Kesaksian Seorang Editor Penggerutu

in Celoteh by
pinterest.com

PADA sebuah sore di pekan terakhir Mei 2017, sekelompok anak muda penggiat literasi di kota ini mengajak saya bertemu di sebuah kedai kopi kecil yang berlokasi persis di depan kampus Universitas Muria Kudus. Sebagian besar dari mereka saya ketahui berlatar belakang sebagai jurnalis.

Saya tidak perlu berpikir lama-lama untuk mengiyakan ajakan itu. Lagi pula, mereka juga bukan sosok-sosok yang asing bagi saya. Kebetulan juga waktu itu saya memang sedang mencari-cari alasan untuk keluar rumah. Saya merasa sudah tidak sanggup lagi berdamai dengan rasa bosan dan penat setelah seharian bersusah payah dan nyaris menyerah untuk memungkasi sebuah tulisan.

Pukul 16.30 saya berangkat dari rumah, sementara mereka sudah menunggu di lokasi. Saya geber motor saya dengan kecepatan tinggi supaya mereka tidak menunggu terlalu lama. Sesampai di lokasi, saya menyaksikan mereka sudah duduk berhadap-hadapan di depan dua meja yang digabungkan menjadi satu. Dari halaman parkir kedai, saya menangkap kesan bahwa ini adalah pertemuan yang sudah disiapkan sebelumnya.

“Silakan duduk, Mas.” Sambil menyeret sebuah kursi Imam mempersilakan saya duduk.

Selain Imam, di pertemuan ini hadir pula Zakki, Mala, Ayu, Islakh, Mail, Farid, dan Salam. Rasanya sudah cukup lama saya tidak bertemu mereka dalam formasi selengkap ini. Sejak sebagian dari mereka lulus kuliah dan mulai bekerja, saya sudah semakin jarang bertemu mereka. Bukan tidak pernah usaha semacam ini dilakukan sebelumnya, namun ternyata lebih sering berujung gagal. Saya kira ini adalah siklus yang wajar dalam sebuah pertemanan.

Pertemuan sore itu terasa istimewa dan menggembirakan. Mereka saling berbagi kabar soal kemajuan-kemajuan hidup pribadi masing-masing, terutama di bidang dunia kepenulisan. Belum lama Mala berhasil menyedot perhatian publik berkat liputannya yang menyentuh tentang Soesilo Toer di Blora, seorang doktor lulusan Rusia yang memilih jalan hidup sebagai pemulung, sekaligus adik kandung penulis terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Zakki, yang belakangan lebih banyak menghabiskan waktunya di Semarang dan bergabung dengan Aliansi Jurnalis Independen di kota itu, mulai sering memenangi beasiswa liputan yang diadakan oleh lembaga-lembaga bergengsi yang beberapa hasil liputannya telah dirilis oleh sejumlah media online besar berbasis di Jakarta. Belum lagi Islakh, mahasiswa psikologi Universitas Muria Kudus, yang akhir-akhir ini, di tengah-tengah kesibukannya menyelesaikan skripsinya tentang peristiwa 1965, berhasil mencatatkan namanya sebagai mahasiswa berprestasi berkat keikutsertaannya di berbagai forum ilmiah bergengsi di berbagai kota besar di Indonesia.

Selain Mala, yang menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Diponegoro Semarang, dan sekarang bekerja sebagai redaktur di harian Radar Kudus Jawa Pos, semua yang hadir di pertemuan ini merupakan produk dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi lokal: IAIN Kudus dan UMK. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, atau memandang remeh yang lainnya, apa yang mereka capai sejauh ini boleh dibilang mengejutkan dan membesarkan hati, lebih-lebih di tengah kultur literasi kota Kudus yang masih jauh untuk disebut berkembang.

Jujur saja, berkat kehadiran orang-orang muda seperti mereka, saya merasa kembali dibuat jatuh hati pada kota kelahiran saya ini, setelah kurang lebih dua puluh tahun lamanya saya tinggalkan dan abaikan. Lagi-lagi, tidak bermaksud membuat glorifikasi, saya berkeyakinan bahwa masa depan literasi kota Kudus di tahun-tahun mendatang akan banyak ditentukan, atau paling tidak diwarnai, oleh orang-orang muda ini.

Tanpa terasa, hampir satu jam obrolan kami berlangsung. Hal yang paling mengesankan saya dari obrolan sore itu adalah semakin berkembangnya daya jelajah mereka dalam memilih bacaan-bacaan bagus dan menarik, juga cara mereka membuat apresiasi tentangnya. Saya melihat kegemaran mereka terhadap buku bukan sekadar ekspresi dari gaya hidup orang muda terpelajar masa kini yang hendak mendefinisikan diri, gejala yang mudah kita jumpai di banyak kota besar di Indonesia bahwa buku sudah mulai ditempatkan bukan dalam fungsi tradisionalnya sebagai jendela pengetahuan belaka, namun sudah beranjak menjadi penanda kelas dan identitas.

Justru sering kali, di kota-kota kecil yang akses terhadap bacaan tidak semelimpah di kota-kota besar, kita akan menjumpai orang-orang yang cara mereka memperlakukan sebuah buku akan terlihat lebih tulus dan jujur. Mereka menyadari keterbatasan akses untuk mendapatkannya, dan begitu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka menanggapinya dengan penuh gairah dan menempatkannya layaknya sebuah kitab suci.

Di tengah-tengah obrolan tentang buku yang membuat anak-anak muda ini nyaris tidak pernah bosan, sesekali kami saling melempar ejekan tentang kekonyolan-kekonyolan hidup masing-masing yang, bahkan jika diketahui seluruh penduduk bumi sekali pun, kami sama sekali tidak akan menganggapnya sebagai aib. Bukan dalam rangka merundung, bukan pula untuk meninggikan diri, namun semata sebagai cara kami memulihkan kehangatan dan keakraban yang belakangan semakin langka kami dapati. Secangkir kopi robusta Muria di depan saya tandas, menyisakan kerak hitam yang nyaris mengering di dasar cangkir.

Kami memutuskan menghentikan obrolan ketika azan maghrib berkumandang dan bersepakat untuk melanjutkannya setelah menunaikan sembahyang maghrib. Saat kami beranjak dari tempat duduk, Imam memberi tahu penjaga kedai bahwa kami akan kembali lagi setelah selesai sembahyang.

“Jangan pada pulang dulu ya, masih ada hal penting yang perlu kita bicarakan setelah shalat Maghrib!” seru Ayu mengingatkan teman-temannya.

