Mata

Pandanganku mulai terganggu. Aku tidak tahu pasti mata sebelah mana yang lebih rusak, kanankah? Kirikah? Entahlah. Aku kesulitan mengenali benda-benda kecil. Untungnya aku masih bisa mengetahui pemilik wajah dari orang-orang yang kutemui. Dan aku bersyukur atas itu. Dari masalah penglihatanku ini, sebenarnya ada hal lain lagi yang membuatku merasa bingung: aku sering melihat hal-hal aneh. Kepada anakku kuceritakan hal itu. Ketika aku duduk di teras rumah sambil menggendong cucuku, aku melihat arak-arakan unta. Karena merasa ganjil, aku berteriak memanggil anakku di dalam. Anakku keluar dan langsung (dengan gesit) menggambil tubuh anaknya dan memeriksa seluruh jengkal badannya. Ia sangka ada terjadi sesuatu kepada cucuku.

“Si Rajab tidak kenapa-napa. Aku memanggilmu karena aku merasa ‘lain’ melihat jalan. Menurutmu siapa yang melihara unta di sini?”

Anakku mengembuskan napas lega dan mencium-cium kepala anaknya. Lalu ia pendarkan pandangan. “Memang siapa pula yang memelihara unta di sini, Yah?” tanyanya balik.

“Aku bertanya karena aku tak tahu! Tidak kau lihat itu jalan penuh dengan unta?”

Anakku melihat kembali ke arah jalan. Kepalanya ia jenguk dan matanya menyipit, seperti sesuatu yang sedang dicarinya itu begitu kecil. Keningnya berkerut. Sambil terus mencari ia pun bertanya, “Unta apa, Yah? Tidak ada Ria melihat unta. Ayah salah lihat mungkin?”

Anaknya yang masih bayi itu menggigit dagu ibunya sambil memainkan tangannya. Melihat itu, aku merasakan kedamaian tiba-tiba. Namun, heran juga aku dengan pernyataan Ria. Saat kutengok lagi itu jalan , eh … benar juga, aku tidak melihat unta-unta itu lagi.

“Loh, mana unta-unta itu? Kok tiba-tiba menghilang.” Kuperhatikan baik-baik jalan itu lagi. Memang tidak ada unta-unta tadi. Menghilang begitu saja.

“Perasaan saja itu. Mana mungkin ada unta di sini, Ayah. Unta itu adanya di Arab! Hahaha….”

Kesal pula aku mendengar suara kekeh anakku itu. Gelaknya itu seperti menegaskan kalau aku itu gila. Melihat hal-hal aneh. Seperti orang lanjut usia kebanyakan. Orang tua yang sudah mau mati.

“Kalau kau tak percaya, sudahlah. Masuklah kau lagi ke dalam rumah. Buatkan aku kopi. Ingat, jangan pakai gula!”

Kenapa bisa hilang begitu cepat itu unta-unta sialan. Padahal tadi kulihat banyak sekali. Sampai-sampai jalan itu penuh oleh mereka. Atau benar yang dikatakan Ria, kalau itu perasaan aku saja? Tapi tidak mungkin. Aku melihatnya sendiri dengan mata kepala kok!

Tidak tenang juga hatiku akhirnya. Kuturutlah ke tepi jalan itu. Kutengok kanan-kiri. Memang tidak ada apa-apa. Kuperhatikan jalan, mana tahu tahi dari unta-unta itu ada yang berserakan. Namun, tidak terlihat ada onggokkan yang mencurigakan. Walau agak sedikit buram, aku bisa memastikan jalan itu benar-benar bersih.

Aku masih tidak percaya. Pergilah aku ke rumah Pak Edi Murai. Ia terlihat sedang memain-mainkan burungnya.

“Wah, senang burungnya dimandikan pagi-pagi begini?” Aku mendekat ke pagarnya. Cara mengajak berbicara orang macam Pak Edi Murai memang seperti itu. Harus kita puji dulu burungnya. Namanya saja Edi Murai, orang yang ahli bikin Murai Batu jadi gacor.

Ia melongok dari balik sarang burungnya. “Walaikum salam, Pak Wan. Haha …. Biasa saja itu, Pak. Tanda sayang ke burung. Mesti dimanja dia, sebab sudah banyak piala yang dibawanya pulang. Hehe ….”

