Manusia, Alam dan Tuhan dalam Pikiran Spinoza

in Rehal by

Judul               : Spinoza

Penulis             : Gilles Deleuze

Penerjemah      : Dedeh SH

Penerbit           : Basabasi

Tahun Terbit    : Mei 2018

Tebal               : 260 Halaman

ISBN               : 978-602-5783-07-4

Spinoza sebagaimana diakui Robert Hurley, seorang penerjemah yang telah mengalihbahasakan karya beberapa filsuf Prancis terkemuka ke dalam bahasa Inggris, seperti Michel Foucault, Gilles Deleuze, dan George Bataille. Pemikiran Spinoza, faktanya memang sulit dimengerti. Terlebih buku ini adalah buku yang sulit dipelajari. Akan tetapi, kita terbantu dengan aturan main: kita tidak harus mengikuti semua proposisi dan menghubungkan segalanya-pembacaan intuitif atau afektif bisa jadi lebih praktis.

Oleh karenanya, pendekatan lain dilakukan Deleuze. Ia serupa menerima undangan dari semua tulisan Spinoza—dengan segenap dirinya—dan membacanya dengan sikap berbeda, yang mungkin lebih menyerupai cara membaca puisi. Maka kesulitan tidak akan menghalangi kilatan pemahaman yang kita harapkan dari para penyair yang kita cintai, meski mungkin akan sulit.

Hal yang sungguh luar biasa dari Deleuze adalah kualitas cinta yang diekspresikan di dalam pemikirannya, yang hadir dalam semua tulisannya. Bicara tentang prinsip Spinoza, amor intelectualis Dei—cinta intelektual kepada Tuhan—Arne Naess mengatakan, hal itu “menunjukkan tindakan untuk memahami yang dilakukan dengan perspektif maksimum yang mungkin.” Sebagaimana kita melihatnya hanya seperti sebuah karya yang menunggu pembaca. Deleuze telah membawa Spinoza ke tingkat yang maksimal.

***

Baruch Spinoza lahir pada 1632 dari keluarga Yahudi yang bermukim di Amsterdam, Belanda. Ia lahir dari keluarga saudagar kaya keturunan Spanyol atau Portugis. Di sekolah Yahudi ia belajar teologi dan perdagangan. Sejak usia 13 tahun ia bekerja di firma ayahnya sembari melanjutkan sekolah. (hlm. 17) Ketika ayahnya meninggal pada 1654, ia mengelola firma ini bersama saudara laki-lakinya hingga tahun 1656.

Pada Februari 1677, Spinoza meninggal dunia. Kemungkinan disebabkan penyakit paru-parunya. Kematiannya disaksikan sahabatnya, Meyer, yang lantas mengambilalih kepemilikan naskah-naskah tulisannya. Akhir 1677, Opera Posthuma diterbitkan, didanai seorang penyandang dana anonim. (hlm. 30)

Kehidupan sederhana tanpa harta dan digerogoti penyakit, tubuh kurus dan rapuh, wajah oval dan pucat dengan mata berkilauan, semuanya itu diliputi oleh Kehidupan dan mempunyai kekuatan yang identik dengan Kehidupan. Dalam seluruh cara hidup dan berpikirnya, Spinoza memproyeksikan sebuah gambaran kehidupan banyak orang. Selain puas dengan kehidupan semu, manusia juga merasakan kebencian, mereka pun merasa malu karena hal itu.

Manusia cenderung melakukan penghancuran diri, mengultuskan kematian. Menyebabkan bersatunya tiran dan budak, pendeta, jaksa, dan tentara selalu sibuk menjalankan kehidupan menuju kehancuran, merusak, dan membunuh secara langsung atau perlahan, mencekik dengan segala peraturan, kepemilikan, kewajiban, dan imperium. Inilah diagnosa Spinoza atas dunia, ia menemukan adanya pengkhianatan atas alam dan umat manusia. Penulis biografinya, Johannes Colerus, mengatakan bahwa Spinoza gemar melihat laba-laba bertarung.

