KATHOEY

etsy.com

Almarhum ayahku adalah seorang Jamaah Tabligh.

Alasan kenapa kami akhirnya tinggal di kota Bangkok adalah karena ia mencoba bisnis Masakan Padang, alasan lain karena ia telah menemukan masjid di mana ia bebas mengisi kajian.

Banyak masyarakat Indonesia masih mengira bahwa Jamaah Tabligh itu kaum takfiri, tidak bermazhab, radikal, tidak bertanggung jawab pada keluarga, dan lain sebagainya.

Namun, ibuku, aku dan kakak-kakakku adalah saksi di mana kata-kata itu tidak sepenuhnya benar. Meski kami semua tidak bercadar, dan juga tidak meneruskan jejak ayah kami, karena semua saudariku menikah dengan lelaki bukan dari JT.

Padahal pendiri JT adalah Maulana Ilyas Alkhandalwi, adalah ulama dari India, gurunya Sayyid Muhammad Alwi Almaliky, yang mana banyak ulama dari Indonesia yang menjadi muridnya.

Di antara amalan Jamaah Tabligh di Thailand pun tak ubahnya yasinan, tahlilan, dan barzanji seperti ahlu Sunnah di Indonesia. Tawassul dan ziyaroh qubur juga biasa kami lakukan.

Pergi dakwah pun memiliki etika dan jadwal keluar teratur. Seperti pergi naik haji, ketika kepala keluarga pergi dakwah, selain ia harus punya ongkos untuk perjalanan itu, ia pun wajib mencukupi kebutuhan keluarga yang dia tinggal.

Dan dakwah ini adalah opsi di mana yang bersangkutan juga sudah berdakwah dengan keluarga dan tetangga. Jadi, tidaklah dibenarkan, jika sang penda’i hanya dianjurkan travelling, pergi berkeliling, tapi melupakan anak-anaknya.

Bukankah anak adalah amanah terbesar bagi orang tua?

Dakwah macam apa yang membuat penda’i justru melupakan kewajiban utama?

Jamaah tabligh tidak lepas dari oknum-oknum yang berkembang dalam tubuh, dan juga miripnya atribut yang kaum takfiri kenakan jelas menjadi fitnah di antara mereka. Membunuh karakter. Membuat rancu pemahaman, apalagi desas-desus yang beredar di antara kaum mayoritas muslim Indonesia yang belum sepenuhnya menerima JT.

Maka, setelah aku beranjak dewasa, ayah membawa beserta keluarganya untuk pindah di negara Gajah Putih. Dan meneruskan dakwah di sana, di mana kaum berjubah dan bercadar tidak dianggap asing. Bahkan oleh orang Budha sekalipun.

Karena JT mampu bekerja sama dengan pemerintah, tidak memberontak, tidak membuat keresahan, bukan seperti Islam radikal yang tinggal di beberapa desa di Pattani.

Kami hidup berdampingan dengan para biksu Budha teravada dan lainnya. Asal tidak saling mencela dan mengusik, maka hidup akan aman tenteram.

Kau tak percaya?

Tanyakan saja pada orang Thailand!

Memasuki dunia perkuliahan, pergaulanku pun melebar, bukan cuma dengan orang Islam dan tetangga sekitar saja, tapi juga dengan orang yang bermacam-macam latar belakang, mulai kaum puritan hingga crazy rich Thailand, mulai saudara jauh, syekh orang buta yang hafal Alquran, hingga anak dari mantan biksu.

Sifatku yang ekstrover dan suka bergaul, tidak membatasi ruang gerakku untuk berkenalan dengan mereka.

Hingga suatu hari, aku pun mulai menyentuh pergaulan beberapa kathoey di kampusku.

Kathoey adalah sebutan bagi transgender, warga negara Thailand yang merubah jenis kelamin ketika dewasa. Entah itu lelaki atau perempuan. Karena jika diperinci, kathoey ini akan bermakna terlalu dalam hingga mereka memetakan kecenderungan seksual dengan belasan kata. Seperti, Cherry, Dee, Tom, Adam, dan lain sebagainya.

