Mata Biru, Cantik, dan Obsesi Getir

 

Judul               : Mata Paling Biru

Penulis            : Toni Morisson

Penerjemah      : Aly D Musryfa

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : Pertama, November 2019

ISBN               : 978-623-7290-40-7

Tebal               :  284 Halaman

Tahun 2013 lalu, American Library Association (ALA) merilis daftar 10 buku yang paling sering ditentang sepanjang tahun, dan novel ini menduduki peringkat kedua setelah seri buku Captain Underpants karangan Dav Pilkey. Dengan alasan antara lain: penggunaan bahasa yang ofensif, penggambaran eksplisit perihal seks, kekerasan, dan tidak cocok untuk kelompok usia  tertentu.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1998 di Maryland, novel ini—untuk pertama kalinya—digugat ke meja hijau oleh seorang ibu dengan alasan “cabul”. Interupsi juga datang dari beberapa negara bagian, seperti: New Hampshire, Colorado, Michigan, California, Indiana, dan North Carolina.

Yang menarik adalah, kebanyakan Negara Bagian yang memberi kecaman itu dihuni oleh mayoritas warga kulit putih. Secara umum, novel ini memang “menggugat” kemapanan white supremacy culture dan rasisme di Amerika. Kita teringat pada warisan kekejaman Rezim Aperthaid di negara koloninya, yakni distingsi antara Hitam-Putih. Boleh jadi, gugatan atas novel ini tersebab sentimen rasial belaka.

Cerita dibuka pada musim gugur, di mana Pecola harus mengungsi ke rumah milik Nyonya McTeer. Di sana, ia kemudian bertemu dengan dua anak pemilik rumah, yakni Claudia dan Frieda. Bersama merekalah Pecola melewatkan kejadian-kejadian tak terduga: malam Natal, menstruasi pertama, perundungan dari kawan sekolah, juga perdebatan sengit tentang boneka.

Perdebatan tentang boneka tidak dihadirkan secara sembarang, melainkan sisipan wacana yang diburamkan oleh Toni Morisson. Lihat misalnya, bagaimana Claudia bergumam, “Ini bermula dari Natal dan hadiah boneka. Hadiah yang besar, yang istimewa, dan yang disukai selalu berupa boneka Babby Doll yang besar dan bermata biru.” (halaman 31).

Toni Morisson berhasil meramu teknik semacam ini dengan rapi. Narasi-narasi filosofis tampak sengaja disamarkan melalui simbol tertentu, mengingat sang narator yang masih bocah tidak mungkin mampu mengeluarkan “suara” yang terlampau mengawang-awang. Simbol-simbol itu hadir dalam bentuk yang paling mungkin terjamah oleh anak-anak. Mulai dari biskuit terigu, cangkir susu, bunga marigold, permen, juga kucing.

Pecola adalah simbol tidak berdayanya perempuan pada masa itu, di mana rasisme dan corak patriarki mengepung secara bersamaan.

  Pecola lahir dari keturunan Afro-Amerika, berkulit hitam dan memiliki obsesi untuk dikaruniai bola mata berwarna biru—sebagai representasi kecantikan yang diyakini oleh masyarakat. Ia kerap mengeluarkan keluhan itu, terlebih saat dihadapkan pada keadaan pelik.

Misalnya, saat seisi rumah terlibat dalam pertikaian fisik, di mana seluruh anggota keluarga turut serta, Pecola hanya mengintip di balik selimut dengan perasaan bersalah yang tak tertanggungkan, dan mengutuk kedua bola matanya sebagai muasal kegetiran.

Pernah terbetik di benak Pecola, jika kedua mata Pecola itu lain, maksudnya indah, maka Pecola juga akan menjadi lain. Gigi Pecola bagus, hidungnya juga tidak besar dan datar seperti hidung sebagian orang yang dianggapnya lucu. Jika ia tampak berbeda, cantik, mungkin Cholly  juga akan berbeda, dan Nyonya Breedlove  juga. Mungkin keduanya akan  berkata: ‘Kenapa, lihat Pecola yang bermata indah itu. Kita tak boleh berbuat sesuatu yang buruk di depan mata indah seperti itu’” (halaman. 63).

