Mencari Kebenaran

Sumber gambar: IG mas_fotokopi

 

 

Kiranya orang baik adalah orang yang tidak peduli dengan segala hal kecuali kebaikan itu sendiri; melakukan apa pun yang bermanfaat dan menjadikan dirinya berguna untuk sesama. Pun tidak mengharap imbalan dari orang tersebut. Meski hal-hal semacam ini sudah tidak disangsikan lagi sebagai modal utama untuk menjadi manusia—ketika kita masih kecil—namun, implementasi dari kebaikan itu masih sering terbentur dengan apa yang dinamakan kebenaran. Kedua hal itu memang tidak akan pernah bisa dipisahkan. Keduanya saling berkaitan. Semisal, orang yang melakukan kebenaran pastilah ia juga melakukan kebaikan. Tapi, sering kali kebenaran selalu berada paling di depan; benar sudah pasti baik, dan baik belum tentu benar. Sayangnya, jarang sekali orang-orang yang mendahulukan kebaikan daripada kebenaran. Bahkan ada yang mengatakan jika kebaikan yang dilakukan belum tentu mengandung sebuah kebenaran. Dan saya kira, Emha Ainun Najib membantah itu. Sosok lelaki yang sering disapa Mbah Nun pernah mengatakan di acara Maiyahnya, “Kebenaran itu letaknya di dapur. Yang kita tunjukkan ke orang hanya kebaikan kita, jangan kebenarannya.” Saya tidak menganggap pernyataan beliau adalah sebuah kebenaran—sebagai unsur yang membuat sesuatu menjadi benar—tetapi, saya menganggap pernyataan itu adalah sebuah usaha persuasif supaya tidak ada manusia yang menyombongkan dirinya atas kebenaran yang dimiliki. Dampak buruknya adalah manusia akan merasa benar dan yang paling benar. Beruntung kalau memang benar, lha kalau tidak? Kan kasian korbannya.

Perdebatan tentang kebaikan dan kebenaran tidak akan menemukan kesimpulan yang menyenangkan. Tetapi, tentu menjadi baik sebagai diskursus yang melelahkan. Kan malah aneh kalau mau berbuat sesuatu harus menimbang dulu “Ini baik nggak ya, bener nggak ya. Apa kebaikannya ada di depan, atau kebenaran yang masih di posisi terdepan.” pertimbangan-pertimbangan semacam itu pasti membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak, dan mungkin juga uang, karena harus ngopi dulu buat menimbang-nimbang.

Nah, menyinggung soal ngopi sebagai aktivitas yang menyenangkan itu pun masih banyak perdebatan, yang umumnya ramai diperbincangkan oleh orang-orang yang baru saja terjun dalam mesin gilingan kopi, tidak seperti kopi sachetan yang sangat amat praktis. Mereka membawa kebenarannya, tapi melupakan kebaikannya. Kebanggaan dan gengsinya menggebu-gebu saat melihat kawannya meminum kopi sachetan yang dibeli di warung tetangga, yang mungkin juga masih ngutang, pun cuma beli satu. Demi menahan malu, biasanya orang-orang itu sok-sokan membuat kopinya dengan metode pembuatan kopi klotok. Lalu, kalau dia ditanya oleh kawan konsumen baru kopi pahit itu, “Itu kopi apa? Mbok beli kertas saring biar jadi Vi Sixty.” Malah usaha menahan malu berubah menjadi serangan balik, “Ini metodenya seperti kopi Turki, ya kayak gini.”

