Mendatar dan Menurun

Ajaran penting dari Nh Dini pantas diamalkan oleh para pengarang di Indonesia adalah mengerjakan teka-teki silang (TTS). Dini memang rajin menulis cerita pendek dan novel tapi memiliki waktu bermakna dengan mengurusi jawaban di kotak-kotak mendatar dan menurun. Perbuatan mengisi TTS itu jangan pernah dianggap sia-sia. Pengisi TTS memiliki misi-misi besar, tak melulu berharap hadiah. Dini mengerjakan TTS berdalih usia, pikiran, waktu, dan bahasa.

Di Tempo, 29 April 2007, berita kecil mengenai Dini agak mengejutkan bagi para pembaca novel berjudul Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, dan La Barka. Pengarang kondang tak sedang diberitakan mengenai kerja menulis novel terbaru atau pemerolehan penghargaan sastra. Di situ, wartawan mengutip perkataan Dini: “Sering-seringlah mengisi teka-teki silang.” Ia menganjurkan bagi orang sudah berusia tua agar rajin mengisi TTS untuk melawan kepikunan. Perkataan itu disampaikan Dini saat menghuni Wisma Lansia, Langen Werdhasih, Ungaran, Jawa Tengah. Dini mengaku sudah 10 tahun mengisi hari dengan mengerjakan TTS. Pengerjaan di waktu senggang, bukan sehari-semalam cuma memikirkan jawaban di kotak-kotak mendatar dan menurun.

“Tapi jangan silap, TTS yang setiap hari dipelototi Dini tak bisa didapatkan di Indonesia karena khusus dikirim anaknya dari Prancis,” tulis di Tempo. Kita patut cemburu. Di Indonesia, orang biasa membeli buku TTS tipis dan bersampul norak di kios koran atau gerobak jualan rokok. Di bus, orang kadang menjumpai ada pedagang TTS dengan harga murah. Dulu, orang keranjingan membeli dan mengisi TTS bermaksud pembuktian pintar dan mau sibuk di hari-hari berlimpahan waktu senggang. Pilihan mengisi TTS di koran dan majalah tentu mengarah ke impian mendapat hadiah atau keberuntungan.

Sejak puluhan tahun lalu, industri buku TTS menghasilkan untung besar. Di terminal, rumah, kantor, atau warung, kita biasa melihat orang-orang mengerjakan TTS: sendirian atau bersama. Mereka itu konsumen dan penggemar TTS. Penerbitan buku-buku TTS bekertas buram dan murah membuat mereka sempat bahagia dan menguji pikiran setiap hari. Pada abad XXI, penerbitan buku TTS mulai tampil molek dan mengandung mutu tinggi. Kita bisa membuktikan dengan mengisi buku-buku TTS sekian jilid terbitan dari Penerbit Buku Kompas. Buku sering tebal dan mendapatkan para penggemar fanatik.

Pilihan Dini adalah mengurusi buku TTS berbahasa Prancis, bukan bahasa Indonesia atau Jawa. Keterangan Dini: “Guna lainnya adalah supaya saya terus ingat dengan kata-kata bahasa Prancis.” Kita menganjurkan kebiasaan Dini itu diikuti pembaca menggandrungi sastra Prancis. Bacalah novel-novel Prancis dan isilah TTS berbahasa Prancis! Pengakuan Dini menjelaskan biografi saat menjalani hari-hari di Indonesia dan Prancis. Kini, kita membaca lagi berita itu sambil mengenang Dini. Peran sebagai pengarang besar digenapi predikat pengisi TTS. Umat sastra di Indonesia boleh meniru, tak usah malu atau jaga gengsi gara-gara sibuk melulu terbenam di media sosial.

* * *

Indonesia memiliki sejarah TTS, tercatat di pelbagai majalah dan koran. Kita ingin menjenguk sejarah itu dengan setumpuk klise dan penasaran. Ratusan majalah dan koran Indonesia memiliki menu penting berupa TTS meski sering ditaruh di halaman belakang. TTS harus mengalah dari rubrik-rubrik pokok mengenai politik, pendidikan, ekonomi, agama, atau hiburan. Di halaman-halaman belakang, TTS justru menjadi pilihan pembaca terobsesi hadiah. Sejak puluhan tahun silam, ratusan sampai ribuan orang mengisi TTS dan mengirim jawaban ke penerbit. Mereka berharapan mendapat hadiah duit, kaus, atau benda-benda idaman.

Pengisah orang-orang Indonesia kecanduan TTS bernama Tanjung Pertiwi. Zaman ramai TTS didokumentasikan dalam gubahan puisi berjudul “Obsesi Sebuah TTS”, dimuat di majalah Gadis, 18-28 November 1982. Puisi ruwet tapi bermaksud lucu.

panggilan kepada turunan kedua. AN-

JING, jawabnya. sungai di Spanyol?

MATISSE. sebutan bagi orang Amerika.

KUTUB, isinya. dan apakah sinonim dari

giling? MERTUA! sedangkan sejenis usus ke-

cil pada usus buntu kamu menyebut: BOTOL.

saudara, oleh karena setiap kotak memaksa

ballpoint menuliskan begitu

apa boleh buat.

bukankah kau tak akan menolak dan tidak

protes bila hadiah ternyata jatuh ke

tanganmu?