SEBENARNYA apa yang hendak kita bicarakan, tampaknya serius banget?” saya mencoba membuka percakapan setelah kami berkumpul kembali di meja yang sama.

Ayu dan Mala saling melempar pandangan, sementara yang lain terdiam dan seolah-olah sedang menunggu ada di antara yang hadir di situ mulai membuka pembicaraan. Zakki mengalihkan perhatian ke ponselnya yang sejak dia duduk tampak menyala berkali-kali. Islakh tampak senyum-senyum, sepertinya hendak menyampaikan sesuatu, namun beberapa saat saya menunggu tak kunjung keluar dari mulutnya pernyataan apa pun.

“Sudah sampaikan saja, Parist Penerbit siap kok menerbitkannya,” ujar Mail, jebolan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma, IAIN Kudus, yang juga pengelola sebuah rumah penerbitan kecil di Kudus, sambil tertawa kecil memecah kebuntuan.

“Begini, Mas. Bagaimana kalau kita menerbitkan sebuah buku tentang Kudus? Beberapa dari kami sudah memiliki tulisan jadi, sementara yang lain sepertinya siap untuk membuat tulisan susulan,” ujar Ayu.

Ayu menyebutkan bahwa dia sendiri, Mala, Zakki, dan Imam masing-masing sudah memiliki satu tulisan yang siap disunting. Ayu meminta saya untuk menyunting tulisan-tulisan mereka sekaligus memberikan semacam kata pengantar supaya kelak ketika semua tulisan mereka sudah terkumpul dan siap diterbitkan, memiliki kerangka perspektif yang jelas.

Dalam hati saya sangat gembira menyambut rencana ini, meski saya masih merasa perlu menahan diri untuk menunjukkannya di hadapan mereka. Lagian saya sendiri juga belum memiliki gambaran jelas bentuk tulisan seperti apa yang sudah mereka buat dan sebagiannya lagi yang bakal mereka susulkan. Namun sepertinya saya memang harus menunda memberikan tanggapan sebelum mereka menyampaikan rencana mereka secara jelas terlebih dulu.

Setelah selesai dengan ponselnya, Zakki segera menceburkan diri dalam obrolan yang makin seru itu. Dia memulainya dengan menyebut sebuah buku yang belum lama dia selesai baca. Belum banyak menjelaskan buku apa yang dia maksud, dia sudah berkali-kali bilang kalau buku itu sangat bagus dan membuatnya terkesan.

“Aku tahu, Mas Zakki. Narasi toh? Yang diterbitkan Pindai Yogya itu toh?” Ayu menyambar tanpa aba-aba.

Mala, Imam, Islakh, juga tak mau ketinggalan membuat kesaksian tentang betapa bagusnya buku yang Zakki maksud. Sepertinya mereka sudah membaca buku itu, atau kalau belum menuntaskannya, paling tidak mereka sudah memegang dan mengenali tulisan-tulisan di dalamnya. Saya pura-pura tidak tahu menahu perihal buku yang sanggup membikin anak-anak muda ini terbius, meski di antara kami mungkin saya lah orang pertama yang memegang buku ini. Saya membelinya di Yogya tidak lama setelah buku ini diterbitkan.

Zakki menyebut sejumlah nama beken dalam buku itu. Yang lain pun segera menimpali. Di antara sederet penulis yang menjadi kontributornya, ada nama yang mereka sebut berulang-ulang karena tulisannya mereka anggap menonjol. Dia adalah Rusdi Mathari, atau Cak Rusdi, yang sekarang sudah meninggalkan kita semua dan damai di kehidupan barunya. Mari kita doakan beliau, semoga amal baik beliau semasa hidup diterima dan kuburnya dilapangkan oleh Yang Maha Kuasa. Alfatihah…

Sampai di situ saya kira-kira sudah dapat membayangkan tulisan seperti apa yang hendak mereka buat. Ya, mereka tampaknya sedang terpapar sebuah genre penulisan dalam jurnalisme yang menonjolkan kedalaman dengan alur penceritaan panjang layaknya karya sastra. Tulisan semacam ini oleh publik Indonesia dikenal sebagai Jurnalisme Sastrawi atau Prosa Jurnalisme.

Meski saya belum sepenuhnya yakin, semata karena saya memang belum membaca tulisan yang mereka buat sebelumnya, mereka sanggup menghasilkan tulisan semacam itu dengan kualitas sama bagusnya dengan tulisan-tulisan dalam Narasi.  Namun saya menyadari keraguan saya ini tidak perlu saya sampaikan saat itu juga di depan mereka. Saya khawatir hal ini justru akan mengacaukan mood mereka ketika mereka sedang di puncak semangat untuk berkarya. Di luar penilaian apa pun, hal yang patut saya tanggapi dengan rasa gembira dan kagum adalah mereka telah menentukan kiblat yang menurut saya benar—setidaknya tepat.

Dalam suasana yang sedang bagus-bagusnya itu, Zakki melanjutkan penjelasannya. Berbekal pengetahuan yang dia peroleh dari berbagai pelatihan jurnalisme yang dia ikuti, umumnya di Jakarta, dia menjelaskan dengan cukup detail perihal bentuk tulisan yang sedang kami diskusikan. Dia menyertai penjelasannya dengan menyebut sosok-sosok penting yang telah berjasa mempopulerkan genre ini di Indonesia, sebut saja Andreas Harsono, Linda Christanty, Bondan Winarno, Rusdi Mathari, Fahri Salam, dan lain-lain. Selain paling senior di antara kawan-kawannya yang hadir di situ, Zakki adalah orang yang menurut saya memiliki pengetahuan paling luas seputar jurnalisme sastrawi atau prosa naratif.

Pembicaraan kami sudah mulai mengerucut. Entah seperti apa nanti hasilnya, kami menyepakati bahwa projek penulisan yang sedang kami rancang ini berkiblat pada bentuk prosa naratif. Mereka yang sebelumnya menyebutkan sudah memiliki tulisan jadi akhirnya menunda untuk menyerahkannya ke saya setelah diskusi kami berujung pada disepakatinya standar-standar penulisan. Mereka merasa perlu untuk memperbaikinya. Saya pikir memang akan lebih baik baik jika projek ini dimulai dari start yang paling awal guna mencapai hasil yang lebih maksimal.

