Lelaki yang Berbuat Kejahatan karena Tuhan

in Cerita Pendek by
unsplash.com

Kalian harus tahu, bahwa di kota ini, ada seorang lelaki yang kebal terhadap semua hukuman.

Ia kerap mencuri tapi tidak dihukum. Ia memerkosa anak gadis dan tidak dihukum. Bahkan ia membunuh orang, juga tidak dihukum. Bukan karena ia nabi atau pemimpin negara sehingga ia kebal hukuman, tetapi karena alasan melakukan semua kejahatannya itu, adalah atas perintah dari Tuhan.

Sebab seseorang yang telah mengaku beriman, apalagi jika keimanannya dilandasi keteguhan, tidak akan berani melanggar perintah Tuhan. Bagaimana itu bisa terjadi, beginilah kisah lengkapnya:

Akulah Kepala Polisi itu. Sebagai Kepala Polisi di kota ini, tentu tidak mudah untuk menjatuhkan hukuman ketika sebuah kejahatan dilandasi oleh iman. Kitab Hukum Negara telah menambahkan pasal khusus tentang peranan Tuhan dalam negara—yang ia sendiri tahu, diusulkan pertama kali oleh anggota DPR yang merangkap ahli agama. Kira-kira, pasal itu berbunyi, “Semua kejahatan boleh dilakukan asal ada alasan perintah Tuhan.”

Lelaki itu—izinkan aku menyebutnya lelaki sialan—sering kali melakukan kejahatan. Murni kejahatan, yang dalam kitab undang-undang terdahulu, dipastikan akan diganjar hukuman berat. Ia telah merampas harta seorang walikota. Dan kejahatan itu, dilakukannya secara terang-terangan. Di hadapan Walikota sendiri (pada saat perampasan itu terjadi, Walikota diikat pada sebuah kursi, dengan mulut disumpal celana dalam). Lelaki itu merekam sebuah bukti video, dengan mengatakan: “Atas nama Tuhan. Aku melakukan perintah Tuhan untuk mengambil harta pemimpin yang membiarkan rakyatnya miskin. Harta ambilan ini, akan dibagikan kepada yang membutuhkan.”

Walikota melaporkan kejadian itu kepada kepolisian. Ia menuntut Si Perampas  dihukum seberat-beratnya.

Lalu akulah Kepala Polisi itu. Waktu Si Perampas ditangkap, bersama barang bukti harta rampasan yang belum sempat dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan, aku berkata:

“Kenapa kamu merampas harta Walikota?”

“Demi Tuhan saya tidak merampas, tetapi hanya mengambil. Merampas tidak sama dengan mengambil. Saya melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Kata-Nya, Walikota itu telah berbuat dzalim kepada rakyat. Membiarkan rakyat hidup miskin, sementara ia kaya raya. Maka saya mengambilnya, untuk saya bagikan kepada orang-orang miskin. Tapi saya keburu ditangkap, maka saya akan mengatakan pada khalayak, bahwa saya ditangkap ketika melaksanakan perintah Tuhan. Saya akan mengatakan pada khalayak, bahwa Kepala Polisi telah bertindak anti agama.”

Sialan. Aku terkejut ketika mendengar penjelasannya. Mana mungkin walikota yang begitu baik dan dekat kepada rakyat, sering blusukan ke kampung-kampung, bisa disebut dzalim? Perkara tuduhan bahwa banyak rakyat miskin, ya memang masih ada warga kota yang miskin. Tapi secara keseluruhan, kota itu berkembang makmur.

“Kamu jangan mengada-ada. Kamu bisa dijerat hukuman berlipat, karena telah merampas sekaligus mencemarkan nama baik Walikota.”

“Saya tidak mungkin mengada-ada. Demi Tuhan, saya diberi tahu dan diperintah langsung oleh Tuhan sendiri, untuk melakukan itu. Coba Bapak pikirkan, mana bisa Walikota itu kaya raya padahal ia tidak memiliki usaha selain menjadi walikota? Dari mana harta itu didapat? Pastilah uang yang seharusnya untuk pembangunan kota, kemudian ditilep untuk kepentingannya sendiri. Walikota itu telah melakukan korupsi.”

Aku terdiam. Beberapa menit kemudian aku bingung, apa yang ia katakan itu mungkin saja benar. Anggaran dana kota memang sangat besar, tapi apakah pembangunan kota ini dilakukan sesuai dengan anggaran, ia tidak tahu secara pasti. Karena tidak tahu secara pasti, maka ada kemungkinan dugaan lelaki itu bisa benar. Lelaki itu juga mengaku bahwa ia diperintah langsung oleh Tuhan, apakah itu benar? Ia juga tidak tahu secara pasti. Karena ia tidak tahu secara pasti, maka ada kemungkinan bahwa itu juga benar. Ah, sialan.