Pecola yakin bahwa wajahnya jelek, tetapi di sisi lain, ia selalu kelimpungan untuk mencari rumus yang baku tentang cantik. Jika mata biru adalah definisi cantik, mengapa Tuhan tak menciptakan semua manusia secara seragam.

Kita tahu, sejarah “cantik” memang tak bisa lepas dari beban dan makna politis. Di wilayah bekas koloni, di mana kebanyakan penduduknya mengidap inferiority complex, “cantik selalu berpatok pada wujud “Sang Penakluk”. Standar cantik bagi Indonesia misalnya, dipaparkan oleh L. Ayu Saraswati dalam Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (Marjin Kiri, 2013) turut dikonstruksi oleh epos Ramayana pada abad sembilan Masehi, juga wacana putih dari ras kaukasia yang disebar oleh Belanda.

Meski belakangan, konstruksi cantik itu mulai lebur dalam batasan yang lebih lentur. Tahun 2019 misalnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, perempuan kulit hitam mendominasi kontes kecantikan paling bergengsi di planet ini. Di antaranya; Toni-Ann Singh sebagai Miss World, Zozibini Tunzi yang meraih gelar Miss Universe, Miss America yang diboyong Nia Franklin, Miss USA didapuk Cheslie Kryst, dan Miss Teen USA untuk Kaliegh Garris.

Di pertengahan buku, kita akan dialihkan pada masa lalu kedua orang tua Pecola. Di titik inilah kemudian kita akan mengetahui bagaimana ketertindasan yang dialami oleh Pecola juga hinggap di kehidupan kedua orang tuanya. Tuan Cholly, lahir tanpa ayah dan ibu. Nyonya Breedlove, mengalami pengasingan dari komunitas di mana ia tumbuh.

Menjadi “liyan” di tengah-tengah masyarakat yang diskriminatif membuat mata rantai ketertindasan semakin kuat. Lintas generasi, di satu keluarga, menjalani gurat nasib yang sama pedihnya, meski dengan cara yang berbeda-beda. Benar kata Chairil Anwar, bahwa nasib ialah kesunyian masing-masing.

Cerita menemukan titik klimaks saat Pecola hamil. Ia diperkosa sebanyak dua kali oleh Tuan Cholly, ayahnya sendiri. Sepanjang kehamilan itulah Pecola mendapatkan tekanan yang paling pedih, ia harus putus sekolah, lalu mengidap gangguan jiwa saat anak yang dikandungnya mati. Ia berjalan-jalan di tengah kota, dan berbincang dengan dirinya sendiri, bahwa ia telah beroleh memiliki mata biru. Pecola kemudian diasingkan dari tempat ia tinggal. Tidak ada satu pun warga yang berani menjamah atau sekadar menyebutkan namanya.

Kita bisa menarik kesimpulan, bahwa novel ini adalah akumulasi dari seluruh penindasan yang mungkin hinggap di tubuh seorang perempuan. Pecola harus diasingkan, tunduk pada konstruksi cantik, direnggut hak untuk menerima pendidikan formal, buramnya masa depan, dan jiwa yang rapuh. Dengan kepiawaian bercerita, Toni Morisson berhasil menghadirkan seluruh ironi itu melalui mata seorang bocah. Mata yang dipenuhi oleh obsesi  getir.

Mata Paling Biru (2019), adalah satu rekaman realitas yang tak boleh kita hapus dari lembar sejarah. Bahwa pada perkembangannya, perempuan berkulit hitam, pernah—atau mungkin masih—mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Dan kita harus mampu  melewati masa pahit itu dengan membangun tatanan dunia baru, di mana perempuan disejajarkan, dan rasisme dilenyapkan. (*)

Sani
Latest posts by Sani (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.