Tahap selanjutnya kami membahas tentang tema apa yang akan mereka tulis. Soal ini kami menyepakatinya diserahkan kepada masing-masing penulisnya. Sebagian sudah memiliki bayangan, sementara sebagian yang lain masih mencari-cari. Saya mengusulkan untuk menulis sesuatu yang memang sudah diketahui dan dikenali dengan cukup baik sebelumnya. Selain setiap penulis akan memiliki gambaran awal tentang topik yang akan dia tulis, saya juga menandaskan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang akhirnya berhasil ditulis. Sebagus apa pun ide kita, akan percuma saja selagi ia masih merupakan wilayah yang sama sekali tidak dapat kita jangkau.

Menimbang bahwa ini adalah ide yang bagus, saya dengan senang hati menerima tawaran mereka untuk memimpin projek ini dan menyediakan diri sebagai editornya. Diam-diam, saya memang sudah menunggu momen seperti ini sejak lama. Bukan apa-apa, pengetahuan saya tentang kota saya sendiri memang masih sangat minim, dan saya ingin tahu lebih dalam lewat tulisan-tulisan mereka. Selain itu pula, Kudus sebagai sebuah kota di pesisir pantai utara Jawa dengan sejarahnya yang panjang dan perannya yang sangat menentukan dalam Islamisasi di Jawa, sejauh ini memang belum banyak dikaji dan ditulis. Dan menurut saya, pilihan pada bentuk prosa naratif merupakan pilihan yang tepat. Selain kita akan tetap mendapatkan kedalaman informasi, tulisan jenis ini juga dapat dikonsumsi oleh publik secara luas.

Satu hal yang juga saya sampaikan kepada mereka adalah bahwa saya sendiri sebenarnya bukan orang yang terlatih dalam tradisi penulisan semacam ini. Kesediaan saya menerima tawaran mereka semata sebagai sikap seorang pemula yang tertarik dengan hal baru untuk dipelajari. Bekal yang saya miliki untuk mengawal projek ini tidak banyak. Inilah yang membuat saya tidak berpikir muluk-muluk dengan membayangkan projek ini kelak akan berdampak ini dan itu.

Yen kuat dilakoni, yen ora kuat ditinggal ngopi. Ungkapan yang saya plesetkan dari lirik lagunya Via Vallen ini kira-kira menggambarkan kondisi pikiran saya waktu itu: mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa projek ini akan berhasil tanpa merasa perlu terbebani, meski harus menerjang wilayah yang belum sepenuhnya kami kenali.

Pukul 21.00 kami berpisah dengan membawa kesepakatan dalam suasana hati terbaik, seolah-olah kami sedang mengawal sebuah misi “kenabian”.

Tanpa kami sadari, diam-diam kami justru sedang membiarkan hantu masuk ke kepala kami, dan memberinya ruang untuk terus gentayangan menebar terornya di benak setiap yang terlibat—di bulan-bulan berikutnya yang panjang dan menengangkan.

MESKI tradisi kepenulisan saya tidak tumbuh dari rahim jurnalisme, namun saya cukup menyadari bahwa saya akan rugi besar jika mengabaikan perkembangannya sama sekali. Untuk tujuan apa?

Saya bukan seorang pembaca sastra yang baik. Dan, jika alasan saya membacanya saya sampaikan kepada mereka yang bergulat di situ, mungkin mereka akan geram dan bahkan mengecam. Saya melakukannya semata dalam rangka kesenangan pribadi, sebagai katarsis, meski acapkali setelahnya saya justru mendapatkan masalah baru. Tapi untungnya ini lebih jarang terjadi. Hanya dari karya-karya yang menurut saya bagus saja saya tersandung masalah-masalah baru.

Melalui sastra, saya sering menjumpai dunia yang rumit ini terpadatkan dalam struktur yang dapat saya pahami: Ada persoalan yang diangkat, babak, konflik, progresi dan transformasi, karakter yang ditonjolkan, juga emosi yang dikuak. Tugas ini sering kali tidak berhasil dilakukan dengan baik oleh disiplin yang saya tekuni, ilmu sosial. Persis di titik ini sastra mampu mengisi kekosongan pemaknaan atas dunia.

Minat saya terhadap struktur dan cerita membuat saya lebih menyukai prosa ketimbang puisi. Oleh karenanya, jangan sekali-kali menanyakan puisi siapa atau seperti apa yang menurut saya bagus. Bagi saya semua puisi sama sulitnya untuk dipahami. Bahkan, ketika sedang dalam emosi-emosi ekstrem sekali pun, entah yang menyenangkan atau menyedihkan, yang oleh banyak teman dianggap sebagai momen terbaik untuk berpuisi, dimensi puitik dalam jiwa saya tetap saja tumpul. Benar, saya sungguh payah soal ini.

Hal yang sama juga berlaku untuk karya-karya jurnalisme. Saya lebih menyukai hasil-hasil liputan yang mendalam, yang menghadirkan persoalan dalam bentuk kisah, meski lagi-lagi tidak banyak yang sudah saya baca. Dari yang sedikit itu, saya sangat terkesan dengan tulisan Andreas Harsono, Hoakiao dari Jember, yang menurut saya adalah tulisan terbaik dalam buku antologi yang disinggung di atas.

Melalui tokoh Ong Tjie Liang, yang kemudian kita ketahui adalah dirinya sendiri, Harsono berhasil mengangkat kegetiran hidup etnik Tionghoa di Jawa, juga di Indonesia secara umum, lewat teknik penceritaan berlapis tanpa kehilangan karakter arsitektoniknya, kekhasan yang juga dapat kita jumpai dalam tulisan-tulisannya yang lain.

Namun, nyaris tidak ada yang sanggup menandingi kekaguman saya terhadap karya naratif yang satu ini, Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kekacauan, sebuah laporan yang disusun dari investigasi yang dikerjakan jurnalis asal Inggris, Richrad Lloyd Parry, selama tiga tahun berturut-turut pada 1996-1999 di daerah-daerah paling membara di Indonesia yang menandai kejatuhan rezim Orde Baru.

Jika cuma saya yang bersaksi, mungkin Anda tidak akan percaya perihal betapa bermutunya karya yang dalam edisi aslinya berjudul In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (2005) ini. Baiklah, saya merasa perlu kutipkan di sini kesaksian yang disampaikan sendiri oleh Farid Gaban—salah seorang jurnalis senior yang reputasinya dalam dunia jurnalisme Indonesia nyaris tidak ada yang meragukan—tentang buku itu.

