Malam 5

Goumbik

Allah Ta’ala bersumpah dengan dua makhlukNya yang berlawanan sekaligus: dengan malam dan dengan siang sebagaimana termaktub pada ayat satu dan dua surat Al-Layl. Ada apa gerangan, sampai Dia bersumpah dengan keduanya?

Ketahuilah bahwa baik malam yang merupakan simbol nafsu ammarah maupun siang yang menjadi lambang bagi kecemerlangan roh sama-sama punya potensi untuk saling menyingkirkan di antara yang satu dengan yang lain.

Ketika nafsu ammarah berkuasa dalam diri seseorang, wajah nasibnya akan serupa malam yang kelam. Mencekam. Tidak ada kepastian selain kegelapan itu sendiri. Sedang di saat roh yang bertahta, nasibnya akan menjadi terang-benderang dan dia akan dilingkupi kebahagiaan.

Tapi inilah anehnya: walaupun nafsu ammarah itu berseberangan dengan roh, ketika makhluk yang tengik itu telah ditekuk, dikalahkan dan ditundukkan, ia tidak menyimpan bara dendam terhadap bayang-bayang Tuhan tersebut. Ia akan dengan sepenuh hati menikmati kepatuhan sebagaimana dulu mengunyah berbagai macam keburukan. Kini, rasa lidahnya menjadi mirip dengan rasa lidah roh.

Di samping berseberangan, kedua makhluk itu secara hakiki sesungguhnya merupakan “pasangan” yang sama-sama produktif. Keduanya merupakan “sepasang suami-istri” yang secara spiritual bisa sangat mengagumkan. Roh semestinya yang menjadi suami. Sementara nafsu ammarah tidak boleh tidak harus menjadi istri. Tidak boleh ditukar atau dibalik. Alasannya jelas: kalau sampai posisi itu terbalik, maka dapat dipastikan bahwa rumah tangga itu akan berproses tidak dalam rangka menuju kedamaian surgawi, melainkan akan terus berjalan menuju kengerian jurang neraka.

Sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya, pasangan roh dan nafsu ammarah itu juga memiliki anak, satu dan semata wayang. Dan si anak itu tak lain adalah hati. Hati yang selalu berbolak-balik. Kadang baik. Kadang juga buruk. Tergantung, dipengaruhi oleh sang ayah atau sang ibu. Sang ayah itulah yang semestinya berpengaruh pada si anak.

Menurut Syaikh Muhyiddin ibn ‘Arabi (1165-1240) di dalam kitab tafsirnya, ketika rumah tangga itu harmonis dan bernuansa Ilahi karena dipandu oleh sang ayah, maka si anak akan memiliki dua pintu yang sama-sama mengagumkan. Pertama, pintu yang menghadap ke atas yang tertuju ke arah roh. Melalui pintu ini, hati seseorang bisa menggapai makrifat dan hakikat. Makrifat adalah mengenal Allah Ta’ala lewat perjumpaan dengan segala sesuatu. Hakikat adalah kehadiranNya pada segala sesuatu.

Kedua, pintu yang menghadap ke bawah yang tertuju ke arah nafsu yang telah sanggup menampung rahasia-rahasia Ilahi. Di situ, makna transendental segala sesuatu bersemayam. Betapa sangat indah dan sakral model rumah tangga seperti itu.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.