Kehadiran Depresi dalam Kehidupan Manusia

 

Judul Buku : Loving The Wounded Soul

Pengarang : Regis Machdy

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Cetakan pertama, September 2019

Tebal buku : 287 halaman

ISBN : 987-602-06-3370-1

Kematian Chester Bennington pada tahun 2017 menghidupkan diskusi mengenai kesehatan mental di televisi maupun berbagai komunitas. Disusul kematian salah satu idola Kpop, Jonghyun, pada akhir tahun yang sama. Setelahnya, media dipenuhi berita duka tentang figur publik yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, seperti Mark Salling, Avicii, Anthony Bourdain, dan Kate Spade. Publik pun mulai membuka mata mengenai kesehatan mental, termasuk di Indonesia.

 Terbaru, kematian Sulli dan penayangan film Joker semakin membuat sakit mental menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat Indonesia. Tiba-tiba, banyak orang yang merasakan gejala sakit yang sama seperti yang dialami sosok Joker dalam film tersebut.

Di tengah banyaknya orang yang mulai perhatian dengan kesehatan di Indonesia, Regis Machdy meluncurkan buku Loving The wounded Soul, alasan dan tujuan depresi hadir di hidup manusia. Buku ini fokus kepada depresi, mulai dari pengertian hingga faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya depresi. Regis adalah lulusan Program Master of Global Mental Health dari University of Galslow, Inggris. Ia juga co-founder pijarpsikologi.org, sebuah startup yang fokus pada penyediaan infromasi dan konsultasi psikolosi gratis untuk masyarakat Indonesia. Regis pernah mengalami depresi kronis sejak remaja, sehingga ia membutuhkan konsultasi ke psikolog hingga 42 kali.

Menurut Regis, sakit mental ialah ketika kita tidak bisa berfungsi secara optimal sebagai manusia, entah itu karena sedih, bad mood, atau sedang mengalami episode depresi klinis. Sementara depresi, secara sederhana adalah kekacauan terkait aspek bio-psiko-sosial. Dan secara aspek biologis, depresi terkait dengan landasan gen, struktur otak, dan senyawa kimia yang ada dalam tubuh. Seseorang bisa depresi karena hal-hal yang sangat remeh atau sederhana, ia tak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan. Ada tiga kata yang menggambarkan isi pikiran dan suasana hati seseorang yang mengalami depresi, yaitu worthless, hopeless, dan helpless. Bahayanya, seseorang dengan depresi dapat melukai dirinya sendiri, hingga bunuh diri.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, terdapat 800.000 kematian akibat bunuh diri setiap tahunnya di dunia. Artinya, ada satu kematian setiap 40 detik dengan cara bunuh diri. Siapa pun bisa terkena depresi, namun perempuan lebih rentan depresi, tetapi pria yang lebih banyak bunuh diri. Kenapa? Menurut Ragis, laki-laki kerap terjebak masculinity trap atau toxic masculinity yang membuat laki-laki susah membahas hal-hal bersifat emosional. Sedangkan pada wanita, perubahan hormon dari waktu ke waktu membuat mereka lebih mudah terkena depresi dibandingkan pria, selain itu tuntutan untuk menjadi wanita sempurna membuat wanita selalu merasa kurang.

Karena pernah mengalami sendiri depresi, Regis tak hanya menjelaskan seluk-beluk depresi secara klinis, tetapi juga apa yang ia rasakan berdasarkan pengalamannya. Ia mengungkapkan penyebab depresinya, bagaimana ia menjalani puluhan terapi, dan bagaimana ia menghadapi relapse, yaitu kembalinya gejala-gejala utama depresi ketika seseorang sudah hampir pulih dari episode depresi. Regis tak setuju jika untuk menyembuhkan depresi hanya bergantung pada antidepresan.

