Maracahaya

Aku yang ringan, getas, dan masih hijau, berada di antara keluarga kecil itu; ayah, ibu, dan tiga anak perempuan. Sehari-harinya sang ayah menggarap kebun di samping pekarangan, sementara istrinya menjahit dan memasak. Ketiga putri mereka masih kecil-kecil: Dinda, 8 tahun; Dkayla yang lahir setahun lebih telat; dan Dmaura yang baru 3 tahun. 

Tiap pagi: selesai Subuh, mengaji, dan mandi, ketiga gadis kecil itu bermain di halaman yang luas dan rindang oleh ketapang yang tidak dipangkas pucuknya, sawo yang lebat, dan srikaya yang sedang belajar berbuah. Sementara ayahnya, selesai mencabut gulma di halaman yang dijalari rumput kuda, akan memeriksa kangkung, kacang panjang, terong, cabai, cong, kesek, atau labu di kebun; sekiranya ada yang sudah bisa dipetik untuk dimasak istrinya menjadi menu makan siang. Karena rutinitas itu pula, ia menunda mandi hingga waktu sarapan tiba.

Pukul tujuh, selalu begitu, istrinya memanggil Dinda agar menyusulnya di kebun karena sarapan akan segera terhidang di beranda. Itu artinya, waktu mandinya sudah tiba. Waktu sarapan, makan siang, atau makan malam, selalu diperlakukan keluarga itu layaknya jadwal salat: harus bersama, wajib berjemaah.

Selesai sarapan, sang istri dan ketiga putri mereka bergegas mengambil wudu dan bergabung dengan sang ayah yang sudah membentang sajadah di kamarnya yang lapang, yang dindingnya penuh rak-rak padat buku, dengan sebuah meja dan laptop selalu terbuka di atasnya, menghadap jendela yang menghadiahi pemandangan halaman mereka yang hijau.

Di pagi yang masih muda seperti inilah, waktu paling mewah bagi mereka: semua membaca buku dengan ubi rebus atau selong goreng atau godo pisang sebagai kudapan. Selanjutnya, Zuhur hingga malam tiba, kesahajaan itu berputar, seperti sedia kala, sebagaimana sunnatullah: mengaji, berkebun, bermain, memasak, membaca buku dan menulis cerita  untuk media massa, menjamu kedatangan malaikat (ya, malaikat!) dengan wajah semringah ….

Pemandangan itu akan mengabur dan hilang ditelan sinar matahari begitu pagi merekah. O, alangkah kurang ajarnya bunga tidur! Pasangan suami-istri itu berangkulan. Dalam sedih yang menggelayut. Dalam muram yang tak terkatakan. Hampir delapan tahun (ya, hampir delapan tahun) mereka dibekap kemurungan dan hanya mimpi indah tentang keluarga bahagia yang kuasa menggembirai jiwa. Mereka kini merasakan: betapa jabatan dan kekayaan tanpa bulan purnama di dalam rumah adalah kehampaan.

Dan aku—daun yang ringan, getas, dan masih hijau—yang tumbuh dari tubuh pohonku di sudut halaman, dengan dahan menjorok ke halaman yang dililiti tali ayunan, tempat ketiga putri mereka bermain ‘tika pagi atau sore, selalu saja dipetik satu-dua-atau lima helai oleh Dinda atau Dkayla (Dmaura masih terlalu pendek untuk menjangkauku) untuk dibawa ke kamar mereka, meski kerap tercecer di ruang tamu, ruang tengah, atau ruang kerja yang merangkap perpustakaan dan tempat salat itu, atau tak jarang angslup dalam kuah pindang atau lauk di panci di atas kompor tiap kali ibu mereka menjalankan rutinitas dapur sembari menyenandungkan selawat atau murajaah dengan riang gembira.

Untuk kali pertama, aku di/terbawa oleh Dmaura ke kamar tidur anak-anak. Aku sungguh gembira. Belum pernah aku menyimak pembacaan dongeng yang dilakukan ayah mereka. Saking asyik dan khusyuk mendengar, aku juga lelap di lantai kamar yang dingin sebagaimana ketiga gadis kecil yang lena di atas dipan. Pasti mereka mimpi indah dan bergembira di sana. 

Pagi itu, angin berembus kencang sekali. Begitu pintu dan jendela rumah dibuka pada pukul enam (ya, selalu pukul segitu), aku yang hendak disapu Dinda keluar kamar (Dinda memang baru belajar menyapu) tertiup angin hingga aku meringkuk di bawah meja ruang tamu. Karena meja itu terbuat dari kayu jati dan aku yang tak lagi segar mulai mengering hingga tubuhku menggelap, keberadaanku pun tak disadari siapa pun. Termasuk oleh pasangan suami-istri dan kedua tamunya yang juga pasangan suami-istri. Sepertinya, dari gaya dan pakaian yang dikenakan, mereka datang dari kota. Ya, kali ini yang bertandang bukan malaikat. O, jangan tanya bagaimana daun bisa membaca segala!

