Kurawa Kelabu

Asap hitam mengepul hampir menyelimuti seluruh kota raja Hastina Pura. Nyaris tidak ada lagi gedung-gedung mewah yang berdiri. Gapura kencana gerbang kota raja pun tidak. Luluh lantak. Bangunan-bangunan runtuh, rata dengan tanah dengan menyisakan api yang sedikit-sedikit menyemburat dari gumpalan-gumpalan asap hitam. Bau menyengat daging-daging terbakar menusuk-nusuk, menodai hawa suci yang Sang Hyang Pencipta berikan bagi manusia. Selaksa mayat berlumur darah menghitam tiada terkira bergelimpangan membaluti bumi pertiwi yang terus tersedu-sedu menangisi sang kematian itu.

Di sudut hamparan tanah lapang tampak tenda-tenda perang berlumur lumpur darah menyelimuti ratusan mayat para bala tentara yang kebanyakan sudah tidak lengkap jasadnya. Mengerikan sekali pada sekumpulan jasad yang tiada kepala dengan darah masih menetes-netes dari leher yang putus. Dedaunan yang digunakan untuk menutupi jasad merana itu kabur tertiup angin yang masih berpihak pada Kerajaan Amarta. Daun-daun pisang telah diusir oleh angin.

Tumpes kelor. Ujar-ujar itu kiranya yang pantas menggambarkan keadaan itu. Wangsa Destarasta sudah lumat digilas peperangan. Seratus putranya sudah tidak tersisa. Di hamparan tanah yang luas itu terbayang roh-roh yang melayang memburu raganya yang masih menjanjikan kebahagiaan dunia. Sekilas tampak berkelebat roh Burisrawa dengan taring yang semakin memanjang, lidah menjulur-julur kehausan, muka semakin memerah, rambut terurai berbau darah, dengan raga jati yang perkasa, jumpalitan kesetanan. Roh-roh itu meraung kepanasan, kehausan, tersiksa oleh kepayahan rohani yang tak terkira.

“Hoerrr … Herrrss. Huaaarrr. Panas. Panass!!! Air! Air! Air!

Aku terasa panas … Haii, Dewa keparat, aku panas dan haus!

Huuuaaaii!!! Seluruh jiwaku patah-patah. Remuk resah terpotong-potong

Haus… haus…”

Mata hanya melotot-lotot, lidah hanya menjulur-julur, sedikit ludah yang tersisa tertelan dengan sangat sakit, melihat sungai kecil di dekat Kurusetra yang mengalir merah hitam darah. Kental berbau anyir. Ketika roh Durgempa, adik ketujuh puluh Duryudana, berusaha meraup air darah itu, tangannya tidak basah sedikit pun. Sudah tujuh kali ia meraupinya. Tangannya tetap kering dan perih, kotor oleh darah yang tersisa.

Durgempa menangis meraung keras-keras. Ia tidak menghiraukan lagi kejantanan dan trah ksatrianya. Ia merasa haus, tersengat oleh hawa panas yang ia tidak tahu muasalnya. Ia berteriak menghujat para dewa, sama seperti selaksa roh yang lain.

“Dewa keparat! Mengapa kau permainan aku? Aku haus, Dewa!!!

Mengapa tanganku tak bisa menyentuh air yang segar ini?

Mengapa air ini menghindar dariku? Apa salahku?! Apa salahku?!

Apa salahku?! Hiaaa …. Huhuhuhu … Huaaa!”

Di puing-puing paseban Kurusetra, berbaring mayat Sangkuni yang mati tercabik-cabik di sekujur tubuhnya. Tulangnya patah dan remuk dibantai oleh Bima. Mulutnya robek sampai batas telinga. Lidahnya menjulur panjang hampir terlepas dari tenggorokannya. Dari lubang matanya, mengalir cairan putih dan bening. Kulit kepalanya mengelupas. Tulang-tulang tangannya remuk berlumur darah. Dadanya berlubang cukup besar dengan isinya yang tercerabut dan usus di dalam perutnya menyemburat dan meliliti tubuhnya. Bau busuknya menyengat mengundang burung bangkai berpesta pora.

