Lincak

Dani Schafer “Lamia” 2015 Original Painting on Chairish.com

Pono memikirkan istrinya yang sekarang cincin perkawinannya pindah ke jari telunjuk. Dia bersedih, apakah dengan kehidupan sederhana ini berarti keluarganya tidak sejahtera? Sebelum menikah, cincin yang dipasangkan oleh Pono ke jari manis istrinya itu begitu pas dan cocok di tangan istrinya. Dia mengingat dirinya pergi ke kota dan mencari toko emas dengan kikuk untuk mencari cincin yang sekiranya disukai istrinya. Dia mengingat bagaimana dia berlutut seperti sinetron di tv kelurahan ketika melamar seorang wanita. Dia ingat matahari terbenam di bibir pantai dan kecipak ombak nakal yang memeluk mereka berdua seakan jail ketika istrinya menerima lamarannya. Kini cincin yang cocok sekali di jari manis istrinya itu pindah ke jari telunjuk. Membuat jemari istrinya menjadi ganjil.

Cincin itu begitu disayangi oleh istrinya, tak pernah alpa di jari manis istrinya. Pernah ketika istrinya tidak menemui cincin di jarinya dia mencari ke mana-mana, seluruh rumah bahkan seluruh kampung. Dia sampai membongkar pipa tempat dia mencuci piring, dan membuka septictank dan terjun ke dalam sana untuk mencari cincin itu. Pono sudah mengingatkan bahwa dia tidak kecewa sama sekali dengan hilangnya cincin itu, namun istrinya tetap mencari dan merasa bersalah kepada Pono dan dirinya sendiri. Ketika cincin itu tidak di jari manisnya dia merasa tidak enak berbuat apa-apa, dia tidak masak, tidak makan, tidak berkebun, dan tidak menjahit. Alhasil Sekar, anak Pono satu-satunya yang kini sudah menginjak SMA dan sekolah di SMA Negeri di kota, menggantikan istri Pono dalam semua pekerjaannya. Sekar sering mengeluh karena dia tidak punya banyak waktu untuk mengerjakan itu semua, dia sudah hidup seperti orang kota yang kebanyakan pekerjaan, entah itu menggarap PR, mengurusi organisasi, dan berlatih karate. Namun istri Pono seakan tidak menghiraukan keluhan Sekar, dia berdalih bahwa seandainya Pono tidak memberi cincin itu, Sekar tidak bakal ada di dunia ini, jadi seharusnya dia juga gelisah seperti dia ketika cincin itu hilang.

Istri Pono sebenarnya benar-benar bingung bagaimana cincin itu bisa raib dari jari manisnya tatkala dia tidak pernah melepasnya. Dia meniti semua kebiasaan yang dilakukan di rumah dan di kampung, mencarinya disetiap selokan yang biasa dilaluinya. Menyelam di kali tempat biasa dia mencuci. Namun semua tidak ada hasilnya. Dia begitu sedih, dan Pono meyakinkan dia bahwa tak seharusnya manusia terlalu terikat kepada benda, yang penting orang yang memberi itu masih punya cinta yang sama sewaktu dia memberi cincin itu untuk pertama kalinya, dia bilang sudah terima saja, anggap ini kewajaran yang harus adik lalui. Istri Pono menangis pasrah dan memeluk Pono sekencang-kencangnya, dan menangis menjadi-jadi seperti ada orang dekat yang meninggal.

Keesokan harinya ketika Istri Pono masih dirundung kesedihan yang mendalam, bu Bibit datang ke rumah, dan memberikan cicinnya yang sudah satu minggu hilang. Dia begitu senang dan berterima kasih kepada bu Bibit. Bu Bibit berkata dia menemukan di sawahnya, mungkin jatuh ketika Istri Pono berbaik hati mengirim makanan untuk bu Bibit di sawahnya. Istri Pono heran bagaimana cincin itu bisa jatuh, namun dia berterima kasih sekali pada bu Bibit dan dia bersedia membalas kebaikan bu Bibit dengan apa saja yang bu Bibit minta. Namun, bu Bibit bilang, ndak usah berlebihan dan dia pamit pergi ke sawah. Ketika Istri Pono memasang cincin itu ke jari manisnya, cincin itu kebesaran, dan dia bingung, apakah itu bukan cincinnya? Kesenangannya mulai memudar menjadi gelisah kembali bahwa itu bukan cincinnya. Dia memanggil Pono dan bertanya apakah itu cincinnya dan Pono menjawab bahwa itu cincinnya. Namun Istrinya bersedih dan bertanya mengapa kok tidak cukup di jari manisnya? Kemudian Pono melihat lekat-lekat istrinya itu, dia memandang sekian lama hingga istrinya kebingungan. Lalu Pono bersedih, dan membuat istrinya semakin kebingungan dan ingin marah. Pono akhirnya menjelaskan “Bukan cincinnya yang kebesaran, tapi kamu yang semakin kurus, Dik.”

