Kelinci Calvino

in Cerita Pendek by
wowxwow.com

I

     Calvino, si pesulap, telah berhasil menciptakan gadis remaja dari kelinci yang hampir mati. Kelinci itu ia temukan sedang mendengus-dengus kesakitan di sudut tenda pasar malam, terlindung dari sinar lampu. Calvino mengunjungi pasar malam hanya untuk menemui peramal tua guna menanyakan kapan bakal datang akhir hidupnya. Ia batalkan rencananya, ia raih kelinci itu dan segera membawanya pulang.

     Calvino tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan kelinci itu. Sebagai pesulap yang tak lagi mendapat tempat untuk menampilkan pertunjukannya, Calvino sudah putus asa. Yang dilakukannya kemudian hanyalah menaruh kelinci itu di meja, menutupnya dengan topi tinggi, dan lantas mencari secarik kertas lusuh di dasar peti kecil berisi perlengkapan sulapnya. Kertas itu ia dapatkan ketika berusia sebelas tahun di laci kelas sebuah sekolah ketika ia diam-diam masuk ke sana hanya untuk duduk di bangku tempat biasanya seorang gadis remaja duduk. Gadis itu sering ia lihat ketika pulang sekolah. Calvino tidak sekolah di sana, Calvino bahkan tidak sekolah di mana-mana. Ia yatim piatu sejak lahir.

     Penjaga sekolah memergokinya dan langsung mengusirnya. Calvino menangis tersedu-sedu dan baru bisa mengusir kesedihannya setelah menyadari bahwa ia mendapatkan sesuatu dari kelas tadi; secarik kertas bertuliskan kata-kata yang tak dipahaminya. Calvino telah bisa membaca, meski masih terbata-bata, tanpa ada yang mengajarinya. Selepas remaja, ia ikut rombongan sirkus, membantu seorang pesulap tua yang cuma punya satu-dua trik. Di saat-saat itulah, ia melihat satu papan reklame dan membaca satu kata yang kemudian ia putuskan menjadi namanya: Calvino.

     Sekarang, setelah tahun-tahun penuh kegagalan, Calvino berdiri di hadapan meja di mana terdapat sebuah topi tinggi dengan kelinci yang nyaris mati di dalamnya. Calvino membaca tulisan di secarik kertas usang itu dengan terbata-bata, air matanya berurai seakan-akan ia sedang membaca wasiat orang yang sudah mati. Lalu ia tidur.

     Paginya, di atas meja itu, sudah berdiri seorang gadis remaja mengenakan seragam sekolah. Wajahnya manis tetapi menyiratkan bayangan keangkuhan. Gadis itu mengangguk pada Calvino. “Halo, saya Sirin. Bagaimana saya bisa ada di sini? Tadi rasanya saya ada di kelas. Kakek ini siapa?” katanya terheran-heran. Calvino ikut terheran-heran. Beberapa saat kemudian, gadis itu berseru  “Ya Tuhan, Calvin, Calvin, apa Kakek melihat Calvin, kelinci saya? Dia pasti kelaparan, saya lupa memberinya makan.”

II

     Calvin telah berlari sekencangnya hanya untuk menemui pamannya dan menceritakan apa yang ia lihat. Tetapi pamannya hanya terpingkal-pingkal. Dengan wajah memerah lantaran menahan tawa, dia berkata bahwa Calvin telah salah lihat. Calvin mencoba kukuh, mendesak pamannya untuk melihat sendiri. Pamannya yang baru saja membuat kopi, malas-malasan menanggapi,

     “Tidak mungkin, bagaimana bisa dia mengubah dirinya jadi kelinci?”

     “Saya lihat sendiri, Paman. Sirin membaca sesuatu dan tiba-tiba dia berubah jadi kelinci. Kelinci itu melompat-lompat ke sana-kemari.”

     “Calvin, aku tahu dari dulu kamu bercita-cita jadi pesulap. Tapi jangan mengarang-ngarang cerita….”

     “Saya tidak mengarang. Kalau Paman tidak percaya ayo kita lihat ke sana.”

     Pamannya tidak menanggapi. Calvin mendengus dan sebelum berdiri ia mengingat-ingat apa yang dibaca Sirin sembari menggumamkannya. Lalu ia memutar tubuhnya. Punggungnya masih merasakan empuk sofa. Dia berpikir keras, siapa kira-kira orang dewasa di permukiman ini yang mau peduli pada ceritanya; pada Sirin, yang beberapa waktu lalu menghilang sekian hari secara misterius, dan seperti misteriusnya peristiwa hilangnya Sirin, gadis remaja itu tiba-tiba muncul kembali, tak kurang misteriusnya.

     Ekor mata Calvin melihat pamannya tidak beranjak sedikit pun, membuatnya benar-benar kesal. Calvin yang sudah melewati pintu dan melihat stiker bertuliskan Calvino tertempel di sana ingin sekali lagi meyakinkan pamannya. Ia berbalik. Namun betapa terkejutnya ia; pamannya sudah tidak ada di sana. Seekor kelinci bertengger di tempatnya duduk tadi.

 

III.

     Bertahun-tahun kemudian, ketika Calvin sudah bermukim di kota, ia kerap bepergian ditemani sopirnya. Apabila di papan reklame atau di dinding-dinding kota ia melihat poster yang mempromosikan pertunjukannya, hatinya akan berbunga-bunga. Ia telah jadi pesulap profesional dan cukup dikenal.

