Kiai Cinta yang Budi

Ayesha Salman

Baru empat hari saya di rumah—setelah lima tahun di Mesir, Kiai Budi langsung bertandang ke rumah saya di Jogoloyo, Demak, tepat malam Lebaran. Beliau datang bersama Gus Saiq, putra pertamanya. Malam Lebaran kali itu menjadi pertemuan pertamaku dengan Kiai Cinta. Saya agak tersinggung karena seharusnya saya yang bertandang lebih dulu ke Rumah Cinta—nama bagi kediaman beliau, lantaran saya jauh lebih muda. Namun saya berpikir, barangkali karena cinta itulah beliau sebagai yang lebih tua, tak sungkan menyambutku yang baru datang dari Mesir.

Mula-mula saya cuma mengenal Kiai Cinta yang disandang Kiai Budi hanya melalui catatan-catatannya yang selalu di bawah judul bertema cinta yang diposting di catatan Facebook miliknya. Sebut saja di antaranya—pisuhan cinta, batuk cinta, lapar cinta, caping cinta, asu cinta, kodok cinta, es teh cinta, nganu cinta, order cinta, demo cinta, dan segenap cinta-cinta yang lain. Belum lagi buku-bukunya tak lepas dari sentuhan kata cinta—Kafilah Cinta, Menjelajah Kearifan Cinta, Pusaran Cinta, Semesta Cinta.

Mula-mula demikianlah saya melihat reputasi Kiai Budi dalam mengusung cinta sebagai prinsip hidup, tapi tampaknya dengan membaca teks bermuatan cinta yang ditulisnya tersebut belumlah cukup untuk memverifikasi kesahihan label Kiai Cinta secara kemenyeluruhan, saya menyadari kalau apa yang saya lihat selama itu baru permukaan. Ketika akhirnya Kiai Budi mengajak saya untuk keliling ke berbagai kota dalam rangka pengajiannya, saya baru menyaksikan bagaimana cinta—meminjam istilah Kiai Budi, telah bertahta di altar jiwanya.

Kiai Budi agaknya sudah lama berupaya merumuskan cinta dalam bentuknya yang paling ideal, sehingga cinta bagi beliau bukan cuma kata sifat, melainkan cinta dipandang sebagai kata kerja. Cinta bagi beliau tidak cuma hadir sebagai pengalaman, tapi sudah mencapai tahap pengamalan.

Barangkali pula saya tak sendirian dalam memandang Kiai Budi hidup di atas falsafah cinta yang konkret tersebut. Cinta adalah cinta, tak ada definisi secara teks yang dapat menerangkannya lebih dari apa pun kecuali cinta harus terlibat dalam perbuatan.

Dan Kiai Budi sudah keluar dari teks untuk mengejar yang lebih agung darinya, yaitu masuk ke dalam perbuatan.

Suatu malam sehabis pengajian, Kiai Budi membeli caping di pinggir jalan di Sragen. Bakulnya gembira karena caping itu dibeli semua oleh beliau. Saya semula hanya mengira kalau Kiai Budi merasa kasihan kepada orang tua penjual caping itu sehingga harus memborong semua, tapi untuk apa caping sebanyak itu kemudian? Esoknya, saya diajak lagi ke pengajian berikutnya di Purworejo. Dan di sana, Kiai Budi ceramah sambil membagikan seluruh caping itu kepada para petani, bupati, dan kapolres setempat. Bahwa ternyata tidak hanya diberikan, melainkan caping digunakan sebagai sarana untuk merangkai metodologi tentang cinta segitiga.

Allah bertanya kepada Kanjeng Nabi. Wahai Muhammad, langit dan bumi milik siapa? MilikMu ya Allah. Kamu milik siapa? MilikMu ya Allah. Lalu Aku milik siapa? Nabi Muhammad terdiam dan dijawab oleh Allah sendiri. Aku milik orang-orang yang mencintaiMu.

Caping dalam konteks ini merupakan metafor dari sebuah paralelisasi cinta segitiga antara Tuhan, Nabi Muhammad, dan manusia umumnya. Selanjutnya, Kiai Budi menerangkan filosofi caping: caping merupakan bagian dari kebudayaan Jawa. Caping juga merupakan miniatur gunung yang memiliki ujung meruncing. Caping adalah simbol di mana bagian bawah terdapat kehidupan yang terhampar di jagat raya, sementara bagian atas merupakan tujuan dari kehidupan. Yaitu menuju puncak tertinggi dan perjalanan itu kerap disebut sebagai sangkan paraning dumadi—tujuan akhir kehidupan.

