Kritik Sastra ala Bung Kecil

Sumber gambar: geegoe.com

 

Sutan Sjahrir dikenal sebagai perdana menteri pertama Indonesia. Tanggal 9 April kemarin adalah hari haul Bung Kecil, yang dapat dimaknai semacam undangan berefleksi. Banyak studi dan tulisan menelusuri pemikirannya, tetapi pandangannya terhadap kesusastraan terkesan luput untuk diselidiki. Bagi pria pendiri Partai Sosialis Indonesia ini, kemerdekaan nasional bukanlah tujuan akhir cita-citanya. Kebebasan individu bagi rakyat untuk bebas merealisasikan diri tanpa belenggu adalah jalan hidupnya. Dalam rangka itu, pendidikan politik saja tidak cukup untuk membongkar segel yang mengekang rakyat sehingga perlu dibarengi dengan kritik kesusastraan. Lewat cara itulah, Sjahrir mendiagnosis penyakit-penyakit kebudayaan saat itu.

 

Kesusastraan dan Rakyat

Sjahrir pernah menulis esai “Kesoesasteraan dan Ra’jat” yang dimuat di majalah Pujangga Baru pada tahun 1938. Isi esai tersebut mendudukkan bahwa kesusastraan adalah lokomotif pembaruan kebudayaan Indonesia pada masa itu. Sebab, kebudayaan lama seakan statis yang sesak berisi mistik dan mitos irasional. Bung Kecil tidak ingin kultur Indonesia “berbau udara museum atau menyan” yang lebih melanggengkan perbudakan jiwa rakyat. Maka, lewat kesusastraanlah artikulasi visi kebudayaan Sjahrir diajukan, dan Pujangga Baru memiliki semangat yang sejalan dengan itu.

Namun, semangat idealisme Pujangga Baru belum tentu sejalan dengan karya yang dihasilkannya. Melihat soal ini, Rosida Erowati pernah menulis tentang pemikiran Sjahrir terhadap kesusastraan Pujangga Baru. Untuk itu, karya-karya punggawa Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dan Amrijn Pane, jadi bahan kritikan.

STA dalam berkarya memang memiliki spirit kebaruan, orientasi terhadap kehidupan dan pergerakan yang dinamis, namun belum sepenuhnya logis dalam pengembangan karakter tokohnya. Kekuasaan pengarang atas pilihan hidup dan mati tokoh masih terasa dominan.

Sedangkan Amrijn Pane berani mengangkat tema tabu dalam masyarakat puritan Batavia sehingga memperlihatkan upaya melampaui kualitas dan kebahasaan saat itu. Namun, masih lemah dalam pemahaman terhadap roh kebudayaan yang dinamis. Oleh sebab itu, novel Belenggu menjadi karya mentah dalam menggambarkan masyarakat dan belum memberi stimulus tentang dinamika orientasi yang diharapkan kepada pembaca.

Pada titik inilah, Sjahrir memberikan sudut pandang dalam menilai kesusastraan. Bagi pria yang masih punya pertalian persaudaraan dengan STA ini, ukuran atau nilai kesusastraan selalu berubah mengikuti zaman yang membentuknya. Ukuran itu dilihat dari dua hal: teknik dan distribusi sastra ke masyarakat. Sjahrir lebih menyoroti soal teknik yang terdiri dari “isi” dan “bentuk”. Baginya, “isi” adalah yang utama, dan “bentuk” mengikuti “isi”.

Tentu ini bertolak belakang dengan gerakan kritik sastra Formalisme yang berkembang di Eropa saat itu, yang lebih mementingkan “bentuk”. Dalam buku Renungan Indonesia, Sjahrir menyatakan lebih menyukai karya-karya Amerika yang berorientasi pada pengembangan mentalitas bangsa. Sedangkan Eropa saat itu mengabaikan tujuan menumbuhkan mentalitas dan kesadaran masyarakat. Meskipun begitu, Eropa tetap sebagai orientasi lahirnya realisme yang menurut Sjahrir sesuai untuk mendidik rakyat yang dilingkupi mitos dan mistik.

***

Lalu, apa “isi” yang dimaksud oleh Bung Kecil? Adalah meliputi stof (bahan), pengertian (pemahaman dan pendapat), dan bahasa (kekuasaan perkataan dan gaya). Ketiganya yang menentukan keindahan karya sastra. Dalam upaya mendidik rakyat, “isi” harus didasarkan pada penghidupan rakyat, bukan memakai bahasa jurnalistik maupun politik. Tidak bisa dalam keadaan rakyat yang masih jauh dari tradisi pemikiran, lalu disodori gagasan sentimental untuk mengubah keadaan secara langsung.

