air mata. Jonan menanggapinya dengan isak pula, bibirnya tak bisa berkata.

“Kamu kenapa menangis juga dari kemarin?” ayah Jonan balik bertanya, masih menatap wajah Jonan.

Jonan terdiam, tangisnya kian pecah, sebentar ia mengatur napas. “Saya juga terluka, Yah. Saya diam-diam mencintai Veliza, tapi Veliza telah bertunangan,” Jonan menggigit bibir, air matanya mengucur.

“Mungkin karena kita melubangi tembok ini, hati kita juga berlubang, Nak.” Ayah Jonan melirik lubang tembok.

Jonan tidak menyahut. Ia hanya mengamati lubang tembok rumahnya itu serasa mirip lubang luka di hatinya.

 

Rumah FilzaIbel, 2020

A. Warits Rovi
Add Me
Latest posts by A. Warits Rovi (see all)

Comments

  1. robeil Reply

    Kerennnn
    Tapi saya bingung dengan kata-kata dalam kalimatnya kak. Saya tidak tahu apakah mereka typo, atau memang dirangkai demikian. Namun, cerpen ini luar biasa 🥰🥰🥰🥰

  2. Suci Saraswati Reply

    Penulisan kalimat yang apik. Membuat aku banyak menemukan pencerahan untuk memperkaya tulisanku. Kerbis!

  3. rizky akmalsyah Reply

    Luar biasa pak guru, awalnya memang agak ngejelimet, mungkin karena rangkaian bahasanya kali ya, tapi diujung cerita menusuk banget. Saya jadi ikutan pedih huhuhu

  4. Adien Tsaqif Reply

    Keren, pak

  5. Abid Azhary Zain Reply

    Ajiiib !

  6. khofifah Reply

    oalah
    ..

  7. Agam Ramadhan Reply

    Karena memulai cinta, maka tak luput dari luka!

  8. Astri Reply

    Kayak cerpen terjemahan. Gaya bahasanya mirip cerpen luar

  9. Elis Faza Fauziah Reply

    Aku suka

  10. Fry Reply

    Apa ada yg merasa cerita ini lucu….????
    klw ada kt sama ^v^

  11. Em Reply

    Padahal ide ceritanya sederhana. Tapi pengemasannya bagus Pak… Alurnya juga, hehe. Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.