Kejadian dan Kebajikan Manusia

 

Informasi Buku:

Judu        Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya

Penulis   : Gioconda Belli

Penerbit : Marjin Kiri

Edisi        : Pertama, Oktober 2019

Tebal      : 200 hal

ISBN        : 9789791260923

Kisah Adam Hawa di Taman Firdaus adalah salah satu legenda yang masyhur dalam lingkungan agama samawi. Banyak pula penceritaan ulang dan tafsir baru atas kisah tersebut. John Steinbeck salah satunya dalam novel East of Eden (1952) secara implisit menggambarkan bagaimana manusia-manusia pertama di bumi berinteraksi. Steinbeck meminjam kisah Kain dan Habel dengan latar perang sipil Amerika Serikat. Dalam novel Steinbeck, tokoh Charles dan Adam adalah representasi Cain dan Abel. Charles sebagai sisi buruk dan Adam sisi baik, sebagaimana digambarkan dalam pembunuhan Abel atau Habel oleh Kain. Baik-Jahat; dua hal yang berkelindan dalam kehidupan manusia.

Novel Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya (Oktober, 2019) ini mengisahkan Adam dan Hawa dan kehidupan di awal-awal keberadaan mereka. Meminjam kisah Kitab Kejadian, ketika Adam pertama kali diciptakan, kemunculan Hawa, turun ke bumi, menyaksikan hal-hal baru, dihujani ilmu pengetahuan, dan menyelami kebaruan-kebaruan yang tak ada di Taman Firdaus.

Dan begitulah pada mulanya si laki-laki. Tiba-tiba. Dari tidak sadar menjadi sadar bahwa dia ada. (hal. 3) Adam “mendadak” ada dalam dunia dengan wahyu-wahyu Ilahi yang menuntunnya memahami yang di hadapan dan eksistensinya. Adam menyebut “Yang Lain” untuk kehadiran sosok yang diam-diam mengawasi dan memberitahunya nama-nama benda sekaligus keberadaannya.

Kejadian-kejadian di Taman Firdaus berjalan seperti skenario milik “Yang Lain” di mana Adam dan Hawa adalah boneka-boneka yang menjalankan tanpa pilihan. Ketidaktahuan mendasari mereka untuk mengeksplor hal-hal baru dan memancing rasa ingin tahu mereka. Pengetahuan Adam dan Hawa di Taman Firdaus selalu mereka dapatkan dari suara Tuhan, yang disebut Adam sebagai Yang Lain, yang kehadirannya serupa dengan angin meski lebih ringan dari itu. (hal. 4)

Manusia pada dasarnya memang haus akan pengetahuan, yang membuat Adam Hawa mengeksplorasi Taman Firdaus. Hingga mereka bersua dengan Pohon Kehidupan dan Ular yang menjadi pembisik. Dan seperti semuanya sudah tahu, Adam dan Hawa “membangkang” larangan Elokim-Tuhan, dan diturunkan di bumi. Sebab mendiami Firdaus membuat Adam dan Hawa meski dijanjikan keabadian dan kenikmatan tanpa batas, sejatinya eksistensi mereka tidak lebih aksesoris Elokim. Dan bumi yang tidak terbayangkan adalah sumber pengetahuan.

“Mana yang akan kau pilih, pengetahuan atau keabadian?” (hal. 14)

Keduanya kemudian menjadi dua makhluk pertama berwujud manusia yang tinggal di bumi. Tanpa pengetahuan, selain intuisi dan bisikan Elokim.

 

Kesadaran Ilahiah

Peran Elokim yang menciptakan kalian selain sebagai pencipta adalah pembisik ilmu pengetahuan kepada Adam. Hawa digambarkan selalu dihasut oleh Ular untuk menjajal ragam pengetahuan baru di Pohon Pengetahuan.

Kesadaran dari Elokim yang juga kemudian menuntun kehidupan awal di bumi. Keterbukaan pikiran mereka akan hal-hal baru di bumi masih bertaut dengan bisikan Elokim. Melihat matahari yang bersinar terik, hawa panas, dingin air sungai, gunung menjulang. Fenomena di hadapan mereka diterjemahkan dengan baik berkat bisikan Elokim melalui Adam.

Maka digambarkan hal-hal konyol yang menggelitik. Ketika pertama melihat matahari dan merasakan panasnya, berdua menganggap itu adalah api. Api mengejar mereka, mendorong mereka tanpa ampun. (hal. 45)

Kemudian ketika menemukan gua dan sumber air, kembali mereka diterkam ketakutan. Sensasi sejuk air dikhawatirkan seganas sengat matahari. Mereka hanya berkumur dan takut menelan air sejuk itu. Mereka mengisi pipi tetapi tak berani menelan airnya. Rasanya dingin berkebalikan dari api, tetapi sama-sama membakar. Mereka takut air itu akan mengoyak dada mereka. (hal. 49)

Termasuk bagaimana mereka menjelajah tubuh masing-masing. Tak ada ilmu pengetahuan hanya bisikan Elokim dan dorongan alam. Hawa adalah lautan tempat meredam kegundahan Adam.

Dari memandangi sekitar Adam belajar bagaimana siklus alam, siklus lapar-makan-buang air. “Lihatlah kau sekarang. Harus membunuh agar bisa makan.” (hal. 80)

Pada tahapan ini, Adam dan Hawa dibimbing alam, ular, dan Elokim sebagai “mahadalang” atas semuanya. Aliran kesadaran dan pengetahuan dari sumber mereka.

 

Kebajikan Pengetahuan

Sedikit berbeda ketika generasi kedua hadir di antara Adam dan Hawa. Habel-Aklia dan Kain-Luluwa. Dua pasang kembar yang lahir dari rahim Hawa. Kehadiran mereka seketika menambah kesadaran baru pada manusia-manusia pertama tersebut. Berbekal pengetahuan yang telah dihimpun Adam-Hawa mencoba mewariskan pengetahuan, beberapa dibantah oleh mereka.

Bila seksualitas dalam kacamata Adam-Hawa adalah tuntutan batin, keduanya ibarat lautan yang saling mencari peraduan. Sebaliknya dalam pandangan Habel-Kain ada terma baru dalam pandangan mereka “menarik-tidak menarik”, “merangsang-tidak merangsang”. Cara pandang tubuh telah bergeser yang semula kebutuhan batiniah, menjadi badaniah.

Luluwa lebih menarik dari Aklia. Kain tak ingin Luluwa dipasangkan dengan Habel. Sedangkan Elokim membisikkan bahwa mereka tidak boleh bercampur, harus bersilangan. Dan cara memandang tubuh dan seksualitas inilah nanti lahir pembunuhan pertama di awal kehidupan manusia.

Pemberontakan kepada Elokim dimulai dari sini. Dan cara pandang manusia kemudian tidak harus selalu bertumpu pada bisikan Elokim. Di tahapan inilah kemudian muncul dua sisi kehidupan manusia yang selalu mengikuti: baik dan buruk. Yang Jahat, yang Baik, segala sesuatu yang ada dan akan ada di bumi ini, berasal dari sini: di dalam dirimu. (hal. 171)

Bila dicermati novel ini menegaskan segala ilmu pengetahuan bermula dari sebuah tragedi. Memakan buah dari pohon ilmu pengetahuan dan tragedi Kain-Habel kemudian melahirkan kebijaksanaan dan pengetahuan. Gioconda Belli menulis ulang dengan apik, bukan semata soal tragedi turunnya Adam-Hawa ke bumi, juga landasan lahirnya kredo baik-buruk yang mengekor pada manusia. []

Teguh Afandi
Latest posts by Teguh Afandi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.