Kalender: Bermula Puisi, Berakhir Birokrasi

in Memorabilia by

Desember belum rampung. Hujan masih sering turun. Di jalan, keramaian dicipta oleh spanduk dan poster. Seribu bujukan mengartikan tahun berakhir dengan belanja, konser musik, liburan, dan makan. Semua berdalih “menguburkan” tahun lama demi tahun baru. Di jalan, mata kita sulit bertemu kalender. Di rumah, kalender-kalender masih ada di dinding atau di atas meja. Kalender mengabarkan Desember. Orang mungkin gemetar atau menunduk malu saat lembaran Desember itu ditutup, disobek, dilipat, atau dibuang. Sekian perkara teringat, menata deret gagal, salah, letih, dan kecewa. Orang pun tak sabar berpisah dengan Desember. Bulan itu lambat bergerak untuk sampai ke pesta di malam paling ramai. Waktu tak diheningkan tapi diramaikan.

Di koran, kita masih mengerti Desember. Pengertian bertambah di Kompas, 13 Desember 2018. Foto di lembaran ekonomi mengabarkan: “Pekerja mengurutkan lembaran kertas kalender tahun 2019 yang dibuat di Percetakan Alfath, Kelurahan Demangan, Gondokusuman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (12/12/2018). Selama bulan November dan Desember, permintaan kalender untuk tahun mendatang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.” Siapa pemesan? Siapa bakal memasang kalender-kalender di dinding rumah. Kalender baru, kalender masih memiliki nama-nama bulan: Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Nama-nama pernah diperintahkan guru pada murid-murid di SD agar dihapalkan.

Pada akhir tahun atau awal tahun, orang-orang kadang kelebihan kalender. Puluhan kalender diperoleh dari kantor, sekolah, koperasi, bank, komunitas, toko, atau karang taruna. Dinding-dinding di rumah tak mungkin dipasangi puluhan kalender. Pemilik rumah belum ingin membuat galeri untuk pameran kalender. Kalender-kalender memiliki gambar, warna, dan pesan berbeda. Di kalender, produksi makna berlangsung meski lekas dibisukan oleh kesibukan atau kebosanan menatap kalender di dinding.

Kalender itu tema. Hasan Aspahani menggubah puisi berjudul “Di Hutan Kalender”. Puisi ingin mengejek, menasihati, dan mengutuk. Kita membaca secara ikhlas tanpa cemberut. Puisi mustahil selaris penjualan kalender. Kita membaca puisi agar ada ingatan berbeda atas kalender. Puisi tak bergambar seperti lembaran kalender. Puisi masih kata-kata.

Aku tersesat lagi. Di hutan kalender.

Angka-angka tanggal dan nama hari tak
terasa ada di jatuhan serasah. Hujan dan
kemarau sudah dijinakkan. Yang tumbang dan
yang menjulang: bersilang, saling sagang.

Ada kupu-kupu hinggap di tanggal kosong.

Di sayapnya terbaca: seperti angka. Tanggal
yang belum diberi tanda, tapi aku tak sempat
mengingat, tak sempat mencatat. Seperti ada
hujan abu, serbuk sayap seribu kupu-kupu.

Sekian tahun sebelum Hasan Aspahani kepencut tema kalender, Zawawi Imron (1976) menggubah puisi berjudul “Kalender”. Puisi mengenai umur dan penanda waktu di kertas-kertas. Pujangga asal Madura itu menulis: dengan kertas kalender yang baru kusobek/ kubungkus jejak-jejakku/ dan kulemparkan ke kotak sampah/ seorang malaikat tiba-tiba berdiri/ dan memberiku selembar sketsa. Sobekan kalender mengartikan perubahan waktu. Umur pun bertambah. Kalender disobek berarti tak berguna lagi. Tindakan membuang ke tempat sampah mirip siasat “melupakan” segala hal di masa silam. Di akhir puisi, Zawawi Imron menulis: telah kusobek kalender ini/ telah kusobek umurku sendiri. Kalender bercerita umur manusia.

Dua puisi paling cocok dibaca saat hari-hari masih di pelukan Desember atau Januari. Kini, kita membaca sambil mengimajinasikan berada di gerak waktu. Kita berharap ada perusahaan atau dinas pemerintah mau memilih puisi gubahan Hasan Aspahani dan Zawawi Imron dipasang di lembaran-lembaran kalender. Kalender berisi angka, nama hari, dan nama bulan dengan ruang dicetak puisi dari para pujangga Indonesia tentu terpandang estetik. Kalender berpuisi, jeda dari gambar, foto, dan logo.

