Kota-Kota Sebagai Tokoh Utama

Kota-Kota Sebagai Tokoh Utama

Judul : Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai

Penulis : Raudal Tanjung Banua

Penerbit : Akar Indonesia

Tahun : Oktober 2018

Tebal : xvi + 310 halaman.

ISBN : 978-602-50433-3-8

 

Buku terbaru Raudal Tanjung Banua, Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (Akar Indonesia, 2018) memberi tawaran lain untuk bacaan kita. Apabila kita berpikir dengan timbangan oposisi biner, kita akan kebingungan meletakkan buku ini di kutub mana; fakta atau fiksi, kenyataan atau imajinasi.

Meskipun begitu, kisah-kisah dalam buku ini jelas dimaksudkan sebagai fiksi. Bukti paling kuat untuk itu adalah, sebelum dibukukan kisah-kisah tersebut sebelumnya telah terbit sebagai cerpen di sebuah surat kabar. Terbit sebagai cerpen memberi kodifikasi yang tegas bahwa kisah-kisah ini bukanlah laporan jurnalistik, bukan pula catatan perjalanan. Dia adalah fiksi.

Banyak hal dalam Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai dapat kita yakini sebagai fakta, bukan cuma karena kisah-kisah di dalamnya dialami dan dituturkan langsung oleh sang pengarang yang sekaligus bertindak sebagai narator/tokoh dalam kisahan, tetapi juga karena apa-apa yang tersebut di dalamnya dapat kita lacak di dunia nyata. Diam-diam, buku ini meminta kita mempreteli pikiran kadung-mapan soal oposisi biner fakta-fiksi yang selama ini membatasi.

Menelusuri kisah-kisah dalam Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai menggoda saya untuk membayangkan diri sebagai seorang kartografer. Membuka peta, mencatat nama-nama tempat yang disebut, membuat titik-titiknya dan lalu menghubungkan titik-titik tersebut; membuat peta “baru”. Pekerjaan ini sekadar untuk memudahkan pembayangan soal titik berangkat sang narator, yang tersirat dengan tegas sebagai Raudal, sang pengarang sendiri. Lantaran waktu-kronologis tidak lengkap dalam kisahan, kita tidak tahu perbedaan jarak waktu kunjungan antara satu kota dan kota lainnya dalam suatu periode hidup sang narator. Yang ada adalah waktu-fragmentatif, momen yang acak. Ya, kota-kota kecil yang tercatat itu nyaris tidak pernah sungguh-sungguh dikunjungi dengan semata niat mengunjungi. Kota-kota itu dikunjungi secara tidak sengaja, di mana sang narator hadir di sana untuk keperluan lain. Tapi dalam lanskap narasi buku ini “keperluan lain” itu hanyalah modus, sehingga keperluan apa pun, pertemuan dengan siapa pun hanya jalan untuk mengantar kita kepada kota-kota yang hendak dikisahkannya.

Benar, kota(-kota) adalah tokoh utama cerita ini. Tokoh-tokoh yang bisa saja bertemu (atau dipertemukan), bisa juga tidak. Sesuatu yang entah kenapa, mengingatkan saya pada ungkapan Robert Wilson dalam bidang teater, “aktor utama di panggung adalah cahaya,”. Dalam Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai, kota-kota memiliki identifikasi karakter masing-masing (Kota Hikayat, Kota Ikan, Kota Penyanggah, Kota Rantauan, Kota Air, Kota Sepak Bola, Kota Rawa, Kota Gaib). Kota-kota itu memiliki biografi, ciri-ciri fisik dan watak tersendiri. Pendek kata, kota-kota itu seperti makhluk-hidup, dan karena itu juga bisa mati.

Hidup dan matinya tokoh-tokoh kita ini tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh tokoh-tokoh lain yang telah melahirkannya. Tokoh-tokoh lain ini adalah tokoh-tokoh abstrak, dia bisa berupa peradaban, kolonialisasi, politik, kebijakan pembangunan, desentralisasi, atau administrasi. Ditimbang dari wataknya, kota-kota kecil adalah tokoh-tokoh protagonis, tokoh-tokoh lain yang abstrak itu adalah antagonis, dan narator sendiri bisa jadi tritagonis; yang berada di tengah-tengah. Dari sana terbacalah rangkaian konflik, dan dari sana pula “syarat” sebuah drama dimungkinkan.

Konflik pertama sekaligus utama terjadi dalam diri narator, sang tritagonis. Konflik itu berupa bertentangannya bayangan dengan kenyataan. Banyak kota-kota yang tak sesuai dengan pembayangan imajinasinya ketika pada akhirnya dapat ditemui. Kenyataan ini menimbulkan tegangan antara menghapus imajinasi lantaran sifat ilusifnya atau berpaling dari kenyataan sebab rasa kecewa yang ditimbulkannya . Bagaimanapun, perbedaan itu membuat sang narator memilih untuk menolak mengunjungi beberapa kota yang sudah telanjur dibayangkan (meskipun ada kesempatan untuk itu) dan membiarkan kota-kota itu tetap hidup (hanya) dalam imajinasinya. “Biarlah kenyataan dan bayangan menjadi dua dunia yang membangun ruang, jalan dan lorong-lorongnya sendiri. Labirin, peta dan arahnya sendiri,” demikian kata sang narator (Hal.3).

