Mencintai Perempuan yang Mencintai Tikus

artstation.com

Benarlah yang dikatakan orang-orang itu, cinta menjadikan yang menjijikkan bagi orang lain akan tampak indah di matanya.

Perempuan cantik itu mencintai tikus; hampir segala jenis tikus: tikus putih, tikus merah, tikus kuning, tikus biru, tikus belang, tikus hijau, tikus hitam, dan banyak lagi. Tikus-tikus itu ia biarkan ke sana-kemari di dalam rumahnya, tanpa kandang.

Ketika ia tidur, tikus-tikus itu akan ikut berkerumun di tempat tidurnya, menjelajahi lekuk-lekuk tubuhnya. Ada yang di bagian kaki, tangan, dada, leher, paha, dan hampir seluruh bagian tubuhnya. Ada yang menjilati bibirnya, ada pula yang menyusup dalam piyamanya, mengendus kemaluannya atau buah dadanya. Anehnya ia tak merasa risih dengan tingkah polah para tikus itu, bahkan ia seperti sangat menikmati sensasi sentuhan mereka.

Tentu kalian bertanya bagaimana aku bisa tahu semua itu? Tentu saja aku tahu. Begini ceritanya.

Perempuan itu berusia sekitar dua puluh dua atau dua puluh lima. Dia datang bersama seorang wanita terhormat dan pria setengah baya ke kompleks perumahan kami dan membeli sebuah rumah yang memang dijual oleh pemiliknya. Rumah itu sudah lama dijual tapi tidak laku karena terlalu mewah untuk ukuran kami. Tapi, oleh perempuan dan dua orang yang bersamanya rumah itu dibeli secara kontan.

Beberapa hari kemudian perempuan itu resmi tinggal di sana. Dia orangnya agak tertutup tapi tidak enggan jika ada yang mengajaknya bicara. Dari pengakuannya, pria dan wanita terhormat itu adalah orang tuanya. Aku tidak percaya sepenuhnya, sebab aku pernah melihat pria terhormat itu mencium bibirnya sebelum keluar gerbang dan pergi. Aku belum pernah melihat seorang ayah mencium bibir anak perempuannya sedemikian rupa. Tapi, aku tidak bertanya soal ini padanya. Yang jelas aku lebih percaya jika pria itu adalah pacarnya atau mungkin saja perempuan cantik ini adalah selingkuhan pria itu.

Sekian kali bertemu dengannya aku merasa tertarik pada kecantikannya. Aku tak peduli siapa dia sebenarnya. Setidaknya sehari sekali aku selalu mencari kesempatan untuk berbincang dengannya. Setelah beberapa bulan mengenalnya, perasaanku terasa makin mengental. Tapi, rupanya perasaan itu masih kalah dengan kekeluan lidahku ketika hendak mengatakan suka padanya. Lagi pula apakah aku mampu bersaing dengan pria terhormat itu?

Di sebuah pagi yang cantik aku melihat wanita terhormat itu datang membawa seekor tikus merah. Perempuan cantik itu menyambut dan tanpa ragu mencium tikus merah. Mereka bertiga kemudian tertawa dan masuk rumah. Iya, tikus merah itu tampak terkekeh mengejekku. Atau, hanya perasaanku saja? Entahlah.

Di lain waktu, wanita terhormat itu kembali membawa tikus kuning dan perempuan cantik yang aku suka itu melakukan hal yang sama seperti ia lakukan pada tikus merah. Di hari yang lain lagi, wanita terhormat itu datang lagi membawa tikus-tikus lain: tikus ungu, hijau, putih, hitam, kelabu, biru, belang, dan lainnya. Si perempuan yang kusuka selalu tampak senang bahkan semakin senang menyambut wanita terhormat dan tikus-tikus yang dibawanya.

Suatu kali aku mengintip si perempuan sedang bermain dengan tikus-tikus itu di beranda belakang. Dia tanpa merasa risih atau jijik membelai dan menciumi mereka. Tikus-tikus itu seolah boneka saja baginya. Mereka menurut dan riang bermain di seluruh permukaan tubuh perempuan cantik itu. Bahkan ketika seekor tikus menyusup ke dalam dadanya, perempuan itu justru tertawa girang.

Aku merasa jijik melihat itu. Tapi, perasaan sukaku padanya tak membiarkan rasa jijik bersemayam lama dalam diriku. Aku segera memaklumi tingkah polah perempuan itu. Bahkan aku membayangkan seandainya yang dibelai dan dicium adalah aku.

Sekian kali melihatnya bermain dengan tikus yang menjijikkan itu, lama-lama aku merasa terbiasa. Rasa jijik itu telah sepenuhnya tertutup oleh perasaan suka padanya. Apalagi memandangi wajah cantik dan keindahan tubuhnya.