Kita masih menanti pembuatan kalender berpuisi. Penantian diselingi undangan menengok ke kalender di masa lalu. Pihak Tempo pernah membuat kalender khas. Di lembaran-lembaran menandai bulan, dipasang 12 gambar kulit muka pilihan. Keseriusan membuat kalender bersejarah itu dijelaskan di rubrik “Surat dari Redaksi” di Tempo, 18 Januari 1986. Kalender meja dikerjakan dengan perhitungan estetik dan jurnalistik.

“Setelah desain disetujui, barulah dipilih gambar yang perlu ditampilkan. Pilihan jatuh pada 12 gambar kulit muka yang pernah dimuat Tempo. Dasar pemilhan antara lain: teknis pengerjaannya bagus, peristiwa yang digambarkan cukup awet dan mewakili citra gambar kulit muka Tempo, sebagai ‘perlambang’. Tim yang menetapkan pilihan dari puluhan gambar yang tersedia antara lain Kepala Produksi Tata Muka S Prinka, Jim Supangkat, Goenawan Mohamad, dan Fikri Jufri,” keterangan di Tempo. Siapa masih mengoleksi kalender meja Tempo? Di pasar buku dan kertas lawa, kalender itu bisa memiliki harga ratusan ribu. Kalender dicap bersejarah pantas jadi rebutan para kolektor.

* * *

Dulu, majalah-majalah sering menerbitkan kalender bagi pelanggan, rekan bisnis, atau pembaca. Kalender jadi persembahan mengartikan waktu dan pekerjaan di pers. Pilihan selera kalender tak semuluk Tempo. Kita menengok penawaran kalender di 2 majalah terbit masa 1960-an, sebelum dan setelah malapetaka 1965.

Di majalah Varia, 30 Oktober 1963, iklan kalender dimuat di halaman 8, bersanding dengan iklan-iklan batik, kosmetik, dan balsem. Tawaran ke pembaca: “Kalender Varia 1964 akan kembali muntjul sebagai kalender dua bulanan (6 lembar a 2 bulan penanggalan) dengan gambar bintang film: (1) Diang Anggriani; (2) Yoshiko Sakuma; (3) Suzanne Pleshette; (4) Miyuki Kuwano; (5) Sri Redjeki; (6) Connie Stevens.” Penulis tak mengenali 6 bintang film pilihan Varia. Sri Redjeki pun tak pernah mengenali atau melihat foto dalam adegan termanis. Sekian artis asal Indonesia. Sekian artis dari Jepang dan Eropa. Pihak Varia mengumumkan persediaan kalender terbatas. Orang-orang dirangsang lekas membeli dan mengoleksi. Pada abad XXI, kalender keluaran Varia itu masih bisa dipandang atau semua musnah?

Indonesia belum memiliki museum kalender. Negeri dengan sejarah besar pantas segera memiliki museum kalender. Pada masa Orde Baru, Ibu Tien Soeharto mungkin lupa mengusulkan harus ada museum kalender di Taman Mini Indonesia Indah. Kalender-kalender dari masa lalu pasti memiliki cerita-cerita memberi pengaruh di sejarah Indonesia. Publik bakal diingatkan masa-masa membuat kalender dengan pilihan foto alam, sepeda motor, mobil, artis, binatang, atau para tokoh politik. Kalender tercetak untuk dipasang di dinding atau ditaruh di meja pernah mendapat imbuhan berupa kalender di buku agenda atau almanak.

Iklan kalender juga kita temukan di majalah Minggu Pagi edisi 12 Desember 1965. Kalender dijual di PD Nasional, Jogjakarta. Iklan dengan bahasa sederhana: “Untuk menjongsong tahun 1966 jang hampir muntjul ini telah tersedia untuk anda kalender bulanan tahun 1966.” Dulu, peminat kalender terhitung ribuan orang. Simaklah pengumuman penting: “Berhubung tjetakan lama telah habis, maka dibuatlah tjetakan baru jang kwalitetnja lebih baik dari tahun jang sudah-sudah karena ditjetak dengan kertas HVS 24 ½ cm dan sengadja dibuat harga jang semurah-murahnja.” Dulu, rumah-rumah di Indonesia jika tanpa kalender pasti malu dan merana. Rumah tak berkalender mengartikan si penghuni bukan orang rajin bekerja dan gagal memiliki kesadaran waktu di situasi politik membara di Indonesia.