Istri Pono kemudian mencoba memakai cincin itu ditelunjuknya dan ternyata pas dan rasanya nyaman seperti ketika berada di jari manisnya, dia kemudian senang tak terkira karena yakin bahwa itu adalah cincinnya. Namun, Pono tetap bersedih, mempertanyakan mengapa istrinya semakin kurus? Apakah memang makanan di dapur kurang? Apakah kentang, ubi-ubian, kacang merah, dan bayam tidak cukup untuk kesejahteraan rumah tangganya? Apakah dia harus memulai untuk membeli makanan di pasar dan tidak lagi bergantung pada kebun sepenuhnya? Pono bersedih, bukankah dahulu ketika istrinya belum menikah dengannya hidupnya selalu berkecukupan? Mungkin kalau istri Pono tidak menikah dengannya dan memilih menikah dengan Lurah kampungnya sekarang, cincin itu cukup di jari kelingkingnya. Pono benar-benar bersedih.

“Yah!” panggil Sekar, namun Pono tetap mengayuh sepedanya dan melamun. Sekar yang duduk di atas lincak yang akan dijual oleh Pono di kota jengkel terhadap tabiat ayahnya yang belakangan suka melamun.

“Yah!” Pono tetap melamun. Pono yang membonceng lincak yang ditali di sepeda anginnya seakan sudah lupa dengan keberadaan Sekar yang juga diboncengnya. Sekar tidak berani melepaskan pegangannya kepada lincak, karena dia takut jatuh jadi dia tidak berani menepuk pundak ayahnya.

“Ayaaaaaaah!!!” Sekar berteriak sekeras mungkin seperti kakinya digigit anjing, binatang yang begitu dia takuti. Pengendara di sekelilingnya begitu kaget dan hampir jatuh. Ayah sekar pun juga kaget, untung dia sigap dan tidak kehilangan keseimbangan, jika jatuh di turunan itu bersama Sekar dan lincaknya yang berat bisa panjang masalah.

“Apa toh, Nduk? Jangan bikin kaget gitu toh, nanti kalau jatuh kamu bisa-bisa ndak bisa karate lagi,” kata Pono jengkel

“Ayah itu tak panggil dari tadi tapi malah ngelamun terus, aku gak berani lepas pegangan terus nepuk pundak Ayah, nanti aku gak bisa karate.”

“Tapi kalau kamu teriak kayak gitu sama saja, Nduk. Ayah nanti kaget, jantungen, terus jatuh dan kamu gak bisa karate lagi. Jadi kamu pilih mana?” kata Pono sambil tertawa.

“Aku pilih Ayah jantungen tapi aku tetep bisa karate!” kata Sekar jengkel.

“Ah jangan gitu toh, Nduk, ntar yang ngantar kamu sekolah siapa kalau Ayah jantungen?”

“Eh… aku… udah punya pacar, Yah!” kata Sekar malu-malu.

“Terus kalau punya pacar kenapa?”

“Ya kalau Ayah jantungen aku bisa ke sekolah diantar pacarku!” kata Sekar sambil tertawa.

“Gak boleh gitu, Nduk, selagi kamu belum menikah, yang ngerawat kamu ya Ayah, Nduk, jangan ngerepotin anak orang.”

“Tapi kan Ayah jantungen,” kata Sekar sambil tertawa semakin keras.

“Hus! Kamu itu kok cita-citanya ayahnya jantungen, nanti kejadian beneran gimana?” kata Pono jengkel.

“Ya gak papa, nanti aku kan diantar pacarku! Hahaha ndak, ndak, Yah, kan Ayah tiap hari bawa Sekar sama lincak, jadi Ayah kuat dong, gak bakal jantungen,” kata Sekar.

