Kaligrafi Warisan Ayahku

A. D. Pirous. Sumber gambar: isaartanddesign.com

 

Lukisan kaligrafi berobjek kapal layar terpajang di dinding ruang keluarga kediaman orang tuaku di Malang, Jawa Timur. Lukisan itu bernuansa pemandangan serta untaian kata, kaligrafi Arab berbunyi begini: “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati”. Bagian Doa Iftitah itu berwarna merah dilukis seakan terpahat di permukaan bukit karang. Sedang lanjutan doa “lillahi rabbil alamin” berwarna hitam menjadi bagian tiang-tiang layar serta lambung kapal yang tengah melaju di lautan. Saban kali memandang lukisan itu, aku menduga, Ayah mungkin memajangnya sebagai pesan terselubung. Ayahku tipe orang tua yang jarang memberi nasihat. Sebaliknya Ibu, penjaga iman keluarga yang gemar mengingatkan lima anaknya untuk sembahyang lima kali sehari.

Mengingat kembali kampung halaman, lukisan-lukisan kaligrafi dengan berbagai corak juga terpajang di beberapa kediaman tetangga-tetanggaku. Umumnya berupa kaligrafi Ayat Kursi. Ayat bagian dari surat al-Baqarah yang berisi keesaan serta kekuasaan Allah yang mutlak atas segala sesuatu ini dilukis seakan terukir di lempengan batu, dirangkai dalam bentuk figuratif orang salat ataupun tokoh pewayangan Semar, serta mengisi ornamen dari gambar binatang mistis Burak yang melayang.

Di satu sisi, lukisan-lukisan kaligrafi Arab itu menjadi interior image, bagian dari cara memperindah ruang kediaman lewat seni rupa. Di sisi lain, lukisan kaligrafi jadi representasi identitas pemilik rumah sebagai umat muslim. Ada pula representasi kepercayaan di baliknya, kaligrafi Ayat Kursi dianggap dapat menolak bala dari gangguan berbagai makhluk halus. Lukisan kaligrafi itu, tak ayal memuat keberagaman arti simbolik bagi pemajangnya sebagai ekspresi kerohanian baik religius, spiritual, bahkan magis.

***

Fenomena lukisan kaligrafi sebagai ekspresi kerohanian jadi keumuman pula dalam dunia kreasi penciptaan karya. Abdul Djalil (AD) Pirous pada tahun 1982 membuat karya berjudul “Surat Isra II, Rasa Hormat pada Ibu”. Bermedia cetak saring (80 × 40 cm) terlukiskan binatang mistis Burak yang terbang di atas ayat al-Qur’an.

Sejarawan seni Belanda, Helena Spanjaard dalam buku Cita-cita Seni Lukis Indonesia Modern 1900–1995 Sebuah Kreasi Identitas Kultural Nasional (2018) menganalisis bentuk segi empat yang dirajutkan dengan ayat al-Qur’an dalam lukisan Pirous terinspirasi dari bordir khas Aceh (kasab). Ornamen lokal jadi bagian gerakan kembali ke tradisi daerah. Sedang kaligrafi adalah aspek kerohanian yang berpijak pada ayat-ayat suci sebagai sumber inspirasi. Pirous sendiri dalam wawancaranya kepada Helena Spanjaard membocorkan laku kreatifnya begini:

Aku berhenti merepresentasikan figuratif karena kaligrafi adalah bahasa simbolis. Huruf Arab adalah simbol yang mengandung pandangan dunia. Simbolisme lebih dari estetika, ia menyembunyikan pikiran filosofis. Lukisan saya berasal dari teks-teks Al-Qur’an sebagai sumber etika dan agama.

Pernyataan A. D. Pirous itu bagian dari gema panjang hubungan seni dan spiritualitas, estetika, dan religiositas. Abdul Hadi WM dalam Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas Esai-esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa (2004) menyitir pakar kaligrafi terkemuka abad ke-16–17 di Iran, Qadi Ahmad bahwa kaligrafi adalah geometri kerohanian yang mengidentifikasi bentuk-bentuk tersembunyi kehidupan. Karya kaligrafi memperjernih penglihatan batin seseorang terhadap pentingnya wahyu Ilahi. Aneka ragam bentuk tulisannya seperti kufi, tsuluts, naskhi, dan nas’talig lahir dari tuntutan religius yang dalam untuk menampilkan suasana transendental.