Yang laki-laki memperkenalkan diri sebagai staf ahli kementerian sosial, sedangkan istrinya menyebut dirinya anggota DPR yang paling peduli konstituen sebab ia membina pelaku UMKM di desa-desa yang memenangkannya.

“Kami senang sekali dikunjungi karena sudah lama sekali tidak ada yang namu,” kata ayah tiga putri itu beberapa saat setelah istrinya menghidangkan teh manis dan sestoples keripik singkong. “Tapi, kami tidak bisa menjual pekarangan dan kebun karena kami hidup darinya.”

“Tapi, apa Bapak dan Ibu tidak merasa kesepian? Memang, rumah ini hanya berjarak dua kilometer dari keramaian desa, tapi, kan, dikelilingi hutan dan kabut. Bahkan, akses ke sini pun susah karena jalannya belum beraspal,” kata staf kementerian itu seraya mengedarkan pandangan ke ruangan itu. “Tentang pekerjaan tenang, saya yang cariin!”

“Lagi pula, kami membayar 10 kali lipat dari standar harga tanah di perkotaan lho. Catet: perkotaan. Bukan pedesaan,” timpal istrinya dengan suara yang dilembut-lembutkan.

“Kami sendiri memutuskan bersilaturahim,” kata tamu laki-laki itu lagi, “selain karena beberapa orang suruhan saya selalu gagal menemukan rumah Bapak-Ibu, hmm, tentu saja karena mereka adalah para pemalas yang gemar mengarang alasan … juga karena ini berurusan dengan ibu saya. Kami, khususnya saya, ingin memenuhi permintaan Ibu.”

Pasangan tuan rumah saling pandang sebelum meminta si tamu bercerita.

“Ibu saya sudah 90 tahun. Sakit-sakitan. Pelupa dan suka menceracau. Dia selalu bilang kalau ia ingin kembali ke tanah kelahirannya. Di Linggau sini. Tentu saja kami akan mencarikan tempat tinggal yang layak untuknya. Kami akan membayar beberapa pembantu dan perawat untuk mengurusnya di sini.”

“Meski saya ini cuma mantu, tapi Ibu seperti ibu saya sendiri. Mungkin karena orangtua saya tinggal di Jerman hampir dua puluh tahun ini dan saya hanya menjenguk mereka satu atau dua tahun sekali. Saya yang mendorong suami agar memenuhi apa pun permintaan Ibu. Dan kami sudah sepakat, kami akan mencarikan tempat tinggal yang layak untuk beliau di kampung halamannya.”

“Hmm,” laki-laki tuan rumah berpikir sebentar. “Minum dulu tehnya, Pak, Bu,” ia tersenyum kecil. 

Kedua tamunya, seperti tersadar, mengambil cangkir mereka masing-masing dan menyeruput isinya.

“Kalau itu masalahnya,” laki-laki tuan rumah berpikir sejenak, “bawa saja ibunya ke sini. Biar tinggal di sini. Biar kami yang mengurus.”

Kedua tamu yang sedang minum teh itu hampir tersedak. Air muka mereka campur aduk: antara bingung dan terkejut. 

Perempuan tuan rumah tersenyum, “Bapak-Ibu tidak perlu membayar. Kami ikhlas. Apalagi, sejak kecil saya dan suami sudah yatim piatu. Kami senang sekali bisa mengurusnya. Kami akan mengurusnya seperti ibu kami sendiri.”

“Jadi, lupakan saja urusan pembelian tanah itu,” pungkas laki-laki tuan rumah.

Kedua tamu itu terdiam. Lalu angin berembus kencang hingga aku melayang dan hinggap di rambut perempuan tamu itu. Mungkin karena warnaku yang makin gelap, tak satu pun menyadari keberadaanku.

“Kalau misalkan anak-anak Bapak-Ibu mau ketemu neneknya atau neneknya kangen cucunya, silakan anak-anaknya dibawa ke sini saja.”

Wajah tamu itu berubah, seperti ada kemurungan yang tumpah. “Kami tidak punya anak,” kata si lelaki. “Beberapa kali saya keguguran,” suara istrinya terdengar sendu.

“Oh, kami minta maaf,” kata laki-laki tuan rumah. “Kami tidak bermaksud …” istrinya menggantungkan kalimat. 

“Tidak apa-apa,” kata laki-laki tamu itu. “Beri kami waktu untuk membicarakan tawaran Bapak-Ibu barusan. Terima kasih banyak atas kebaikannya.”

Ketika hendak pamit, keriuhan Dinda, Dkayla, dan Dmaura yang bermain di halaman, mencuri perhatian pasangan tamu itu.

“Kenapa, Pak, Bu?” tanya laki-laki tuan rumah begitu mendapati kedua tamunya memandang anak-anaknya di halaman cukup lama.

Kedua tamu itu seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi … malah air mata mereka yang meleleh.

“Merekalah yang selalu hadir dalam mimpiku, Pa,” kata istrinya dengan suara bergetar. “Mereka persis seperti yang kubayangkan kalau tiga kehamilanmu tidak keguguran, Sayang,” balas suaminya seperti bergumam.