“Jurnalisme sastrawi dalam praktik dan contoh nyata. Liputan Richrad Lloyd Parry tentang konflik Dayak-Madura di Kalimantan, kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, serta referendum berdarah di Timor Leste disajikan dalam sebuah dongeng mirip novel. Dan, inilah novel horor yang membuat film-film Alfred Hitchcock terasa hambar, sekaligus membuat kita akan bertanya: inikah wajah Indonesia sebenarnya?”

Jika masih belum percaya, saya kutipkan satu lagi. Tak tanggung-tanggung, kali ini pujian disampaikan oleh Literary Review, majalah kritik karya paling disegani di Inggris, bahkan juga di dunia, yang berbasis di London. Demikian bunyinya:

“Richrad Lloyd Parry selalu menyuguhkan kisah-kisah dahsyat. Dia menulis dengan kepekaan dan kepiawaian, mengasi fragmen-fragmen cerita dari sana sini lalu menyusunnya sehingga pembaca mendapatkan gambaran nyata tentang sebuah bangsa yang sedang meluncur ke titik terendahnya… Richrad Lloyd Parry adalah wartawan pemberani dan tak kenal lelah yang masuk ke dalam borok kejahatan manusia serta kembali dengan sebuah kisah yang terlalu mengerikan untuk dipercaya… Reportase yang indah dan berani.”

Belum percaya juga?

Alangkah sialnya saya!

Tiba-tiba pikiran saya terpelanting pada teman-teman muda saya yang sedang mengerjakan liputan naratif tentang kota mereka itu. Andai saja mereka membaca buku ini sebelum mereka menyusun laporan mereka, mungkin bekal yang mereka miliki untuk membangun plot dan mengembangkan karakter menjadi lebih kaya. Tapi sudahlah. Projek itu sudah hampir selesai. Lagian, masih ada kesempatan-kesempatan berikutnya, bukan? batin saya.

Harapan saya yang berkembang kelewat jauh itu sontak saya rasakan sebagai sebuah kecongkakan. Bagaimana mungkin saya menuntut mereka melakukan sesuatu yang bahkan teman-teman mereka di daerah-daerah lain yang iklim literasinya lebih sehat belum tentu sanggup melakukannya? Bukankah itu sama juga saya mematok standar yang seharusnya dipenuhi oleh mereka yang sudah terlatih untuk orang-orang muda yang masih belajar itu? Bahkan, bukankah media-media besar tanah air yang telah memiliki sumber daya mapan sekali pun nyaris tidak peduli dengan produksi karya-karya jurnalistik semacam itu?

Sungguh saya merasa bersalah kepada mereka. Mestinya saya fokus saja pada semangat mereka ketimbang mengeluhkan keterbatasan-keterbatasan yang sebenarnya juga terjadi di mana saja, dan dirasakan siapa saja.

Alamak… betapa bengisnya tuntutan itu jika saya bandingkan dengan kerepotan mereka ketika harus turun ke lapangan untuk menggali informasi dengan ongkos yang dirogoh dari kantong mereka sendiri yang saya ketahui tidak dalam itu. Dibuat sadar oleh kondisi yang sebenarnya, saya merasa seperti ditampar oleh kenyataan yang jika tidak dipahami secara terbalik, seterusnya akan menunjukkan siapa diri saya sesungguhnya: seorang penggerutu yang ke mana-mana membanggakan kekerdilannya.

Belum sepenuhnya siap menerima kenyataan bahwa saya ternyata seburuk itu, pikiran saya tiba-tiba dihantam oleh ucapan Samuel Butler, penyair Inggris abad ke-15, yang entah bagaimana datangnya, merangsek begitu saja ke dalam kesadaran saya.

The truest characters of ignorance are vanity and pride and arrogance.” [Wujud asli kedunguan ada dalam sifat sombong, besar kepala dan congkak].

PADA pertengahan 2010 saya membaca dua karya liputan Andreas Harsono bertajuk Panasnya Pontianak, Panasnya Politik dan Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia, yang diunggah di blog pribadinya, yang versi lebih pendeknya kalau tidak salah diterbitkan oleh mingguan Gatra, ketika sedang meriset tema seputar politik identitas. Kedua tulisan ini memberi saya gambaran nyata tentang bagaimana ketegangan-ketegangan sosial berbasis identitas bekerja di lapangan, bukan lagi sekadar sebagai konstruksi pengetahuan seperti yang saya dapat dari membaca buku-buku teoretis.

Untuk keperluan tulisan ini, saya membaca kedua tulisan itu lagi. Jika pembacaan saya terdahulu berfokus pada kandungannya, sekarang saya lebih berorientasi pada bentuk dan strukturnya.

Meski banyak mengadopsi teknik-teknik yang digunakan dalam karya sastra, terutama cerpen dan novel, prosa naratif tetap saja sebuah karya jurnalisme. Bentuknya yang eksploratif tidak kemudian membuatnya menarik diri dari fakta. Ia tetap berpatokan pada prinsip baku jurnalisme 5W 1H.

Andreas Harsono, dalam pengantarnya untuk buku Jurnalisme Sastrawi (2008) menyebutkan bahwa dalam prosa naratif “who” berubah menjadi karakter, “what” menjadi plot atau alur, “where” menjadi setting, “when” menjadi kronologi, “why” menjadi motivasi, dan “how” menjadi narasi.

Jan Whitt dalam Women in American Journalism: A New History (2008) memberikan sebuah definisi menarik tentang apa itu jurnalisme sastrawi:

 “Literary journalism is not fiction—the people are real and the events occurred—nor is it journalism in a traditional sense. There is interpretation, a personal point of view, and (often) experimentation with structure and chronology. Another essential element of literary journalism is its focus. Rather than emphasizing institutions, literary journalism explores the lives of those who are affected by those institution.”

[Jurnalisme sastrawi bukanlah karya fiksi—ada orang-orang yang benar-benar hadir dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Ia juga bukan jurnalisme dalam pengertian tradisional. Di dalamnya melibatkan penafsiran dari sudut pandang pribadi, dan terdapat eksperimentasi dengan struktur dan kronologi. Ciri mendasar lain dari jurnalisme sastrawi adalah terletak pada titik tekannya. Ketimbang memberi perhatian pada institusi-institusi, jurnalisme sastrawi justru menggali kehidupan orang-orang biasa yang dipengaruhi oleh institusi-institusi tersebut].