Sebut saja Aroon.

Ia cantik bukan main. Dengan kulit bak pualam, berambut lurus, geligi putih, jangan tanyakan kalau ia tersenyum, pasti jauh lebih cantik daripada aku.

Tapi kau tidak akan menduga, jika lima tahun yang lalu, ia adalah seorang lelaki.

Belum selesai aku mendengar gosip dari sahabatku Fatimah, Channarong gantian menggosip tentang Kulap, ia mahasiswa yang vokal dan playboy, katakanlah wajahnya adalah Lee Meen Ho kw, lelaki metroseksual yang demen memakai parfum wangi dan super bersih dengan kaos-kaos branded-nya, selalu tampak sempurna serupa mobil mewahnya yang mentereng.

Tapi, siapa sangka? Lima tahun yang lalu, ia lahir dengan kelamin perempuan.

Channarong bahkan menunjukkan foto-foto lawas Kulap bersama keluarganya di depan Candi Wat Mahathat.  Ia mendapat foto itu karena bapaknya adalah karyawan ayahnya Kulap.

Selain dua model yang aku sebutkan, sebenarnya kita bisa dengan mudah menemukan orang orang serupa di kota Bangkok.

jika kita tidak jeli, kita bisa menuduh yang perempuan asli sebagai kathoey. Sementara yang kathoey dikira perempuan/ lelaki tulen.

Karena para Gay queen atau Gay king, lelaki yang menjadi perempuan sudah disentuh oleh berbagai macam alat dan juga obat, maka hasilnya tentu mencengangkan. Mereka juga lebih agresif dari perempuan pada umumnya.

Begitu juga dari pihak Tom atau Dee, sebutan kathoey bagi perempuan, kebanyakan dari mereka ini tampak lebih bersih, rapi sekali dibanding lelaki pada umumnya. Halus dalam berbicara dan romantis. Beberapa teman menyebut mereka mirip artis Korea.

Sialnya, di antara desas-desus lelaki jadi-jadian di kampus itu ada satu yang bernama Chaow Prawit Singkara.

Ia memang tampan dan lembut, baik hati dan cerdas. Pintar berbicara di depan publik. Saat ada seminar-seminar di kampus, dialah yang jadi presenternya, selain piawai berbahasa Inggris, ia pun juga bisa sedikit bahasa Indonesia.

Pertama kali Chaow memanggilku, saat kami sama-sama mengantre di kantin. Menunggu penjual membuatkan Khauniuw Ma’muang. Makanan favorit yang terbuat dari ketan dan mangga. Usai mengikuti seminar kesehatan kandungan di aula.

“Gadis Indonesia…!”

Aku yang tidak merasa dipanggil tentu saja tidak menyahut. Hanya mengernyitkan dahi dengan suara itu.

“Hei…, Gadis Indonesia, Khun chux xari!” Ia menyentil ujung jilbab ku.

Chan chux habiba…!”

Lalu ia memperkenalkan namanya sendiri sembari membuntuti langkahku, dan saat itu kami duduk dalam satu meja.

Entah angin apa yang membawa kami berdua siang itu, selain mencecarku dengan berbagai pertanyaan soal Indonesia, ia juga sibuk membicarakan topik dokter malapraktik yang kasusnya sedang diangkat televisi. Dan kebetulan, keluarga Chaow salah satu korbannya. Aku menyimak dengan khidmat seluruh ceritanya.

Hingga berpuluh-puluh menit berlalu, kami kembali sibuk ke kelas masing-masing.

Tak kusangka, Fatimah sudah menghadangku di lorong. “Bibah, jangan lupa, kamu harus hati-hati…. Dia itu Kathoey!” bisiknya.

Deg! Kusandarkan tubuh di tembok, pura-pura santai, padahal degup jantungku mulai tidak keruan.