“Iya, iya. Siapa namanya?”

“Pacarku? Ah, Johan.”

“Kok dia berani sama anak kereng kayak kamu?” Pono menggoda.

“Ih aku itu lemah lembut, Yah, tapi kalo ada yang macem-macem sama aku ya tendang kepalanya,” kata Sekar tertawa, dibarengi tawa Pono juga.

“Dia anak karate juga?”

“Bukan, dia anak Pecinta Alam.”

“Ah, kalau ke pantai ajak mampir ke rumah.”

“Dia gak suka pantai, sukanya gunung.”

“Kalau bukit? Kan rumah kita di bukit.”

“Tapi tetep aja, baunya bau pantai.”

“Yah, ya udah suruh main ke rumah aja, ketemu Ayah sama Ibu.”

“Ya kalau itu dia mau,” kata Sekar yang tersenyum senang.

Pono dan Sekar diam menikmati perjalanan dan matahari yang sudah gagah menampakkan dirinya dengan sempurna. Pono dari rumahnya tidak mengayuh sama sekali karena jalan yang menurun dari rumahnya hingga sekolah Sekar, jadi dia tidak kehabisan tenaga meskipun jalan yang ditempuh berpuluh-puluh kilo. Sekar selalu senang berangkat dengan ayahnya dengan mengendarai sepeda angin yang membawa lincak, teman-temannya memuji kekuatan ayahnya. Teman-teman karatenya bilang kalau ayahnya belajar karate mungkin mereka langsung kalah dalam sekali tendang karena kekuatan kaki ayahnya. Rutinitas ayahnya adalah menjual lincak di kota sampai jam pulang Sekar dan menjemput sekar kemudian pulang meniti jalan menanjak yang begitu berat. Jadi bagaimanapun caranya lincaknya harus terjual agar tidak terlalu berat ketika menanjak ke rumah. Dia pun memilih untuk memberikan lincaknya cuma-cuma jika ketika jam pulang Sekar sudah tiba dan lincaknya belum terjual. Namun sekarang cincin istrinya sudah pindah ke telunjuk, apakah dia akan tetap memberi lincaknya secara cuma-cuma lagi jika dia tidak bisa menjual lincaknya ketika Sekar sudah pulang? Dia berpikir dan melamun lagi.

Ketika sudah sampai sekolah Sekar, Sekar turun dan lega karena akhirnya melepaskan pegangannya. Pono membenahi dasi Sekar seperti biasa, dan dia mengamati lekat-lekat tubuh Sekar. Dia bersedih, ternyata tubuh Sekar juga semakin kurus. Sekar kebingungan dengan ekspresi Pono yang tiba-tiba sedih. “Kenapa, Yah?”

“Ah ndak papa, semangat, ya!” Pono mengulur tangannya untuk disalimi dan dicium oleh Sekar. Sekar kebingungan dengan apa yang terjadi kepada ayahnya, dia merasa tidak biasanya ayahnya sering melamun dan bersedih. Dia mencium tangan ayahnya dengan penuh curiga. Lalu ayahnya memaksakan senyum lalu mengayuh sepeda anginnya yang membawa dirinya dan lincaknya.

“Semangat jualan lincaknya, Yah, semoga laku mahal!” teriak Sekar dengan sekali tarikan napas lalu dia tersengal-sengal.

Pono mengayuh sepedahnya dengan semangat dan tersenyum lebar, dia yakin bahwa dia bisa menjual lincaknya dengan harga yang normal, tidak seperti biasanya yang dijual hanya dengan harga setengah. Dia yakin akan pulang dan bisa menyuruh istrinya berbelanja ke pasar dan makan ikan sapi. Dia yakin bisa bisa membuat Sekar lebih berisi dan menyediakan gizi yang baik untuk mendukung karatenya. Dia yakin akan membuat dapur selalu mengepul tebal asapnya tanpa harus bersusah-susah berkebun dahulu. Dia yakin ketika tetangganya selametan dia bisa menyumbang beras, tepung, dan daging, tidak seperti biasanya dia hanya menyumbang daun pisang dan tenaga istrinya saja. Meskipun istrinya selalu dipercaya semua tetangga untuk membantu tahap ngarep dia tetap tidak puas karena hanya bisa menyumbang daun pisang. Dia yakin bisa bangun dan mendapati istrinya bereksperimen dengan resep-resep makanan yang dia dapat dari tukang sayur. Dia yakin bahwa dia bisa membeli motor dan tidak harus kesusahan mengayuh ketika berjualan lincak dan membonceng Sekar. Dia yakin dia bisa menjadi tempat sambat ketika sanak saudaranya butuh utang. Dia yakin bisa benar-benar dadi wong yang punya wisma, turangga, dan garwa. Yang paling dia yakini adalah bahwa dia bisa mengembalikan cincin istrinya ke jari manisnya. Dia yakin, sangat yakin!