Kondisi psikologis dan sikap terhadapnya ini menjadi landasan bagi cara pandang dan cara menyikapi konflik selanjutnya.

Ketika sang narator berada di sebuah kota, ia berusaha menyusurinya, menelisik biografinya, mengenali masalah-masalahnya dan lantas bersikap terhadapnya. Perkakas telisiknya bukan hanya rangkaian ensiklopedis pengetahuan, tetapi juga ingatan akan kisah-kisah yang dituturkan sebelumnya oleh para cameo. Kisah dari para cameo ini diletakkan sebagai latar. Ya, lewat buku ini juga Raudal membalik apa yang telanjur mapan perihal posisi kota/tempat sebagai latar. Dalam buku ini kota-kota adalah tokoh utama, manusia adalah latarnya.

Konflik selanjutnya adalah bagaimana kota-kota kecil ini terpaksa menjauh dan terus menjauh dari sejarah dan peradaban awal yang telah membentuk karakternya. Begitulah, kota-kota (yang syarat) hikayat harus menjadi kota-kota tipikal dengan kafe, mal, dan pengemisnya. Kota-kota ikan kehilangan ikan akibat pembalakan liar dan politik pemekaran, kota-kota air justru dibangun menjauhi air lantaran strategi pembangunan infrastruktur darat, kota-kota rawa bertahan dari ancaman reklamasi dan invasi industri sawit. Atas semua akibat dari konflik ini, sang narator, tritagonis kita juga menyampaikan duka dan kecewanya. Persis seperti ketika ia kecewa lantaran kota yang ditemuinya tak sesuai dengan imajinasinya. Dua arus kekecewaan dari hulu maupun hilir ini, mengalami gejolak yang menguat di titik transisi, ketika tokoh-tokoh utama kita (kota-kota itu) “diadu-domba” atas nama politik pemekaran di bawah mantra desentralisasi. Perebutan status ibu kota meninggalkan korban; kota-kota kecil dengan sejarah besar di masa lalu justru ditinggalkan merana, diganti kota-kota kecil baru yang lahir dari simpang dan cabang.

Tidak ada yang (bisa) dilakukan sang tritagonis terhadap gejolak konflik itu, tidak menengahi, mendamaikan atau menarik kata-kata hikmah atas peristiwa dan petaka. Ia juga bukan pemegang atau pencipta kebijakan, tak ada tenaga politis maupun ekonomi untuk menghindarkan tokoh-tokoh kita, kota-kota kecil itu, dari kebangkrutan. Satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah menjadi sang narator, penyaksi yang mengisahkan pada kita, para pembaca bahwa ada yang telah dan tengah terjadi di sekitar kita, tertimbun di balik berita-berita besar yang selalu dibingkai untuk kepentingan tertentu.

Peran ganda itu jadi berlapis tiga manakala sang narator sendiri manunggaling dengan sang pengarang.  Lewat tupoksi pengarang, Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai menjadi kaya akan berbagai material; nama, peristiwa, sejarah, sosok, benda, biota dan sebagainya. Setiap material ini bisa diurai sendiri-sendiri untuk merekonstruksi sebuah kota dari berbagai aspeknya; geografi, geologi, historiografi, antropologi, dan kultural. Di sisi lain, sebagai fiksi, kisah-kisah dalam buku ini tidak dipaksa fokus pada satu peristiwa, meskipun struktur dramatiknya jelas; dimulai dari latar-belakang, kejadian, dan diakhiri dengan pembayangan akan masa-depan yang sering kali terkait kembali dengan latar-belakang dan membentuk garis sambung yang tak terputus.

Untuk itu, Raudal sebagai sang pengarang tak hanya mengalirkan data-data empiris tapi juga referen tekstual, bahkan perlu melengkapinya dengan foto-foto. Referen tekstual bisa kita lihat sebagai intertekstualitas, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai footage; bahan mentah, materi dasar. Footage utama yang melingkupi buku ini adalah novella ajaib Italo Calvino, Invicible Cities—edisi Indonesianya, Kota-kota Imajiner, dikerjakan Erwin Salim dan diterbitkan oleh Fresh Book (2006). Hal yang diakui sendiri oleh pengarang (di dalam pengantar buku) dan narator (di dalam kisah) sebagai sumber inspirasi. Lalu ada materi dari sejumlah buku lain, kutipan esai dan berita, petikan larik puisi, serta lagu.

Footage-footage ini terjalin dengan material-material lain lewat keterampilan berbahasa yang lincah dan lentur bagai tubuh penari. Permainan rima dan kecemerlangan imaji-puitik menunjukkan bahwa kisah-kisah ini disusun bukan hanya dengan keterampilan tetapi terutama juga dengan kesabaran tinggi.

Dengan semua ‘fakta’ di atas, bagi saya, Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai adalah salah buku fiksi Indonesia paling menarik tahun ini. Selain tawaran lain dalam strategi kisahan, buku ini juga mengandung kelengkapan sebagai bacaan; gabungan antara kenikmatan-tekstual dan kepadatan pengetahuan. Hanya saja, buku ini rasanya tidak cocok untuk pembaca yang tak sabaran; yang sekadar ingin terpukau atau terharu oleh cerita semata.(*)

Kiki Sulistyo

Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.