Karena aku hampir saja lupa dengan kenyataan itu, dan terpukau dengan segala pesonanya.

Saat berbicara, ia begitu maskulin dan menawan, tidak ada sentuhan feminim dalam jiwanya yang tampak siang itu, kecuali kerapian dan kebersihannya yang sering disematkan pada segelintir Kathoey Tom.

“Jangan-jangan kamu naksir, yaa? Kemaren kuintip ngobrolnya asyik banget!” kilah Fatimah beberapa hari kemudian saat tak sengaja kami berpapasan di tempat parkir.

Ia tersenyum ke arah kami dan sudut mata Chaow tak lepas dari langkahku.

Entah kenapa dadaku bedegup begitu kencang.

Gilakah aku jika dadaku berdesir karena dirinya?

Bahkan usai salat Subuh saat aku bergegas mandi dan merapikan diri di depan cermin, pertama kali yang tebersit dalam benakku, orang yang paling ingin kutemui dalam keadaan cantik dan serapi ini adalah Chaow.

Meski dalam hati dan bibirku berulang kali mengucap istighfar, tetap saja perasaan itu tak kunjung sirna.

Dan sialnya, beberapa pertemuan di kampus dengan Chaow justru memupuk perasaanku padanya. Karena Chaow juga memberiku sinyal perasaanya dengan tegas.

Aku tidak mampu membagi keresahan ini pada siapa pun, karena sahabat-sahabatku tak ubahnya gadis-gadis muslim lahir dari keluarga Islam yang  jelas-jelas tidak membenarkan kathoey.

Meski di negara Thailand,  kitab Tripitaka-lah yang menjadi pemicu kemakluman dan toleransi besar pada kaum transgender ini. Hingga menjadi surga dunia bagi kaum mereka.

Tapi, gadis-gadis muslim di sekelilingku tidak terpengaruh oleh itu. Ideologi muslim dalam keluarganya masih kuat mencengkeram meski mereka tinggal di ibu kota.

Sebenarnya, tak terkecuali diriku.

Aku bukanlah orang yang menganggap kathoey itu perlu ditoleransi atau dibenarkan. Bukan!

Tapi perasaan cinta pada kaum kathoey adalah kecelakaan yang tak terduga.

Setiap kali senyum Chaow membayangi pelupuk mataku, saat itu juga aku membenci diriku sendiri.

Dan sialnya, aku tidak mampu menutupi ketertarikanku pada Chaow hingga beberapa temanku dapat mengendusnya.

Lalu cerita itu merebak di antara mereka, sebagian memaklumi dan mendukung, sebagiannya lagi, sangat menyayangkan dan mencibir.

Ya, di antara mereka yang mencibir adalah sahabat-sahabatku yang lahir dari keluarga Islam juga.

Hingga gosip yang merebak itu membuat aku absen beberapa minggu dari perkuliahan.

***

Rupanya, gundah gulanaku tercium juga oleh penghuni rumah.

Hingga mereka menawarkan beberapa hal untuk melibas galau, termasuk mengajakku kajian di masjid “Haroon Mosque” yang terletak di ujung jalan Surawong dekat perkampungan muslim.

“Kumpul dengan muslimah yang salihah dapat mengembalikan kewarasanmu, Bibah!” bisik Kak Chusna setiba di masjid ini yang penuh sesak dengan perempuan berhijab.

Aku diam saja, menyimpan rasa marah karena kata-kata “kewarasan” yang ia lontarkan terdengar ngeri.

Seolah aku tidak waras. Aku gila. Padahal aku sangat wajar, hanya jatuh cinta pada manusia yang “casing“-nya tampan dan maskulin. Desas-desus kabar tentang dia perempuan di masa lalu kudapati setelah aku menyimpan perasaan padanya. Dan lagi, tidak seorang pun pernah menunjukkan fotonya memakai rok dan berambut panjang.