Prosa jurnalisme atau jurnalisme sastrawi atau jurnalisme eksploratif atau jurnalisme naratif, dan masih ada beberapa sebutan lainnya, pertama kali berkembang di Amerika pada 1960-an sebagai gerakan jurnalisme baru (new journalism) dengan Tom Wolfe sebagai pencetusnya. Namun demikian, bukan berarti tulisan-tulisan dengan karakter sejenis belum pernah dibuat sebelumnya.

Di kalangan jurnalis naratif sendiri, ada beberapa karya yang terbit sebelum tahun 1960-an yang sering mereka sebut sudah membawa ciri-ciri jurnalisme baru ini, seperti Hiroshima (1946) oleh John Hersey, A Hanging (1931) oleh George Orwell, The San Francisco Earthquake (1906) oleh Jack London, atau yang lebih awal lagi seperti The Watercress (1892) oleh Henry Mayhew.

Lalu ciri apa saja yang dapat dikenali dari jurnalisme sastrawi sehingga ia berbeda dengan jurnalisme tradisional? Norman Sims dalam True Stories: A Century of Literary Journalism (2008) menyebutkan:

“Among the shared characteristics of literary journalism are immersion reporting, complicated structures, character development, symbolism, voice, a focus on ordinary people—if for no other reason than that celebrities rarely provide the necessary access—and accuracy.”

[Di antara ciri umum dari jurnalisme sastrawi adalah liputan mendalam, struktur yang rumit, perkembangan karakter, simbolisme, suara, penekanan pada kehidupan orang biasa—semata karena alasan bahwa para pesohor jarang memberikan kecukupan akses—dan akurasi].

Sekarang saya mafhum, mengapa kawan-kawan muda saya itu dalam perjalanan menyelesaikan laporan mereka menjumpai banyak kendala. Menghasilkan tulisan dengan ciri-ciri di atas ternyata memang bukan perkara gampang, bahkan mungkin bagi mereka yang sudah terlatih sekali pun.

Sepertinya—meminjam perspektif ilmu neurologi—dibutuhkan kemampuan memaksimalkan serta menyeimbangkan cara kerja otak kanan dan kiri sekaligus untuk melakukannya. Dengan kata lain, penulisnya perlu menguasai kemampuan berpikir logis dalam berbagai bentuknya—memilih, memilah, menyusun, menganalisis, dan lain-lain—juga berpikir kreatif layaknya seorang seniman mengelola ide-idenya.

Ya, jurnalisme sastrawi adalah tulisan yang mengombinasikan teknik-teknik yang khas dipakai dalam penulisan sastra, seperti membangun dialog, karakter, emosi, alur, setting, konflik, dan lain-lain. Dan, di saat bersamaan ia juga tetap harus berpedoman pada keakuratan empiris dan koherensi logis. Bayangkan, Anda dipaksa untuk mengadopsi dua orientasi kepribadian yang tampak saling bertolak belakang ke dalam diri Anda—sikap dingin seorang ilmuwan dan kreativitas serta spontanitas seorang seniman.

Berat?

Rasanya kok begitu.

 

FASE paling kritis dan mendebarkan dari proses ini akhirnya tiba juga: menunggu mereka mengirimkan tulisan lalu memberi kesempatan kepada saya untuk menyuntingnya.

Sejak pertemuan pertama pada Mei 2017 lalu, kami sudah membuat kesepakatan bahwa total waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan projek ini adalah enam bulan. Tiga bulan untuk proses liputan dan penulisan, dua bulan untuk penyuntingan dan perbaikan, dan satu bulan terakhir untuk persiapan penerbitan menjadi sebuah buku. Untuk mengawal rencana ini, Ayu berinisiatif membuat group WA sebagai media komunikasi di mana dia sendiri bertindak sebagai adminnya.

Untuk jumlah minimal tulisan yang akan dihasilkan kami menyepakatinya di angka sepuluh, ditambah satu pengantar dari saya, jumlah yang menurut kami sudah cukup untuk dikumpulkan menjadi sebuah karya antologi. Mengingat jumlah orang yang terlibat tidak lebih dari sepuluh, kami membuka kemungkinan kepada setiap penulis untuk membuat tulisan lebih dari satu.

Bila mengacu pada jadwal yang sudah dibuat, mestinya di bulan Agustus 2017 semua tulisan sudah terkumpul di tangan saya. Namun apa mau dikata, hingga minggu pertama September 2017, baru tulisannya Zakki yang saya terima, dan sebulan kemudian disusul oleh tulisan Ayu. Berhubung tidak ada sesuatu yang mengharuskan kami untuk segera menyelesaikan projek ini, ditambah berbagai kendala teknis yang dihadapi masing-masing penulis, kami pun memperbarui kesepakatan dengan memperpanjang tenggat hingga lima bulan ke depan sejak Oktober 2017. Ya, membuat tulisan panjang bergaya naratif memang sekali lagi tidak mudah. Bahkan para jurnalis yang sudah terlatih sekali pun butuh waktu hingga berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu tulisan panjang mereka, pikir saya.

Dengan tulisan Zakki dan Ayu sudah di tangan, setidaknya saya memiliki gambaran tentang bentuk tulisan yang sudah dihasilkan. Lagian dengan dikirim secara bertahap pekerjaan saya akan menjadi lebih ringan. Saya memiliki cukup waktu untuk menyunting tulisan mereka dan memberikan catatan-catatan perbaikan sejauh itu diperlukan, tentu dengan wawasan saya yang amat terbatas dalam menangani tulisan semacam ini. Tidak menjadi soal, namanya juga masih di tahap belajar, asalkan dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti ada faedahnya.

Satu minggu sebelum perpanjangan waktu pertama habis, baru satu tulisan dari Mala yang disusulkan. Saya mulai panik. Bayang-bayang bahwa proses ini akan berujung anti-klimaks mulai mengganggu pikiran saya.

Lewat group WA yang sudah kami buat, saya mencoba mengintensifkan komunikasi. Saya mulai mengajak mereka mengenali satu per satu masalah yang mereka hadapi. Ada yang kooperatif dan aktif menyampaikan permasalahannya, ada pula yang hanya diam sejuta bahasa. Saya berusaha memakluminya, watak orang memang beda-beda. Mungkin ada tipe orang yang memang lebih nyaman jika harus memerinci permasalahan mereka lewat percakapan langsung tanpa perlu diketahui oleh orang lain. Ya, ini adalah kemungkinan yang tidak dapat saya abaikan.