Satu ilustrasi yang menarik tentang kaligrafi dan aspek kerohanian aku peroleh dalam hayat dan karya pelukis Jeihan dalam buku Jeihan Maestro Ambang Nyata dan Maya (2017) yang ditulis Mikke Susanto. Dalam buku ini diperbincangkan lukisan kaligrafi berjudul “Nur” (100 × 100 cm, cat minyak di atas kanvas. 2014). Lukisan itu hanya berupa untaian kata, kaligrafi yang terdiri atas huruf Arab: nun, wawu, dan ra berwarna putih yang diletakkan pada bagian atas. Sedang seluruh bidang kanvas berwarna gelap.

Kata nur atau cahaya seakan dimaksudkan untuk menyampaikan pesan, bahwa tanpa anugerah Ilahi segala hal tak mungkin terlihat dan terjabarkan. Nur atau cahaya dengan segala padanannya seperti suluh, obor, lampu juga galib dipakai para sufi dalam puisi. Nur dimanfaatkan sebagai citraan simbolik untuk menggambarkan persatuan mistik atau petunjuk menuju jalan terang.

Tapi bukan berarti lukisan kaligrafi semata bicara hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Kaligrafi dalam perkembangannya sebagaimana diurai Arahmaini dalam esai “Nama Tuhan dalam Seni” (Kompas, 29 Juli 2007) juga mengetengahkan persoalan yang bersifat sekuler, profan, dan marginal. Perkembangan estetis ini disebut sebagai post-kaligrafi.

Salah satu contohnya, lukisan Mustofa Bisri atau Gus Mus berjudul “Institusi” (2007). Lukisan ini menggambarkan untaian lafaz Allah serupa gedung dengan bayangan orang-orang di bagian bawah. Torehan garis lafaz Allah yang kaku sehingga berkesan penampakan gedung, aku maknai sebagai fenomena fundamentalisme agama. Agama dimanfaatkan untuk memobilisasi massa, memonopoli kebenaran untuk kemudian memaksakan kebenarannya pada pihak-pihak lain. Bisa pula agama dimanfaatkan sebagai institusi politik dengan membangun sentimen keagamaan yang lantas berisiko menggoyahkan fragmentasi masyarakat yang plural. Lukisan kaligrafi “Institusi” mungkin sebentuk kritik pada politik identitas.

***

Sampai di sini, aku teringat kembali bahwa lukisan di kediaman orang tuaku tak berjudul. Tak ada pula pembubuhan tanda tangan identitas pelukis yang lazimnya tertera di sudut kanan bawah lukisan. Lukisan kaligrafi itu, sebagaimana pula lukisan milik para tetanggaku, sangat tampak dibuat hanya dengan keterampilan teknis ala kadarnya.

Tapi tak bisa kupungkiri, lukisan-lukisan itu menebarkan pengaruh mendalam. Menggiringku melihat sebuah perjalanan panjang memandangi garis dan warna, menengok hayat dan karya seni rupa. Membuatku tenggelam dalam petualangan literer bertemu lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857)” Raden Saleh, “Kawan-kawan Revolusi” (1947) Sudjojono, “12 Tahun Tak mandi” (1977) Hendra Gunawan, terheran-heran dengan naturalisme Basoeki Abadullah, membaca memoar Nashar oleh Nashar (2002) dengan konsep Tiga Non-nya, memaknai wacana seni lukis Bali modern seiring berdirinya organisasi Pita Maha (1936), menandai eksplorasi potret diri Affandi, Tarmizi, serta Agus Suwage, ataupun menerawang mata-mata hitam dalam lukisan-lukisan Jeihan. Kesemuanya, membentangkan betapa luasnya medan imajinasi dan seni rupa acap kali mendamba pada pluralisme dan kesetaraan manusia.

Lukisan-lukisan kaligrafi tak bernama tak berjudul itu, telah membuatku melakukan pencarian layaknya burung Farid ud-Din Attar, Mantiq ut-tayr: terbang menziarahi ngarai demi ngarai wacana, melintasi kecuraman dan tebing gagasan untuk mencari Simurgh, sang raja burung. Pada akhirnya, apa yang aku temukan ternyatalah lukisan kaligrafi milik ayahku sendiri, secarik pesan yang jelas terbaca, “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin”, tapi lama kuabaikan. Ayahku meninggal tahun 1996. Lukisan itu tetap terpajang di ruang tamu sebagai warisan hidupnya. Warna cat minyak di atas kanvas yang makin kusam seakan wajah Ibu yang kian renta dalam kesendiriannya di dalam rumah.

Abdul Aziz Rasjid
Latest posts by Abdul Aziz Rasjid (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.