Desas-desus itu hanya menguat tanpa adanya bukti konkret. Membuat separuh diriku masih mengharapkan kenyataan yang lain. Meski lagi-lagi, Fatimah meyakinkanku atas kebenaran “desas-desus” itu.

“Bibah, di antara audiens seminar kesehatan kandungan itu, yang cowok cuma 5, keempatnya adalah dokter. Yang bukan dokter hanya Chaow. Aneh, kan? Masak dia terlalu peduli dengan kesehatan kandungan, padahal dia cowok, belum nikah?”

Waktu itu aku memandang matanya tajam. Ingin mengatakan keberatan atas tuduhannya pada Chaow, namun tak bisa.

“Yang jelas sih, aku dengan kabar itu dari Phong, dia tetangga satu desa. Dia pernah dengar masa lalu Chaow. Memang Dia bukan lelaki tulen.”

Kata-kata itu diaminkan oleh Phong, saat Fatimah menanyakannya suatu kali.

Phong mengangguk mantap.

“Chaow lebih tua dari aku, jadi aku tidak melihat masa kanak-kanaknya. Karena setelah itu dia pindah ke Ayutthaya. Tapi, ibuku pernah dengar curahan hati ibu Chaow. Dulu, ia kesulitan memilih ‘jenis kelamin’ anaknya! Hingga suatu hari, Chaow juga pernah melakukan operasi! Entah bagian apa?”  jawabnya meletup-letup.

Aku tidak berani menampik, kata-kata Phong terdengar aneh, kenapa harus kesulitan? Bukankah jenis kelamin sudah jelas? Sedangkan para kathoey itu berubah wujud ketika mereka dewasa, dan memaksa tubuhnya dengan obat-obatan hormon juga jarum plastik surgery?

Meski setelah itu Phong menambahkan informasi ambigu, yaitu Chaow, ini juga memiliki nama baru, Ahmad Buenae, terdengar seperti nama Islam.

Apa pun itu. Tetap saja, kelaki-lakian Chaow dipertanyakan. Tidak masalah bagi yang tidak mempermasalahkan, tapi masalah bagi kami, perempuan muslimah.

Sialnya, aku masih memendam cinta!

Saat aku mengawasi burung-burung kuntul kembali ke sarangnya di bawah langit yang mulai kemerahan, sebuah motor melintas dan berhenti di bawah pohon beringin yang bertengger pada sisi masjid.

Seseorang itu membuka helmnya, dan menyerahkan pada tukang parkir. Belum selesai mataku melotot dengan bibir ternganga, mengawasi pengemudi motor itu menghampiri masjid dan menemukanku duduk di teras.

“Khabibah…?” Ia memanggilku, sama-sama terkejut.

Tidak diduga kami justru akan bertemu di area ini.

“Chaow…, kau datang ke masjid?” tanyaku gusar, mengingat informasi aneh tentang nama Ahmad yang dimiliki Chaow dan mengaitkannya dengan pemandangan aneh sore ini.

“Chi, Bibah.” Ia mengalungkan sajadah yang ia lipat memanjang pada pundaknya. Merapikan peci yang ia kenakan sembari melempar senyum yang begitu menawan.

“Chan pen, aku seorang muslim, Bibah. Dulu, Orang Indonesia yang mengislamkan kami, seorang owner resto masakan Padang!”

Aku mendelik. Tidak percaya dengan informasi ini. Menatap langkah-langkahnya menuju masjid dengan terguncang.

“Masakan Padang?… Ayahku…. “

“Khun phud thuk, seorang itu adalah ayahmu!” Jawab Chaow cepat.

Aku semakin tercekat. Dahiku semakin mengerut. “Kenapa kau tidak pernah cerita ini Chaow?!”

Ia kemudian naik tangga dan duduk bersila pada lantai yang tidak jauh dariku berada.

“Aku mencarimu, ingin mengenalmu lebih jauh, karena kau putri tuan Mustafa! Tapi kau tidak pernah muncul di kampus akhir-akhir ini, bukan?”