“Hari penghujan seperti ini apakah tidak masalah dimandikan? Nanti demam pula burungnya. Haha …. Saya sebenarnya mau bertanya, Pak. Ada bapak lihat unta lalu tadi di jalan ini?”

Ia melongo. Kumisnya yang seperti Hitler itu mengecil ditekan bibirnya yang menganga. Dipandanginya jalan itu dari kanan ke kiri. Keningnya berlipat.

“Tidak ada, Pak. Sehabis salat subuh di masjid tadi saya di sini-sini saja. Olahraga, lalu mengurus burung. Seingat saya, tidak ada unta yang lewat. Bahkan kendaraan hanya satu-satu yang lalu. Memangnya siapa pula yang ternak unta di sini?”

Kepalaku terasa gatal kemudian kugaruk. Berarti memang tidak ada yang melihatnya selain aku? Ah, tidak bisa dipercaya.

“Tak tahu maka aku bertanya. Entahlah. Mungkin orang di kampung sebelah mau pamer ternak. Baiklah, Pak, saya pulang dulu… terima kasih.” Hampir melangkah kaki ini, aku baru ingat kalimat penutup, “Assalamu’alaikum!”

Suara balas salam dari Pak Edi Murai tidak kudengar karena pikiranku kini sedang penuh dengan pertanyaan yang menyesak dijawab. Apakah aku sakit jiwa? Apakah ini karena aku mulai tua? Entahlah. Barangkali memang salah lihat. Barangkali pula Ria benar, itu hanya perasaanku saja. Tapi tidak mungkin mataku ini salah.

***

Dua hari setelahnya, ketika aku hampir saja melupakan masalah unta-unta itu, aku melihat lagi sesuatu yang bikin aku bingung. Siang hari, ketika Ria pulang dari masjid, ada tiga perempuan memakai baju kurung hitam dengan cadar menutupi wajahnya. Ia berjejer di belakang Ria dan ikut masuk ke kamarnya. Terkejut aku dibuatnya. Bagaimana pula Ria begitu saja membawa orang ke dalam kamarnya. Aku tidak familier dengan mereka. Dan juga, Ria ini orang yang sukar mendapatkan teman. Toh, kalaupun itu benar teman Ria, lancang sekali mereka main masuk-masuk rumah orang tanpa permisi dahulu, sekurang-kurangnya kan salam, jadi jugalah. Maka kupanggil Ria keluar. Ia keluar begitu enteng sambil bertanya ‘ada apa’.

“Kalau kau membawa kawan itu suruhlah dia menyapaku dahulu. Jangan main masuk-masuk saja. Ini rumahku! Kau kira ini WC umum. Main masuk-masuk saja!” Sengaja kukeraskan suara agar terdengar pula oleh temannya itu.

Ria terpaku menatapku. Dari gelagat wajahnya bisa kutafsirkan sebuah keheranan. “Kawan apa, Ayah? Sudah jelas Ria baru pulang sembahyang. Mana ada Ria bawa kawan ke rumah. Ada-ada saja Ayah ini.”
“Bagaimana pula ini. Sudah jelas aku melihat ada orang masuk bersamamu. Tiga orang perempuan pakai cadar yang berjalan di belakangmu itu siapa? Main masuk saja ke kamarmu?”

“Masuk kamar?” Ria berbalik dan membuka gorden kamarnya. Ia buka pintu lebar-lebar. “Siapa pula yang masuk kamar, Ayah? Bagaimana pula aku bisa memasukkan orang, jelas si Rajab sedang tertidur.”
Melangkahlah aku ke kamarnya karena tidak percaya. Kuperhatikan kamar itu: dinding yang masih tampak batanya, lemari pakaian mendiang istriku, sarang laba-laba yang menempel di langit-langit, dipan kayu, dan kasur yang di atasnya Rajab sedang tidur pulas. Oh! Betapa damainya cucuku itu. Tetapi memang tidak ada tiga perempuan itu.

Kepalaku jadi berat. Kuurut-urut batas antara kedua alisku. Sepertinya aku salah lihat lagi. Beranjak ke kursi, kuistirahatkan bokongku yang sudah tepos itu. Ada yang menghantam-hantam di kepalaku. Mengendaplah pertanyaan kemudian: apakah aku sudah gila?

