Lihatlah Genteng!

Pada suatu hari, bocah-bocah bersenandung merdu: tik tik bunyi hujan di atas genteng/ airnya turun tidak terkira/ cobalah tengok dahan dan ranting/ pohon dan kebun basah semua. Lagu berjudul “Hoedjan” persembahan Ibu Soed (1938) mencipta pengetahuan tentang hujan. Bocah mungkin bersenandung sambil melihat hujan di luar rumah. Di jendela kaca, bocah itu menggerakkan jari. Ia seperti sedang menulis atau melukis di kaca membasah. Bocah itu kelak jadi pelamun berjuluk pujangga. Bocah itu pula berhak mengandaikan saat dewasa jadi penanggung patah hati gara-gara menjalani asmara sering terkena badai dan petir. Lagu mengenalkan hujan mula-mula, sebelum lagu pop dan dangdut memberi imajinasi picisan ke para pendengar di Indonesia. Hujan pun sering adegan wagu di film dan sinetron romantis.

Kita belum ingin berurusan dengan melulu hujan. Di lagu, bocah ada kata “genteng”. Bocah sudah diajari genteng itu atap rumah. Genteng melindungi para penghuni rumah dari hujan dan sinar panas matahari. Bocah belum wajib mengetahui merek, harga, dan ukuran genteng. Pengetahuan imbuhan mungkin jika genteng retak atau pecah dibuang ke bawah. Di mata bocah, benda itu bisa menjadi alat permainan. Di desa-desa Jawa, pecahan genteng itu gacuk bagi bocah-bocah dalam pelbagai permainan. Bocah bergirang di hajatan pernikahan masih mengacu adat Jawa. Pecahan genteng diimajinasikan sebagai duit untuk membeli dawet. Imajinasi itu keterlaluan!

Imajinasi pernah dianut ribuan bocah selama puluhan tahun adalah gigi dan genteng. Dulu, bocah jarang memiliki gigi utuh sejak lahir sampai dolan ke taman kanak-kanak atau sah jadi murid si sekolah dasar. Gigi lumrah tanggal. Mereka gigis dan ompong. Sabar harap dimiliki untuk mendapatkan gigi lagi alias bertumbuh gigi baru. Konon, gigi atas tanggal harus dibuang ke arah bawah (tanah). Gigi tanggal bagian bawah harus dibuang ke arah atas (genteng). Atas dan bawah itu imajinasi arah pertumbuhan gigi. Pada genteng, bocah memiliki warisan cerita gigi. Imajinasi gagal mendapat pembenaran di mata pelajaran diajarkan para guru.

Pada kalangan dewasa, imajinasi genteng pun membikin tertawa. Genteng masih berhubungan dengan hujan. Para leluhur dianggap pernah mengajarkan ilmu lucu. Buanglah sempak ke genteng agar hujan batal turun. Lelucon bukan ada di buku tapi ada di tata kehidupan orang desa. Mereka biasa memiliki hajatan. Kedatangan para tamu dalam acara diharapkan tak diganggu hujan. Peristiwa menaruh sempak di genteng dengan mantra anggaplah ilmu terajaib di Indonesia.

Cerita-cerita genteng itu mungkin lucu, berbeda dengan pemaknaan orang Jawa membangun rumah. Pada tahap memasang atap atau ngunggahke genteng, ritual diadakan dengan percampuran adat dan agama. Segala sesaji diadakan dan simbol-simbol tampak di titik-titik menentukan lakon atap. Mata kita biasa melihat ada pisang, kain merah-putih, kelapa, dan lain-lain. Perkara atap berkaitan segala ingin bakal penghuni rumah minta keselamatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Adegan kebersamaan lumrah terjadi saat pemasangan genteng melibat para tetangga. Puluhan orang ada di ritual genteng. Mereka berkeringat, berbagi cerita, dan makan bersama.

* * *

Serpihan-serpihan pengisahan genteng itu berhadapan ilmu di kalangan mahasiswa. Genteng itu tema riset. Di Semarang, para mahasiswa Universitas Diponegoro berhasil membuat genteng ramah lingkungan. Genteng bukan terbuat dari tanah liat. Genteng bukan cuma hasil olahan pasir dan semen. Genteng dibuat dari limbah styrofoam. Keilmuan mereka menghasilkan siasat membuat genteng murah dan ramah lingkungan: mencampur campuran pasir, semen, dan butiran-butiran dari hasil penghancuran styrofoam bekas. Semua berdasarkan sains, bukan imajinasi mengandung lelucon. Riset dan produksi genteng itu menjadikan lima mahasiswa Undip diganjar medali emas dalam kompetisi International Trade Fair Ideas, Inventions and New Products berlangsung di Nurenberg, Jerman, 2018 (Suara Merdeka, 27 November 2018).