     Hari itu, seusai sebuah show, ia berjalan-jalan sebentar di suatu jalan kecil. Ia perhatikan bangunan-bangunan yang dilewatinya. Ada kafe, laundry, kursus bahasa asing, toko mainan, gym, dan papan besar bertuliskan Calvino tepat di depan sebuah bangunan sekolah. Ia tertegun di depan papan besar itu, rasa-rasanya papan itu tidak ada sebelumnya. Bangunan sekolah itu rasanya juga tidak ada di sana sebelumnya. Ia lihat mobilnya terparkir rapi di areal parkir luas selepas jalan itu. Ia tidak tahu kalau jalan itu ternyata tembus ke tempatnya memarkir mobil. Sampai di mobil, ia lihat sopirnya sedang tidur di jok depan. Calvin hendak membuka pintu mobilnya. Tapi pintu mobil terkunci. Ia ketuk-ketuk kaca supaya sopirnya bangun. Rupanya sopir itu pulas sekali. Calvin mendekatkan wajahnya ke kaca, mencoba melongok ke dalam. Ia terheran-heran. Yang tidur di dalam itu bukanlah sopir, melainkan pamannya. Lalu ia teringat, bahwa pamannya sudah berubah jadi kelinci bertahun-tahun lalu. Kenapa dia ada di dalam mobilku? pikir Calvin. Tiba-tiba seorang lelaki tua muncul di sampingnya, senyumnya lebar, dia mengenakan topi pesulap. Sekilas Calvin menandai sosok itu, tapi ia tak ingat siapa dan pernah bertemu di mana.  “Ada apa?” tanya laki-laki itu. Calvin menjelaskan dengan ringkas. Orang itu tertawa, lalu berkata “Tuan, biarlah dia tidur. Kelihatannya dia sangat letih. Tak baik membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak. Bagaimana kalau sembari menunggu dia bangun, Tuan mampir dulu ke rumah saya?”

     Masih terheran dengan situasi, Calvin berjalan bersama laki-laki tua itu, memasuki gang-gang bercabang sampai di depan sebuah rumah. Samar-samar, seperti juga ketika melihat laki-laki tua itu, Calvin merasa pernah melihat rumah itu. Mungkin di masa kecilnya, tapi mungkin juga jauh setelahnya. Bagian dalam rumah itu sangat luas. Tadi sewaktu masih di luar, rumah itu tampak usang dan tak terurus. Tapi begitu di dalam Calvin melihat semua benda tampak terawat. Ada peti-peti berbagai ukuran, kurungan dari besi, roda-roda besar, serta kain-kain aneka warna. Rupanya sedang berlangsung suatu acara, mirip seperti peristiwa di pasar malam. Ada lelaki-lelaki dengan kostum badut, perempuan-perempuan dengan bola kristal, juga pemain akordeon. Berbagai macam penganan disajikan di meja-meja panjang. Pelayan-pelayan hilir-mudik dengan senyum ramah. Calvin hendak bertanya pada laki-laki tua tadi, tapi laki-laki itu sudah tidak ada di dekatnya. Calvin celingak-celinguk mencari, tapi tidak ketemu. Merasa gelisah, Calvin hendak beranjak keluar. Ketika itu didengarnya seseorang berseru, “Tunggu.” Calvin menoleh, di depannya sudah berdiri seorang gadis remaja. Wajahnya manis tetapi menyiratkan bayangan keangkuhan. Gadis itu mengangguk pada Calvin. Orang-orang masih ramai, bahkan semakin ramai. “Tuan Pesulap,” kata gadis itu, “apakah anda ingat saya?” Calvin mengernyitkan keningnya, dia mau bilang ‘tidak’; tapi belum sempat berucap, gadis remaja itu sudah kembali berkata, “Saya sudah bisa mengubah orang jadi kelinci. Mau lihat?”

     Gadis remaja itu mengusap-usap telapak tangannya, lalu dikeluarkannya secarik kertas usang dari sebuah kotak kecil. Dengan terbata-bata gadis remaja itu membaca tulisan di atas kertas tersebut. Calvin sangat mengenali tulisan itu. Tiba-tiba ia merasa cemas. Sesaat ia menunggu, tapi tampaknya tak terjadi apa-apa; tak ada kelinci seperti yang dikatakan si gadis remaja. Calvin menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Seseorang menatap padanya, lalu seseorang yang lain, lantas semua orang di ruangan menatapnya. Lalu salah satu dari mereka mendekati Calvin, disusul seorang lagi, lalu seorang lagi. Calvin merasa ngeri, ia ingin berlari, tapi tak bisa. Ia hanya bisa melompat-lompat ke sana-kemari***

(Bakarti, 2018)

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (Akarhujan, 2014), Rencana Berciuman (Halindo, 2015), dan Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015). Ia juga menulis dan menyiarkan cerita pendek serta rajin mengisi kolom di surat kabar lokal. Bersama sejumlah kawan mendirikan dan mengelola Komunitas Akarpohon. Suatu komunitas nonsanggar yang mengupayakan penerbitan buku, kelas menulis, dan proyek-proyek seni lainnya. Email: pohonkata@gmail.com
Kiki Sulistyo

Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.