“Oke, begini saja Saudara. Aku terpaksa harus percaya omonganmu. Sebab ada pasal dalam undang-undang negara yang mengatur soal itu. Tapi kamu juga harus menolongku menghindari kemarahan Walikota. Sebab jika Walikota sampai marah, maka aku bisa dipecat dari jabatanku sebagai Kepala Polisi. Nah, kalau aku dipecat, maka aku bersumpah akan memburumu sampai liang kubur. Kamu akan aku bunuh, dan aku akan bilang bahwa aku membunuhmu atas perintah Tuhan. Bahwa Tuhan tidak menyukai orang baik yang telah mengemban jabatannya dengan benar, tapi kemudian dipecat hanya karena telah menangkap seseorang yang tengah melaksanakan perintah Tuhan dengan baik.”

“Baiklah. Aku akan menolongmu. Tuhan baru saja memberikan perintah, bahwa aku harus menolongmu. Jadi baiklah. Lalu, bagaimana caranya aku bisa menolongmu?”

“Kamu harus ikhlas tinggal beberapa minggu di dalam penjara. Sampai Walikota itu ikhlas.”

“Baiklah kalau begitu.”

Maka sementara waktu aku tahan lelaki itu di dalam bui. Aku katakan bahwa ia akan tinggal di dalam bui, selama proses pura-pura penyelidikan kasus walikota dilaksanakan. Apabila penyataan lelaki itu benar maka ia akan dibebaskan, namun apabila tidak benar, maka ia akan dihukum berat. Akhirnya, setelah dilakukan penyelidikan pura-pura, aku berhasil meyakinkan Walikota bahwa lelaki itu telah melaksanakan hukumannya.

Aku bebaskan lelaki itu.

Tapi lelaki yang baru beberapa hari kubebaskan itu, kembali melakukan kejahatan. Kali ini, ia memerkosa seorang perawan, anak rentenir terkenal di kota. Ia memerkosa gadis itu dihadapan kedua orang tuanya yang telah disekap.

Dengan santai, lelaki itu menikmati setiap genjotan yang disertai tangisan si gadis. Sedangkan orang tuanya hanya bisa menyaksikan tubuh indah anak gadis mereka, diperkosa secara nikmat oleh lelaki yang tidak punya rasa malu.

Setelah kejadian itu, ibu anak gadis itu menelepon kepolisian kota untuk menangkap lelaki yang sudah memerkosa anak gadisnya, dengan menyebut ciri-ciri bajingan itu secara rinci.

Para polisi, atas perintahku, langsung menyelidiki kasus itu. Secara naluriah aku sudah tahu siapa pelakunya. Maka kuperintahkan anak buahku untuk menangkap lelaki sialan, yang baru beberapa hari dibebaskan. Kepada seluruh anak buahku, kuancam untuk tutup mulut. Mereka harus bilang, jika orang tua gadis yang melapor itu bertanya, jawabannya adalah “belum ketemu”.

“Ini sudah dua kali kamu melakukan kejahatan. Sialan. Apakah yang kedua ini, juga masih perintah Tuhan?” aku bertanya dengan kesal.

“Ya, itu memang benar. Saya lakukan pemerkosaan atas perintah Tuhan. Dia memberi tahu saya kalau ayah gadis itu seorang rentenir yang sering sekali menyetubuhi gadis orang yang tidak bisa melunasi utangnya. Itu sebagian dari pelunasan utang, katanya. Tuhan memerintahkan saya untuk memerkosa anak gadisnya, agar dia tidak berani melakukan itu lagi.”

Aku terdiam. Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh alasannya yang cukup masuk akal. Lalu, aku kembali angkat suara:

“Kamu sedang tidak mempermainkan kewarasanku, kan? Sialan. Tapi jawaban kamu memang masuk akal.” Terus terang, aku memang bertambah bingung. “Tapi begini ya. Oke, untuk yang sekarang, kamu mungkin bisa kulepas lagi. Tapi ingat, jika kamu bertindak lagi,  dengan kejahatan serupa, aku tidak akan bisa lagi terima.”

“Pak Kepala Polisi, Demi Tuhan saya tidak mengada-ada. Coba saja Bapak tanyakan kepada anak buah Bapak yang itu,” katanya sambil menunjuk anak buahku yang ada di pintu, “Dia pernah berutang kepada rentenir itu, dan tidak bisa melunasinya.”