Di samping jasad Mahapatih Sangkuni, duduk bersimpuh roh Sang Mahapatih sedang menangis tersedu-sedu. Dengan pakaian yang compang-camping, wajah yang sangat kuyu, rambut sudah tidak terurus, putih terurai menyebar hingga menutupi sebagian wajahnya yang keriput, seratus tahun lebih tua daripada saat hidupnya. Ia menangis. Ia merintih. Ia mengeluh. Ia mengaduh dan mengadu pada Dewata. Ia tidak terima atas perlakuan Dewa yang membiarkan tubuhnya tercincang seperti itu. Tidak sekadar tidak berupa, bahkan burung bangkai pun dibiarkan berdatangan mematuk-matuk daging membusuk yang tersisa oleh amukan Sang Bima. Paruh yang tajam mengunci itu menarik ulur daging-daging dari tulangnya.

Huuhhh …. Mengapa jalan hidup hayatku seperti itu? Tidak melihatkah Dewa dengan pangkat dan kedudukanku? Sebagai seorang mahapatih yang perkasa.

Yang lihai dalam mengatur strategi. Lihai dalam berdiplomasi.

Unggul dalam taktik perang. Bijaksana dalam mengelola pemerintahan.

Disegani kerabat istana, punggawa, dan seluruh rakyat.

Wawasan yang luas. Apa gerangan kekurangan hidupku?

Mengapa aku mesti mati seperti itu? Huuuhh ….

Pantang bagiku menangis. Tapi ini karena jasadku yang hancur bagai sampah

seorang pengemis. Maka aku menangis dan merintih. Tolong perhatikan aku.

Aku sudah tidak kuasa menanggung jasadku. Lebih baik aku merasakan sakitnya jasadku.

Daripada rohku melihat itu. Bahkan aku tak mampu lagi menyentuh tubuhku

sendiri. Mengusiri burung bangkai yang mencukili daging dari tulangku.

Menyeret-nyeret tanganku yang membusuk lepas dari badanku.

Roh Sangkuni menggigil, matanya memerah memancarkan sinar kedengkian, dari mulutnya keluar api yang menyembur-nyembur. Tubuhnya menjadi perkasa. Pakaian yang melilit di tubuhya berkeretak tak kuasa menahan tubuh yang memekar menjadi raksasa. Giginya jadi bertaring. Teriakannya membahana, menggelegar mengguncangkan buminya. Ia berusaha memondong jasadnya. Diraupnya dengan tangannya yang perkasa tubuh yang mengair membusuk itu.

Yang tampak kasat mata hanyalah tubuh remuk yang melayang-layang. Cairan tubuh yang membusuk itu menetes-netes menyebarkan aroma busuk. Tak jarang daging-daging yang banyak mengelupas berjatuhan disergap burung bangkai dengan penuh kegirangan. Burung yang kedodoran itu menggelepar-gelepar mengepakkan sayap yang perkasa mengejar jasad Sangkuni yang terbang melayang terus ke atas. Melayang. Terus melayang.

Roh Sangkuni yang bertiwikarama kesetanan membelah angkasa. Tangannya mengepal kuat. Bala tentara dewa yang menghadang dikibaskannya dengan tangannya yang perkasa. Sepuluh Dewa yang menghadangnya dibuat terpelanting jatuh ke bumi terkena sambaran tangan Sangkuni. Roh Sangkuni terus menghunjam ke atas seperti tak terkendali. Secepat sinar halilintar yang mengamuk bersama badai dan taufan. Tanpa kesaktian yang luar biasa kelebat Sangkuni sulit diikuti.

Melihat sepak terjang Sangkuni, seorang Panglima Dewa, Batara Penyarikan mencipta sebuah benteng karang membelah angkasa. Kecepatan Sangkuni yang luar biasa itu membuat Sangkuni kehilangan kendali. Ia tidak kuasa berhenti melihat benteng karang yang tiba-tiba menghadangnya. Dengan nekat ia gempur benteng karang itu dengan kekebalan tubuhnya.