Begitulah siklus yang terus berputar dan tidak akan pernah berhenti. Dan contoh kasus-kasus klasik lain yang masih sering kita jumpai, seperti ungkapan Gus Dur tentang kebaikan yang tidak membutuhkan legitimasi dengan agama yang dianut. Alangkah baiknya, mungkin, persoalan semacam itu sudah “selesai” sejak dini. Di masa anak-anak, kita sudah mendapat bekal pengetahuan tentang kebaikan dan kebenaran, walaupun barangkali orang tua tidak memberikannya secara detail. Hingga pengetahuan itu berkembang dengan sendirinya; berbanding lurus dengan usia, lingkungan, dan masalah-masalah yang datang. Tapi, mungkin kita lupa kalau orang tua pernah berkata, “Jangan nakal, ya. Kalau punya makanan lebih, temennya dikasih. Kalau ada temen yang minta tolong, segera ditolong, jangan pamrih atau minta imbalan.” Kan makna yang tersirat adalah kita harus selalu berbuat baik supaya berguna dan bermanfaat untuk sesama, dan tidak boleh pamrih. Sayangnya, pamrih yang dimaksud oleh orang tua kita sudah berubah. Sekarang, pamrih sudah berubah menjadi semacam keinginan untuk diakui kebaikannya dan diakui kalau perbuatan itu benar, dan itulah kebenaran kita, seperti apa yang Gus Dur bilang, kalau apa pun yang kita lakukan dalam hal kebaikan, orang tidak akan bertanya apa agama (kebenaran) kita.

Dampak dari itu semua adalah banyak orang-orang yang memegang teguh kebenarannya dan mempermasalahkan tabel kebenaran orang lain. Menganggap dirinya benar, dan menganggap orang lain salah. Mungkin, orang-orang itu lebih baik belajar tentang bahasa mesin komputer, yang mengandung tabel kebenaran yang hanya berisi True dengan nilai 1 dan False dengan nilai 0. Lalu, hasil penjumlahan satu ditambah satu adalah nol. Benarkah? Tentu benar menurut tabel kebenaran bilangan biner, namun salah menurut ilmu dalam matematika dan tabel kebenaran dalam kehidupan.

Tetapi, kebaikan juga memiliki risikonya sendiri. Belum tentu sebuah kebaikan itu adalah sebuah kebenaran. Ketika kita sedang berusaha untuk benar-benar menjadi baik. Memberi makanan kepada orang yang membutuhkan, misalnya, barangkali usaha itu hanya sebagai keinginan kita supaya orang-orang mengklaim bahwa kita adalah orang baik. Sehingga kebaikan tersebut gagal menjadi sebuah kebenaran. Ya, begitulah paradoksal kehidupan. Namun, saya kira, kebaikan tetap lebih baik berada di barisan paling depan. Mana mungkin resep berpikir kita harus kita tunjukkan lebih dulu, baru kemudian kita melakukan sebuah kebaikan untuk mendukung resep di dalam kepala kita. Karena orang lain pun memiliki kebenarannya sendiri. Jadi, kebenaran memang sangatlah relatif. Bahkan ada sebuah kalimat yang berbunyi “Boleh berbohong kalau untuk kebaikan.” Jika menggunakan rumus benar-salah berdasarkan aturan normatif, berbohong adalah tindakan yang salah, pun tidak baik. Adapun kalimat oposisi “Lebih baik jujur walaupun menyakiti orang lain.” Semua tetap kembali kepada diri kita masing-masing. Di manakah kebenaran dan kebaikan diposisikan, entah di depan atau di belakang. Tujuan kita tetaplah satu, seperti kata putri Wiji Thukul, “Jangan mati sebelum berguna.” Entah yang kita lakukan hanya mengandung kebenaran atau kebaikan saja. Hingga akhirnya sebuah perdebatan di dalam diri tentang kebaikan dan kebenaran akan melahirkan perdebatan baru; kebenaran dalam mencari sebuah kebenaran dan kebaikan, dan kebaikan dalam sebuah kebaikan atau kebenaran.

Sampai pada saat menulis kalimat ini, saya mulai merasakan kalau saya seperti sedang mabuk dan memamerkan kebenaran saya sendiri. Ah, sudahlah. Barangkali obrolan semacam ini akan lebih baik kita bahas kelak. Saat kita duduk bersama di hadapan Tuhan dan para malaikat.

Nizar Ibrahim Hartono

Lahir di Karanganyar, 28 Januari 1995. Sedang menempuh penerbitan pertama buku kumpulan cerpen.
Nizar Ibrahim Hartono

Latest posts by Nizar Ibrahim Hartono (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Lahir 95 udah punya nalar yang bagu soal kehidupan. Dan narasi yang bagus pula dalam menyampaikan. Saya 2th lebih tua belum melakukan apa2. Salut mas

Leave a Reply

Your email address will not be published.