Mereka membuktikan sains berlaku dalam pemahaman manusia Indonesia abad XXI dalam pemaknaan genteng. Makna itu belum tentu memiliki silsilah pengenalan genteng pada masa lalu saat orang-orang berduit membangun rumah-rumah megah dan apik memerlukan genteng bermutu. Rumah-rumah di kota ingin berbeda tampilan dari rumah-rumah desa bergenteng dari tanah liat. Genteng di kota memilih dibuat dari olahan pasir dan semen. Para pembuat rumah mulai meninggalkan selera genteng-genteng dibeli dari Sukoharjo, Klaten, atau Kebumen.

Pada masa 1980-an dan 1990-an bisnis genteng terasa bersaing sengit. Pabrik-pabrik gencar beriklan. Para pembuat perumahan atau pemborong dalam membangun gedung-gedung terbujuk memilih genteng paling kuat, apik, dan bermutu. Pilihan mereka dipengaruhi iklan atau bualan-bualan beredar di publik. Iklan mungkin sumber penting dalam pembuatan keputusan membeli genteng.

Kita ingin mengenang masa-masa persaingan orang membeli genteng gara-gara membaca iklan di majalah Tempo. Majalah itu sering memuat iklan genteng. Majalah menjadi acuan dokumentasi pengetahuan genteng bagi orang-orang Indonesia di zaman pamer rumah emoh sederhana. Di majalah Tempo, 12 November 1983, iklan hitam-putih sehalaman dari genteng bermerek Tiara Bima. Di kalangan peminat epos Mahabharata, Bima itu mengesankan kuat. Pemberitahuan awal: “Genteng beton berwarna pertama yang memperoleh sertifikat SII (Standar Industri Indonesia).” Sebutan “pertama” ingin menjadi pembenaran orang-orang memiliki gengsi asal membeli-menggunakan genteng Tiara Bima.

Iklan sesak kata. Publik diinginkan jangan ragu meski sekecil biji sawi. Penjelasan ingin memberi kebenaran teruji: “Tiara Bima dibuat dengan memanfaatkan teknologi maju dan mesin-mesin moderen yang menjamin keunggulan mutu. Selain itu juga dikelola secara profesional, sehingga penyediaan dan pengirimannya selalu teratur dan lancar. Dengan memperhatikan keunggulan-keunggulan di atas, sudah selayaknya bila anda memilih genteng beton berwarna Tiara Bima sebagai atap rumah yang dapat anda andalkan.” Jangan salah pilih jika tak mau sengsara! Genteng bermutu mengharamkan tetesan air masuk rumah alias bocor.

Jumlah orang berduit di Indonesia semakin bertambah. Gaji para pegawai kantoran mulai ditabung demi memiliki rumah-rumah megah. Mereka mengimpikan rumah beratap kuat, bukan atas seperti di lagu Rhoma Irama. Pada masa pembangunan nasional, atap rumah di kota-kota terlarang dibuat dari daun kelapa atau bahan-bahan bercap kuno. Genteng dari tanah liat saja perlahan kehilangan peminat. Genteng-genteng baru sedang jadi penentu mutu rumah dan gengsi penghuni rumah.

Kita menjenguk iklan di Tempo edisi 7 April 1984. Iklan dipersembahkan oleh PT Monier Indonesia. Iklan masih hitam-putih. Foto atap rumah megah disajikan ke mata pembaca. Lihatlah, tatanan rapi genteng itu memukau! Rumah itu mustahil milik guru naik sepeda kumbang seperti dilantunkan Iwan Fals. Rumah dibangun dengan duit puluhan sampai ratusan juta rupiah. Rumah menggunakan genteng bermerek Elabana.

Iklan memberi sejumput pengetahuan arsitektur ke publik. “Arsitektur rumah modern dengan genteng Monier nampak keanggunannya lebih menonjol daripada genteng lain yang serupa,” tulis di iklan. Genteng itu keanggunan. Selera genteng harus dipertimbangkan serius melalui rapat keluarga atau bergantung ke nasihat arsitek. Penjelasan tambahan: “Bentuk permukaan Mornier yang konstruktif berdaya tahan terhadap matahari dan percikan hujan.” Mutu genteng menggunakan ukuran di Australia, bukan Indonesia. Genteng mungkin sudah dibuat dengan adaptasi di negeri tropis.