“Apa perlu saya menerapkan metode Sokratik untuk memancing mereka agar terbuka dengan semua kendala yang mereka hadapi? Haruskah saya membantu mereka mendayagunakan seluruh potensi mereka guna memecahkan kebuntuan ini? Haruskah saya menghadirkan seorang teman yang sudah dianggap maestro dalam penulisan naratif untuk memberikan pencerahan kepada mereka?”

Nah, sifat takabur saya mulai muncul lagi. Sial, mengapa juga saya mengetahuinya secepat ini?

Dugaan saya bahwa membuat tulisan panjang dengan sekian tuntutan teknis adalah jenis pekerjaan berat makin terbukti. Saya menjumpai dalam diri mereka sebuah gambaran yang kaffah—tentang persoalan-persoalan mendasar yang tampaknya juga dialami oleh semua orang yang mulai menceburkan diri dalam peradaban tulis-menulis—sejak eranya Plato hingga Tere Liye—sejak zamannya Cleopatra hingga Nella Kharisma.

Saya mulai sadar bahwa pemberlakuan tenggat justru akan membuat mereka makin tertekan. Saya pun berpikir bahwa projek ini sebaiknya memang digulirkan tanpa perlu mematok batas waktu. Biarkan ia menyelesaikan dirinya sendiri, entah kapan itu, persis seperti cara dunia menjemput kiamat.

Lalu bagaimana dengan nasib tiga tulisan yang sudah melewati proses penyuntingan itu? Betapa kecewa penulisnya jika proses ini akhirnya harus dihentikan sementara mereka sudah bersusah payah membuatnya dengan pedoman teknikal yang njlimet itu? Ini sungguh dilematis. Dalam situasi demikian saya tidak mampu lagi berpura-pura sabar dan bijak.

Kepada ketiga pengirim pertama tulisan itu saya mencoba mengajukan pilihan: dilanjutkan dengan tetap mematok tenggat, dilanjutkan tanpa tenggat meski dengan resiko akan menghadapi ketidakpastian, atau dihentikan saja dan saya akan berusaha mencarikan nasib yang layak untuk tiga tulisan yang sudah dibuat itu.

Sungguh, saya ketiban sial untuk ke sekian. Kondisi yang saya rasakan genting ini, kekecewaan yang sudah telanjur saya borong di awal ini, kesia-siaan yang saya kutuk setiap kali terjaga ini, ternyata oleh Mala dan Ayu ditanggapi enteng belaka. Di sini kekecewaan saya tiba-tiba segera beralih kepada mereka berdua. Bagaimana mungkin mereka mengabaikan kepedulian saya yang sedang mekar-mekarnya ini—semata untuk mengangkat wibawa dunia literasi kota Kudus ke puncak tertinggi yang hanya akan terjadi sekali saja dalam sejarahnya?

“Mau gimana lagi, Mas. Demikian lah situasinya. Toh kita hanya bisa berusaha. Selebihnya, mana tahu kita?” ucap Ayu dengan datarnya, menunjukkan bahwa dia tidak mau tahu dengan keresahan saya.

“Aku yang sudah berkali-kali merasakan pengalaman sepertimu saja tidak kecewa kok, Mas. Ada sih, tapi sedikit saja,” susul Mala, dan kali ini benar-benar berhasil membikin saya malu.

Nah, masih ada Zakki. Bagaimana dengan dia?

“Yo gapopo, Mas. Lagian tulisan yang kukirim kemarin hanya pengembangan dari tulisan yang sebelumnya sudah pernah dimuat di media lain kok,” ujar Zakki dengan entengnya. Sesama laki-laki memang mustahil bisa saling mengerti!

“Kalian bersekongkol ingin mempermalukanku? Berani-beraninya kalian ini?!”

Tenang, saya mengucapkannya hanya dalam batin.

TERNYATA, kami masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini, meski sudah memasuki minggu kedua Januari 2018 dan belum ada tulisan baru yang disusulkan, perasaan dan pikiran saya terasa lebih ringan dan lapang. Ingin sekali saya ucapkan terima kasih kepada Ayu, Mala dan Zakki. Namun, setelah saya pikir-pikir buat apa juga? Lagian, apa mereka pantas menerimanya? Toh mereka sudah membuat saya kehilangan muka, dan celakanya di depan diri saya sendiri.

Diam-diam, saya menikmati tulisan mereka. Saya tidak ingin terburu-buru merampungkannya, mumpung juga belum ada tulisan baru yang masuk. Alur ceritanya saya cerna dan rasakan pelan-pelan. Adegan-adegannya saya kenang. Dan… cukup! Pujiannya tidak perlu banyak-banyak.

Rasa kesal saya kepada mereka tiba-tiba berubah menjadi benih-benih harapan, dan ini yang selalu menjadi masalah besar bagi saya. Soalnya, saya selalu menuntut lebih kepada orang-orang yang sudah berhasil mengambil perhatian saya. Gawat. Mengapa saya bisa sejujur ini? batin saya. Saya benar-benar tidak suka. Bukan apa-apa, kalau mereka tahu, bisa besar kepala mereka.

Dalam Melacak Jejak Penemu Kretek, Zakki mengajak kita mengenali sosok Djamhari, tokoh yang diduga sebagai penemu kretek, meski sampai hari ini kebenarannya juga masih simpang siur. Menyadari keterbatasannya dalam mengakses sumber-sumber primer, Zakki meminjam kisah penelusuran Edi Supratno, sejawaran Kudus yang bertahun-tahun meneliti Djamhari, sebagai material ceritanya. Meski begitu, dia cukup berhasil mengangkat sosok Djamhari hingga orang akan mempertimbangkannya sebagai tokoh yang memang benar-benar pernah hidup di Kudus. Maklum saja, kisah hidupnya selama ini lebih banyak diselubungi oleh mitos-mitos. Dia sepertinya tahu kapan harus memperkaya narasinya dengan menyisipkan bacaan-bacaan relevan yang dia gali sendiri. Saya kira Zakki telah mengambil perannya secara proporsional.

