Ju’uni Adalah Hantu

Ju’uni Adalah Hantu
7thave.bandcamp.com

Pertama kali Ju’uni datang ke rumah ini, si tuan rumah mengira kalau dia adalah pacar Drasap Lesmana. Rumah ini memang sering dikunjungi, bukan oleh sembarang orang, melainkan oleh orang-orang tertentu yang berpikiran rasional dan berwawasan luas. Ju’uni dan Drasap Lesmana datang sekitar pukul dua dinihari. Si tuan rumah sedikit heran, lantaran dia belum pernah melihat Ju’uni. Tubuh Ju’uni terlalu mungil untuk seseorang yang masih berkeliaran pada jam larut seperti itu. Dalam pandangan pertama, ia kelihatan seperti seorang gadis remaja yang baru masuk sekolah menengah, bahkan mungkin sekolah menengah pertama.

Tapi setelah keduanya masuk rumah dan Drasap Lesmana langsung tertidur di karpet, si tuan rumah segera tahu kalau Ju’uni bukanlah pacar Drasap Lesmana, juga sudah melampaui usia remajanya. Si tuan rumah dan Ju’uni berbincang-bincang sampai menjelang subuh. Mereka langsung akrab. Tak ada kecanggungan di antara mereka. Malam itu, tidak seperti biasa, kecuali Drasap Lesmana tak ada orang lain yang datang. Dari percakapan mereka, si tuan rumah menyimpulkan kalau Ju’uni termasuk jenis orang yang bisa bergabung dengan orang-orang lain yang kerap datang ke rumah ini. Memang, kadang-kadang ada orang-orang baru yang datang, dibawa oleh orang-orang lama. Sebagian besar dari mereka tidak pernah datang lagi. Biasanya terhadap orang-orang baru itu, si tuan rumah yang bijak, jujur, bersih hati, dan tajam pikirannya langsung, tanpa berkenalan lebih dulu, menanyakan hal-hal tertentu. Misalnya, pernah ada seorang gadis yang ditanya berapa jumlah pasir di pantai. Gadis itu terheran-heran dan langsung disergap gelisah, sebentar-sebentar melihat arlojinya, ingin segera angkat kaki dari rumah yang mungkin diduganya cabang sebuah rumah sakit jiwa.

Setelah kunjungan pertamanya, Ju’uni kerap datang kembali, sendirian. Mula-mula selalu dengan kesan hendak mencari Drasap Lesmana. Si tuan rumah memaklumi itu, Drasap Lesmana sudah menjadi semacam lisensi bagi Ju’uni untuk bisa datang. Namun, karena si tuan rumah adalah orang yang bijak, jujur, bersih hati, dan tajam pikirannya, hal itu tidak menjadi masalah. Karena sering berkunjung, Ju’uni pelan-pelan kemudian dikenal dan mengenal setiap orang yang sering datang ke rumah ini. Di antara sejumlah orang itu, ada beberapa yang paling rajin datang, bahkan seperti sudah memiliki jadwal tetap. Pada orang-orang itu Ju’uni akan bercerita secara tidak langsung perihal siapa dirinya dan apa pekerjaannya. Pada Lengbo Mahputar, Ju’uni bercerita tentang pekerjaannya di sebuah LSM yang mengurusi hewan-hewan yang terancam punah. Pada Pandoci Sonmen, Ju’uni bercerita bahwa dulu ia pernah menjadi seorang Floris. Pada Astabib Saleh, Ju’uni berkisah kalau di rumahnya ia memelihara berbagai jenis ikan. Dan pada Langgi Danamar, Ju’uni berujar bahwa ia telah mengikuti sekian banyak organisasi dan sudah dijadwalkan untuk berangkat ke sejumlah negara. Hanya pada Gus Paraselsus ia tidak sempat bercerita, mungkin sebab Gus Paraselsus yang matanya selalu tampak loyo bagai iblis yang kebanyakan disiksa itu sedang berpikir keras menyiapkan tugas kuliahnya.

Setelah beberapa waktu, setiap berkunjung Ju’uni tidak lagi menanyakan Drasap Lesmana, seakan-akan lisensinya itu sudah kedaluwarsa. Ia dengan santai datang dan menginap di rumah ini, bergabung dengan pembicaraan yang jelas topik dan tujuannya bersama siapa saja yang ada. Ia juga mulai memikirkan kebersihan dan keindahan rumah ini serta kebutuhan orang-orang di dalamnya. Ia punya rencana menanam bunga matahari di halaman, memasak berbagai menu masakan setiap hari, serta menyediakan pelbagai perkakas untuk perawatan tubuh dan wajah. Hal-hal tersebut bertentangan dengan cara hidup di rumah ini. Mereka yang sering datang adalah jenis orang yang tidak terlalu peduli dengan kesehatan; mereka selalu tidur menjelang adzan subuh, bangun tengah hari, tidur lagi waktu maghrib, serta minum kopi dan merokok lebih banyak dari siapa saja. Kehadiran Ju’uni seperti garis silang di sebentang bidang datar yang telah berisi gambar. Tapi garis itu samar dan nyaris tak terlihat sebab lantaran cara hidupnya, mereka yang sering datang itu cenderung bersikap masa bodoh terhadap kehadiran orang lain, meski orang tersebut berada di sekitar mereka. Hanya si tuan rumah yang melihat itu dengan jelas, berkat kebijaksanaan, kejujuran, kebersihan hati serta ketajaman pikirannya.