Aku merasa seperti orang gila, hampir kehilangan kendali untuk segera memeluknya. Tapi, bagaimana caranya? Sejak dia punya mainan tikus-tikus itu, dia jarang sekali keluar rumah. Akibatnya aku tak bisa lagi menyapa dan berbincang dengannya walau sebentar. Aku pernah mencoba menemuinya, tapi dia bilang sedang sibuk. Beberapa kali aku melakukannya. Jawabannya selalu sama: maaf sedang sibuk, lain kali saja. Bahkan terakhir kali aku mencoba bertamu lagi dia tak mau keluar untuk sekedar menolak bertemu.

Penolakan berkali-kali itu tak mematahkan perasaan suka ini padanya. Aku mencari cara untuk menemuinya. Setelah beberapa lama mengamati dan berpikir aku menemukan sebuah cara. Dari pengamatanku, pria terhormat yang dia akui sebagai ayahnya itu akan datang setiap empat atau tiga hari. Di antara hari-hari itu para tikus juga akan pergi dari rumahnya. Entah ke mana. Aku juga merasa aneh dengan kepergian dan kedatangan para tikus yang tanpa jejak dan tanda. Ketika waktu jeda itulah perempuan cantik itu sendirian.

Aku merasa mantap dengan rencanaku. Malam itu aku menyelinap ke rumahnya melalui pintu gerbang kecil belakang rumah. Dari sana aku mengendap mencongkel pintu dapur yang ternyata tidak dikunci. Dengan sangat hati-hati aku memasuki ruang tengah. Aroma busuk tikus segera menyergap hidungku. Tapi, hasrat untuk mendekap tubuh indah perempuan cantik itu seolah mengalahkan bau itu.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan kamar perempuan itu. Pintu sedikit terbuka. Dari celah itu aku mengintip ke dalam. Bau busuk tikus semakin kental. Tapi ketika kulihat dia sedang telentang dengan piyama tersingkap sebagian sehingga paha mulusnya terlihat, aku mendapat kekuatan untuk menahan aroma busuk itu.

Perlahan kubuka pintu lebih lebar. Namun, langkahku tertahan. Pengamatanku meleset rupanya, para tikus sudah berada di sana. Kulihat para tikus sedang menjelajahi setiap jengkal tubuh indah perempuan itu. Ada yang di bagian kaki, tangan, dada, leher, paha, dan hampir seluruh bagian tubuhnya. Ada yang menjilati bibirnya atau pipinya, ada pula yang menyusup dalam piyamanya, mengendus kemaluannya atau buah dadanya. Anehnya ia tak merasa risih dengan tingkah polah para tikus itu, bahkan ia seperti sangat menikmati sensasi sentuhan mereka.

Pemandangan itu semakin liar ketika perempuan itu dengan mata terpejam melucuti piyamanya. Aku menelan ludah. Tapi, seketika itu juga kulihat pemandangan yang membuatku mual. Para tikus itu berubah menjadi manusia berkepala tikus beraneka warna. Mereka beramai-ramai menikmati tubuh perempuan yang kusuka.

Sekian detik kemudian kurasakan pertahanan hidungku musnah. Bau busuk tikus sangat tajam menusuk hidungku. Aku tak bisa menahan mualku. Aku berlari menerjang apa saja sambil menahan muntah.

“He!! Siapa itu?”

Masih sempat kudengar perempuan itu berteriak. Aku tak peduli. Aku terus berlari menerobos pintu-pintu dan berhasil keluar. Jejak sakit akibat mual masih terasa di perutku. Sebagaimana isi perutku yang keluar seluruhnya, lenyap pula hasrat memeluk perempuan cantik yang ternyata serupa siluman itu.

Cinta memang menjadikan yang menjijikkan bagi orang lain akan tampak indah di matanya. Tapi, sebenarnya tetap menjijikkan di mataku.

Era Ari Astanto

Lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018). Novel terbarunya yang akan terbit berjudul Di Pasujudan Bonang.
Era Ari Astanto

Latest posts by Era Ari Astanto (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    love it

  2. Dani Alifian Reply

    Saya rasa Tikus itu sebagai simbol Koruptor, dan si Perempuan itu merupakan pelacur yang menjajajakn dirinya pada koruptor. Ceritanya keren, penuh fantasi.

    • Amin Reply

      Benar juga pendapat Anda. Ada kritik sosial juga ya.

    • Anonymous Reply

      Sepemikiran. Wanita terhormat yang disebutkan itu mucikarinya, yang membawa tikus2 itu ke rumah perempuan cantik tersebut .

  3. Amin Reply

    Sungguh luar biasa. Plot ringan. Dua tema asmara dan misteri. Kirim lagi ya kak!

  4. Anonymous Reply

    ntah aku bermimpi, tapi seingatku aku pernah membaca cerpen dengan alur seperti ini sebelumya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.