Orang-orang dahulu memakai caping tidak hanya bertujuan agar terhindar dari terik matahari, tapi caping dipakai sebagai simbol bahwa sesibuk apa pun, selalu ingat tujuan hidup, yaitu menuju Allah. Untuk menuju Allah harus punya kendaraan, dan kendaraan itu bernama Kanjeng Nabi Muhammad.

Kaitannya dengan caping, seruling juga terbuat dari anyaman bambu. Kiai Budi kemudian bertutur—jiwamu bagaikan seruling, ketika ditiup ia seperti mengesah dalam kata: tolong aku kembalikan pada rumpun bambu, yang telah lama berpisah dariku. Kalau kamu sedang susah, kamu harus mengambil sikap positive thinking terhadap Tuhan. Apakah Tuhan tidak tahu kahanan hidupmu? Tuhan Maha Tahu, mengujimu kan hanya menempa. Kalau toh kamu gandum, akan ditumbuk agar kulitnya mengelupas, digiling agar lebih lembut, diadoni lagi biar terbentuk—kamu akan dibakar dalam api kesucian: lahirlah roti. Perjalanan gandum menjadi roti, padi menjadi nasi. Itu merupakan proses penempaan.

Kalau kamu ditempa Tuhan tidak mau, minggirlah. Jadilah kamu bunga tanpa aroma, gelak tanpa tawa, dan tangis tanpa air mata.

Dari elaborasi Kiai Budi tersebut, saya tahu beliau tidak hanya sedang ceramah, melainkan juga menjalankan misi sastra tingkat tinggi. Bagaimana konstruksi persoalan dibedah dengan menggunakan komparasi alam. Tak perlu melulu bicara dalil untuk menjelaskan sebuah kesadaran atas tujuan hidup, semesta sudah digelar dan ditampakkan, ayat kauniyah telah terhampar lebih luas dari semesta itu sendiri. Tinggal kita mau mengaktivkan pikiran kita untuk mengolahnya sebagai skema diskursus atau tidak. Afala tatafakkaruun?

Suatu malam saya ditelpon Kiai Budi untuk ikut pengajian. Saya di rumah. Dan beliau hendak menjemput dari Semarang. Saya mulanya menduga penjemputan itu memakai mobil miliknya, tapi yang hadir justru taksi. Di dalam taksi, saya melihat argo berjalan dan menyentuh angka di atas limaratus ribu. Edan, pikirku. Ketika sampai, ternyata Kiai Budi sudah menunggu dan langsung masuk taksi. Menuju Rembang. Saya berpikir mengapa Kiai Budi tidak memakai mobil saja, toh lebih irit bahan bakarnya. Kalaupun tidak ada sopirnya, mengapa tadi Kiai Budi tidak langsung ikut taksi, wong ya menuju Rembang pasti melalui rumah saya. Ketika saya tanyakan itu, Kiai Budi menjawab dengan ekspresi yang revolusioner: tadi aku lagi buat mie godog.

Sebagai pemuda yang dompetnya sering terintimidasi oleh situasi, saya nyaris selebrasi dengan cara khotbah di hadapan tembok. Saya menghitung, artinya bila demikian sama saja harga mie godog sebesar lima ratus ribu lebih. Ketika sampai Rembang, argo sudah mencapai satu juta empat ratus ribu. Belum lagi perjalanan pulang?! Pantas saja anak mbarepnya, Gus Saiq, sering sambat ke saya kalau amplop pengajiannya jarang sampai rumah. Heuheuheu. Dari situ saya tahu bahwa falsafah cinta yang berisi give and give memang sungguh-sungguh beliau amalkan. Belakangan Kiai Budi bercerita kalau anak dari sopir taksi yang menjemput dan mengantarkan ke Rembang pulang-pergi itu sedang sakit dan perlu biaya tinggi. Wah.

Kiai Budi sering dalam perjalanannya mengunjungi satu koordinat, tidak membawa pakaian komplet ala penceramah umumnya. Beliau sering hanya mengenakan kaos oblong, sarung, dan udeng-udeng. Ketika sampai tuan rumah, Kiai Budi biasanya meminta baju koko apa saja dan setelah selesai diberikan kepada siapa saja. Dalam pengajiannya pula, Kiai Budi sering membawa penari sufi—yang geraknya mutar-mutar sambil menengadahkan tangan itu, lebih dari sepuluh orang. Dan masing-masing dari mereka disangoni semua. Seolah Kiai Budi sedang mengejek amplop. Nyah-nyoh.