Aku bergeser dari tempatku duduk. Cemas akan degup jantungku sendiri, benci akan momen yang seolah membuat pertemuan ini semakin romantis.

“Ke mana saja kamu, Bibah?” Lagi-lagi Chaow bertanya. Menatap wajahku dalam-dalam, mengamati jilbab dan pakaianku yang senada. Seperti terkesan dengan caraku berdandan.

“Aku sibuk di rumah, membantu Ibu melayani pelanggan.”

Ia memutar bola matanya, tak percaya. “Tapi, aku pernah makan di rumahmu dua kali. Dan aku tidak melihatmu di sana, Bibah!  Mi wa Khun c xyu Thihin?”

Aku terbelalak. Setengah terharu kepada upayanya untuk mendekatiku. Setengah ketakutan karena kini ia benar benar tampak menciptakan chemistry antara aku dan dia.

“Bibah, sebenarnya, saat ayahmu meninggal, aku baru saja masuk Islam, dan saat aku mengantar jenazah ke makam, kurasa aku melihatmu di sana sedang menangis. Tak kuduga, ternyata kita sekampus…!”

Aku mengingat-ingat prosesi pemakaman setahun yang lalu. “Kenapa kau baru cerita….”

“Cerita tentang itu hanya diperlukan jika kita kekurangan topik obrolan bukan?”

Hening beberapa saat. Kami sama-sama memandangi awan merah yang berarak di atas sana.

“Tapi akhir-akhir ini, aku membutuhkan cerita itu untuk menyapamu lagi. Kamu seperti menghindar, Bibah,” katanya lagi, memecah keheningan.

“Kata siapa, Chaow…. Aku, biasa-biasa saja,” jawabku kikuk.

Tiba-tiba sebuah tangan agak keras menepuk bahuku dari belakang.

“Siapa dia, Bibah?” tanya Kak Chusna gusar sembari melipat mukenanya.

Aku hanya meliriknya ketakutan.

“Apa dia yang namanya Chaow?!” bisik Kak Chusna lagi.

Melihat mimik wajahku, ia sudah bisa menebak bahwa pertanyaannya benar. Tak kusangka Kak Chusna akan mendekati Chaow dan memuntahkan unek-unek padanya.

“Kamu yang namanya Chaow? Benar?” cecarnya.

Chaow mengangguk santai. “Benar…, saya chaow. Teman Khabibah.”

“Mulai saat ini, tolong jauhi adikku!  Jangan tularkan virusmu padanya ha! Mengerti??”

Dada Kak Chusna kembang kempis, suaranya yang meledak membuat beberapa orang di Haroon Mosque menaruh mushafnya dan menyaksikan Kak Chusna.

Chaow menunduk. Begitu juga aku.

Aku tak dapat membelanya, karena apa yang Kak Chusna katakan itu benar. Namun, aku tidak tega melihat mata Chaow yang terluka. Ia membiarkan Kak Chusna membentak-bentaknya di depan umum tanpa pembelaan. Seolah semua ucapan Kak Chusna adalah kebenaran.

Hatiku tersayat melihat kekuatannya untuk tidak melawan. Begitu gentleman. Begitu kuat, seperti lelaki sungguhan.

“Sekali lagi aku ingatkan padamu! Keluarga kami adalah muslim, sekali-kali tidak boleh menikah dengan sesama perempuan!!! Jika lain kali aku melihatmu mendekatinya bahkan sampai pura-pura memakai baju muslim seperti ini, maka aku akan langsung panggil polisi!!!”

Tangan Kak Chusna menarik lenganku. Berjalan buru-buru menuju mobil di pemarkiran. Menutup pintu begitu keras dan mengajak suaminya segera hengkang dari masjid.

Nasehit panjang lebar mewarnai perjalanan pulang kami.

Menceritakan betapa besarnya dosa umat Nabi Luth. Betapa mengerikannya dampak  pikiran buruk itu. Ia bahkan ingin segera mengembalikanku ke Indonesia, agar hidup bersama Nenek di desa karena ia menuduhku begitu lemah karena terjerat oleh pesona Kathoey.

