Makna

in Tajalli by
dushunce.az

Makna adalah kebalikan dari bentuk. Jika bentuk merupakan dimensi lahiriah dan terluar dari segala sesuatu, maka makna merupakan dimensi batiniah dan terdalam yang dikandung oleh segala sesuatu tersebut. Dan jika bentuk itu begitu wadag, maka makna merupakan nilai yang sedemikian lentur dan luas tak terkira.

Makna memberikan arti pada bentuk. Sedang bentuk merealisasikan makna. Yang satu menjadi penopang bagi yang lain. Baik makna maupun bentuk sama-sama tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Keduanya tidaklah terpisahkan. Juga tak akan pernah terpisahkan. Ibarat dua sisi dari gobang yang tunggal. Atau seperti jasmani dan rohani manusia.

Secara empiris, dunia ini hanyalah merupakan himpunan dari bentuk-bentuk semata. Kita tidak boleh hanya tertegun dan terpukau kepada warna-warni dimensi permukaan itu. Sebab, kalau demikian hidup kita akan hampa, jauh dari cahaya rohani yang merupakan pemandu terbaik kita, jauh dari substansi kehidupan yang semestinya kita dapatkan.

“Dunia adalah busa bagi lautan,” tulis Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) di dalam salah satu puisinya. “Jika engkau orang yang bersih, seberangilah busa!” Dalam konteks puisi ini, dunia lahiriah itu ditamsilkan sebagai tumpukan busa yang terombang-ambing di permukaan. Tak lebih dari itu.

Busa itu centang perenang. Juga kotor. Demikianlah kita mesti memandang dunia yang profan dan fana ini. Agar hati kita tidak gandrung kepadanya. Agar jiwa kita tak termakan oleh pukauannya. Bahkan malah sebaliknya. Yaitu, kita mesti menyeberanginya agar sampai kepada genangan makna yang disimbolkan dengan lautan.

Betapa sangat luas dan dalamnya makna segala sesuatu itu. Bertingkat-tingkat. Dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Dan puncak dari makna itu tidak lain adalah Allah Ta’ala itu sendiri. Sebab, dari manakah bentuk-bentuk itu muncul kalau tidak dari rupa-rupa azali yang terkandung rapi di dalam hadiratNya? Tidak ada asal-usul yang lain bagi bentuk-bentuk itu. Juga tidak ada tempat kembali yang lain kecuali Dia jua.

Bentuk-bentuk itu akan berangsur-angsur menjadi beku dan layu. Lisut dan susut oleh perjalanan dan perputaran sang waktu. Menjadi musnah karena digerus oleh gerigi usia. Sedang makna akan senantiasa bertahta di atas singgasana kemuliaannya. Menunggu dengan setia siapa pun yang datang kepadanya. Menjadi rute-rute yang gamblang yang berujung pada “alamat” Allah Ta’ala.

Kita mesti berikhtiar dengan segenap kesungguhan dan ketulusan untuk menjadikan hati dan jiwa kita bersih. Bersih dari apa? Tak lain dari debu-debu dan kotoran hasrat kepada apa pun yang selain hadiratNya. Baik yang tergelar di dunia ini maupun yang terbentang di akhirat nanti. Sebab, hanya dengan kesucian itu kita bisa menyeberangi hamparan dan tumpukan busa dunia ini. Tanpa terjerat, tanpa tergoda dan tanpa terborgol oleh rayuan-rayuan kefanaan semesta yang teramat temporal ini. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.