Ketika sudah waktunya pulang, Sekar mendapati ayahnya bersepeda dengan lesu dan lincaknya masih terikat rapat di sepedanya. Sekar memaklumi itu, namun tidak biasanya ayahnya membawanya, biasanya diberi kepada siapa pun dengan cuma-cuma lalu dia baru menjemput Sekar. “Lincaknya ndak laku, kita tunggu di sini sebentar ya, mbok menawa ada yang mau beli.” Pono berkata pada Sekar dan melepas ikatan lincak dari sepeda, menaruhnya, lalu diduduki oleh mereka berdua.

“Kok tumben Yah dibawa?” tanya Sekar. Pono hanya diam dan tidak tahu harus menjawab apa.

“Pacar kamu yang mana?” tanya Pono.

“Sudah pulang, besok dia naik Merbabu, aku mau ikut tapi kayaknya ndak usah, deh.”

“Kenapa?”

“Soalnya, banyak yang harus dibawa.”

“Oh, di rumah ndak ada, ya?”

Ndak ada, harus beli.”

“Ayo nanti sama Ayah ke gunung, tak kasi tahu gimana ke gunung ndak usah bawa tas besar-besar Cuma bawa pisau sama korek dan ubi-ubian, ajak sekalian pacarmu biar dia belajar,” kata Pono agak marah.

Sekar yang menyadari bahwa ayahnya sedang marah tidak menjawab perkataan ayahnya. Namun dia bingung mengapa ayahnya tiba-tiba sering melamun dan marah dengan hal sepele seperti itu. Ketika seperti ini Sekar tidak tahu harus bagaimana, lalu dia memilih diam dan tidak mengganggu ayahnya seperti biasanya yang dia lakukan. Ayahnya hanya diam melihat lalu-lalang kendaraan di depannya. Sekar kaget karena melihat mata ayahnya berair.

“Ayah kenapa?” tanya Sekar.

Pono hanya diam dan tetap melihat lalu-lalang kendaraan di depannya. Dia tidak menoleh kepada Sekar yang khawatir dan berpura-pura melamun dan asyik dengan pikirannya agar dimaklumi oleh Sekar. Pono begitu sedih selama perjalanannya menjual lincak hari ini tidak menemukan satu orang pun yang tertarik, jangankan membeli, tertarik saja tidak. Lincak yang dibuatnya dengan ketulusan bahkan cinta untuk diduduki orang-orang tidak ada yang menerimanya. Dia membuat lincak tanpa menggunakan paku yang merusak tekstur dalam bambu, dia hanya menggunakan tali yang dari kulit rotan untuk menyatukan bambu satu dengan yang lain. Kemiringan lincak juga dibuat senyaman mungkin untuk orang tiduran di sana, dia tidak menambahkan bambu lagi untuk kemiringan lincak agar punggung tidak sakit berlama-lama di sana. Menurut dia lincaknya sangat nyaman dan sangat cocok untuk ditaruh di depan rumah. Ketika dia menawarkan dari rumah ke rumah, dia selalu disuruh “Oh, lincak, nggih? Ke sana aja Pak, di sana ada tiyang sepuh, mungkin butuh lincak.”

Pono kesal, kenapa selalu orang tua yang dikira membutuhkan lincak? Memang apa yang menggantikan lincak? Orang-orang lebih memilih keramik yang keras dan tidak nyaman untuk berlama-lama di sana, lagian keramik dingin membuat masuk angin, pikir Pono. Mengapa harus orang tua? Dia sedih, karena dia merasa memang lincak sudah tidak dibutuhkan, apalagi di kota, bahkan banyak yang baru tahu apa itu lincak. Pono benar-benar kecewa.