Penelitian mengenai depresi dan ketidakseimbangan neurosmister di otak, khususnya serotin atau hormon bahagia di otak, telah ada sejak 50 tahun lalu. Sejak itu, industri farmakologi aktif mengiklankan bahwa depresi penyebab macetnya produksi serotin di otak. Akibatnya, banyak orang percaya bahwa serotin adalah faktor tunggal dari depresi, dan bergantung pada obat-obatan antidepresan untuk melancarkan produksi serotin mereka. Depresi memang ada kaitannya dengan aspek biologis manusia, tapi keterkaitan yang paling signifikan dan konsisten di literatur ilmiah adalah keterkaitan antara depresi dengan kesehatan mikroba di usus, volume hipokamus di otak, dan genetik. Regis mengatakan bahwa antidepresan baik digunakan untuk membantu kita mengatur ulang mood kita yang buruk. Untuk benar-benar pulih, dibutuhkan terapi dengan psikolog dan motivasi diri sendiri.

Pembaca akan merasa berkaitan ketika Regis membahas faktor-faktor eksternal pemicu depresi, seperti toxic relationship, kehidupan modern, budaya, alam, serta epigenetik (perubahan ekspresi gen di tubuh kita karena faktor lingkungan tanpa mengubah DNA). Sebagian orang yang mengalami permasalahan mental, tumbuh di lingkungan yang menanamkan benih depresi. Potensi paling besar yang menyediakan lingkungan seperti itu ialah orang terdekat, yaitu orang tua, guru ataupun teman. Belum lagi faktor tekanan pekerjaan, dan media sosial. Peringkat di sekolah, Indeks Prestasi Kumulatif, nilai ujian, dan jumlah harta menjadi tolok ukur kesuksesan manusia modern. Manusia modern menerima terlalu banyak stresor setiap harinya, dari alarm yang membangunkan kita setiap pagi hingga pekerjaan di kantor yang belum selesai padahal mendekati waktu tenggang.

Saya sangat merasa tercerahkan saat Regis menyangkal anggapan bahwa orang yang tak dekat dengan agama, rentan depresi. Tak sedikit juga orang yang malah memupuk rasa bersalah karena dirinya pendosa, jarang ibadah, dan akan dihukum Tuhan bila melupakan-Nya. Seseorang yang mengalami depresi berkepanjangan, juga bisa mengatur ulang sisi keyakinannya. Sebagian besar kita memang masih memandang remeh depresi. Jika seseorang dengan depresi datang untuk menceritakan keluh kesahnya, kita justru menganggap ia lemah, cengeng, atau cari perhatian. Dan ketika ia memilih untuk mengakhiri hidupnya, kita pun akan mencap seenaknya bahwa imannya lemah. Regis dengan jelas memberi pemahaman bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Bahkan, keduanya saling bergantung satu sama lain. Dan yang terpenting, jangan pernah mendiagnosis diri sendiri terkait kesehatan mental. Pergilah ke psikolog, jika Anda merasakan ada yang tidak beres dengan mental Anda.

Dari perjalanan panjangnya berjuang menghadapi depresi, Regis memberikan penjelasan bagaimana depresi memberikan sisi positif bagi dirinya. Ia bisa berhubungan dengan banyak orang terkait pengalamannya, ia terhubung dengan alam, mendapatkan pengalaman transdental, tak hanya itu, depresi membantunya semakin terhubung dengan diri sendiri.

Regis menulis bukunya dengan bahasa tutur yang sangat mudah dimengerti semua kalangan. Ia menjelaskan dengan baik sejumlah istilah medis terkait kesehatan mental, sehingga saya yang tak familier dengan istilah tersebut pun dapat mengerti buku ini. Untuk beberapa hal, Regis kerap menulis ulang hal tersebut. Mungkin ia ingin pembaca terus mengingatnya setelah membaca Loving The Wounded Soul ini. Sayangnya, saya menemukan beberapa kesalahan pengetikan di beberapa kata, tapi tak mengganggu keseluruhan buku menarik ini.

Evi Agustina
Latest posts by Evi Agustina (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.