Benteng karang itu hancur berkeping-keping. Raksasa Sangkuni yang perkasa itu memang tetap utuh. Tetapi Sangkuni lupa bahwa ia membawa jasadnya yang telah membusuk. Tak ayal tubuhnya yang membusuk itu lumat membuyar, menempel di serpihan-serpihan karang dan sebagian runtuh ke bumi. Secepat kilat Sangkuni meraupi potongan-potongan daging dan serpihan-serpihan tulang yang masih mungkin ia raup.

Semburan api di mulutnya semakin membesar menandai kemarahan yang semakin memuncak. Mata yang memerah itu kini mengalirkan air mata darah. Beberapa saat Sangkuni menangis sejadi-jadinya, menangisi jasadnya yang kini telah lumat di tangkupan tangannya. Tak lama kemudian Sangkuni menggeram memberontak. Disemburnya batu karang yang masih tersisa di sekitarnya dengan api yang tersimpan di mulutnya bagaikan magma. Batu-batu karang itu leleh dan luruh ke bumi menimbun hamparan luas padang kurusetra.

Karena runtuhnya batu karang, tampak sekelebat Panglima Dewa Batara Penyarikan. Sangkuni berkelebat mengejarnya. Dengan gagah berani Batara Penyarikan yang tubuhnya jauh lebih kecil maju menghadapi Sangkuni.

“Berhenti wahai titah marca pada Sangkuni cucuku.” Batara Penyarikan mencoba

 bicara pelan.

“Hoarrrhh!” Sangkuni hanya menggeram.

“Racutlah tiwikramamu cucuku. Redamlah amarahmu. Itu hanya akan memperberat dosa-dosamu. Bagaimanapun engkau adalah seorang ksatria yang harus menjunjung tinggi apa artinya kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan.”

Sangkuni tidak menghiraukan penuturan Batara Penyarikan. Dia kembali bangkit dengan susah payah. Dalam hati sebenarnya ia heran mengapa roh yang maya ini masih merasakan sakit. Tulang-belulang remuk. Ia berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Roboh lagi. Tanpa ia sadari air matanya menetes. Tetesan air mata itu mengkristal menjadi batu permata yang tak ternilai harganya, jika ia masih di dunia fana.

 Kini ia nyaris berbaring di atas permadani permata. Air mata yang terus mengalir menggumpal-gumpal menjadi butiran-butiran permata, menutupi tanah berlumur darah dan serakan batu karang yang luluh lantak dihempas tubuhnya tadi.

 Tubuhnya yang terkulai lemas, dalam beberapa saat terasa ringan. Luka-lukanya menutup dan pulih seperti sedia kala. Darah yang melumuri tubuhnya pun kering. Bau amis yang menyengat perlahan-lahan hilang dan menjadi bau wangi. Ia teringat akan peraduannya yang telah hancur lebur. Seakan ia dikembalikan kepada kemuliaannya hidup di negeri Hastina Pura.

Tiwikramanya telah meracut. Yang tertinggal hanyalah tangisan Sangkuni yang tersedu-sedu menyesali dosa yang tetap ia belum ketahui. Dengan penuh kewibawaan, Batara Penyarikan datang menghampirinya.

“Sangkuni, cucuku. Syukurlah, engkau sudah racut. Ulun sangat cemas melihat amarahmu tadi.” Batara Penyarikan berbicara tenang.

“Aduh, hamba mohon ampun. Hamba sangat menyesal. Hamba sangat kalut,” berbicara Sangkuni dengan menahan sedu-sedan tangisnya.

“Ulun tahu itu. Tapi haruskah itu semua kamu akhiri dengan cara seperti itu?

 Amarah yang tidak terkendali hanya akan membuat kamu semakin menderita,

 cucuku.”

Sangkuni hanya terpaku. Mukanya tertunduk dalam. Rambutnya yang terurai menutupi seluruh wajahnya yang menimbun duka maha duka.

“Pikulun, hamba merasa bersalah. Hamba tidak kuasa menahan murka ini. Hamba merasa terlalu berat beban ini. Lihatlah, semua sudah hancur. Anak-anak hamba, kerabat, istana, harta benda, segalanya hancur. Kami salah apa pikulun? Kami menuntut keadilan.”