Pada masa 1990-an, iklan-iklan kalender di majalah masijh marak. Pengertian waktu masih bersumber di kalender. Pelbagai agenda politik, agama, pendidikan, dan hiburan ada di kalender. Tampilan kalender sudah berubah selera. Pada masa 1990-an, imajinasi kerupaan publik di Indonesia mengalami keberlimpahan pesan. Kita simak iklan di majalah Panji Masyarakat, 21-30 November 1990. Iklan kalender produksi Gema Insani Press. Semula, publik mengenali Gema Insani Press adalah penerbit buku-buku agama. Iklan kalender 1991 memuat keterangan: edisi luks, ukuran 55 cm x 39 cm, kaligrafi indah dan menarik, berwarna, bulan Hijriah dan Masehi, dan harga Rp 1.500.” Di bawah iklan kalender, daftar buku terbitan Gema Insani Press. Di situ, kita tak membaca keterangan bahwa kalender menjadi hadiah bagi pembeli sekian judul buku.

Kerja Tempo membuat kalender berlanjut sampai masa 1990-an. Pembaca berjumpa iklan kalender di Tempo, 18 Desember 1993. Majalah semakin disahkan sebagai produsen kalender. Janji dari produsen: “Kalender ’94 eksklusif buat anda.” Para pembaca dibujuk membeli dengan persepsi 1994 adalah tahun penuh harapan dan tantangan. Pembeli diharapkan senang, tak menanggung sesalan. Di kalender, orang bisa menikmati ilustrasi lukisan dari Dede Eri Supria. Mata melihat kalender, imajinasi bergerak saat melihat lukisan. Iklan itu bersifat mencemaskan: “Kalender ini dicetak terbatas. Bergegaslah!”

* * *

Kalender, benda masih dibutuhkan di abad XXI. Orang-orang belum membunuh atau membenci kalender. Di lembaran-lembaran kalender, orang mulai membuat tanda untuk mengingat pekerjaan, liburan, pemilu, cuti, atau pernikahan. Kalender tetap mengartikan waktu meski menjelang hajatan demokrasi, para caleg mulai memasang foto dan pesan di ribuan kalender dibagi gratis. Produksi kalender memiliki tumpukan pamrih, sulit menghindari politik.

Gagal memahami kalender mungkin berakibat ke “peremehan waktu”. Di kota-kota, kalender terasa milik pemerintah atau institusi-institusi besar bertema festival, kirab, atau karnaval. Kini, kota-kota di Indonesia keranjingan mengadakan acara festival bermisi pariwisata. Konon, festival itu seni, kuliner, atau kerajinan. Di puncak misi, kita mengetahui itu pariwisata. Selama setahun, kota mungkin bakal memiliki puluhan festival dan pelbagai acara keramaian. Di kalender, pemerintah memberi tanda dan warga diminta mengingat tanggal dan hari agar acara-acara selalu meriah. Kalender bisa untuk berhitung kemungkinan pendapatan asal ribuan atau jutaan turis berdatangan.

Kalender memang urusan penting bagi pemerintah. Kalender pun harus dirapatkan dalam penentuan hari libur. Konon, jumlah hari libur di tahun 2019 sedikit ketimbang 2018. Pembuatan kebijakan hari libur dengan pemberian warna merah di kalender dihitung dengan nalar ekonomi, politik, pendidikan, dan agama. Kalender memiliki watak birokrasi bagi warga, terutama di kalangan PNS. Kita mungkin merasa geli atas kalender bernalar pemerintah.

Kalender tak lagi puitis. Kalender kadang membikin pusing, takut, dan capek. Di hadapan kalender, pikiran segala hal bermunculan tapi sering melulu pekerjaan dan sekolah. Ingat kalender, ingat bekerja. Ingatan ingin ditandingi dengan impian liburan di tanggal-tanggal merah dan cuti bersama. Murid-murid sering murung di depan kalender. Ingat kalender, ingat masuk sekolah. Pemerintah tentu tak menginginkan murid-murid bodoh gara-gara memiliki liburan 100 hari atau 200 hari selama setahun. Kalender memberi ingatan jarang girang. Kalender tak puitis saat berisi rutinitas membosankan dan termaknai dengan perintah-perintah bertanda seru. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.