Mencari Diri dalam Dongeng Jose Saramago

 

Judul: Dongeng Pulau Tak Dikenal

Penulis: Jose Saramago

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Circa

Tebal: 51 halaman

Semula, kita boleh menyebut ini sebagai bentuk dongeng politis dari seorang Jose Saramago. Sebuah pemandangan yang kerap kita temukan dalam hubungan politik masa kini. Seorang rakyat biasa datang mengetuk pintu atau istana seorang pemimpin, tapi terabaikan begitu saja. Adegan ini menjadi pembuka, sekaligus menjadi suara yang lantang dalam menggambarkan kondisi kita hari ini.

“Seorang lelaki datang mengetuk pintu raja dan berkata, Beri hamba kapal. Ada banyak pimtu di kediaman raja, tapi pintu yang diketuknya ini pintu petisi. Karena raja menghabiskan seluruh waktunya duduk di depan pintu hadiah (maksudnya, hadiah yang dipersembahkan kepadanya), manakala ia dengar ada yang mengetuk pintu petisi ia akan pura-pura tuli, dan hanya bila ketukan terus menerus kenop pintu dari perunggu itu bukan cuma memekakkan, tetapi juga tak pelak lagi menimbulkan kehebohan, mengacaukan ketentraman lingkungan (rakyat akan mulai kasak-kusuk, Raja macam apa dia kalau tidak mau menjawab pintu), baru pada saat iulah ia perintahkan menteri pertama mencari tahu yang dikehendaki si pemohon, sebab kelihatannya tak ada cara membungkamnya.” (Hal 11-12)

Pemerintah atau para penguasa hari ini sekiranya membaca dan merasakan sindiran dari penulis yang meraih nobel sastra di tahun 1998 ini. Dari awal, kita bisa melihat beberapa perilaku pemerintah yang tercermin dalam adegan awal. Seperti ketidakinginan raja bertemu lelaki itu, kebiasaan menunjuk dari atasan ke bawahan hingga mereka memerintahkan siapa saja yang ada. Di dalam cerita ini, para menteri saling tunjuk dan tak ada yang bergerak semestinya. Raja pun pada akhirnya bergerak bukan atas motif kesadaran tanggung jawab, melainkan sebuah upaya menyelamatkan citra diri di mata masyarakat. Ketakutannya dianggap sebagai pemimpin yang tak peduli membuatnya segera memutuskan untuk bertemu lelaki yang cukup lama menunggu.

Namun tidak sepenuhnya berakhir dengan sindiran atau satire atas sikap para politisi, ada ruang lain yang kemudian hadir setelah kita membaca kelanjutannya. Bahwa seseorang itu atau dalam hal ini, tokoh utama kita, datang meminta perahu untuk mencari sebuah pulau yang tak dikenal. Sebuah permintaan yang sulit diterima oleh sang raja. Namun dengan beberapa alasan tertentu, sang raja mulai berpikir dan mencoba mewujudkan harapan lelaki itu.

Dongeng Jose Saramago

Bagaimana dengan pulau yang tak dikenal? Bagi penulis, kita telah diberikan pintu untuk masuk ke dalam dunia yang memiliki kemungkinan terbuka. Sebuah ruang pencarian yang diwakili oleh seorang lelaki yang datang ingin bertemu raja itu. Hanya saja, dari kemungkinan itulah pembaca dapat menemukan ruang imaji yang luas sekaligus sempit. Tak semua pembaca mampu menemukan, sebab apa yang ditawarkan Jose Saramago sekiranya sebentuk panggilan agar pembaca ikut mencari. Semua itu kemudian terjawab jelas dengan penutup cerita yang dihadirkan Jose Saramago.

Selain kisah dalam cerita ini, sebuah pencarian dalam karya Jose Saramago kerap hadir dan tampak menjadi ciri khasnya sendiri. Misalnya saja dalam novelnya yang berjudul, The Stone Raft. Di sana, dia kembali menciptakan sebuah dongeng dengan membayangkan Eropa akan retak sepanjang Pyrenees dan memisahkan Semenanjung Iberia. Pulau baru itu dikirim berputar, seperti rakit batu besar, menuju Azores. Sementara pihak berwenang panik dan para wisatawan dan investor melarikan diri, tiga pria, dua wanita, dan seekor anjing disatukan oleh pertanda yang membebani mereka dengan rasa tanggung jawab yang membingungkan. Mereka terus melakukan perjalanan dan pencarian yang menciptakan makna baru atas kehidupan di atas pulau. Pulau itu bergerak dengan kemauannya sendiri tanpa dayung, tanpa layar, tanpa baling-baling, lalu mengarah ke Selatan.