Aku jatuh ke tanah saking terenyuhnya.

“Ambillah,” kata laki-laki tuan rumah. “Bawalah Dinda, Dkayla, dan Dmaura kalau kalian mau,” istrinya memurnai tawaran itu.

Oh, alangkah indahnya hari itu.

Ketiga gadis kecil yang sedang lucu-lucunya itu mendekat begitu dipanggil ayah-ibunya.

Pasangan tamu itu saling pandang lagi, tangis mereka makin deras. Mereka tak pernah mengira akan ditimpa keajaiban.

O ya, di mana Ibu kalian?” tanya laki-laki tuan rumah setelah anak-anaknya berkumpul di dekat mereka.

“Dia sebenarnya … tak waras lagi dan sering berteriak-teriak,” kata istri tamu itu seperti bergumam. “Kami memasungnya di lantai tiga rumah kami,” kata suaminya. “Tapi, demi Allah, kami menyayanginya,” teriak istrinya. “Kami hanya tak ingin ia merepotkan kami dan membuat malu dirinya sendiri,” sambung suaminya lagi.

Anak-anak itu merapat ke pasangan tamu itu. “Kalian percaya atau tidak,” perempuan tamu itu terduduk dan memeluk mereka, “dalam mimpi Tante, bahkan kalian punya nama yang sama dengan yang orang tua kalian berikan.”

Anak-anak itu tersenyum lebar, lalu balas memeluk perempuan itu. Suaminya menepuk pundak sang istri dan menggamit tangan anak-anak itu sebelum seberkas cahaya putih, mahaterang-dan-menyilaukan menghampiri mereka, bersamaan dengan bunyi klakson tanpa jeda. 

Mereka mengira itu nur ilahi. Mereka mengira mukjizat baru saja mengangkat mereka.

Lalu mereka terjaga … seperti yang mereka duga—dan mereka sangat kesal akan itu. Ini mimpi dan mimpi dan mimpi lagi!!!

Tapi, pasangan itu keliru ….

Tangan, badan, dan sebagian kepala mereka diperban. Seorang perawat yang tampaknya sedari tadi menjaga mereka mengatakan kalau mereka koma selama tiga hari karena sebuah truk pembawa kayu gelondongan membawa mereka. “Katanya rem blong, tapi … apa yang Bapak-Ibu lakukan di tengah hutan?”

Mereka menggeleng-gelengkan kepala. Ingin sekali mereka mengajukan banyak pertanyaan, tapi mereka lebih penasaran dengan keriuhan di balik jendela. “Ada apa di luar, suster?” tanya laki-laki itu, tapi perawat itu tak ada lagi.

Jendela ruangan itu membuka dengan sendirinya. Tapi, yang tampak malah padang pasir mahaluas. Di sana, orang berkerumun (atau berbaris [?]) dengan kitab di salah satu tangan, dengan tangis berderai atau senyum mengembang. Oh, satu di antaranya ternyata orang yang sangat mereka kenal. O, Ibu. Ya, tidak salah lagi: itu adalah ibu mereka. Perempuan 70 tahunan yang kali itu tampak jauh lebih muda, bukan hanya sudah mampu berdiri, tapi malah bisa berjalan (o, apakah ia bisa melepas pasungnya sendiri?) dengan kitab putih di tangan kanannya.

Belum tuntas keheranan mereka, langit terbelah. Matahari seperti lepas dari kandang. Bola api raksasa itu melesat, jatuh dan bagai buru-buru menimpa …. Tidak! Tidak seperti mereka berdua yang berteriak histeris, tentu saja sehelai daun sepertiku diselamatkan-Nya, entah bagaimana, entah ke mana.

Paris, 2019–Lubuklinggau, 2020

Benny Arnas
Follow Me

Comments

  1. Soraya Reply

    ♥️🤍

  2. Hendy UP Reply

    MasyaAllah!!! Sungguh, Cerpenis Benny sejatinya adalah Pandhita Wasesa dalam bidang Bahasa. Sang kolektor cerita yang menyajikan Tupperware warna ungu. Ditumpuknya aneka gairah jiwa yang nirnorma: da’wah lirih nan halus memesona, obesi batin yang berangkai mimpi dan satire tipis yang menyayat perih. Ada utopia cerita yang dirakit apik dengan mu’jizat tak terperi seolah esok bakal terjadi. Ada kekesalan yang tak terucapkan: betapa kehidupan manusia tak mungkin dipertukarkan. Antara uang dan harga keikhlasan!! Akhirnya: Ben, teruslah menulis untuk GENERASI ABAD TAK TERPERIKAN….

  3. Hendro Reply

    Ngga ada perkembangan karyanya dr dulu.

  4. Juli Yandika Reply

    Waaaaah, selalu senang baca cerita dari sudut pandang yang kayak gini ni. Benar2 berasa bagaimana menjadi daun. Keren euy. 👍👍👍

Leave a Reply

Your email address will not be published.