Lusifer! Lusifer!: Upaya Menjadi Segar dan Memikat dalam Kabut Klise

Deskripsi Buku
Judul: Lusifer! Lusifer!
Penyunting: Teddy W. Kusuma, Et.al
Penulis : Venerdi Handoyo
Penerbit : POST Press
Tebal : xii + 126 Halaman

/1/
Setiap membaca sastra dengan literatur agama nonislam, saya selalu merasa berjarak. Hal itu pertama kali saya alami ketika membaca kumpulan puisi Ekarisi karya Mario F. Lawi—bertahun-tahun lalu. Hal ini sederhana saja, kami (saya dan Mario) tentu punya pengetahuan yang berbeda, dan keberjarakan itu sedikit menjadi soal, karena membuat saya harus bolak-balik kamus untuk mengetahui pelbagai istilah dan mengetahui apa yang ingin ditulis Mario—ini baik tentu, tapi pada beberapa kasus, pembaca yang malas hanya akan sampai menjadikan ini soal saja, sebatas itu.

Dan meskipun saya sudah melakukan hal yang selanjutnya itu—membuka kamus dan semacamnya—saya tetap tak bisa mengingatnya dengan baik dan selalu merasa berjarak ketika menemui hal serupa, yang dalam hal ini kembali saya rasakan ketika membaca novel Lusifer! Lusifer! karya Venerdi Handoyo.
Bagaimana tidak, sejak bab pertama saya sudah dijejalkan bahasa roh dalam tradisi katolik (seperti “Hirrriaaakaratatatatatata!”), istilah Diaken—yang awalnya saya duga sebagai nama tokoh—hingga nama roh jahat seperti Akatharton (pengecualian untuk Legiun dan Lusifer).

Tapi anggapan berjarak itu nyatanya benar-benar keliru dan terlalu sembrono dari saya sebagai penilaian awal untuk novel Lusifer! Lusifer! ini. Alasannya sederhana saja, pembacaan saya baru sampai bab pertama dan jauh dari selesai.

Saat menyelesaikannya, perasaan asing dan berjarak itu seketika sirna. Ada beberapa kejadian dan peristiwa dalam novel ini yang—meskipun dari agama Katolik—ternyata memiliki kesamaan dengan literatur Islam (sedikit contoh, kau, sebagai pembaca, akan dipertemukan dengan konsep rukiah dalam literatur Katolik dalam novel ini). Berapa pertanyaan yang membuat saya merasa berjarak juga terjawab di sepanjang pembacaan saa atas novel. Yang mungkin masih mengganjal mungkin soal bahasa roh, saya tidak tahu apakah penulisnya juga mengetahui makna atau arti dari bahasa tersebut, atau hanya menulis dari apa yang ia dengar saja. Tapi sejujurnya—baik diketahui atau tidak—hal ini sama sekali tidak berpengaruh dan tidak mengganggu isi cerita.

Saya menangkapnya ini memang siasat saja, atau semacam olok-olok. Begini, dalam Islam, saya sering kali mendengar orang-orang membaca dan melafalkan sesuatu (baca: al-Qur’an) yang tidak mereka mengerti maknanya. Hanya sekadar bisa baca atau baca saja. Dan bagi saya itu cukup lucu, dan itu juga yang saya lihat sebagai humor dalam novel ini.

/2/
Novel Lusifer! Lusifer! ini sebenarnya memiliki premis yang sederhana, atau bahkan bisa dikatakan basi, apabila. Ya, apabila ditulis dengan sudut pandang Islam. Basi yang saya maksud adalah begini, kau sebagai pembaca tentu pernah menonton acara televisi dan semacamnya yang menggambarkan peristiwa orang kerasukan roh (baik betulan maupun bohongan) dan berusaha disembuhkan oleh ahli agama. Kisah ini basi betul, tentu. Apalagi sudah banyak program televisi semacam ini.

Lalu, kita pun rasa-rasanya sudah sering melihat sekelompok orang yang memilih melepaskan akal sehatnya hanya karena kepercayaannya yang berlebih karena agama. Ini juga biasa, bahkan cenderung klise. Meskipun dalam konteks di negara kita hari ini tetap relevan—karena memang, mabuk yang membuat seseorang tidak merasa mabuk hanyalah mabuk agama, dan ini bisa relevan sepanjang zaman.

Dan hal-hal biasa dan basi yang saya sebutkan barusan itu, nyatanya berhasil diramu Venerdi menjadi suatu yang lebih segar dalam novelnya berkat beberapa hal: (1) Alur cerita, (2) Pemilihan sudut pandang pertama dengan tokoh yang polos, dan (3) Penggunaan literatur Katolik.

/3/
A.S. Laksana pernah menulis begini, “[…] Baca paragraf pertama dan segera ambil keputusan. Jika paragraf pertamanya buruk, yakinlah bahwa cerita itu tidak memiliki kemungkinan bagus. Paragraf pertama yang buruk mengandung makna bahwa si pengarang tidak tahu bagaimana penulis bagus bekerja.” Ia meyakini betul bahwa karya (yang dalam konteks cerita pendek) harus memiliki kekuatan pada paragraf pertama. Dan hal itulah yang saya lakukan ketika membaca prosa (khususnya cerpen dan juga novel), namun untuk novel, yang menjadi pertaruhan menurut saya ada di bab pertama atau bagian awal.

