Karena Penulis bukan Pembunuh

pinterest.com

Saya benar-benar sepakat dengan Y.D. Anugrahbayu bahwa menulis itu adalah menyita (bahkan merampas) sebagian ruang yang sejatinya bukan miliknya. Karena itu, kata Y.D. Anugrahbayu lagi, penulis itu kurang ajar. Tetapi, menurut saya, ada satu jurus jitu bagi para penulis agar tidak disebut kurang ajar. Istilahnya, meski penulis itu telah merampas ruang pribadi para pembaca, buatlah ruang pribadi itu menjadi ruang berguna. Ini agar seumpama kata-kata mutiara demikian: mencurilah tanpa ada yang kehilangan, membunuhlah tanpa ada yang mati.

Memang, kata-kata mutiara di atas terkesan berlebihan. Bagaimana mungkin seseorang disebut membunuh tanpa ada yang mati? Bagamana mungkin kita mencuri, tetapi tak ada yang kehilangan? Sehebat apa pun pembunuh tak akan bisa membunuh tanpa ada nyawa yang tertebas. Justru, seseorang disebut pembunuh setelah dia berhasil menebas nyawa. Kalau tak menebas, seseorang tak akan disebut sebagai pembunuh. Memang, ada istilah dari Kitab Suci, bahwa gandum harus mati agar membuahkan hasil yang banyak.

Artinya, kita harus menebas biji gandum dari batangnya, lalu menguburkannya ke tanah-tanah subur. Kelak, gandum itu akan berbuah. Masalahnya, seseorang yang disebut sebagai pembunuh di sini bukanlah pembunuh secara tekstual. Alih-alih pembunuh, seseorang itu adalah petani. Seseorang itu hanya akan benar-benar menjadi pembunuh jika gandum yang ditebas dari tangkainya, lalu karena benci, dikubur hidup-hidup di bebatuan cadas. Niscaya, gandum tak akan tumbuh. Meski tumbuh, gandum itu hanya akan menyampaikan salam terakhirnya pada dunia.

 

Harus Diubah

Nah, bagaimana dengan penulis yang telanjur disebut sebagai pencuri? Seperti tadi, telanjur pula saya imani bahwa penulis itu haruslah ibarat pencuri yang membuat seseorang tidak merasa kehilangan, justru merasa mendapatkan! Nah, dalam pada inilah, saya pikir, penulis harus menjadi petani yang menanamkan gandumnya di tanah-tanah yang subur. Bagaimana penulis menjadi petani? Tentu, penulis itu harus membibitkan sebuah benih yang berguna. Di sini, ruang pembaca yang diserobot penulis harus dijadikan penulis sebagai sawah yang subur.

Kepemilikan sawah itu tentu bukan lagi wewenang penulis. Sawah itu murni dimiliki oleh pembaca secara sah. Karena itu, hasil panen dari sawah itu kelak bukan hak milik penulis. Panen itu milik pembaca. Penulis hanya berhak menanami, bukan memanen. Satu-satunya hak panen penulis adalah upah dari pembaca. Sederhananya, jika menulis di sebuah media, penulis tentu diberi upah karena ada yang membaca. Walau ada media, tanpa ada pembaca, maka penulis tak akan mendapatkan upah. Penulis tak akan ada tanpa pembaca.

Jadi, hierarki kepemilikan harus diubah: bukan pembaca di kasta terbawah, melainkan penulis. Memang, dalam sebuah perusahaan, seringkali karyawan lebih hebat daripada pemilik. Tetapi, kepemilikan sebuah perusahaan tidak dilihat dari seberapa pintar seseorang. Dengan kata lain, jika bisa diibaratkan, penulis tak kurang dan tak lebih hanyalah karyawan dari pembaca yang dipekerjakan di sawahnya. Karena itu, penulis harus bekerja dengan maksimal, tidak bisa asal-asalan. Sebab, jika penulis menggunakan sawah itu dengan asal-asalan, pada saat itulah karyawan sudah sah mencuri sawah. Demikian juga sebaliknya.

Selain itu, yang jauh lebih penting, jika menulis, penulis harus berada pada luar cerita. Penulis tidak bisa melulu mengandalkan naluri, apalagi curhatannya. Penulis sedang menggarap sawah, bukan sedang membangun tenda untuk bersenang-senang sendiri. Memang, dalam tulisannya, penulis bisa saja memainkan naluri dan curhatan pribadinya. Sebab, tulisan juga harus punya jiwa dan perasaan. Tetapi, harus tetap, bahwa naluri dan curhatan bukan menjadi pokok utama. Jadi, dalam setiap tulisan, posisi penulis tetaplah harus berada di pinggiran cerita, setidaknya, begitulah Derrida berucap.