“Ia mencari beberapa laba-laba dan mengadunya, atau melempar beberapa lalat ke jaring laba-laba dan menikmati pertarungan mereka, sampai-sampai tawanya pecah.”

Paling tidak, hewan mengajari kita tentang karakter kematian yang tak bisa dihindari. Mereka tidak membawa karakter tersebut di dalam dirinya, meski mereka memberikannya kepada sesamanya ketika diperlukan: sebuah perjumpaan dengan hal buruk yang tak bisa dihindari dalam urusan eksistensi alam.

***

Bagi Spinoza, tubuh dan pikiran bukan substansi atau subjek, melainkan mode. Bagaimanapun, tidak akan cukup hanya meninjau hal ini secara teoretis. Sebab, secara konkret, mode merupakan suatu relasi kompleks dari kecepatan dan kelambatan di dalam tubuh dan juga di dalam pikiran, dan ia merupakan kapasitas untuk memengaruhi atau dipengaruhi, yang berkaitan dengan tubuh atau pemikiran.

Secara konkret, jika kita mendefinisikan tubuh dan pemikiran sebagai kapasitas untuk memengaruhi dan dipengaruhi, banyak hal akan berubah. Kita akan mendefinisikan hewan, atau manusia, bukan melalui bentuknya atau organ-organnya, dan juga bukan sebagai subjek. Kita akan mendefinisikannya melalui afek-afek yang ia mampu. (hlm. 241-242)

Kapasitas afektif, dengan ambang batas maksimum dan minimum, merupakan gagasan yang mapan dalam konsep pemikiran Spinoza. Ambil contoh hewan apa pun dan buatlah daftar afek-afeknya dalam susunan bebas. Anak-anak pun tahu bagaimana melakukannya. Hans kecil, dalam kasus yang dilaporkan Freud, membuat daftar afek-afek pada kuda beban yang menarik kereta di dalam kota—bangga, memiliki penghalang mata, berjalan cepat, menarik beban berat, jatuh, dicambuk, menyepak-nyepak dengan bising, dan lain-lain.

Sebagai contoh, ada perbedaan yang lebih besar antara kuda bajak atau kuda beban dan kuda pacu dibandingkan antara lembu dan kuda bajak. Sebab, kuda pacu dan kuda bajak tidak memiliki afek-afek yang sama, juga tidak memiliki kapasitas yang sama untuk dipengaruhi. Kuda bajak lebih memiliki kesamaan afek-afek dengan lembu.

Dapat disimpulkan, tataran imanensi, tataran alam yang mendistribusikan afek-afek, tidak menghasilkan perbedaan apa pun sama sekali antara hal-hal yang bisa disebut natural (alami) dan hal-hal yang bisa disebut artifisial (buatan). Alat atau sarana pintar sepenuhnya adalah bagian dari alam, karena segala hal pada tataran imanen alam didefinisikan susunan gerak-gerak dan afek-afek yang ia masuki, entah susunan ini artifisial maupun alami.

Lama setelah kematian Spinoza, para biolog dan naturalis mencoba menjelaskan dunia hewan yang didefinisikan oleh afek dan kapasitas untuk memengaruhi dan dipengaruhi. Misalnya, J. von Uexkull melakukan ini pada kutu, hewan yang mengisap darah mamalia. Ia mendefinisikan hewan ini melalui tiga afek: berkaitan dengan cahaya (kutu mendaki ke puncak dahan); berkaitan dengan olfaktori atau daya penciuman (perhatikan mamalia yang berjalan di bawah dahan pohon itu); berkaitan dengan panas (perhatikan area yang tidak berbulu pada mamalia itu, yang merupakan titik paling hangat).