Berbicara tentang aliran kesusastraan, Bung Kecil menilik pengarang-pengarang yang karya-karyanya menjadi bacaan Eropa. Emil Zola, sang naturalisme Prancis, yang aliran itu di Rusia diolah Gorki menjadi realisme, lalu dikembangkan Adam Scheltema dan A.M de Jong di Belanda. Sjahrir merasa kita tidak bisa menggunakan aliran naturalis, sebab itu tidak dimaksudkan untuk mendidik rakyat. Zola hanya menggambarkan apa adanya. Jika selera rakyat yang mistik dituruti, kesusastraan kita tidak akan mampu menaikkan taraf kebudayaan saat itu.

Mendidik yang dimaksud adalah supaya rakyat terangsang untuk berpikir dan berperasaan. Realisme kasar yang ada pada rakyat diasah sedikit demi sedikit menjadi realisme modern yang penuh rasionalitas. Realisme baru ini (realistis dan sosial begitu disebutnya) dapat dikatakan kritik sastra Sjahrir sekaligus tantangan untuk para pengarang Pujangga Baru supaya melahirkan karya yang lebih bermutu.

 

Surat yang Patut Direnungi

Kita menuju periode sebelum Sjahrir menulis esai kritik sastranya tersebut dalam rangka menelusuri asal idenya. Hal ini didapat dari surat-suratnya yang dibukukan berjudul Renungan Indonesia.

Bung Kecil berteman dengan Hafil (panggilan akrab Moh. Hatta) yang dikenal kutu buku. Mereka sama-sama belajar di Belanda. Pada surat tanggal 20 April 1934, Sjahrir menyatakan dirinya banyak membaca kesusastraan dunia. Sedangkan Bung Hatta hanya punya sebuah roman dan itu pun hadiah dari seseorang. Tak bisa disangkal, Hatta adalah intelektual yang dididik di Eropa, tetapi kurang membaca kesusastraan.

Di sini, Sjahrir hendak menunjukkan bahwa banyak intelektual hanya membaca di bidangnya masing-masing saja, menjadikan pikiran tidak terbuka. Baginya, ilmu itu hidup, bukan barang mati. Tak bisa dibekukan sekadar dengan dapat “titel”. Justru pengagungan terhadap “titel” menjadikan tak mampu menghidupi pengetahuan itu. Dan, ilmu Barat hanya mungkin dihidupi dengan mendalami sastranya.

Di nusantara sendiri, belum ada yang dapat dianggap sastra. “Kita baru sampai pada tingkat menulis cerita-cerita. Tingkatannya pun masih terlalu rendah; bahkan tidak ada pikiran, tidak ada kejujuran dan kesungguhan,” begitu tulis pria flamboyan yang suka dansa dan musik klasik ini.

***

Sjahrir begitu mendalami kebudayaan Barat sekaligus kesusastraannya dalam upaya mendidik rakyat sedikit demi sedikit supaya tergugah rasionalitas dan perasaannya. Semua itu dicita-citakan supaya individu merdeka berpikir, tidak menghamba pada mentalitas budak. Upaya ini terlihat dari sosok Chairil Anwar, keponakannya sendiri, pada angkatan sastra setelahnya. Barangkali Chairil adalah kesusastraan Indonesia yang dibayangkan Sjahrir mengingat hubungan keduanya begitu dekat. “Sjahrir begitu mengagumi kecerdasan keponakannya ini, dan juga menyuntikkan pemikiran-pemikiran ideologis kepada Chairil”, menurut Des Alwi, anak angkat Sjahrir.

Chairil pernah berpidato di depan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan 1943: “Tiap seniman harus seorang perintis jalan. Penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar-tak-bertepi. Seniman adalah dari hidup yang melepas bebas. Mengajak hidup!”

Puisi “Aku” adalah gambaran sempurna kebebasan manusia yang tak dibelenggu “bentuk” lama. Sederhana dalam penyampaian, kuat dalam seruan dan tajam dalam kependekan. Dibanding puisi Amir Hamzah, untuk paham masih menagih pengetahuan keagamaan dulu dari pembaca. Nuansa yang cenderung masih mistik.

 Yang jelas, Bung Kecil memberi warna pikiran terhadap kesusastraan Indonesia lewat esai kritik sastra dan surat-suratnya. Mendiagnosis kompilasi penyakit yang hinggap pada tubuh kebudayaan, dari feodalisme, fanatisme, dan fasisme dapat diperoleh melalui kesusastraan. Baginya, saat itu Indonesia hanyalah “nama/bentuk”, kita yang memberikan “isi”. Dan, tampaknya isi resepnya adalah kebebasan individu.

Latest posts by Moch Zainul Arifin (see all)

Comments

  1. A. Maulana Reply

    Maaf, Bang, saya pikir bukan berbau “udara museum dan menyan” melainkan “mesiu dan menyan.” Coba lihat di Sjahrir: Politics and Exile ini Indonesia.

    • A. Maulana Reply

      Maaf, maksud saya coba lihat di Renungan dan Perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.