Melalui tulisan Yang Asing di Kampung Sendiri, Mala membawa kita pada sebuah desa tua di Kudus yang sedang mencoba mematut-matutkan diri menjadi sebuah desa wisata yang salah satu strateginya adalah dengan mengangkat kembali khazanah tradisi peninggalan leluhur mereka. Mula-mula dia mengajak kita mengenali sebuah tradisi yang sudah dijalankan secara turun-temurun selama ratusan tahun yang tidak mungkin akan kita temukan di desa-desa lain di seantero Kudus, yaitu ritual nganten mubeng dari Desa Loram Kulon. Tinjauan kesejarahannya membangkitkan romantisme, membuat pembacanya tergoda untuk membayangkan tahun-tahun awal ketika Islam baru masuk di kota ini. Keutamaan-keutamaan dan tabu-tabu di balik tradisi dia sebutkan satu per satu, dengan harapan mungkin dapat dijadikan sebagai bahan renungan. Namun, dia ujung kisah dia menutupnya dengan nada getir:

“…tak banyak tulisan yang mengabadikan cerita-cerita rakyat di daerah ini. Warga desa yang memiliki kesadaran untuk menggali potensi-potensi desanya juga belum banyak, untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali. Mereka hanya berlomba-lomba melaksanakan tradisi, sementara banyak situs warisan budaya tidak terdeteksi atau bahkan hilang.”

Mereka yang menghasrati sejarah sebagai pemuas romantisme belaka akan kembali dihantam kegetiran berikutnya. Kali ini lewat Tidak Lebih Dari Sekadar Lembaran Rupiah, karya reportase Ayu yang berkisah tentang sebuah stasiun kereta yang—bukannya dilindungi dan dijadikan sebagai ikon yang merekam perkembangan sebuah kota dari masa ke masa—justru terancam mengalami alih fungsi bahkan hilang untuk selama-lamanya karena keputusan untuk menyewakan lahan kepada pihak swasta secara resmi sudah diterbitkan.

Bayangkan, pada 17 Agustus 2017 bangunan bersejarah itu masih digunakan sebagai lokasi upacara peringatan kemerdekaan Indonesia oleh sebuah komunitas pecinta sejarah di Kudus, dan tidak genap dua bulan kemudian, situs yang menjadi saksi Agresi militer Belanda I ini secara resmi dan terbuka dinyatakan ditutup untuk umum dengan alasan seperti yang disebutkan di atas.

Pada 11 Mei 2018 sebuah pesan masuk di email saya. Rupanya Salam dan kedua kawannya, Salim dan Ismah, mengirim sebuah tulisan yang sebenarnya sudah mereka janjikan setahun lalu. Mereka memberi judul Jenang Kudus, Tak Sekadar Dibuat dan Dijual untuk karya liputan keroyokan mereka. Dalam pengantarnya di emailnya, Salam menyebutkan bahwa tulisan ini mereka adaptasi dari tulisan yang sebelumnya sudah terbit di sebuah majalah yang dikelola oleh lembaga pers mahasiswa di Kudus. Bukan persoalan buat saya, yang penting projek penulisan ini tetap bergulir menemukan titik akhirnya.

Mereka yang menyukai dimensi romantik dari sejarah dan menjadikannya sebagai klangenan saya anjurkan untuk memulai membaca buku ini dari tulisan mereka itu. Dengan spirit menggebu-gebu khas anak muda, sepertinya mereka mengupayakan tulisan mereka dapat menjadi bagian dari usaha-usaha untuk mengangkat kembali dan melestarikan local wisdom atau potensi-potensi ekonomi berbasis tradisi di sebuah daerah agar manfaatnya dapat dirasakan seluas-luasnya oleh masyarakat. Dan upaya mereka ini saya kira cukup berhasil dengan menjadikan tradisi pembuatan jenang di Kudus sebagai sampelnya.

Spirit serupa juga akan kita temukan dalam beberapa tulisan lainnya yang baru disusulkan beberapa bulan kemudian setelah Salam dan kedua temannya mengirimkan tulisan mereka. Dalam kategori ini kita dapat menyebut di antaranya: Jejak-jejak Penelitian Patiayam oleh Imam, Parijoto, antara Mitos dan Fakta oleh Farid, Malam 1 Suro di Negeri Pewayangan oleh Islakh, dan Cerita di Balik Secarik Kain Keramat oleh Ayu.

Pada Juni 2018 Zakki mengirimkan kabar baik. Dia berhasil menyelesaikan tulisan keduanya yang dihasilkan dari liputannya tentang puasa Dalail Khairat di sebuah kampung santri di bagian timur kota Kudus. Tulisan yang bertajuk Hikayat Puasa 1.000 Hari ini dengan apik menggambarkan eksistensi sebuah tradisi keagamaan yang sudah berusia ratusan tahun, yang kalau dirunut sanadnya akan berujung kepada Imam Ibn Sulaiman al-Jazuli, seorang ulama besar dari Maroko yang hidup pada abad ke-15.

Lewat tulisannya ini, Zakki hendak menegaskan bahwa puasa dalail khairat merupakan potret sesungguhnya dari Islam Nusantara yang bercorak hibrid, produk dari persinggungan yang panjang antara ulama-ulama nusantara dengan guru-guru mereka dari pusat dunia Islam di Timur Tengah. Dalam praktik puasa ini, Zakki menemukan:

“…simpul jaringan ulama Nusantara dengan ulama di Timur Tengah. Agen utama persebaran dalail khairat di Nusantara adalah Syekh Mahfudz al-Termasi yang pernah menimba ilmu di Haramain (Makkah dan Madinah). Dia meninggal di Makkah pada usia 51 tahun bertepatan pada 20 Mei 1920. Adalah Muhammad Amin al-Madani selaku guru yang mengijazahkan puasa dalail khairat kepadanya. Tradisi puasa ini kemudian dia bawa ke tanah air dan menyebar ke seluruh penjuru nusantara.”

Pada pertengahan September 2018, Imam menambah daftar tulisan tentang potret keberagamaan masyarakat Kudus yang berakar pada tradisi dengan mengirim tulisan keduanya yang berjudul Etos Gusjigang, yang versi pendeknya pernah diterbitkan oleh sebuah harian terkemuka di Jawa Tengah. Gusjigang merupakan akronim dari gus, ngaji dan dagang, yang secara umum merupakan gambaran ideal dari kepribadian santri Kudus yang dalam diri mereka sekaligus terdapat kualitas-kualitas seperti keluhuran budi pekerti, ketaatan menjalankan ajaran agama dan kemahiran dalam berdagang.

Tulisan tersebut sebenarnya lebih tepat disebut esai ketimbang prosa naratif karena unsur-unsur yang harus dipenuhi dari sebuah tulisan naratif nyaris tidak kita temukan di dalamnya. Tidak menjadi soal. Bagi saya, fungsinya yang dapat memperkaya cakupan tema untuk karya antologi ini, juga nilai informasinya yang saya kira penting untuk diketahui banyak orang, menjadi dasar pertimbangan saya mengapa akhirnya memasukkan tulisan Imam itu.