Para penggemar puisi di abad XXI mungkin tak pernah mengenali Tanjung Pertiwi dan menjadikan puisi itu masuk dalam buku antologi atau bunga rampai seperti susunan HB Jassin, Ajip Rosidi, dan Linus Suryadi AG. Puisi sempat menggoda para pembaca Gadis di masa 1980-an. Majalah berslogan “top di antara yang pop.” Puisi bertema TTS tentu ingin “top di antara yang pop”. Puisi memuat kodrat TTS: mendatar-menurun dan hadiah. Penerima hadiah adalah orang beruntung. Konon, TTS tersaji di koran atau majalah belum tentu semua bisa terisi. TTS kadang harus dikerjakan berkelompok atau meminta kontribusi dari anggota keluarga. Hadiah dari TTS pun harus dibagi gara-gara menjawab secara berjemaah.

Gadis termasuk majalah bermenu TTS. Di halaman 91, sehalaman TTS menggembirakan para pecandu atau peminat hadiah. Lihatlah, kotak-kotak berwarna putih menanti jawaban! Ada puluhan jawaban. Detik demi detik, si pengisi berpikir dan menggerakkan bulpen. Jawaban demi jawaban diberikan berharap cocok dengan jumlah kota. Di sekian kotak menurun-mendatar, orang berhak merenung dan bingung. TTS tanpa dilema pasti picisan atau pembodohan.

Pesan dari redaksi: “Tulislah jawabannya pada sehelai kartu pos yang disertai Kupon TTS Gadis No 15/IX. Jawaban sudah harus diterima redaksi selambat-lambatnya tanggal 3 Desember 1982.” Cara mengumumkan dan petunjuk pengiriman jawaban itu persis dengan majalah-majalah lain. Ketentuan baku mengalami penjiplakan di pelbagai majalah dan koran. Orang berpikiran TTS wajib bermodal kartu pos. Tata cara itu dipenuhi agar mendapat keberuntungan.

Para pendamba hadiah pasti girang tiada tara membaca pengumuman di Tempo, 11 Maret 1989. Kita tak sedang mengingat “Supersemar” tapi 11 Maret untuk umat TTS seantero Indonesia. Pengumuman lomba TTS jumbo spontan diadakan di Jakarta, 19 Maret 1989. Bacalah pengumuman dengan mesem sempurna: “Hallo para penggemar Teka Teki Silang (TTS). Datanglah pada hari Minggu tanggal 19 Maret 1989, pukul 10 WIB di Kantor Pemasaran Bintaro Jaya, Jakarta Selatan. Bersiaplah menjawab 700 buah pertanyaan dari TTS Jumbo uang disiapkan oleh panitia. Boleh juga dalam bentuk tim (sebanyak-banyaknya 3 orang). Yang penting jawablah secara tepat dan cepat.” Lomba itu menggoda orang dengan hadiah-hadiah menggiurkan. Kita mengenang sejarah umat TTS itu dengan terharu. Mereka sedang dihormati dan diuji.

* * *

Kita menuju ke majalah-majalah berbeda, menjenguk penamaan atau tampilan TTS. Majalah Minggu Pagi, 13 Januari 1957, suguhkan halaman TTS ke pembaca dengan penamaan cukup unik: “Asah Otak Berhadiah”. TTS itu berhadiah duit. Kehadiran TTS kadang menjadikan majalah laris atau pembaca memiliki ketergantungan demi mengisi kotak-kotak mendatar dan menurun. Tampilan TTS di Minggu Pagi biasa tanpa keanehan-keanehan.

Tampilan agak berbeda ada di majalah Panji Masyarakat, 1 Agustus 1980. Majalah berhaluan Islam itu perlu membedakan penggarapan TTS ketimbang majalah-majalah umum. Di luar kotak-kotak putih untuk jawaban, kita melihat ada tulisan Allah dan gambar masjid. Di tengah, terbaca singkatan PM: Panji Masyarakat. Redaksi menamai “Latihan Berpikir”. Di halaman berpikir, pembaca dianjurkan memulai dengan doa dan pantang putus asa.

Kehadiran halaman mengisi jawaban di kotak-kotak mendatar dan menurun seperti jeda dari penat pembaca memamah berita, artikel, dan iklan di majalah. Pada gambar kota-kotak, pembaca menantang diri dalam menjawab serius, menghindari ngawurisme. Jawaban demi jawaban ditaruh di kotak. Mata melihat huruf-huruf itu kata dibaca secara menurun dan mendatar. Keberhasilan memberi semua jawaban sudah menghasilkan kepuasan sambil menanti peruntungan mendapat hadiah atau harus mengirim lagi sampai ratusan kali.