Karena si tuan rumah ingin meyakinkan dirinya perihal siapa dan apa pekerjaan Ju’uni, pada suatu kesempatan dia berusaha memancing Ju’uni untuk bercerita.

Cerita-cerita Ju’uni sungguh ganjil, bukan karena melibatkan hal-hal gaib, tetapi karena cerita-ceritanya saling membantah satu sama lain. Ia juga membuat tokoh-tokoh ceritanya punya watak yang bertentangan dalam dirinya. Menurut ceritanya sendiri, sejak masih remaja, Ju’uni sudah kerap keluar rumah, bergaul dengan siapa saja, serta mengunjungi tempat-tempat yang biasanya hanya dikunjungi orang dewasa. Pada waktu itu, Ju’uni sudah punya banyak pacar, dan suatu saat ia kedapatan sedang bermesraan di kamar dengan salah seorang pacarnya. Ayahnya menangis melihat peristiwa itu dan beberapa waktu kemudian pacar Ju’uni mati tenggelam di sungai. Sebenarnya mereka nyaris mati bersama, untunglah ada anak-anak muda yang sedang balapan liar menariknya dari dalam mobil yang hampir tenggelam. Waktu si tuan rumah bertanya soal detail kejadian itu, Ju’uni menjawab dengan simpang siur. Apalagi ketika Drasap Lesmana ikut dalam percakapan itu dan membuat dugaan bahwa kecelakaan yang dialami Ju’uni dan pacarnya adalah akibat perbuatan ayahnya. Ju’uni membantah dugaan itu, ia bilang “waktu itu ayahku entah ada di mana.” Namun tak berapa lama kemudian, ketika cerita itu diulang, situasinya berubah, Ju’uni berkata kalau pada saat itu ayahnya sedang ada di rumah, dan untuk pertanyaan lain di seputar kejadian itu, Ju’uni menjawab kalau ia tidak ingat.

“Padahal, aku bisa bayangkan kengerian dari peristiwa itu. Bayangkan, kita berada dalam mobil yang menabrak besi pembatas dan terjun ke sungai. Itu pasti jadi trauma yang akan terus kita ingat,” kata Lengbo Mahputar.

“Aku sama sekali tidak percaya pada semua ceritanya,” lanjut Lengbo. “Semuanya…,” katanya lagi menegaskan. Namun, Drasap Lesmana punya pertimbangan lain, dia bilang, “Tapi anehnya, kalau sama saya, ia bercerita dengan runut.” Ucapan ini mustahil dibuktikan kebenarannya, karena mereka semua, kecuali Drasap sendiri, bukanlah Drasap Lesmana. Sementara Pandoci Sonmen dan Langgi Danamar hanya terkikik-kikik dan sebentar-sebentar menghirup kopi dan mengisap rokoknya. Saat itu, Astabib Saleh tidak hadir, sedang Gus Paraselsus sedang sibuk belajar.

Lengbo Mahputar berambut kribo dan berkulit hitam. Dia datang dari Timur Jauh, dari sebuah kampung bernama Lahamalo. Dia keponakan Ayi Kaka, Kepala Kaum, di kampung itu. Kaum yang menurut Lengbo sendiri adalah kaum penyihir. “Tapi sihir tak bisa dipakai dalam urusan teknologi,” ucapnya suatu ketika. Dia belajar di sekolah tinggi komputer tapi tak mau menyelesaikannya. Dia bisa bernyanyi, juga main sandiwara, walaupun seorang musisi pernah bilang “semua orang Timur Jauh bisa bernyanyi seperti itu” ketika Lengbo mencoba memamerkan kemampuan bernyanyinya. Meski kerap bersikap masa bodoh tapi Lengbo Mahputar menghormati Drasap Lesmana. Di antara semua yang rajin berkunjung ke rumah ini, mungkin Drasap yang paling sering punya pekerjaan. Drasap bertubuh atletis, ini wajar sebab di samping memang terlahir seperti itu, dia juga pernah belajar menari pada seorang koreografer yang cukup ternama. Koreografer ini terkenal karena selalu mencoba melintas batas dan senantiasa berkata bahwa ia ikhlas berkarya untuk negeri, meskipun sejumlah komentator mengatakan kalau karya si koreografer begitu-begitu saja.