Tangan Ria menyentuh pahaku. Ia bersimpuh di depanku. “Kenapa, Ayah? Sakit, Ayah? Banyak sekali yang Ayah pikirkan tampaknya. Istirahatlah dulu Ayah. Sudah aneh-aneh yang Ayah lihat dari kemarin. Tidurlah dulu. Mana tahu nanti pikiran Ayah bisa jernih.” Matanya berkaca-kaca. Ah! Melankoli sekali anakku ini.

“Tenang sajalah kau! Aku tidak apa-apa. Jangan pula kau anggap aku gila. Aku ini masih waras.”

Pecah juga tangisnya. “Tak ada Ria menyebut Ayah gila. Kenapa pula Ayah bisa berpikir begitu. Ria hanya menyuruh Ayah istirahat. Banyak sekali yang Ayah pikirkan.”

“Masuk sajalah kau kedalam bilik. Urusanku biar aku yang mengurusnya sendiri!”

Berlari ia ke kamar sambil tersedu-sedu. Kasihan sebenarnya aku melihat anakku begitu, tapi bagaimana lagi, hatiku jadi panas sebab dia sangka pula aku ini gila. Orang tua yang sudah mau mati. Banyak tingkah menjelang ajalnya.

Setelah hari itu aku mulai melihat hal-hal lain dan lebih sering. Seperti sebuah film yang adegannya tiap sebentar berganti. Seperti televisi yang sering ditukar salurannya. Banyak hal yang muncul di layar pandanganku. Misalnya, di setiap sore aku selalu melihat badai pasir, sehingga pasir-pasir yang berterbangan menutupi pandanganku ke luar jendela. Unta-unta yang kulihat di jalan pada waktu itu, kini sering berkumpul di halaman depan. Mulut mereka selalu memamah biak. Tetapi untung tidak ada bunga atau rumput yang mereka makan. Perempuan-perempuan bertiga yang memakai cadar itu selalu saja datang tanpa atau dengan Ria ketika ia pulang dari masjid. Malahan sekarang sering orang datang ke rumah. Kalau tidak perempuan bercadar, laki-laki berbaju gamis dengan serban putih melingkari kepalanya. Mereka berjalan ke sana-kemari, semaunya saja. Ketika pergi berak, mandi, atau kencing di sumur, air yang kusiram berwarna merah seperti darah. Dan di waktu malam, ketika badan kubaringkan, langit-langit kamarku seperti terlepas. Aku melihat bulan dan bintang dengan begitu jelas, seolah-olah aku sedang melihat gambar atau lukisan yang hidup, bergerak. Semua itu kusimpan saja, sebab kalau kuceritakan kepada Ria, pasti ia akan menyebutku gila.

***

Hal-hal yang kulihat itu membuat badanku mudah letih. Kepalaku sering sakit dan aku lebih suka berbaring di kasur. Saat Ria bekerja menjadi tukang cuci dan setrika di rumah orang, ia selalu membawa Rajab, karena katanya ia tidak ingin menambah bebanku. Rasanya ingin kutampar saja anakku itu. Dia pikir aku tidak kuat lagi? Menyiram tanaman tiap pagi saja masih bisa kulakukan.

Karena Rajab sering dibawa, tidak ada lagi yang bisa membuatku damai agak sebentar ketika hal-hal aneh itu muncul. Lama-lama begini muak juga aku. Kubanting semua barang di rumah. Kulemparkan ke arah sosok-sosok yang muncul itu. Tak dapat kutahan lagi. Kuambil parang di dapur lalu kuayunkan ke mereka. Ke unta-unta, ke perempuan-perempuan, ke laki-laki itu. Ketika parang itu kuhantamkan ke tubuh mereka, mereka menghilang lalu beberapa saat kemudian muncul lagi.

Semua kemuakanku itu terhenti ketika beberapa tetangga datang dan memegang tubuhku dan mengambil parang di tanganku. Kesal pula aku jadinya. Aku beri mereka carut. “Aku tidak gila! Aku tidak gila! Pergi kalian, pantek!” teriakku. Tapi mereka tetap memegangku dan membawaku ke kamar.

Orang-orang berdatangan. Kulihat Pak Murai di sana. Ia menatapku penuh kasihan. Seorang lelaki memakai baju koko dan berpeci mendekatiku yang sedang dipegang. Ia mengaji sambil memegang kepalaku. “Istigfar, Pak. Istigfar, Pak,” ucapnya. Memangnya apa yang perlu distigfarkan?