“Hmmm, tidak mungkin. Suyudana sudah menorehkan garisnya. Dia memang tidak berhak atas takhta Hastinapura. Yang berhak adalah cucuku Yudistira. Bukankah kamu tahu mereka adalah anak Pandu Dewanata, raja yang sah di Hastinapura?”

“Tetapi, bukankah sebenarnya yang berhak atas takhta adalah Drestarasta? Beliaulah yang berhak, pikulun. Beliaulah pewaris takhta Hastinapura.”

Ooo, tidak Sangkuni cucuku. Kamu harus ingat bahwa Drestarasta adalah cacat netra yang menghalanginya naik takhta. Seorang pewaris yang cacat netra tidak berhak menduduki singgasana.”

“Ampun pikulun, tetapi bukankah, pada akhirnya Tuanku Drestarasta juga yang menjadi rajanya setelah Pandu Dewanata meninggal? Dan beliau memerintah dengan bijaksana. Negara menjadi makmur kerta raharja. Mohon ampun pikulun, ini permainan apa?”

“Sangkuni cucuku, kamu jangan menentang garis para Dewa. Semua sudah tergaris dalam Jitapsara. Kamu menantang kutuk.”

“Ampun pikulun, namun demikianlah para Dewa, selalu mengancam dengan kutuk itu. Jika pikulun perkenankan, hamba akan melanjutkan keluhan hamba.”

“Benar cucuku, namun janganlah berharap bisa mengubah jangka yang sudah digariskan Dewata. Selain itu kamu harus ingat ujar-ujar maha sakti ini.

Wahai para titah Dewata. Sempurnakan hidupmu di alam. Sang Pencipta telah

menurunkan sabda. Tak bisa ditolak tak bisa disanggah, Dan manusia telah

memaknainya. Ngundhuh wohing pakarti. Becik ketitik ala ketara. Sapa gawe

nganggo.[1]

Sangkuni mendongak dengan mata yang menantang. Dibiarkannya rambutnya terurai tetap menutupi sebagian mukanya. Tubuhnya tergetar. Dalam benaknya menggumpal nada-nada amarah yang bergolak.

“Para Dewa tidak adil. Hamba harus memohon keadilan kepada Sang Pencipta Dewa dan manusia. Para Kurawa memang harus selalu kalah, bahkan dalam penganugerahan wahyu. Pikulun, sebenarnyalah para Kurawa tidak harus mati seperti itu. Mereka tidak bersalah. Mereka terlalu lemah batinnya dan kurang tahu strategi perang. Mereka juga termakan berita bahwa mereka selalu berupaya membunuh Pendawa. Itu fitnah. Suyudana tidak pernah punya maksud buruk terhadap adik-adiknya. Yang dilakukannya benar. Suyudana memberi tahu bahwa Hastinapura adalah memang haknya.”

Sangkuni berhenti sejenak. Matanya menerawang peristiwa tahun-tahun terakhirnya hidup dimaya pada. Betapa dalam setiap strategi Kurawa pada akhirnya kalah. Satu demi satu Kurawa tewas mengenaskan, hingga pada akhirnya kematian Suyudana. Ia juga teringat Sri Kresna. Dia lah yang paling ia benci. Dengan Jitapsara palsu ia ambil alih takhta kekuasaan Hastinapura. Kresna lah yang dengan penuh kelicikan menguasai berbagai pusat pemberitaan. Dengan kuasanya Kresna membuat berita-berita yang benar-benar menydutkan Kurawa. Dengan nada memohon Sangkuni melanjutkan perkataannya.

“Tidakkah para Dewa melihat kebusukan hati Kresna, kebobrokan mentalnya, kelicikan strategi perangai dan politiknya? Berita bahwa pada waktu kecil Pendawa disiksa oleh Kurawa adalah berita isapan jempol. Peristiwa Bale Sigala-gala diberitakan dengan sangat licik demi membangun legitimasi pihak Pendawa. Larinya Yudistira dan adik-adiknya adalah kehendak kehendak Harjuna untuk merebut simpati dunia. Tidakkah para Dewa mengetahui semuanya. Bukankah yang digunakan Kresna adalah Jitapsara rekaan Kresna sendiri? Di mana Jitapsara yang asli?”

