Matinya Sang Primadona

Sekujur bercak biru pucat ini mengingatkan saya pada sebuah lukisan bertajuk The Starry Night yang replikanya terpampang di sebuah hotel tempat saya pernah menginap. Ia masih terlihat cantik, bahkan setelah menjadi mayat.

Latar cerita yang saya ketahui belakangan dari lukisan maestro gila sama gelapnya dengan kejadian malam ini. Bintang kejora padam. Ditemukan seorang pemulung yang kebetulan lewat di tepi jalan sepi. Di dalam sedan putih mahal, di antara pepohonan lebat yang membisu. Betapa tragis. Berdiri di hadapannya sekarang bagai jukstaposisi. Ia wujud nyata hasrat alam bawah sadar manusia, menyitir para Freudian dan surealis dalam manifestonya menggugat norma kelaziman. Sedang saya, hanya tokoh yang diada-adakan saja dalam cerita ini.

Saya mungkin di luar imajinasi Saudara untuk membayangkan sosok detektif berkumis baplang yang resik, atau si bohemian amburadul yang doyan tembakau pipa dari London dan kerap menggebu, mengacak-acak tumpukan kertas atau perintilan sebagai petunjuk, kecuali bakat forensik dan kesantunannya pada kaum Hawa yang terbilang patut. Saya juga tak punya partner mantan pencuri seperti Gozali. Saya bekerja sendirian. Saya hidup seorang diri. Tapi tak nestapa, tak mengapa.

Berbanding terbalik dengan hidupnya yang glamor. Saya bukan tokoh penting, dalam arti layaknya pengusaha kakap atau pejabat teras atau seniman hebat. Saya bekerja di balik layar seseorang yang mengawasi saya. Pengawas saya diawasi yang lainnya. Kita hidup dalam struktur. Rantai kuasa. Dalam citra yang bakal ditulis surat kabar pagi. Dengan kelihaian organ jacobson pembau mangsa, dua juru warta sudah ngejogrok di mulut pintu instalasi gawat darurat. Bakal bertambah kerumun seiring semburat fajar. Bagaimana pun, seseorang akan menguaknya, ketika siapa pun enggan mengambil alih, saya terpaksa maju, ya, tak lebih dari keterpaksaan belaka. Batu Sisifus saya angkut; kekuatan besar menggelindingkannya lagi.

Saya wanti-wanti, Saudara jangan berharap terlampau tinggi untuk misteri kasus ini. Sudah menjadi maklum, banyak kasus menghebohkan yang kita dengar buah karangan penulis-penulis hantu. Ya, penulis yang tak ingin terlihat dan diketahui masyarakat karena faktor kerahasiaan alih-alih kerendahan hati. Penulis yang mengarang misteri sebuah kasus, alias pengarang kasus!

Yang perlu Saudara ketahui, pengarang-pengarang itu saling bersaing menerbitkan versinya sendiri. Macam-macam kepentingannya.

Dua kejadian berturut-turut di dua lokasi, dua waktu berdekatan dengan korban yang sama. Perempuan muda. Keduanya berparas cantik, tubuh lampai, rambut hitam tergerai, dengan karier bagus. Sekarang ia menggenapkan yang ganjil. Saya tebak tajuk berita besok akan seperti: Tiga Perempuan Cantik Diduga Korban Pembunuhan Berantai Seorang Psikopat. Satu orang bakal bernasib buntung.

Saya mengunyah permen karet kelima hari ini ketika rekan unit menelepon dengan nada masygul, “Ada koordinasi, Pak. Kasus yang ini mesti didahulukan. Mesti dapat tersangka.” “Koordinasi siapa?” tanya saya. “Pusat…” balasnya seperti ingin berterus terang. Tetapi sikap terus terang tak menolong apa-apa di kota ini. Malah bikin runyam. Kalau sudah bicara pusat dengan kode sakti koordinasi, buntutnya mulai kelihatan—batu Sisifus menggelinding ke mana. Saya lagi yang mesti angkut. Lakon seperti saya tidak pernah ingin berhasrat memprotes nasib atau jalan cerita selain sekadar berusaha menghidupinya. Patut dicurigai, pengarang saya pun sesungguhnya terlalu kecut bicara alih-alih sembunyi di balik stempel cerita.

***

Sewaktu juru warta menanyakan kaliber peluru dan perkiraan waktu kematian dua korban sebelumnya, karena faktor penyidikan, tentu tak bisa saya umbar untuk konsumsi publik. Pelaku di luar sana bakal menghilangkan barang bukti dan menyusun alibi. Namun di kasus ini, peluru dan senjata yang serupa sinkron justru tergeletak di TKP. Luka tembak tempel. Sovia Havana bunuh diri? Rasa-rasanya tidak mungkin.

Sang primadona cemerlang di puncak karier. Saudara sebut lima bintang film dan model berhonor selangit, namanya pasti tertera di sana. Kekayaan jangan ditanya. Ia punya koleksi yang tak semua orang punya. Dunia ini obsesinya. Bagaimana bisa seorang Sovia buntu akal mengakhiri semuanya dengan tangan sendiri? Kalau pun harus mati, seorang bintang tak semestinya mati dalam sepi.

Sepucuk pistol tergeletak di sisi kanan ketika jasadnya ditemukan, sedang ia seorang kidal. Saudara harus menggunakan tangan terkuat untuk nekat menarik pelatuk secara mantap. Kondisi mobil tak betul-betul dingin. Saksi bilang, sebelum ia menemukan Sovia, tak terdengar bunyi letusan apa pun menyerupai senjata di sekitar lokasi. Kecuali itu, ia sempat bersirobok dengan seorang pria bertopi yang terlihat tergesa-gesa, sekitar puluhan meter dari lokasi. Suasana gelap, namun dari potongannya ia pastikan, itu bukanlah tipikal petani penyadap karet. Tak ada wajah yang bisa diburu.