Pembicaraan tentang kebenaran cerita-cerita Ju’uni terus berlangsung sampai menjelang subuh. Bermacam teori dan dugaan dilontarkan; Ju’uni tak bisa membedakan fantasi dan kenyataan, Ju’uni seorang pendusta, Ju’uni penderita mitomania. Drasap Lesmana percaya pada cerita Ju’uni dan menduga bahwa peristiwa kecelakaan mobil tersebut yang membuat ia jadi seperti itu. Namun dugaan dari Pandoci Sonmen yang membuat tercenung. Dia bilang, mungkin saja Ju’uni adalah hantu. Saat itu pembicaraan berlangsung di ruang tengah, dan Ju’uni yang ikut menginap sudah tidur di salah satu kamar. “Coba, ayo lihat ke dalam. Jangan-jangan ia sudah tidak ada,” kata Pandoci Sonmen. Atas dugaan itu tidak ada yang berkomentar—entah karena tahu itu cuma seloroh belaka, atau diam-diam terlintas dalam pikiran bahwa mungkin saja dugaan itu benar adanya—kecuali Langgi Danamar yang terkikik-kikik. Hanya si tuan rumah yang memang bijaksana, jujur, dan berhati bersih serta berpikiran jernih yang bisa meredakan perdebatan itu. Dia bilang bahwa kita harus selalu sabar, berpikir positif, dan menghindari sangkaan buruk.

Esok harinya, ketika semua sudah bangun, mereka tidak menemukan Ju’uni di kamar tempatnya tidur. Mungkin ia sudah pergi pagi-pagi, ketika semua orang di rumah masih tidur. Mereka ingat kalau Ju’uni sebelumnya berkata bahwa ia akan pergi ke Maldives. Tidak ada yang meributkan hal tersebut. Hari-hari lantas berlalu seperti biasa. Tapi, dengan hatinya yang bersih dan pikirannya yang jernih, si tuan rumah melihat suatu perubahan telah terjadi; semua orang yang biasa datang dan menginap di rumah ini tiba-tiba sering berlaku atau menceritakan hal-hal aneh.

Lengbo Mahputar pada suatu hari datang membawa sebutir buah dan berkata bahwa itu adalah buah khuldi. Buah tersebut tak boleh sembarangan diletakkan, tapi juga tak boleh ditaruh di tempat khusus. Harus dibiarkan saja bergeletak begitu saja. Drasap Lesmana suatu ketika berseru kalau dirinya telah berubah jadi mesin. “Aku tidak butuh makanan. Makanan yang butuh aku!” serunya ketika si tuan rumah menawarinya makan. Pandoci Sonmen bersaksi bahwa dia telah melihat kucing Himalaya peliharaan pacar si Lengbo tiba-tiba memanjangkan lidahnya bagaikan tali dan nyaris mencekik lehernya. Sementara itu, setiap datang berkunjung, Langgi Danamar selalu berpidato dan membayangkan dirinya adalah seorang diktator besar seperti yang pernah diperankan oleh Charlie Chaplin dalam sebuah filmnya. Bahkan yang akhir-akhir itu jarang datang, misalnya Astabib Saleh dan Gus Paraselsus, juga berlaku aneh. Astabib, yang tidak punya bakat menyanyi, tiba-tiba bercerita kalau dia sudah bergabung sebagai vokalis di sebuah band rock n roll. Sementara Gus Paraselsus setiap kali datang selalu bercerita tentang kondisi kerajaannya, seakan-akan sedang berada di Inggris Raya dan dia hidup sebagai Macbeth. Hanya si tuan rumah yang bijak, jujur, bersih hatinya serta jernih pikirannya yang tidak berperilaku aneh.

Sampai sekarang Ju’uni tidak pernah datang lagi ke rumah ini. Drasap Lesmana yang pertama kali membawa Ju’uni tidak bercerita apa-apa soal itu. Tidak pula ada yang bertanya-tanya; seorang perempuan bernama Ju’uni seakan-akan tak pernah ada. Meski mereka yang biasa berkunjung tetap berkunjung; menjalani hari-hari sebagaimana biasanya; tidur menjelang adzan subuh, bangun tengah hari, tidur lagi waktu maghrib, serta minum kopi dan merokok lebih banyak dari siapa saja. Ditambah perilaku dan cerita-cerita mereka yang kian aneh.

Mungkin pembaca yang budiman bertanya-tanya kenapa si tuan rumah tetap baik-baik saja dan tidak turut berlaku aneh serta selalu digambarkan bijak, jujur, bersih hatinya dan jernih pikirannya. Sesungguhnya itu dapat dimaklumi. Sebab, tidak ada orang yang mau menjelek-jelekkan dirinya sendiri, bukan?

 

(Kekalik, 2018)

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (Akarhujan, 2014), Rencana Berciuman (Halindo, 2015), dan Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015). Ia juga menulis dan menyiarkan cerita pendek serta rajin mengisi kolom di surat kabar lokal. Bersama sejumlah kawan mendirikan dan mengelola Komunitas Akarpohon. Suatu komunitas nonsanggar yang mengupayakan penerbitan buku, kelas menulis, dan proyek-proyek seni lainnya. Email: pohonkata@gmail.com
Kiki Sulistyo

Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.