“Istigfar, istigraf, laki mandemu! Aku tidak gila. Aku masih waras. Untuk apa kamu mengaji di hadapanku? Pergi! Pergi kau!” teriakku kepada pemuda itu.

Ia pun berkata seperti membalas, “Pergi! Pergi kau, Setan! Mau kubuang ke laut atau aku bunuh langsung di dalam tubuh ini?!” sambil terus menekan pergelangan tanganku.

Orang-orang mulai ramai berdatangan masuk ke kamarku. Di ramai orang itu aku melihat Ria sedang menangis bersama Rajab yang menangis pula di pelukannya. Tidak kuasa aku melihat mereka seperti itu. Ketidakkuasaanku itu membuat pandanganku menjadi hitam tiba-tiba.

***

Hari-hari setelah itu aku tidak ingin lagi keluar rumah. Mereka semua sudah menganggapku gila. Anak-anak yang kadang lewat di depan rumah sering meneriakkan kata-kata ‘gila’. Ria selalu mengusir dan mengejar mereka dengan tangkai sapu.

Pandanganku mulai bertambah kabur. Anak muda berpeci yang mengaji di hadapanku waktu itu sepertinya tidak berhasil mengusir setan di tubuhku. Buktinya, sampai sekarang aku masih melihat hal-hal aneh itu. Tapi kali ini kubiarkan saja. Aku tidak mau lagi mengamuk. Aku tidak bisa melihat Ria dan Rajab tersiksa. Cukup saja beban Ria di masa lalu yang ia tanggung: suaminya lari ketika ia mengandung Rajab dua bulan. Jangan pula aku menjadi beban baru baginya.

Bahwa aku sudah menyerah dan percaya diri ini benar-benar gila adalah pada suatu pagi. Ketika itu aku baru saja bangun. Di ujung kasur, seseorang duduk. Sosok yang muncul kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ia memakai baju beledu berwarna merah dengan hiasan bunga-bunga di sana-sini. Rambutnya berwarna putih, bergelombang seperti ombak-ombak saling berimpitan. Wajahnya seperti orang barat: matanya biru, kulitnya putih, dan hidungnya mancung. Ia langsung saja mengulurkan tangannya minta kujabat. Kemudian ia berkata, “Pagi, Pak. Nama saya Charles Bonnet. Saya datang kemari untuk memberitahu dan mencoba mengobati penyakit bap….”

Kupotong saja ucapannya, “Gila kamu! Sudah jelas aku ini gila. Tidak ada yang bisa menyembuhkanku dari kegilaan ini. Kamu kira ak….” Tiba-tiba aku merasa aneh. Mengapa harus kujawab omongannya. Bukankah ia itu hanya bayangan? Ya Tuhan! Ternyata aku memang sudah gila.

 

Padang, 2019

Muhaimin Nurrizqy

Lahir 12 Oktober 1995 di Padang. Bergiat di Klub Pantekata dan Lab. Pauh 9. Buku kumpulan cerpennya Sandiwara 700 Tahun Sebelum Masehi (Kalaka, 2019)

Latest posts by Muhaimin Nurrizqy (see all)

  • Mata - October 18, 2019

Comments

  1. Yuni Bint Saniro Reply

    Selalu menarik membaca cerpen di sini. Siapapun pengarangnya.

  2. Anonymous Reply

    💛

  3. Anonymous Reply

    sukaaa

  4. CHOERUL Reply

    maasyaAllah, keren ceritanya.

  5. Thomas Didimus Hugu Reply

    Jika tak ada sikap menerima maka kita akan tergoda untuk menuding bahwa hidup itu kelam dan menyedihkan. Cerita ini sebuah wake up call bagi siapa saja.

  6. unk Reply

    mantap cerpennya. kreen

  7. Mongek Reply

    Bulu kuduk merinding membaca cerpen ini

  8. Zaed Khan Reply

    duh… merinding !

  9. Rahayu Rossiana Reply

    seperti orang yang melihat sesuatu yang tak kita lihat, tuhan mengisyaratkan dirinya melalui bayangan semu,..
    Merasa di gantung dengan ceritanya.. sebenarnya apa yang terjadi dengan dia?

Leave a Reply

Your email address will not be published.