Keunggulan dicari orang-orang ingin di naungan atap berupa tatanan genteng apik: “Warna genteng Monier bukan hanya sekedar pengindah, tetapi berdaya tahan terhadap segala bentuk kerusakan antara lain jamur, cendawan, karat, dan sebagainya.” Orang-orang berpredikat generasi 1980-an mungkin sempat memiliki memori genteng mencipta keanggunan dan memberi gengsi berselera modern khas negeri-negeri jauh. Genteng kadang berurusan dengan keminderan berindonesia. Genteng bukan benda dan perkara remeh!

Lanjutan iklan ada di Tempo edisi 9 Juni 1984. Iklan berbeda penampilan dan pesan. Tampilan iklan agak ramping, dimulai tatanan kata membujuk: “Abadi dalam mutu dan warna.” Pembeli genteng Monier ada di imajinasi abadi, sepanjang masa, awet tanpa noda. Iklan dipuitiskan: “Keabadian mutu dan warna genteng Monier menjadikan rumah anda semakin bernilai. Tepatlah bila banyak orang di Amerika, Eropa, Asia dan juga Indonesia mengukuhkan Monier sebagai genteng beton berwarna terbaik.” Penulisan “ter-“ di iklan tak sudi dibantah. Pada masa lalu, genteng itu mungkin memang incaran bagi orang-orang berduit di Indonesia.

Kita membuka Tempo, 23 Juni 1984. Iklan genteng masih ditemukan. Suguhan iklan berbeda dari deretan iklan pendahulu. Di halaman 11, iklan itu berwarna. Iklan berwarna untuk genteng berwarna. Iklan oleh KIA berslogan: “indah eksklusif”. Genteng itu keramik berglazur, masih meminggirkan angan orang lawas bahwa genteng dibuat dari tanah liat atau lempung. Genteng keramik menjanjikan menjadi “pelindung rumah sempurna dan eksklusif.”

Rincian keampuhan genteng buatan KIA: “indah, kuat, mengkilap, memantulkan panas sinar matahari, tidak akan berlumut, tidak berisik sewaktu hujan, warna tidak berubah, lengkap ‘accessory’nya, tersedia dalam warna-warna klasik.” Pembaca harap singkirkan seribu ragu. Lihatlah 3 gambar di iklan. Rumah-rumah bergenteng keramik KIA beda warna. Di mata, genteng-genteng membuat rumah jadi indah dan sempurna. Rumah tanpa atap atau genteng pastilah tak lumrah.

* * *

Pada abad XXI, kita masih harus memikirkan atap rumah. Genteng tetap tema besar, bukan perkara remeh. Orang-orang abai genteng mungkin mendapat kutukan bakal kehujanan dan kepanasan. Rumah beratap atau bergenteng adalah kewajaran belum diruntuhkan oleh sains. Kini, atap-atap rumah belum tentu genteng dibuat dari tanah liat, pasir, dan semen. Atap rumah mungkin semua beton dengan sebutan corcoran. Jenis atap mutakhir malah bisa digunakan untuk tempat menjemur pakaian, olahraga, atau bertanam. Di atas atap beton, kaum muda melek bisnis berhak membuat kedai atau kafe. Di situ, orang-orang minum kopi dan makan serasa dekat ke langit.

Genteng belum masa lalu atau punah. Penggemar genteng masih jutaan orang. Mereka belum membuat komunitas pengabadi genteng tapi memiliki pembenaran bahwa rumah dengan genteng dari tanah liat memiliki filosofi atau ajaran dari para leluhur. Orang masih insaf adab lawas menginginkan rumah bergenteng dengan unsur tanah, bukan campuran pasir-semen, keramik, atau semua hasil corcoran. Genteng boleh retak, pecah, atau rusak. Genteng tipis berlumut malah tampak estetis. Di desa-desa, genteng-genteng lawas malah diminati para kolektor berselera tradisional. Genteng bisa berharga mahal. Di kalangan kaum unik, genteng boleh masuk daftar benda koleksi, bersaing dengan piringan hitam, sepatu, tas, kain, dan sepeda onthel. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.