Dengan kata lain, curhatan dan naluri itu harus tetap sebagai cerita dari pembaca yang juga dialami atau dikhawatirkan penulis. Pengalaman bukan berarti harus dialami sendiri. Pengalaman bisa juga dalam bentuk kekhawatiran bahwa jika pengalaman itu datang kembali, maka di sini penulis bisa menjaga tuannya (pembaca) dari celaka. Penulis harus sigap menulis bukan untuk menyelamatkan diri, apalagi meluapkan kata-katanya hanya untuk menyerapah dan bersenang-senang. Akan tetapi, penulis datang untuk melindungi tuannya.

Dan, kata-kata dari penulis adalah kata-kata dari dan semata untuk tuannya. Kata-kata dari penulis adalah senjata dan nasihat bagi tuannya. Namun, bukan berarti memberi nasihat kepada pembaca maka penulis bertujuan untuk menasihati. Dalam hal ini, kata-kata itu ibarat master-plan. Penulis adalah pembuat master-plan itu, tetapi atas perintah dari pembaca sebagai tuan. Jika penulis tidak berhasil membuat master-plan yang baik dan malah menceburkan tuannya ke jalan yang salah, di sinilah penulis menjadi perampas.

Betapa tidak, pembaca menghabiskan waktunya untuk membaca master-plan—dan semata-mata itu terjadi karena penulis menyengaja diri membuat master-plan itu agar dibaca oleh pembaca tanpa seizin pembaca—namun isi master-plan itu hanya celotehan pribadi, kata-kata pribadi, bahkan emosional pribadi, bukankah itu perampas, bahkan dalam arti yang sesungguhnya? Bagaimanapun, pembaca harus tetap dihormati. Mereka berada pada kasta tertinggi. Mereka adalah pemilik sertifikat atas sawah yang sedang digarap penulis.

Karena itu, penulis jika ingin menyodorkan master-plan, jika ingin menjadi pekerja di ladang pembaca, harus bekerja secara bijak. Kata-kata dalam bahasa itu harus menggeliat dalam takaran yang benar: jangan sampai menyesatkan, apalagi memprovokasi untuk melakukan kesalahan. Tidak boleh tidak, data untuk setiap kata-kata yang dibuat penulis haruslah sahih. Setiap tulisan harus dikerjakan secara maksimal: tulis, baca ulang, edit, lalu sodorkan kepada pembaca. Sebab, menulis itu tidak selesai ketika kita sudah menulis, mengirimkannnya ke hadapan pembaca, lalu menerima honor.

 

Semoga Saja

Penulis bukan budak, karena itu, tidak bisa bermental budak. Bermental budak dalam artian, yang penting menulis kata apa-apa saja, menyodorkannya ke pembaca, dapat honor, lalu bisa makan. Penulis itu harus bermental pencipta. Karena itu, urusan tulisan tidak selesai ketika mengepul di dapur penerbitan, dikunyah di ruang terbuka, lalu kita mendapat bayaran. Lebih dari itu, kita harus melihat, apakah tulisan itu dimasak dengan bumbu tepat, dengan api yang benar, setengah matang atau gosong.

Setelah itu, kita juga harus melihat, setelah pembaca mengunyahnya, apakah mereka menjadi penyakitan atau tidak, semangat atau malas, berpikir benar atau berpikir melar? Jika penyakitan, jika malas, jika melar, maka benarlah apa yang dikatakan Y.D. Anugrahbayu, bahwa penulis adalah pencuri. Bahkan, lebih dari pencuri, penulis adalah pembunuh tersadis. Disebut tersadis karena mereka membunuh orang lain di ruangan pribadi pembaca itu sendiri. Hanya pembunuh sadis yang bisa membunuh tawanannya di rumah pribadi tawanan itu sendiri.

Saya pikir, penulis kita saat ini tidak ada pembunuh. Atau, jangan-jangan saya keliru sehingga karena tulisan ini, saya tak sadar bahwa beberapa pembaca langsung muak, pusing tak mengerti, pingsan, bahkan mati setelah membaca tulisan ini? Semoga saja tidak karena saya tidak berniat untuk membunuh. Jika kebetulan ada nyawa yang tertebas karena tulisan ini, maka pada saat ini, saya berniat agar bisa menjadi pembangkit orang-orang yang mati karena tulisan-tulisan saya. Maksud saya, marilah menulis dengan benar sembari tetap belajar dengan tekun!

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Sarat pesan dan ilmu. Trimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.