***

Karena Kak Chusna menceritakan segalanya pada seluruh anggota keluarga, kesedihan pun menggantung di langit langit rumahku. Mereka memandangku seperti pesakitan, mata mereka menerka antara aku dan Chaow bahkan lebih parah daripada itu.

Sampai puncaknya pada malam itu, selepas sekeluarga shalat Isyak. Kudengar Ibu, Kak Zainab, dan Kak Chusna, ribut di belakang.

Rupanya, mereka berbeda pendapat soal menerima tamu Chaow di rumah kami.

Aku dapat mengintip sepeda motor Chaow bertengger di halaman restoran kami. Dan menahan gejolak batinku di balik selimut, merapalkan istighfar dan shalawat.

Malam itu restoran ditutup lebih awal, seluruh anggota keluargaku berkumpul di ruang TV dan akhirnya kulihat Ibu dan Kak Chusna mendekatiku. Memelukku erat. Menumpahkan tangis mereka yang menyayat hati.

“Bacalah ini, Bibah…!” Kata Ibu pada akhirnya. Lalu mereka keluar dari kamar menutup pintu kamarku dengan rapat.

Bibirku ternganga. Mataku melebar sempurna.

Aku mengucek mata tak percaya, mereka menyerahkan surat dari Chaow! Surat apakah ini?

Jemariku gemetaran membukanya, mengeja paragraf demi paragraf tulisan dalam aksara Thai itu dengan keingintahuan yang membuncah.

Khabibah. Keluargamu benar, aku memang bukan lelaki sempurna! Tapi, aku juga bukan penganut transgender yang mengubah kelamin dengan cara-cara keji dan murahan.   Aku bukan bagian dari para kathoey di kota Bangkok! Ayahmulah yang menerangkannya padaku suatu hari tentang perbedaan ini, karena suatu hari ia bertemu ibuku dan mendengarkan keluh kesahnya. Lalu, ketika salah satu alat kelaminku menunjukkan dominasinya, aku memilih untuk menjadi lelaki. Meski bukan lelaki sempurna. Ayahmulah yang menerangkan dengan gamblang perbedaan antara takdir tuhan dengan tangan-tangan manusia durhaka yang menyalahi kodrat. Khabibah, aku senang berkenalan dengan putri Tuan Mustafa. Kamu mewarisi beberapa hal yang dia miliki. Ia lelaki yang hebat, penyayang, peduli, dan jujur. Kuharap keluargamu menghargai diriku, seperti cara Tuan Mustafa menghargaiku.

Dariku, Chaow.

Seorang Hermaprodhit, khuntsa.

Bukan transgender.

Najhaty Sharma

Pernah nyantri di di PP Annur Maron Purworejo, PP. Sunan Pandanaran, PP Alfalah PlOSO, dan PP Assidiqiyah Jakarta.

Latest posts by Najhaty Sharma (see all)

Comments

  1. Andris Susanto Reply

    Sempet saya liat postingan medsos yang mempersoalkan aturan banci menjadi imam dalam sebuah kitab. Banci tak boleh mengimami laki2, perempuan boleh diimami banci. Beramai orang reaktif menghujat. Padahal maksud banci di sini adalah hemaprodhit. Bukan transgender. Klasifikasinya sudah ada dalam islam.
    Cerita yang menarik👍

    • Anonymous Reply

      Trimaksih

  2. umi kulsum Reply

    Bagus banget ditunggu selanjutnya mb haty

  3. Anonymous Reply

    Wah kak, saya jg alumni pandanaran

  4. KN Krise G Reply

    Mbois mbak.. Lanjotttt

  5. KyNg Reply

    Sebuah akhir yg menyayat.

  6. Lya rofahiyah Anfaz Reply

    K. E. R. E. N

Leave a Reply

Your email address will not be published.