Dewa Penyarikan tidak bergeming mendengar ungkapan Sangkuni yang menusuk itu. Namun demikian mendengar pernyataan Sangkuni yang terakhir Dewa Penyarikan terasa berat untuk tidak memberikan jawabannya. Maka ia bersabda.

“Sangkuni cucuku. Kamu adalah titah yang cukup usia dan telah banyak makan garam dalam menjalani hidup di dunia ini. Aku, sebagai dewa sulit memahami perkataanmu itu. Mengapakah kamu memutarbalikkan sejarah hidup bangsamu? Mengapakah kamu menghujat surat Dewa yang mengatur jalannya penyerahan kekuasaan Suyudana kepada Yudistira? Setelah berkali-kali Suyudana mengingkari janji dan menggunakan cara-cara tidak terpuji untuk membinasakan trah Pandu Dewanata itu.”

“Dalam berbagai peristiwa. Dalam berbagai perundingan para Dewa tidak pernah hadir. Dari mana pikulun mendengar semua itu? Berita yang pikulun dengar itu tentu datang dari Kresna yang bertopeng pada Kitab Jitapsara. Sudah pernahkah pikulun membaca kitab itu? Tidak curigakah pikulun pada kebohongan yang dibuat oleh Kresna? Pikulun, kitab itu sudah diubah oleh Kresna demi keuntungan pribadi dan Pendawa. Pikulun, kitab yang digunakan Kresna itu palsu!”

“Jagad Dewa Bathara! Sangkuni! Lancang sekali perkataanmu itu!”

“Saya yakin pikulun belum pernah membaca kitab itu. Kita itu terlalu suci untuk dibaca yang tidak berhak. Pikulun terlalu percaya pada Kresna. Lupakah para Dewa dengan lepasnya cakra dan sekar sakti Wijaya Kusuma berarti kedewataan Kresna lepas? Di saat itulah Kresna dengan penuh keberanian menyembunyikan kitab Jitapsara yang asli dan mengedarkan kabar bohong tentang isi Jitapsara palsu itu. Dengan bangganya Kresna membesar-besarkan berita bohong yang sangat merugikan Kurawa. Pikulun, Kresna dulu memang Dewa, tetapi kini tidak. Permainan kotor Kresna tidak tercium oleh Dewa?”

 “Sangkuni! Kata-katamu semakin murang tata tidak terkendali. Sadarkah engkau? Lihatlah dirimu, kutuk Dewa telah merambah dirimu. Cabutlah kata-katamu tadi. Tidak percayakah engkau kepada ketajaman dan kebijaksanaan Dewa yang mengatur dan mengetahui sebelum segalanya terjadi?”

 Dengan penuh kegeraman Sangkuni bangkit berdiri. Tubuhnya sempoyongan dan menggigil. Giginya bergemeretakan. Sangkuni kalap. Tangannya yang telah menghitam dengan kuku panjang berusaha mencengkeram Dewa Penyarikan. Melompat sekuat tenaga. Tetapi semuanya hampa. Semakin Sangkuni mendekat tubuh Dewa Penyarikan semakin kabur dan menghilang dari pandangan. Sangkuni berusaha keras namun tetap saja tidak menyentuh Dewa itu. Merasakan itu Sangkuni hanya mengumpat,

 “Siapakah engkau Dewa sehingga berkuasa atas manusia?!”

 “Sangkuni! Sadarlah! Sangkuni cucuku, sadarlah,” terdengar suara Dewa Penyarikan dari segala penjuru langit.

 “Siapakah engkau Dewa sehingga engkau berkuasa atas manusia. Serangga, ulat,

dan segala satwa. Segala rakyat dari desa sampai ke kota raja. Kau sumpal dengan warta palsu jitapsara.

Wahai Dewa. Mengapa kalian bersekutu dengan Kresna dan Pendawa. Mengapa

kalian bersekutu dengan Yudistira. Kedewataanmu telah membutakan segala

manusia. Silaukah kalian dengan harta Yudistira, emas dan permata Kresna?

Atau takhta?

