Kembang Kempis Sampai Garis Finis

in Rehal by

Bagaimanakah hubungan musik, lari, dan kopi dengan sebuah cerita? Jawabnya ialah lewah dan variatif. Berangkat dari elemen-elemen itulah novel perdana Hasan Aspahani ini lahir.

Without music, life would be a mistake, ujar Nietzsche dari bukunya Twilight of Idols. Bahwa musik adalah penerang kehidupan, ia bukan hanya bunyi, melainkan jembatan untuk bertemu bentuk lain dari seni. Ya, judul Ya, Aku Lari diambil dari rahim lagu God Bless yang bertajuk “Kehidupan”.

Kukejar prestasi itu, seribu langkah kupacu. Ya, aku lari.

Tunggu kutarik napasku, kubasuh dulu wajah ini.

Ayo, lari. Tak dapatkah sejenak hentikan misimu?

Lihatlah peluhku, tengoklah hatiku.

Dari potongan itu, lirik “Kehidupan” bercerita tentang seseorang yang bekerja untuk memuaskan ambisi orang lain. Bahwa setiap langkah dalam hidup selalu ada ketidakpuasan dan terimpit realita yang tidak sesuai harapan.

 Selanjutnya saya bertemu pada sebuah momen dan peristiwa: lari. Hal itu membuat saya teringat pada memoar Murakami What I Talk About When I Talk About Running. Ia menganalogikan menulis (dalam hal ini profesi) sebagai sebuah pertandingan maraton. Kebanyakan pelari lari bukan karena mereka ingin hidup lebih lama, tapi karena mereka ingin menjalani hidup dengan maksimal. Begitu katanya. Dan saya mengamini hal tersebut dengan berbagai peristiwa yang ada di novel ini. Banyak tokoh-tokoh di dalamnya yang memiliki ambisi akan kesuksesan duniawi dan batas-batas di antaranya menjadi abu-abu. Semua legal, semua sah demi hidup yang maksimal tadi.

Hingga saya bertemu dengan sebuah komoditas kebudayaan: kopi. Kopi seperti kita tahu banyak membawa gelombang dalam iklim kesusastraan. Bahkan sampai Albert Camus mengatakan: Should I kill myself, or have a cup of coffee? Begitu urgenkah kopi? Di Indonesia kita mengetahui bahwa kopi berawal dari kisah tanam paksa (cultuurstelsel) yang dilakukan penjajah, hingga hikmahnya Indonesia mempunyai berbagai varian kopi. Di novel perdana Hasan ini, ada koherensi yang membuat alur bisa berjalan. Melalui musik, terciptalah harapan. Lewat lari, kehidupan kian penuh tantangan. Dengan kopi, banjir cerita bisa tercipta.

Lalu, bagaimanakah seorang penyair menuliskan novel perdananya? Apakah perangkat puitika yang ia punya dapat didayagunakan untuk membangun konstruksi cerita? Atau malah ada beban dalam kelindan diksi dan sekuen bila menggunakan perkakas literer yang puitik? Dan jawabnya, Hasan tidak menggunakan perkakas literer tersebut. Novel yang berangkat dari draf skenario film ini, menggunakan diksi yang lugas dan filmis. Hasan telah merampungkan sebuah kursus penulisan skenario film di Wahana Kreator bersama Salman Aristo, dan hal tersebut dimanfaatkannya dengan baik untuk ukuran pengembangan cerita.

Perkenalan saya pada Hasan Aspahani ialah lewat buku puisi Orgasmaya. Puisi-puisi yang naratif dan berkisah banyak terhimpun di dalamnya. Jejak kepenyairannya yang suka bercerita dengan nada ironis, terbawa pula pada cerpen-cerpennya. Contohnya Sejumlah Fiksi Mini (Tempo, 28 Februari 2009) dan Bung Badut (Sejumlah Kisah Singkat dan Moral Cerita yang Dikandungnya) (Tempo, 9 Mei 2009). Dari sejumlah cerpennya itu saya membaca jejak karikatural dan penuh anekdot. Napasnya sebagai komikus terendus jelas dalam prosanya ketika itu. Lalu bagaimana ketika ia kini menulis novel? Tidak bisa dibilang istimewa, meski tak juga mengecewakan sepenuhnya.

 

Alegori Zaman Kiwari di Indonesia

Semesta Ya, Aku Lari! berkisah tentang seorang narapidana bernama Mat Kid. Ia memiliki masa lalu yang kelam dan ia baru keluar dari penjara. Ia berupaya untuk memperbaiki diri dengan mengajak anaknya, Alta, hadir kembali ke labirin hidupnya. Masa lalu, kenangan dan hal yang berkelindan di antaranya, memang selalu menjadi elemen dan instrumen tokoh dalam berbagi dan berbagai cerita. Hal itu terkadang bisa menjadi senjata, bisa pula menjadi lubang yang menenggelamkan tokoh-tokohnya.