Namun semua itu bukan tanpa alasan, ini juga menjadi sikap keberpihakannya untuk bangsa Portugis—lebih tepatnya kebencian dari dalam dirinya—atas masa lalu orang-orang Eropa yang pernah menjajah. Dongeng itu menjadi sebuah alat yang dia gunakan untuk merancang masa depan dan kembali melihat masa silam yang kelam dari ingatannya. Sekilas Jose Saramago menyampaikan tentang novel ini dan perasaannya di pidato penerimaan Nobelnya pada tanggal 7 Desember 1998. Melalui dongeng dan cerita-cerita yang dihadirkan Jose Saramago, tak lain adalah sebuah usahanya untuk merawat ingatan serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Bagaimana dengan pulau yang tak dikenal? Apakah ada hal lain yang menjadi siasat dari seorang Saramago?

 

Yang Ingin Kita Temukan

“Ia bermimpi kapal kerakahnya berada di laut pasang, dengan tiga layar segitiganya mengembang megah, memotong jalan lewati ombak, sementara ia mengendalikan kemudi dan awak kapal beristirahat dalam teduh.” (Hal 43)

Apa yang sebenarnya ingin ditemukan oleh tokoh utama dalam cerita ini? Pertanyaan ini mencuat kala saya tuntas membaca dan menamatkan cerita ini. Barangkali siapa saja bisa membaca ini dalam waktu singkat, mengingat jumlah halaman buku ini terbilang tipis. Di bagian akhir, kita melihat dia bermimpi dan sekaligus membuat para pembaca mulai menerka makna serta beberapa hal yang akan terjadi selanjutnya. Perjalanan yang dia lalui tampak membawanya pada dimensi lain di luar dirinya.

Mimpi bagi Jose Saramago menjadi alat cerita yang juga kerap muncul dalam karya-karyanya. Namun pada kesempatan ini, kita diajak untuk merefleksikan sebentuk pencarian yang penuh tanda tanya. Di saat yang bersamaan, kita tak pernah benar-benar mencari. Semestinya kita berani untuk mencari, tapi banyak hal yang membuat kita terlupa. Bila merujuk pada salah satu poin penting dalam buku Being and Time karya Martin Heidegger, keterlupaan tak lepas dari usaha manusia untuk mengada. Pusat eksistensialismenya akan teruji dengan prosesnya dalam memahami serta menemukan rangkaian petunjuk atas dirinya sendiri.

Saya memaknai pulau tak dikenal sebagai bentuk pencarian bagi diri sendiri. Dan seperti yang telah kita lalui sebagai manusia masa kini, kita kerap mencoba mencari yang tidak diketahui. Buruknya, banyak dari mereka yang merasa itu tidak dapat terjadi, dan sia-sia. Hanya sesuatu yang diketahuilah yang pantas dituju atau dicari. Tapi dalam dongeng yang ditawarkan Jose Saramago, kita bisa melihat usaha dari seorang lelaki yang terus mencari pulau yang tak dikenal. Bahkan melalui ruang mimpinya sendiri, pencarian itu tetap dilakoninya.

Sejauh ini, kita hendak menemukan kepastian yang ada tapi sulit memaknai sesuatu yang tak dikenal. Sesuatu yang sebenarnya begitu dekat namun terhalang dengan berbagai emosi seperti cemas, takut, kekhawatiran berlebih dan pada akhirnya mengurung kita pada ruang beku di jiwa kita masing-masing. Barangkali, membaca buku ini akan mengajak kita untuk melakukan sebuah pencarian atas berbagai hal yang tak kita kenali namun begitu dekat dan jelas di dalam diri kita. Dan di sisi lain, kita dimita bertualang pada ketidakpastian atas keberadaan sesuatu tersebut. Akan tetapi, bukankah situasi itulah yang akan membawa kita pada kejutan atas penemuan-penemuan baru tentang kehidupan. Dalam buku ini, seperti halnya novel The Stone Raft, sebuah pulau melarung ke samudera, berkehendak atas dirinya sendiri sekaligus mencari dirinya.

Wawan Kurniawan
Latest posts by Wawan Kurniawan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.