Mencintai Ibu Kucing

“Having a bunch of cats around is good. If you’re feeling bad, you just look at the cats, you’ll feel better, because they know that everything is, just as it is.”

Istri saya sudah pasti mengamini apa yang dikatakan novelis Charles Bukowski tersebut. Saban waktu perasaannya tak nyaman atau ketika kami bertengkar, dia akan keluar kamar sebentar dan duduk di teras samping. Oni akan menemaninya. Membiarkan badannya dielus dan dipeluk.

Setelah masuk, dia akan merasa jauh lebih baik. Api di dadanya mengecil dan menyisakan hangat. Hangat itu yang kemudian membuat es di antara kami mencair.

Namun setelah hari ini, saya tidak tahu lagi. Oni—kucing generasi pertama yang tinggal di keluarga kami—sepertinya ditabrak seseorang. Saya melihatnya terbaring di jalan gang sekitar pukul 06.00 ketika pergi mengisi air galon. Saat kembali, posisinya pindah di tepi dengan pose yang sama. Hidungnya mengeluarkan darah dan aspal terlihat memerah.

*

Oni menempati rumah kami sejak Maret 2018, bahkan ketika kami belum menikah. Istri saya membawanya bersama dua kucing lain, Oren dan Leo. Saat itu, umur mereka baru satu bulan. Saya yang merawatnya sambil menunggu istri menamatkan kuliah di Yogyakarta.

Sejak SMA, istri saya ingin punya peliharaan. Namun baru terwujud ketika S2-nya selesai. Jadilah mereka kesayangannya. Setiap video call, kucing-kucing ini yang ditanyakan.

Sejatinya, saya jauh dari sifat-sifat Abu Hurairah. Walau sejak 10.000 tahun lalu dijinakkan dan didewakan di Mesir, kucing bagi saya biasa saja. Ketika istri saya bertingkah seperti pasangan George di cerpen Cat in The Rain karya Ernest Hemingway, saya pun sama tak acuhnya. Terbayang merepotkan, bagaimana tahi mereka dan seterusnya dan seterusnya.

Namun apa saja dilakukan demi cinta, bukan? Saya lantas terjebak menjadi laki-laki meong yang tidak sepenuhnya. Kami sering kali berdebat bagaimana mereka harus dipelihara; istri ingin mereka dalam rumah, tentu saya tidak; mereka di dalam rumah tapi dalam kardus, mereka dalam rumah tapi di garasi—hingga urusan perut. Makanan kucing bukan makanan manusia. Biayanya tidak sedikit untuk kami yang mulai berumah tangga.

Oni.

Oni tipe betina alpha male. Dia menguasai rumah walau Oren dan Leo pejantan. Berani dengan pejantan mana pun yang masuk ke daerah jajahannya. Rasanya dia ranum dengan sempurna dan tiba-tiba pulang dengan perut besar. Leo yang sebelumnya jadi favorit pun tersingkirkan. Sementara Oren, sama seperti kucing oren lainnya, sombong, songong, dan pemarah.

Setelah melahirkan dan anak-anaknya tak terselamatkan, kucing-kucing lain datang ke rumah. Kami memang membeli Bolt karungan dan senantiasa mengisi wadah makanan tiga kali sehari. Mungkin kucing liar saling berbagi informasi dan perut para tunawisma ini merasa punya dapur gratis. Tinggal mengeong dan makanan tersaji. Layaknya hubungan majikan dan hamba sahaya. Tentu, majikan itu mereka.

“Aku merasa ada jatah mereka di rezeki yang kuterima,” kata istriku sekali waktu, setelah membeli sekarung Bolt baru. Tak lupa dengan pasir kucing beraroma kopi.

Kucing itu sudah seperti anak yatim piatu dan mereka terus datang entah dari mana. Seperti muncul dari dalam tanah atau turun dari langit, rumah kami kedatangan Brian, Bambang, Goyang, Pevita dan Oren II (namanya berangka terinspirasi dari raja-raja dan sultan di Yogyakarta). Ini hanya yang masuk rumah, sisanya hanya perlu mengeong di luar atau berebut yang tersisa di wadah makan.

Waktu berjalan dan mereka satu per satu menghilang. Oren I dan Goyang mati, sisanya penaka ditelan bumi. Entah kepincut betina gang sebelah atau tersesat atau dicuri orang. Hingga hanya ada Oni dan Pevita dan tak boleh ada matahari kembar. Semenjak rumah sepi, Oni lebih sering tinggal dan Pevita tak pernah berani mendekat.

Yang dulunya menunggu di luar, Oni akan masuk ketika mendengar suara meninggi atau tangis salah satu di antara kami. Dia seperti orang tua yang mendamaikan. Bergerak di antara kaki-kaki, mengeluskan bulu halusnya laksana ibu mengelus kepala anaknya. Atau ketika kamar ditutup, dia menunggu tepat di depan pintu.

Di siang yang panas, Oni akan masuk dan menjatuhkan dirinya di depan mesin cuci. Atau menghangatkan diri dengan matahari sore yang menembus jendela ruang tamu. Atau menarik sapu lidi di samping televisi dan mengajak kami bermain.

Oni adalah saksi bagaimana kami tumbuh dan bertahan sejauh ini. Dia pula yang menemani kami saat orang-orang berujar akan sulit punya anak jika pelihara kucing dalam rumah. Saban orang datang dan tahu kami yang sudah tiga tahun lebih menikah dan tidak juga punya anak, mereka akan menyebut-nyebut toksoplasmasis. Virus yang bisa dibawa kucing dan menyebabkan kemandulan pada manusia. Buktinya hingga Oni meninggalkan kami, istri saya tengah hamil enam bulan.

Bagi kami, Oni bukan sekadar peliharaan. Hubungan kami pun bukan layaknya hamba dan majikan seperti yang kerap disebut untuk menjelaskan relasi kucing dan manusia. Saya justru sepakat dengan Genki Kawamura dalam novelnya Jika Kucing Lenyap dari Dunia. Dia bilang, “Kalau kita selalu bersama kucing, lama-lama kita paham bahwa sebenarnya bukan manusia yang memelihara kucing, melainkan kucinglah yang rela mendampingi manusia.”

*

Di malam ketika paginya Oni mangkat, saya dan istri menangisi beberapa hal. Dan kepergiannya, menambah duka. Istri saya terus menggoyangkan dan mengelus perut bawah sambil memanggil namanya. Namun Oni diam bagai berhala dan tidak mengabulkan permohonan istri saya yang memintanya bangun. Badannya geming walau terasa hangat, kecuali bagian kaki.

Dulu, kami sering berlomba memanggil Oni dan menerka apakah dia mengerti kalau sedang dipanggil. Kami seperti ingin membuktikan asumsi bahwa kucing sebenarnya mendengar namun tak acuh dengan sekitar. Kini, satu-satunya hal yang mau saya lihat hanyalah kepercayaan orang Mesir jika kucing bernyawa sembilan.***

Latest posts by Kristiawan Balasa (see all)

Comments

  1. Manusia Pagi Reply

    I really-really love this, thanks dude!

  2. Nadya tifa Reply

    sebagai sesama pencinta kucing aku tahu bagaimana kehilangan seorang yang melibihi kata ‘peliharaan’

    aku suka

  3. zeyla adillati Reply

    pas baca biasa aja tapi pas udah selesai tiba-tiba air mata netes:((

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!