Oh, Sang Pencipta Dewa. Penguasa alam raya semesta. Aku, Sangkuni,

Roh yang melayang-layang mencari keadilan. Tunjukkan dirimu bertegur sapa dengan hamba. Mengapa kaubiarkan para Dewa yang penuh kuasa itu. Bersekutu dengan angkara durjana. Bersekutu dengan kebohongan dan dusta. Ohh, Sang Hyang maha Wenang. Turunlah dari singgasana. Tuntunlah para dewa mengenali kebenaran. Tuntunlah bumi amarta membuta kebajikan. Jangan biarkan roh anak-anak kami melayang-layang kehausan. Jangan biarkan roh anak-anak kami berkeliaran kepanasan. Kurawa yang kalah. Kurawa yang lemah. Kurawa yang lelah. Kurawa yang selalu kalah. Ughhhk! Hoargghk! Horgghk!”

Tiba-tiba saja mulut Sangkuni memuntahkan lelehan menjijikkan. Tubuhnya berasap. Roh Sangkuni meregang kepanasan, tulang-tulangnya meledak-ledak menembus daging yang mulai meleleh dan gosong. Lelehan tubuh itu menyatu dengan tempat ia berpijak. Roh Sangkuni lenyap bersamaan dengan munculnya sinar putih yang sangat terang. Itu lah roh dari roh. Roh yang menangis. Roh yang kuyu oleh beban derita dan keputusasaan. Lunglai tiada daya. Bayang-bayang Dewa Penyarikan memuncul kembali mendekati Maha Roh patih Sangkuni yang lunglai. Kedua tangan Dewa Penyarikan dikembangkan. Serta merta maha roh itu melayang ke pelukan Dewa Penyarikan dengan penuh kelembutan seorang Bapa. Maha roh itu mendekap erat menyatukan dirinya dalam pelukan Dewa Penyarikan, melayang ke Jonggring Salaka untuk menghadap Sang Guru, Penguasa Kerajaan Dewata.

 Sekilas maha roh Sangkuni melihat indahnya awan-awan. Awan-awan itu tersingkap memberi jalan dan menghormat kepada Dewa Penyarikan. Udara terasa dingin. Rasa panas yang lama ia rasakan lenyap berganti kedamaian. Hatinya bertanya-tanya, di surgakah aku? Sekelebat Sangkuni melihat barisan para Dewi yang sangat cantik-cantik. Gaun yang dikenakannya sangat anggun. Mereka juga menyembah kepada Dewa Penyarikan, menebarkan kuntum-kuntum bunga harum mewangi dan senyum yang menawan.

 Namun tiba-tiba terdengar suara sorai dan gaduh. Sesekali nama Sangkuni disebut-sebut. Terperanjat Sangkuni mendengarnya. Terlebih setelah terlihat bahwa mereka adalah anak-anaknya, Kurawa. Suyudana berada di barisan paling depan mengacung-ngacungkan kelewang. Melihat itu, Sangkuni berusaha lepas dari pondongan yang penuh damai itu. Seketika pula ia merasa kuat dan mampu berdiri gagah menghadapi 100 roh Kurawa yang tampak beringas. Sangkuni mengangkat tangan tinggi-tinggi. Serta merta mereka berhenti berteriak. Mereka menangis meraung-raung sejadi-jadinya.

 “Anak-anakku Kurawa. Tenanglah. Ini aku, Sangkuni pamanmu! Datang bersama kalian. Hentikan langkah kalian dan berdiam bersama-sama aku!

 Bukannya diam mereka malah semakin kerang menangis dan mendekat pada Sangkuni. Durmagati, anak kesayangan Sangkuni berlalu dengan menangis. Tergopoh-gopoh menubruk Sangkuni. Memeluk erat-erat kaki dan menciumi kaki Sangkuni.

 “Paman, jangan tinggalkan Durmagati. Saya takut. Saya haus dan panas sekali. Semua terasa aneh dan menyakitkan. Jangan tinggalkan kami paman.”

 Tak kuasa Sangkuni menahan tangis. Air matanya mengalir dengan derasnya. Ia peluk erat-erat Durmagati. Namun Sangkuni sangat kaget bahwa yang dipeluknya sesuatu yang hampa, kosong. Hanya hawa panas yang menyengat.