“Yah! Ayah jangan sedih.” Sekar memegang tangan Pono, lalu Pono menatap mata Sekar dengan mata penuh air, namun yang menangis malah Sekar. Sekar menangis karena baru pertama kali dia melihat ayahnya bersedih dan dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan ayahnya. Yang dia tahu bahwa ayahnya sedang sedih sekali karena di matanya penuh dengan air dan ditunjukkan kepada Sekar. Ayahnya adalah pria tangguh yang tidak pernah terlihat sedih di depan istrinya atau dirinya. Sekar tahu pasti bahwa ayahnya sedang mengalami kesedihan mendalam dalam perjalanannya menjual lincak.

Di dalam kesedihannya Sekar menyadari kenapa ayahnya tadi marah ketika dia menyinggung tidak jadi ke gunung karena banyak yang harus dibeli. “Maaf, Yah, aku besok tetep ke gunung dan gak bawa tas besar dan hanya bawa pisau dan ubi, aku ajari Johan bahwa aku adalah tukang kebun terhebat di dunia yang bisa memanen kebun yang disediakan Tuhan di gunung,” Kkta Sekar sambil sesenggukan.

“Ah gak usah gitu, lebih baik jangan ke gunung Nduk, di rumah aja,” kata Pono mengelus-ngelus punggung Sekar. Sekar semakin merasa bersalah karena sebenarnya yang sedih adalah ayahnya namun mengapa yang menenangkan malah ayahnya?

Kemudian Sekar menenangkan diri, lalu berdiri dan pergi ke tepi jalan dan berteriak, “Lincak! Lincak! Ayo dibeli lincaknya! Lebih nyaman dari keramik! Murah! Mas lincaknya, Mas?! Buk?! Lincak!” Pengendara kaget dan ada yang hampir jatuh karena teriakan Sekar yang begitu keras. Mereka kebanyakan risih dan malah ingin segera kabur dari wilayah itu.

Pono yang sedari tadi bersedih kemudian tertawa melihat tabiat anaknya. Lalu dia menali kembali lincaknya ke sepeda anginnya, dan mengajak Sekar pulang.

“Tapi lincaknya belum kejual?”

“Kita jual sambil jalan, kamu teriak-teriak kayak gitu tapi sambil jalan. Gimana?” Sekar tersenyum dan mengangguk-angguk sangat setuju dengan usul Pono.

Sepanjang jalan Sekar teriak seperti orang kesurupan, ini tidak hanya membuat risih pengendara di sekitarnya tapi termasuk Pono. Dengan jalan menanjak dan beban yang begitu berat dan ditambah teriakan Sekar yang memekakkan telinga, dia begitu risih dan jengkel. Namun dia tetap mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga dan ingin tahu apakah dengan begini lincaknya bisa terjual.

Namun sampai maghrib lincak Pono tidak terjual, hingga suara Sekar habis dan tidak bisa berteriak lagi. Sehabis shalat di masjid pinggir jalan, Pono kembali mengayuh sepedanya dengan lincak dan Sekar. Pono benar-benar kehabisan tenaga, kakinya serasa mau copot. Tidak biasanya dia membawa beban seberat itu, biasanya hanya beban Sekar saja yang dia tanggung, namun sekarang beban lincak dan lebih-lebih lincak yang masih ada terikat di sepeda anginnya itu membawa beban kekecewaan yang begitu berat, membuat seluruh jiwa Pono ingin pergi dari raganya. Karena mentalnya yang dirundung kekecewaan yang begitu dalam dan beban yang begitu berat dia memutuskan untuk berhenti dan menyuruh Sekar yang kebingungan turun, kemudian menurunkan lincak dan tiduran di sana. Dia menyuruh Sekar untuk tiduran juga di sebelahnya. Sekar menurut. Di jalan yang kanan kirinya sawah sejauh mata memandang itu langitnya penuh dengan gemintang tanpa awan yang menghalangi. Di langit yang bersih tanpa awan ini sangat mudah menemui bintang jatuh.

“Kenapa bintang jatuh?” tanya Pono.

“Itu bukan bintang, tapi asteroid,” Jjwab Sekar.

“Bintang gak bisa jatuh?”

“Gak bisa, tapi meledak.”

“Kita bisa kena ndak?”

“Gak bisa, soalnya jauh, saking jauhnya, kita bisa melihat bintang yang sudah meledak berjuta-juta tahun yang lalu bercahaya.”

“Kok bisa?”