Selain itu, umumnya sebuah buku yang dihimpun dari tulisan banyak orang, masing-masing penulisnya akan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas tulisan yang mereka buat. Itu artinya, setiap tulisan adalah cermin dari setiap penulisnya. Justru di sinilah letak kelebihan dari karya antologi ini, keutuhannya hanya dapat dilihat dari kekhasan setiap bagian yang menyusunnya.

“Lho… kok jadi mirip semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, ya?”

Minggu terakhir September 2018, genap sepuluh tulisan di tangan saya dan sudah melewati proses penyuntingan. Rasanya sungguh melegakan. Projek sederhana ini akhirnya tunai juga. Tahap selanjutnya saya kirim naskah ini kepada Mail untuk ditindaklanjuti ke tahap pra-cetak. Sepuluh tulisan dan satu pengantar yang sengaja saya panjang-panjangkan saya kira sudah layak untuk disulap menjadi sebuah buku.

Dan, kejutan tiba-tiba terjadi di detik-detik terakhir. Ketika Mail sudah menemukan format tata letak dan desain sampul yang dianggap paling pas, di siang hari yang gerah pada 10 November 2018, bersamaan dengan momentum peringatan Hari Pahlawan, Mala tiba-tiba mengirim sebuah pesan ke WA saya.

“Mas, mohon cek email.”

“Oke,” jawab saya pendek, sependek pesan pembuka yang dia kirim.

Begitu saya membuka email, saya temukan sebuah pesan pengantar yang agak panjang namun jauh dari kesan bertele-tele untuk sebuah tulisan yang dia lampirkan. Saya segera mengunduhnya dan tak lama kemudian membukanya.

Saya terkejut, atau mungkin lebih tepatnya girang, menyambut email itu. Di detik-detik terakhir dari proses yang menguras pikiran dan emosi saya ini, Mala membuat kejutan dengan mengirim sebuah tulisan yang panjangnya lebih dari 5.000 kata atau setara dengan 30.000 karakter lebih. Di bagian paling atas di halaman pertama tulisannya menggantung sebuah kalimat bernada getir: Nasibnya Tak Seindah Kisah Damar Wulan.

14 NOVEMBER 2018. Tumpukan buku tersungkur di sudut meja yang biasa saya pakai untuk mengetik. Sore itu penampakannya lusuh dan mulai berdebu. Saya membatin, mengapa buku ini cepat sekali berdebu, padahal hujan sudah mulai turun sejak sebulan terakhir di kampung saya. Rupanya, saya sendiri yang menyebabkan buku-buku ini lebih disukai debu: saya tidak menyentuh buku-buku ini selama hampir dua minggu.

Saya ambil dan bersihkan satu per satu buku-buku itu. Pelan-pelan debu yang mengotori mereka saya singkirkan. Saya merasa bersalah telah mengabaikan mereka, rasanya sama persis dengan ketika saya sudah membuat kecewa orang-orang yang saya sayangi. Mestinya saya bersama mereka sejak minggu pertama sampai menjelang minggu keempat November 2018 ini. Saya membutuhkan mereka untuk membekali saya sesuatu yang akan saya bawa pada sebuah acara di akhir bulan ini.

Saat saya selesai meletakkan buku-buku yang sudah saya bersihkan itu di bagian yang lebih dekat dengan laptop saya, pikiran saya mendadak tertuju kepada mereka yang lain—siapa lagi kalau bukan teman-teman muda saya yang tulisan-tulisan mereka sebelumnya saya cabik-cabik itu. Mungkin, ini karena untuk beberapa pekan ke depan saya harus meninggalkan mereka, sementara dalam dua pekan terakhir saya hampir menghabiskan setiap malam dengan sebagian dari mereka.

Saya sedih dan kecewa dengan diri saya sendiri setiap kali mengingat hari-hari panjang itu, ketika hampir setiap saat saya menyumpahi dan memaki-maki tulisan-tulisan mereka. Memang, apa yang sudah saya lakukan buat mereka sehingga saya seolah-olah memiliki hak untuk memperlakukan mereka sesuka hati saya?

Kebingungan dan kecemasan benar-benar saya rasakan sore itu ketika saya teringat dengan percakapan terakhir kami dua malam sebelumnya ketika kami menyinggung perihal makna “masa depan” dan “keberhasilan” bagi orang-orang yang memilih menggeluti dunia literasi seperti mereka. Bisa-bisanya saya malam itu menertawakan pertanyaan-pertanyaan mereka, dan bahkan ketika keesokan harinya saya mengingatnya lagi, saya masih menganggapnya sebagai lelucon yang pantas untuk diolok-olok. Lagi, memang apa yang sudah saya lakukan untuk membuat hidup mereka menjadi lebih ringan dan mudah?

Tatapan mata saya kembali tertuju pada tumpukan buku di depan saya, namun pikiran saya sore itu sebenarnya sedang tertambat pada sepotong percakapan dengan Islakh di malam jahanam itu.

“Sebenarnya apa toh yang sedang kita cari, Mas?”

“Apa benar, buku bisa menyelamatkan hidup orang-orang sepertiku di sebuah kota yang masyarakatnya nyaris tidak pernah menganggap buku sebagai benda berharga?”

“Aku sih sebenarnya bisa cuek, tapi bagaimana aku harus bersikap jika pertanyaan itu muncul dari mulut orang tuaku?”

Kapan kowe berhasil, le?”

Adakah sikap abai yang lebih sejati dibanding sinisme yang angkuh berkedok keutamaan berpikir rasional terhadap berondongan pertanyaan-pertanyaan eksistensial dari jenisnya yang paling vulgar dan transparan dari seorang anak muda yang sedang gundah dan sangat serius mendefinisikan diri dan masa depannya?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali diajukan kepada saya sekarang, malam ini, ketika saya kembali berurusan dengan tumpukan buku-buku lusuh itu, jujur saya akan menjawabnya:

“Tidak tahu.”

“Tidak tahu.”

“Dan, tidak tahu.”

Kudus, 15 November 2018

Afthonul Afif

Afthonul Afif

Mengajar Psikologi pada Fakultas Ilmu Administrasi Publik, Universitas Krisnadwipayana, Jakarta. Peneliti pada LOGIC (Local Government Innovation Centre) Universitas Krisnadwipayana, Jakarta.
Afthonul Afif

Leave a Reply

Your email address will not be published.