Sampai sini saya mulai paham bahwa Kiai Budi tidak menjadikan aktivitas kelilingnya menghadiri pengajian sebagai sarana mencari amplop semata—apalagi bila saya teringat ketika menanyakan soal honorarium tiap pengajiannya, bahwa bila mau mengundang Kiai Budi, haram hukumnya masuk dalam transaksional. Pengajian bukan mata pencaharian, pengajian adalah mengaji. Sehingga saya memahami Kiai Budi memang mencintai pengajian itu sendiri. Kalau tampak rugi secara materi, bukankah cinta artinya adalah membagi kebahagiaan?

Suatu malam, Kiai Budi menyuruh sopir untuk menghentikan mobilnya ketika melihat ada seorang berpakaian kumuh di pinggir jalan, rambutnya panjang acak-acakan, tanpa alas kaki, dan ngomong ndleming dan sesekali tertawa sendiri padahal tidak ada yang lucu. Sudah tengah malam, Kiai Budi berjalan menghampiri, lalu diajak ngobrol. Tampak dari jarak sekitar lima meter, perbincangan antara Kiai Budi dan orang yang saya duga orang gila itu baik-baik saja, malah lebih mirip dialog interaktif. Lalu diajak masuk mobil dan dibawa ke Jepara. Sesampainya di sebuah rumah, Kiai Budi memotong kukunya orang tersebut, satu demi satu. Lalu meminta pakaian ke salah satu yang punya rumah untuk dikenakan ke orang gila tersebut. Hampir sejam lamanya, orang gila itu pergi sendiri dan melambaikan tangan ke Kiai Budi.

Kejadian serupa terulang beberapa kali. Dan Kiai Budi selalu mengajak ngobrol kendati jawaban dari orang gila yang ditemuinya nyaris selalu tidak nyambung dengan pertanyaan. Ketika di luar sana orang-orang sibuk menghindari orang gila, Kiai Budi di puncak cintanya, justru menyambangi dan memandangnya tetap sebagai umat dari Kanjeng Nabi. Dipandang sebagai sama-sama manusianya. Cinta dalam tataran ini sudah merambah di ukhuwwah basyariyah. Persaudaran sesama manusia Kiai Budi rajut bukan hanya dengan orang waras, melainkan juga dengan orang gila.

Kiai Budi menangkap gejala zaman dan situasi mutakhir dengan meletakkan cinta sebagai pilarnya. Maka sampai sini, agaknya tidak berlebihan bila saya memakai hujjah النظر إلى الأمة بعين الرحمة—melihat ummat dengan pandangan kasih sayang—untuk mengafirmasi identitas Kiai Budi sebagai kiai cinta.

***

Sepanjang empat bulan liburan, Kiai Budi hampir selalu mengajak saya dalam pengajiannya. Kadang-kadang saya dihampiri, kadang dijemput, kadang beberapa hari saya menginap di rumahnya. Dan di banyak pengajian itulah Kiai Budi sering mbully saya di hadapan pengunjung. Dari sinilah inti tulisan itu dimulai.

Dalam suatu acara pemberangkatan haji, bertempat di serambi masjid, Kiai Budi memberikan tausiah kepada calon haji yang mayoritas sudah berusia sepuh. Tak lupa sesekali diselai tarian sufi dengan latar musik terbang ala hadrohan. Saya tak pernah menyangka kalau akhirnya Kiai Budi memanggil saya ke depan untuk membacakan puisi—di tengah acara yang sama sekali tidak nyambung. Dengan perasaan yang absurd, saya maju ke depan dengan masih berkostum kaos oblong. Membacakan puisi, puisi yang tidak ada kaitannya dengan kelangsungan acara karena memang saya dari rumah tak ada persiapan.

Melihat yang hadir tua semua dan saya menyandang keyakinan kalau mereka tidak ada yang mudeng, atau minimal tidak dapat menikmatinya, dan barangkali Kiai Budi juga melihat gerak tubuh saya tak kalah absurd dengan perasaan saya sejak awal—akhirnya Kiai Budi berdiri, memegang mikrofon dan menyatakan dengan eksentrik.

“Monggo Bapak-Ibu, tepuk tangan, sungguh indah puisi yang dibacakan mahasiswa Mesir ini.” .