“Karena cahaya bintang yang berjuta-juta tahun yang lalu baru nyampek ke bumi, saking jauhnya.”

“Tau dari sekolah?”

“Emang udah paham?”

“Belum.” Pono tertawa “Tau dari sekolah?”

“Enggak, dari Johan.”

“Ohh, disekolah dapat apa?”

“Dapat stres.”

“Kenapa masih sekolah?”

“Biar stress.” Sekar tertawa, Pono pun tertawa.

“Kita tidur disini aja, ya. Ayah bawa sarung, kita pake berdua buat selimut.”

“Ibu ndak nyari?”

“Nyari.”

“Terus kenapa ndak pulang?” Sekar bertanya kepada Pono yang diam sesaat.

“Malu.”

“Kenapa?”

“Soalnya lincaknya belum kejual.”

“Dulu gak malu?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena cincin Ibu masih di jari manis.”

“Ya udah tidur di sini aja.”

“Kamu malu juga?”

“Iya, soalnya tadi gak bisa bantuin,” jawab Sekar, lalu Pono tertawa disusul tawa Sekar.

Pono memakaikan sarung kepada Sekar dan kepada dirinya, Sekar kemudian memunggungi ayahnya, dan Pono memeluk Sekar dari belakang. Mereka sama-sama memikirkan kekhawatiran ibu Sekar yang menunggu di rumah. Mereka membayangkan dia yang berjalan mondar-mandir di depan meja makan yang di atasnya sudah ada sayur daun pepaya dan kentang. Mereka membayangkan dia yang bolak-balik ke depan rumah untuk melihat di belokan apakah suaminya datang. Mereka kemudian sama-sama menangis karena memikirkan ibu Sekar.

Tiba-tiba ada suara motor yang mereka kenal, suara motor pak Lurah. Mereka bangun dan melihat pak Lurah membonceng ibu Sekar yang begitu khawatir. Ketika sampai di hadapan Pono dan Sekar dia tidak sempat berterima kasih dan langsung ambyar seluruh kesedihannya. Dia menanyakan mereka ke mana saja, mengapa masih di sini, dan kenapa lincaknya masih dibawa. Namun sepertinya dia tidak memerlukan jawaban dan langsung memeluk Sekar. Pono bilang kepada pak Lurah maaf merepotkan dan berterima kasih. Pak Lurah menawarkan mengantar pulang Sekar namun Sekar tidak mau karena itu akan menyakiti hati ayahnya karena merepotkan orang lain selagi ayahnya bisa. Lalu pak Lurah pulang.

“Kenapa kok masih di sini?” tanya ibu Sekar. Sekar dan Pono pun tidak bisa menjawab karena malu. Namun ibu Sekar juga tidak memburu. Dia duduk dan membuka sarung Pono untuk dirinya masuk ke dalam sarung itu. Mereka bertiga terikat sarung itu. Kemudian mereka berbaring, Sekar memunggungi ayahnya yang memeluknya dan menghadap ibunya yang juga memeluknya. Mereka bertiga tidak berbicara dan hanya tersenyum merasakan kehangatan di tengah-tengah kedinginan malam.

“Kalau ndak jualan lincak, kira-kira ayah ngapain, ya?” tanya Pono.

Achmad Sulchan An Nauri
Latest posts by Achmad Sulchan An Nauri (see all)

Comments

  1. Fauziah Reply

    Keren. Simpel tapi sukses bikin hati hangat.

    • Novita Sari Reply

      Mantap. Cukup membuat hati teraduk-aduk.

      • Dfh lathif Reply

        Ringan. Like it

  2. Sisi Reply

    ahh hmm haru

  3. Ilham Ramdani Reply

    Sumpah akhirnya ngena banget….

  4. onny chan Reply

    Sangat menyentuh. Pengorbanan sang Ayah untuk membahagiakan keluarga.

  5. Indarka Reply

    Terenyuh. Tapi iwak sapi (Jawa), di-Indonesiakan bukan ikan sapi juga dong. Wkwk.

  6. Manusia di Bumi Reply

    Keren

  7. R. Mesha Tambunan Reply

    sebuah kisah yang mengharukan

  8. Intan Reply

    Terharu sekali bacanyaa :”) sederhana tapi bagus bangeettt!!! Kerennn

  9. Juni Reply

    Lincak itu apa ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.