Ketika Mat Kid mencoba untuk memperbaiki masa depannya dengan melihat masa lalu sebagai pedoman, ternyata ada sesuatu hal yang mengintainya. Hal tersebut hadir melalu Samon, rekannya dulu ketika bekerja di jasa pengamanan. Mat Kid dilema, ia menerima tawaran Samon atau menolaknya dengan berbagai intrik serta risiko. Di tengah kembimbangan tersebut, hadir pula seorang barista, bernama Barbar di sebuah kedai kopi tempat Alta bekerja. Barbar, barista religius ini suka memutar lagu-lagu band rock legendaris God Bless yang dipunggawai Ahmad Albar. Kedai kopi dan musik seolah memang tak pernah terpisahkan.

Tokoh-tokoh di semesta cerita ini terhimpun cukup banyak, meski tidak selalu muncul untuk memuaskan banyak pihak, dalam hal ini alur penceritaan. Saya jadi teringat akan diktum Chekhov soal elemen cerita yaitu Chekhov’s Gun: Ketika kau menyebut adanya pistol di bagian 1, pistol itu harus ditembakkan di bagian 2. Contohnya ketika ada tokoh muncul sebagai informan demi keberlangsungan dan bergulirnya kisah, tiba-tiba ada bagian yang terlalu cepat untuk diakhiri dan bermain pada wilayah permukaan saja. Selain tokoh, konsistensi penuturan sudut pandang juga kerap bermasalah alih-alih menyebutnya sebagai eksplorasi. Pada suatu konteks, tokoh utama menganggit aku sebagai jembatan dialog, pada sisi lain di dialog yang sama, berubah menjadi saya.

Hasan di novel ini seperti pelari yang ingin segera sampai garis finis meski melaluinya dengan kembang kempis. Tentu tak ada yang salah, karena setiap pelari tentu tujuan utamanya adalah garis finis dan Hasan konsisten akan tujuannya. Sebagai pelari, Hasan menggerakkan tokoh pada setiap bab dengan metode cliffhanger. Sebagai pembaca, kita berada pada dua pilihan: terganggu karena disela, atau penasaran akan bab selanjutnya. Saya berada pada posisi terakhir. Hal itu saya rasa menjadi porsi yang cukup tepat, bila mengingat novel ini bermain di ranah drama-aksi.

Adegan drama dan aksinya memiliki rasa yang pas. Layaknya menyesap kopi di Minggu pagi dengan koran di tangan. Ada berbagai berita yang terhampar. Hasan seperti memiliki agenda tersendiri di novel ini: ambisi dari penulis untuk merespons tahun politik di tahun 2019 dan mimesis NKRI belakangan ini. Persekusi kubu minoritas, radikalisme, kasus suap dan korupsi serta peristiwa-peristiwa dagelan yang sering terjadi di republik ini. Dogma agama yang mengekang tanpa melihat konteks zaman, dibahasnya dengan dialog renyah nan jenaka di satu sisi, “Banyak jalan untuk berjihad. Membuat petani sejahtera juga jihad.” (hlm. 137).

Cerita di novel ini menggunakan logika realitas layaknya realisme totok—berikut cuplikan rekaman fenomena-fenomena yang dapat dirujuk di kehidupan nyata. Seperti penyebutan Carrefour alih-alih pasar swalayan. Bila yang tidak terbiasa, mungkin hal ini cukup menganggu. Meski begitu, saya melihat penokohan tokoh utama di dalam cerita begitu kuat sekaligus rapuh. Multidimensi para tokoh menjadikan sebuah cerita dapat kita nikmati. Penjahat, tidak selalu hitam sisinya. Ia sosok yang manusiawi. Mat Kid seperti Don Corleone, tokoh fiktif ciptaan Mario Puzo. Di balik reputasinya yang terkenal kejam, Don Corleone juga merupakan sosok yang penyayang bagi keluarganya. Hal itu dibuktikan Mat Kid kepada Alta, anaknya, dan beberapa orang terdekatnya.

Mat Kid ialah sosok anti-hero yang berada di tengah-tengah kita, representasi zaman yang kian gaduh disebabkan politik dan kepentingan-kepentingan. Suatu ketika John F. Kennedy pernah berseloroh “Jika politik itu kotor, puisi yang akan membersihkan”, maka bolehlah saya sekadar mengingatkan sambil berlari: jika realitas dan politik sedang sakit, maka buku, kopi, dan musik bisa jadi akan menyembuhkan.

Galeh Pramudianto

Galeh Pramudianto

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Univesitas Negeri Jakarta. Bergiat di Komunitas Jakarta Nyastra, Bengkel Sastra UNJ dan Logikarasa. Mendapat juara 1 di cipta puisi Peksimida DKI Jakarta 2016. Manuskrip puisinya Kacukan masuk 3 besar sayembara Pena Kawindra dengan juri Prof. Herman J. Waluyo dan Gunawan Maryanto. Beberapa puisinya termaktub di media cetak.
Galeh Pramudianto

Latest posts by Galeh Pramudianto (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.