Saya mendengar tepuk tangan yang terbit dari tangan-tangan para calon haji itu sungguh penuh dengan intimidasi. Lalu yang bisa saya lakukan saat itu cuma lholaklholok. Bayangkan bagaimana adegan karikatural di atas, dengan penghayatan yang tuntas.

Bayangkan pula episode ketika pada suatu siang selepas zuhur, pada acara pelantikan anggota Muslimat, bertempat di pelataran rumah. Panggungnya terbuat dari tikar—antara Kiai Budi dan pengunjung tak ada jarak dan sejajar, dan seperti biasa Kiai Budi secara paradoks memanggil nama saya di tengah acara untuk membacakan puisi. Bagaimana mungkin fenomena di mana saya akan menanggung noda ketidaknyambungan terjadi lagi? Saya mau lari tidak bisa, wong posisi saya tepat bersebelahan dengan Kiai Budi. Akhirnya tanpa teks, saya melakukan deklamasi.

“Ibu-ibu sekalian, tak ada puisi yang paling indah di muka bumi ini kecuali tatapan mata ibu Muslimat kepada anak putrinya. Saya tak akan membacakan puisi di sini, karena putri-putri ibu sekalian sudah merupakan hakikat puisi itu sendiri. Wassalam.”

Aneh. Ibu-ibu tepuk tangan tanpa dikomando Kiai Budi.

Agak mendingan kalau acaranya berbasis kesenian atau kebudayaan seperti di Dinas Kebudayaan Tuban, atau di Dinas Pendidikan Demak. Atau acara kesenian di Pekalongan yang sepanjang sesinya diiringi musik Habib Hasyim. Atau ketika di Rembang yang acaranya ada wayangan Ki Dalang Sigit Ariyanto—saya masih bisa tanpa kikuk membacakan puisi, tapi bila kerangka acaranya walimatul khitan peresmian masjid, juga pelantikan muslimat, pemberangkatan haji atau toriqohan, saya langsung njeglek dibuatnya. Seperti ketika pada suatu acara di Rembang dalam kerangka pemberian nama bayi, Kiai Budi bilang dari atas panggung.

“Berikut ini akan saya panggil sastrawan muda dari Demak, untuk baca puisi plus doa untuk menutup pengajian ini”.

Diri saya seperti kerasukan cendol dawet.

Tapi dari 37 titik di mana saya ikut Kiai Budi pengajian, dan selalu ada adegan pemalakan berupa pembacaan puisi, saya baru menyadari satu hal bahwa kepentingan Kiai Budi terutama bukan pembacaan puisi yang tidak nyambung itu, melainkan semata untuk mengedukasi mental panggung saya. Sebab belakangan saya mempunyai jadwal undangan sendiri tanpa ada pendampingan dari Kiai Budi. Itulah cara Kiai Budi mendidik mental panggung saya tanpa perlu menggunakan teori yang ndakik, langsung disuruh maju.

Malam terakhir ketika saya mau berangkat lagi ke Mesir, Kiai Budi mengadakan perhelatan musik Kalimasada di rumah saya dalam rangka melepas keberangkatan saya. Belumkah cukup untuk mengidentifikasi label Kiai Cinta untuk beliau, ketika sementara Kiai Budi yang kali pertama menyambut saya ketika saya baru datang dari Mesir, dan Kiai Budi pula yang kembali melepas keberangkatan saya?

Bagi Kiai Budi, cinta tidak berhenti di tahap wacana atau dialog. Tapi cinta adalah ideologi, adalah darah, adalah napas, adalah denyut jantung, adalah madzhab yang dijalankan di dalam jiwanya.

Oktober 2019, Kairo.

Usman Arrumy

Lahir di Demak. Baru saja menerbitkan buku Surat Dari Bawah Air—puisi-puisi Nizar Qobbani (2016, Perpustakaan Mutamakkin Kajen), dan buku Hammuka Daimun—puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (2016, Dar Twetta, Giza, Mesir). Sekarang sedang belajar di Al-Azhar Kairo, jurusan Bahasa Arab.
Usman Arrumy

Latest posts by Usman Arrumy (see all)

Comments

  1. Yuni Bint Saniro Reply

    Kiai cinta yang budi, atau kiai budi yang cinta.
    Kerasukan cendol dawet.
    Ikut perkembangan juga ya.

  2. Anonymous Reply

    afalaa tatafakkaruuun……luar biasa gus, simpel, mengilhami…..

  3. zieah Reply

    gus….
    selalu suka karya njenengan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.