Sebuah dunia dengan hanya tiga afek, di tengah semua yang berlangsung di suatu hutan besar. Ambang batas optimal (terbaik) dan pessimal (terburuk) dalam kapasitas untuk dipengaruhi: kutu rakus yang akan mati, dan kutu yang bisa berpuasa untuk waktu lama. Uexkull, salah seorang penemu utama etologi, merupakan seorang Spinozis ketika pertama kali ia mendefinisikan baris-baris melodi atau relasi-relasi contrapuntal (berkenaan dengan konter-poin) yang sesuai untuk setiap entitas, lalu menjelaskan sebuah simfoni sebagai kesatuan imanen yang lebih tinggi, yang memiliki keluasan dan kepenuhan (‘komposisi alami’). Komposisi musikal ini menjadi salah satu faktor dalam keseluruhan Ethics, menjadi bagiannya sebagai individu sama yang relasi-relasi kecepatan dan kelambatannya tidak berhenti berubah, secara suksesi dan simultan.

Singkatnya, jika kita adalah Spinozis, kita tidak akan mendefinisikan sesuatu melalui bentuknya, tidak melalui organ-organ dan fungsi-fungsinya, juga bukan sebagai substansi atau subjek. Meminjam istilah dari abad pertengahan, atau dari bidang geografi, kita akan mendefinisikannya dengan longitude (garis lintang) dan latitude (garis bujur). Tubuh bisa berbentuk apa pun, ia bisa saja seekor hewan, suatu badan suara, pikiran atau ide, ia juga bisa berupa korpus linguistik, badan sosial, atau suatu kolektivitas. (hlm. 249)

Kita menyebut longitude pada suatu tubuh sebagai rangkaian relasi-relasi kecepatan dan kelambatan, relasi-relasi gerak dan diam, antara partikel-pertikel yang menyusunnya dari sudut pandang ini, yaitu antara elemen-elemen yang belum berbentuk (unformed elements). Kita menyebut latitude sebagai rangkaian afek-afek yang menempati suatu tubuh pada setiap saat, yaitu keadaan-keadaan intensif dari suatu kekuatan anonim-kekuatan untuk eksis, kapasitas untuk dipengaruhi. Dengan cara ini, kita mengonstruk peta tubuh. Longitude dan latitude bersama-sama menyusun alam, tataran imanensi atau konsistensi, yang selalu berubah dan diubah secara tetap, disusun dan disusun ulang oleh individu dan kolektif.

***

Buku ini membahas bentuk yang sangat dekat dan familier bagi kita, yakni manusia. Spinoza membicarakan berbagai hal yang mendahului bentuk tadi, dan Nietzsche menjelaskan berbagai hal yang melampaui bentuk itu, persamaan keduanya, terletak pada filsafat kekuatan atau kuasa yang menyusun bentuk-bentuk itu. Sejak awal, buku ini provokatif, menyebut Friedrich Nietzsche sebagai kata pembuka di bagian pertama.

Kita tahu, Nietzsche diasosiasikan dengan kematian bentuk Tuhan. Namun, Deleuze menunjukkan usai Feuerbach, kematian Tuhan bisa dianggap diterima begitu saja. Dan, Nietzsche lebih peduli terhadap pengganti Tuhan, yakni manusia. Dari kasus ini, bisa memunculkan perspektif bahwa membaca ke belakang dari Nietzsche ke Spinoza melalui konsep tentang manusia dan Tuhan dinaturalisasi, atau membaca ke depan dari Spinoza ke Nietzsche melalui konsep tentang manusia dan manusia super (overman) dinaturalisasi-kekuatan-kekuatan yang dibangunnya tidak memerlukan acuan manusia.

Deleuze, pada akhirnya hendak menawarkan sebuah model untuk kasus ini. Menurutnya, unit pemahaman bukanlah bentuk, fungsi, atau organisme, melainkan komposisi relasi-relasi afektif di antara individu, bersama dengan “tataran konsistensi” tempat mereka berinteraksi-yang menjadi “lingkungan” mereka. Di dalam konsepsi ini, sejumlah gagasan yang lebih netral, seperti lingkungan dan individu, dihidupkan kembali. Selamat menyelami pemikiran Spinozis!

Fatoni Prabowo Habibi

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Pekalongan dan Berkhidmat di Lopis Institute.

Latest posts by Fatoni Prabowo Habibi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.