Bagian awal Lusifer!, seperti yang saya bilang di awal, cukup membuat saya merasa asing, namun ia juga membuat saya penasaran. Tentang rasa penasaran ini, berikut contohnya:

“Malam itu banyak hal yang tak semestinya terjadi, tapi apa boleh buat, semua sudah terlanjur. […] Saya menjadi satu dari empat belas orang yang memanjatkan lagu-lagu pujian dan penyembahan kepada jendral kami, Yesus Kristus. Kami berancang-ancang melancarkan ritual penolakan terhadap Lusifer, musuh bebuyutan-Nya. Orang-orang ini meyakini Lusifer sedang bersemayam dalam tubuh Mawarsaron yang usianya baru enam belas tahun ini.” (hlm. 2)

Dan ini,

“Tampaknya peperangan di alam roh sudah tidak terbendung lagi. Tiga belas pendoa menantang semua pasukan kegelapan dan penghulu iblis karena tahu pasti tuhan ada di pihak mereka. Tiga belas pendoa ditambah saya yang berpura-pura.” (hlm. 7)

Dua hal yang mengandung bocoran soal bagaimana kisah ini akan bergulir memang tepat. Ritual menolak Lusifer serta keragu-raguan tokoh utama membuat saya penasaran. Pertama, mengapa tokoh Saya—sebagai salah satu dari empat belas pengusir iblis—begitu tergesa-gesa. Dan bagaimana proses ritual pengusiran iblis dari sudut pandang Katolik berlangsung.

Kekuatan lain Lusifer! Lusifer! adalah dengan memakai formula open ending yang membuat pembaca akan didedahkan beberapa peristiwa yang akan terjadi akhir pada bagian awal. Sebetulnya penulis bisa saja menjadikan bagian awalnya ini (maksud saya, bab 1: Pelepasan Mawarsaron) menjadi satu bab sebelum bab akhir jika ingin membuat alurnya lempeng-lempeng saja, tapi ia tidak melakukannya dan itu adalah keputusan yang tepat. Lagipula alur yang dipilih dalam Lusifer! Lusifer! memang menjadi kekuatan dan daya tarik dari novel ini untuk dibaca sampai habis (bahkan dalam sekali duduk). Selain itu, teknik foreshadowing (bocoran-bocoran kisah tentang apa yang akan terjadi kemudian) yang dijejalkan sepanjang kisah juga menjadi pas, apalagi bagi pembaca (prosa khususnya) yang butuh alasan untuk menamatkan bacaannya dan tidak lari ke lain buku.

Soal pemilihan sosok yang polos juga memiliki peran krusial, pembaca akan diberikan pandangan yang lugu ketika tokoh Saya/Markus Yonatan harus berhadapan dengan peristiwa-peristiwa ia menuju saleh, hingga sampai pada klimaks di akhir kisah. Yang pada puncaknya tergambar dalam dialog antara Markus dan Lukas pada paragraf ini:

“Aku sudah tidak mengerti lagi konsep dosa, Lukas. Aku tidak akan memungut batu untuk merajammu. Aku tidak akan memungut batu untuk merajam siapa-siapa.”

“Apa yang akan terjadi dengan kamu?”
“Apakah saya sanggup menghadapi Matius Abraham lagi? Apakah saya sanggup memandang Diaken Yesaya Metuselah, Diaken Paulus Yerikho dan Istri, Martha Elizabeth, Sarah Magdalena […] dan yang lain-lainnya dengan pandangan hormat seperti dulu? Apakah saya sanggup menuntut mereka bertanggung jawab atas bayi yang tidak jadi itu?” (hlm. 124-125)

Pertanyaan berikut adalah puncak dari pergulatan yang dialami Markus sepanjang kisah, sejak ia mengaku belum terlahir kembali—belum mengimani Yesus Kristus dengan penuh keyakinan—hingga ia menjadi kakak rohani untuk jemaat Kristus Efesia dan dipercaya sebagai pengurus gereja.

/4/
Melihat konteks Indonesia hari ini, di tengah situasi membusuknya akal sehat dan percaya berlebihan terhadap hoaks dengan bumbu agama, novel Lusifer! Lusifer! ini menjadi sangat relevan. Ketidakpercaan tokoh Saya/Markus terhadap para petinggi agamanya yang kelewat fanatis dengan mengganggap sosok iblis dari segala iblis tengah bersemayam di dalam tubuh Mawarsaron adalah respons dari penulis sebagai masyarakat yang sadar, bahwa banyak manusia lain yang karena doktrin agama tertentu, menjadi tidak rasional dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya—dan tentu saja, ngawur.

Dan meskipun novel ini bertendensi ke arah sana, penulis sama sekali tidak menampilkan sosoknya sebagai pendakwah yang agung—baik dalam dialog ataupun deskripsi—dan tidak membuat novel ini seperti buku ceramah yang membuat pembacanya seolah sedang berada dalam kelas kebajikan. Novel ini sudah beul-betul keluar dari kabut klise itu, ia menyerahkan urusan hitam putih itu kepada pembaca.

Terakhir, novel Lusifer! Lusifer! ini memang digarap dengan cermat—terlebih soal pemilihan sudut pandang dan penokohan—, selain itu saya hampir tidak melihat salah ketik, logika cerita yang keliru atau penulis yang keasyikan menceritakan hal di luar konteks. Dan bagi saya, Lusifer! Lusifer! ini berhasil mendedahkan sesuatu yang rawan sekali menjadi klise dengan segar dan memikat dari bagian awal, dan tidak kehilangan momentumnya hingga akhir. Begitu.

Doni Ahmadi

Lahir dan tinggal di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Mengelola Penerbit Anagram bersama beberapa temannya. Bukunya, Pengarang Dodit (Basabasi. 2019)

Latest posts by Doni Ahmadi (see all)

Comments

  1. Ekos Reply

    Luar biasa!!

  2. Pengamat setia basabasi kuy Reply

    Apa ada buku tandingannya dalam agama islam atau agama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.