 “Durmagati! Durmagati! Di mana engkau, Nak? Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba saja lenyap dari hadapanku? Oh, Dewa, tidak cukupkan penderitaan anak-anakku. Oh, Sang Hyang Maha Wenang, tolonglah anak-anakku ini.”

 “Aku di sini paman. Di dekatmu.”

 Dewa Penyarikan sangat terharu melihat itu semua. Terbanyak di benak Dewa, tingkah polah Kurawa yang selalu rusuh dan licik. Bermuslihat dan selalu bohong. Tidak tahan prihatin dan lelaku.

Sangkuni berucap lagi memanggil Suyudana, “Ananda Prabu, kemarilah. Anak-anakku semua, kemarilah. Mari kita susun kekuatan. Kita cari keadilan pada Sang Hyang Maha Wenang.”

“Tapi, Paman. Bagaimana bisa? Semua hampa adanya, maya, yang ada hanya panas yang terus menyiksa. Mengapa ini semua terjadi? Bahkan saya melihat tubuh saya tergolek, terbenam di persawahan bersimbah darah yang menghitam. Tidak ada bagian tubuh saya yang utuh setelah digempur dengan Pusaka Gada Rujakpolo milik adikku Sena. Mayat-mayat saudaraku juga tidak lebih baik. Tidak lebih hormat dari bangkai kuda yang berserakan memadati arena peperangan.” Suyudana berhenti sejenak sambil menangis sesenggukan. “Bahkan, bahkan Pangeranku Lesmana Jakumara tertindih bangkai kuda tunggangannya. Saya melihat semua itu dengan jelas. Tetapi ketika hendak menjamah dan merawat mayat itu tidak terjamah. Maya, Paman. Hati saya remuk. Tidak kuat saya melihat semua itu.”

“Benar Ananda Prabu, aku juga melihat semuanya dengan jelas,” tutur Sangkuni.

Para Kurawa terpatri dalam duka yang sangat mendalam. Tiada patah kata yang terucap. Durmagati hanyut dalam pelukan sang Paman. Sementara Citraksi tidak kuat untuk tidak mendekat dan mendekap pada paman yang sangat ia cintai. Sangkuni berdiri gagah. Menyambut semua yang datang memohon perlindungan batin.

 Melihat kebapakan Sengkuni itu, semua Dewa Penyarikan terharu. Pemandangan seperti itu sungguh di luar dugaannya. Karenanya Sangkuni tampak sangat agung. Maha Rohnya bersinar seputih salju menyilaukan setiap mata yang memandang. Bahkan mata kedewataannya tidak sanggup menerima sinar yang begitu terang dari maha roh Sangkuni. Ia segera membaca rapal dan mantra sakti untuk melindungi dirinya. Namun tetap saja tidak kuasa. Secara menakjubkan Maha Roh Sangkuni dan roh Kurawa menyatu semakin menyilaukan. Jalan satu-satunya yang ia tempuh adalah memejamkan matanya. Ia memohon petunjuk dari Sang Guru agar terbebas dari sinar terang itu.

Seketika tanpa diketahui Dewa Penyarikan, Sangkuni dan Kurawa lenyap dari hadapannya. Mereka entah ke mana. Seakan tertelan sinar terang itu. Saat Dewa Penyarikan membuka matanya, ia sudah berada di depan kahyangan. Dewa Penyarikan segera menuju ke sanggar samadi memuja kepada Sang Hyang Maha Wenang dengan iringan asap dupa reratus yang menebarkan keharuman mendamaikan. Sucikah Sangkuni dan Kurawa? Sehingga pandangan kedewaannya tidak mampu mengimbangi sinar terang itu? Ataukah Sang Hyang Maha Wenang di balik itu semua? Dewa Penyarikan tenggelam dalam semadinya hingga empat puluh hari empat puluh malam.


[1]Memetik buah perilaku. Yang baik terasa yang buruk terlihat. Siapa yang membuat akan menggunakannya.

Petrus Bono Krisdiyanto
Latest posts by Petrus Bono Krisdiyanto (see all)

Comments

  1. -j Reply

    sedap cepenny

Leave a Reply

Your email address will not be published.