“Selanjutnya tergantung mata batin Anda. Tugas saya beres. Jangan lupa kembalikan sang diva ke tempat semula.” Dokter Santi mencuci tangannya setelah menyerahkan berkas pemeriksaan. Ruangan melompong. Saya membalik kertas demi kertas, menit demi menit, sampai tak ada yang kembali.

Havana. Mungkin ayahmu pengagum Jose Marti. Menyesap daquiri di pinggiran Malecon. Menatap burung-burung putih beterbangan di hangat cuaca seraya menikmati salsa, cerutu, domino dan bau air laut yang menyengat sebelum bertemu seseorang yang menjadi ibumu.

Tiba-tiba hawa dingin menyelusup. Kelap-kelip ini, berasal dari lampu atau kedip mata sendiri?

“Dari mana tahu aku kidal?” Sesuatu menyeruak. Serupa bisik sepi.

Hola como estas…

“Pengakuan sejawat Nona,” entah kenapa saya balas menggumam. Suara manja itu, peran gadis belasan yang pernah saya tonton di sebuah film.

“Kau percaya mereka?”

“Aroma dan noda rokok di jari. Kebiasaan selalu meninggalkan jejak.”

“Apa lagi yang kau percaya, detektif?”

Saya menoleh. Ia masih terbaring di samping saya dengan tenang, di meja kadaver. Baiklah. Ini seperti cerita-cerita Amerika Latin. Mungkin akibat kurang tidur.

Hasil mikroskopik memperlihatkan suatu skenario. Dalam tubuh Nona terdapat dua luka. Terjadi infiltrasi atau serbukan sel radang atas pemeriksaan histokimia yang diperkuat hasil toksikologi isi perut Nona. Ditemukan arsenik melebihi ambang batas toleransi, kecuali Nona melahap seafood yang tercemar berminggu-minggu secara nonstop dan seharusnya tersisa di usus. Luka tembak itu post-mortal. Intinya Nona terbunuh karena luka intravital alias racun sebelum seseorang, sekitar beberapa jam kemudian, melubangi kepala Nona dengan tangannya.

“Brilian. Apa lagi yang berhasil kau pungut, tampan?” Suaranya muncul lagi.

“Ini mungkin desas-desus, mungkin tidak, Nona boleh menyanggah. Saya dengar … Nona punya hubungan spesial dengan beberapa pejabat dan pengusaha teras, apa benar? Saya mencurigai keterkaitannya. Cannabis lebih murah dan gampang dicari ketimbang arsenik. Nama-nama itu bukan orang sembarang.” Saya bahkan tak berani menyebutnya di sini.

“Biar aku ganti menebak. Setelah ini kau akan dimutasi ke pulau terpencil tempat para tapol dibuang,” selorohnya terbahak.

“Saya harap masih di pulau tropis.”

“Kenapa mesti repot, detektif?” Ia menghela panjang seolah masih sedang bernapas.

“Sekadar membereskan urusan dunia. Nona kan sudah bebas.” Saya mencoba humor.

“Keadilan cuma lelucon. Permainan sandiwara.”

“Bantu saya agar tak selamanya jadi lelucon.”

“Bahkan setelah tirani tumbang? Selain tampan, kau ternyata lucu. Lebih lucu dari para lelaki tambun itu.”

“Apa yang sekiranya membikin Nona dianggap berbahaya?”

“Entahlah. Buat mereka, mungkin rahasia dapur atau kasur sama berbahaya dengan rahasia negara.”

“Apa yang Nona ketahui?”

“Bagaimana kalau kau cari tahu sendiri,” bisiknya saru.

Tiba-tiba ia bangun, tanpa sehelai kain pun. Biru putih pucat mengilap bagai porselen.

“Kaku seperti manekin. Jangan-jangan selama ini memang aku manekin.”

“Itu rigor mortis.” Bibir saya bergetar, ternganga.

Makhluk ini, lelaki mana yang tak tergoda?

“Ternyata kehidupan kedua tak terlalu jelek. Setidaknya sebelum aku benar-benar pergi.”

“Jangan pergi! Maksud saya, ada yang harus ditelanjangi sebelum Nona pergi. Kebenaran! Ya! Kebenaran, Nona!”

Bidadari itu, Sovia Havana, mendekati saya perlahan-lahan. Matanya seakan memborgol.

“Mana yang lebih menarik buatmu, kebenaran atau aku?” Sovia Havana menyentuh lembut wajah saya. “Aku bosan bermain dengan bandot-bandot lapuk.”

“Kebenaran Nona … apa yang Nona tahu?” tubuh saya melemas.

“Lebih tepatnya lagi, apa yang mereka tahu ….”

Sovia Havana tiba-tiba merengkuh pisau scalpel, membelek perutnya sendiri di hadapan saya. Segumpal daging merah tak berdosa bergelayut.

“Tambahkan ini ke dalam berkas-berkas itu!”

Hawa dingin menyelusup. Kelap-kelip cahaya, berasal dari lampu atau kedip mata sendiri?

Malam sunyi. Sovia Havana masih terbaring di sana.

Penutup kadaver saya buka. Beku mata indah salmon. Beku sepotong bibir molek. Saya ambil pisau scalpel. Tetapi perut itu, terlalu elok untuk dibuat lagi sayatan. Terlalu menawan.

Begitu ranum ….

Bojongsoang, April 2021

Rigor Mortis: kaku mayat; salah satu tanda fisik kematian.

D. Hardi

Leave a Reply

Your email address will not be published.