Lagi-lagi apa yang dikatakan oleh lelaki itu benar. Anak buahku membenarkan, dengan tersedu-sedu, bahwa anak gadisnya pernah disetubuhi oleh rentenir itu, bahkan lebih dari satu kali. Astaga, dunia macam apa yang sekarang aku hadapi? Kupandangi anak buahku dengan takjub. Ia kemudian menutup kisahnya dengan kalimat, “Setelah disetubuhi 4 kali, semua utangku bebas.”

Lelaki itu, penjahat sialan itu, kembali aku bebaskan dari jeratan hukum. Si Rentenir-lah yang akhirnya dijatuhi hukuman, karena seluruh kejahatannya kubongkar.

Ketiga kalinya, keempat kalinya, dan seterusnya, lelaki itu selalu kubebaskan ketika melakukan kejahatan. Ia selalu beralasan bahwa perbuatannya adalah perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Aku akhirnya tidak peduli. Aku bukan Kepala Polisi yang anti agama. Aku juga takut kepada Tuhan.

***

Malam itu aku baru pulang dari ritual keagamaan yang dipimpin oleh bapakku—kebetulan ia adalah ustad di kota ini. Sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk mampir. Sudah lama aku tidak mengunjungi rumah masa kecilku, terutama kangen ingin ngobrol dengan Bapak.

Terlihat dari kejauhan senyuman bapakku. Tampaknya ia sedang ada tamu, sesama ustad di kota ini. Belum juga aku menghampiri, menyapa, dan memeluknya, aku mendengar suara tembakan. Astaga. Siapa yang berani melakukan penembakan, di tengah keramaian seperti ini?

Kejadian itu berlangsung begitu cepat, banyak orang ribut berlarian. Dengan sigap aku berlari ke arah asal suara tembakan. Naluriku sebagai polisi mengatakan, pasti ada perampokan. Tapi Si Penembak tidak kutemukan. Tak ada rumah yang dirampok, tak ada korban perampokan. Ketika aku kembali ke rumah Bapak, barulah aku sadar bahwa bapakkulah korban penembakan itu. Tubuh Bapak terkapar berlumuran darah, dan tengah dikerubuti beberapa orang.

Dia meninggal di tempat. Dalam keadaan sedih dan marah, seorang lelaki menghampiriku. Lelaki sialan. Lelaki bajingan. Lelaki itu berkata dengan sangat jelas: “Aku diperintahkan Tuhan untuk menembak bapakmu.”

Anjing. Aku meradang. Kuseret ia ke kantor polisi.

 “Kenapa? Ada apa dengan Tuhanmu?” Kugebrak meja di hadapannya, kutendang kursi yang ada di sampingnya, lalu kukeluarkan pistol dan kutodongkan pada pelipisnya. “Ada apa dengan perintah Tuhanmu kali ini, heh? Sialan?”

 “Tenang. Harap tenang, Pak Kepala Polisi. Dengarlah perintah Tuhan kali ini, justru inilah puncak yang paling penting dari seluruh rangkaian kejahatan yang saya lakukan.” Lelaki itu menjawab dengan begitu tenang, bahkan tersenyum.

Aku tahan kemarahanku. Aku turunkan pistolku. “Katakan. Katakan apa perintah Tuhan untuk bapakku.”

 “Saya diperintahkan Tuhan untuk membunuhnya, karena ia seorang ustad yang kelak di masa depan, akan menyesatkan banyak orang.”

Aku terdiam. Sungguh membingungkan seluruh teka-teki Tuhan. Bahkan kali ini pun aku berpikir, bahwa lelaki itu mungkin saja benar. Maka perlahan aku putar kembali pengaman pistolku. Aku angkat persis di depan matanya.

 “Saudara. Lelaki sialan yang telah berpuluh kali kubebaskan. Sekarang begini saja. Kamu diam jangan berontak, apalagi bermaksud lari. Kali ini aku akan meledakkan pistol ini, tepat di antara dua matamu. Supaya hasilnya cepat dan tidak menyakitkan ketika nyawamu terangkat. Sebab aku baru saja menerima perintah dari setan, bahwa aku harus menembakmu.”

Aku menarik pelatuk pistol yang mengarah tepat di antara dua matanya. Suara ledakan yang keras, membuatku ingin tertawa. ***

Habib Anazzer Rahman

Lahir di Majalengka 26 April 2000. Mahasiswa Ilmu Hadis UAD. Bergiat di komunitas KUTUB dan Majabaca.

Latest posts by Habib Anazzer Rahman (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.