Kitab al-Mahw wa al-Itsbat

in Tajalli by
deviantart.com

Secara literer, judul di atas bermakna dan berkonotasi terhadap kitab suci Ilahi yang di dalamnya tertera segala sesuatu yang dihapus dan ditiadakan dari berbagai hal yang partikular dan segala sesuatu yang ditetapkan untuk eksis menjadi wujud. Di dalam sebuah ayat, Allah Ta’ala berfirman: “Dia menghapus sesuatu yang dikehendaki dan menetapkan sesuatu yang dikehendakiNya pula. Dan di sisiNyalah induk dari segala kitab itu,” (QS. ar-Ra’d: 40).

Kitab suci di atas sudah dapat dipastikan tidak menunjuk kepada sebuah “buku” dengan kover tebal yang dicetak dan dipublikasikan oleh penerbit tertentu. Akan tetapi murni tertuju kepada “pembatasan” keilmuan Allah Ta’ala yang mencakup segala sesuatu yang “ditarik” dari peredaran setelah sebelumnya pernah eksis dan segala sesuatu yang direalisasikan dalam bentangan wujud yang sebelumnya hanyalah merupakan ide atau bayang-bayang yang abstrak semata.

Tidak ada apa pun di dunia ini yang keberadaannya kemudian ditenggelamkan di dalam jurang ketiadaan yang kelam oleh kehendak hadiratNya kecuali ketentuan itu telah tertulis di dalam Kitab al-Mahw wa al-Itsbat tersebut. Demikian pula tidak ada apa pun di dunia ini yang dimunculkan dari lumbung ketiadaan sehingga menjadi wujud dan eksis kecuali hal itu telah ditentukan di dalam kitab suci itu.

Dinosaurus adalah salah satu binatang raksasa yang pernah eksis dan jaya pada abad-abad yang silam. Para ilmuwan dari kalangan pengamat kehidupan flora dan fauna dengan tegas menyatakan bahwa hewan raksasa tersebut telah punah karena tidak sanggup bertahan dengan terus menciptakan regenerasi. Sehingga sekarang hanya tinggal “kenangan” dan cerita yang sudah turun-temurun dari abad ke abad. Padahal sebenarnya yang terjadi secara teologis tak lain adalah pengejawantahan dari ayat di atas. Terutama pada kalimat يمحو الله ما يشاء.

Sedang kelelawar, di sini bisa kita tampilkan sebagai “kebalikan” dari dinosaurus. Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Hayah al-Hayawan al-Kubra yang ditulis oleh Syaikh Kamaluddin Muhammad bin Musa ad-Dumairi, binatang yang juga memiliki sebutan kampret itu adalah salah satu dari bukti kemukjizatan Nabi ‘Isa. Putra si perawan suci itu, Maryam, memegang sekepal lempung. Ketika dilepas, dengan kuasa dan kehendak hadiratNya, sekepal lempung itu telah berubah menjadi kelelawar. Dan binatang serupa burung tapi mukanya lebih mirip dengan anjing itu hingga kini masih bertahan. Itulah realisasi dari ayat di atas, terutama pada kata و يثبت.

Yang nasibnya serupa dengan dinosaurus dan kelelawar itu tentu sangat banyak dalam episode demi episode kehidupan. Dari kalangan dunia binatang, dari kalangan pepohonan, dari kalangan hasil teknologi dan industri dan lain sebagainya. Ada yang baru “datang” dari kemahaan Allah Ta’ala. Ada yang sengaja dilepas dari pengejawantahan hadiratNya, masuk ke dalam lumbung ketiadaan sebagaimana semula. Semua itu tidak ada yang luput dari jangkauan Kitab al-Mahw wa al-Itsbat.

Kitab yang sangat sakral dan teramat hebat itu, yang menampung pengetahuan yang detail tentang segala sesuatu yang ada dan pernah ada, ternyata memancar dari kesucian dan kejernihan nafsu Nabi Muhammad Saw. Tidak seperti nafsu bengal dan angkuh yang dimiliki oleh orang kebanyakan, nafsu beliau sepenuhnya merupakan energi kepatuhan, rindu, dan cinta kepada Allah Ta’ala yang tidak terkeruhkan oleh pamrih apa pun dalam setiap melaksanakan sembah sujud dan berbagai macam kebaikan yang lain. Hanyalah hadiratNya semata yang menjadi satu-satunya hasrat bagi nafsu beliau, bukan apa pun yang lain.

Setiap insan kamil yang merupakan tajalli, curahan, dan derivasi rohani beliau yang sangat deras dan sublim, nafsu mereka juga menjelma sebagai Kitab al-Mahw wa al-Itsbat yang secara substansial lebih luas dibandingkan dengan segala sesuatu yang partikular di seluruh alam semesta ini, dari awal mula penciptaan sampai hari keabadian kelak.

Semoga nafsu kita semakin lama semakin dewasa secara rohani, semakin tidak tertarik kepada segala sesuatu selain hadiratNya. Karena apa yang disebut sebagai yang lain itu sesungguhnya tak lebih dari tipuan belaka. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)