Kita mencoba memberi jawab untuk halaman “Asah Otak Berhadiah” di Minggu Pagi. Mendatar: “Banjak diterbitkan pada achir dan permulaan tahun?” Ada 8 kotak. Kita menjawab: kalender. Menurun: “Kurang sopan santun?” Ada 5 kotak. Kita menjawab mengikuti hufuf awal “k” di kalender. Jawaban agak lama tapi berhasil diberikan: kasar. Kita jarang menghitung jumlah detik atau menit berhasil menulis semua jawaban. Orang memikirkan jawaban sambil merem-melek, menggigit bulpen, makan camilan, merokok, atau mendengarkan musik. Peristiwa berbeda dari mengerjakan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi atau lolos tes CPNS.

Kita menguji kemampuan memberi jawaban di lembaran “Latihan Berpikir” di Panji Masyarakat. Pada kotak bernomor 8 mendatar: “Abjad Arab huruf ketiga?” Berdoalah sebelum menjawab. Tiga detik berlalu, kita menjawab: ta. Jawaban benar diisi di dua kotak. Pada 5 kotak menurun tetap di nomor 8: “Merek jam?” Kita sulit menjawab meski ngawur. Apa merek jam terkenal pada masa 1980-an? Kita tinggalkan kotak-kotak itu kosong tanpa huruf. Berpindah ke nomor 3, menurun 4 kotak. Jawaban gampang asal hapal nama-nama nabi. “Seorang nabi?” Huruf awal adalah “m”. Kita tak butuh 3 hari 3 malam demi mendapatkan jawaban. Murid SD atau MI bisa menjawab cepat: Musa.

* * *

Kita melompat ke abad XXI. TTS sudah memiliki pikat baru, berbeda dari halaman-halaman di majalah atau koran. Para penonton televisi mengingat Cak Lontong dengan acara berjudul WIB (Waktu Indonesia Bercanda). Pada masa awal acara itu disuguhkan ke penonton, imajinasi TTS berubah drastis. Cak Lontong sengaja membuat jawaban-jawaban di kotak menurun dan mendatar tak wajar atau sesuai pikiran umum. Sekian jawaban aneh sulit dipikirkan peserta acara WIB. Keseriusan untuk ngawur bakal diganjar ledekan dan tawa penonton. Di kepala Cak Lontong, TTS sebagai tontonan di televisi dibentuk sebagai penghiburan bermutu. Kita tak sembarangan menganggap itu melulu jebakan dan tawa. Cak Lontong mengajak kita bermain logika kebahasaan ketimbang jawaban-jawaban normal.

Di depan televisi, kita turut bepikir mencari jawaban. Benar dan salah tetap saja memicu tawa. Cak Lontong itu pelawak. Ia tentu pantang menjadikan WIB itu acara ilmiah atau mengakibatkan orang pusing atau mencret berkepanjangan. Ia tak ingin jutaan orang Indonesia menderita gara-gara TTS di WIB. Tontonlah dan tertawalah meski hari-hari terasa panas dan dingin! Di kalangan muda, WIB itu jamu lelah, jenuh, marah, dan bodoh. Cak Lontong memastikan itu humor dengan risiko para penonton gampang protes, dari hal remeh sampai serius.

Kita perlahan ingat majalah bergelimang tawa pernah terbit dan digemari di Indonesia. Majalah itu bernama Humor. Pembaca tulen pasti mengingat nama-nama tenar menulis dan menggambar di situ: Emha Ainun Nadjib, Dwi Koendoro, Arwah Setiawan, Darmanto Jatman, Putu Wijaya, Johnny Hidayat, dan Darminto M Sudarmo. Di majalah Humor edisi November 1990, kita menemukan halaman dinamai SDSB. Pembaca ingat gegeran di masa Orde Baru gara-gara jutaan orang rajin membeli SDSB berharap dapat duit sekarung. Di majalah Humor, SDSB itu Saling Dan Silang Berhadiah. Penamaan memang aneh. Pada tahun-tahun terdahulu, redaksi malah memberi nama Penggegar Otak dan Penyegar Otak. Di Humor edisi 15 Desember 1988, kita berjumpa Penggegar Otak. Pembaca diminta menjawab. Jangan menjawab ngawur atau cengengesan!

Kita ingin bertaruh di SDSB saja. Lihatlah, gambar kotak-kotak itu dilengkapi ilustrasi apik dan lucu! Penampilan khas dengan misi majalah Humor. Pengisi TTS jangan menuntut jawaban-jawaban bakal diberikan haruslah lucu. Di TTS, serius itu mutlak. Kita mencoba memberi jawab di nomor 31 dengan 6 kotak: “Busana khas Jepang?” Para penonton serial Oshin di televisi bisa menjawab sambil merem: kimono. Jawaban tak boleh ngawur. Kita berlanjut ke kotak menurun di nomor 32 telah mendapat awalan huruf “o”. Tiga kotak untuk menjawab: “Cairan pelumas?” Orang tak harus menjadi Ali Topan atau Dilan untuk memberi jawaban paling benar. Jawaban tiga huruf tentu “oli”. Di majalah Humor, kita terlarang lucu dalam mengisi kotak-kotak mendatar dan menurun. Pelarangan itu kesalahan sulit dimaafkan dalam sejarah majalah lucu pernah terbit di Indonesia. Kita mengusir tawa tapi gampang dilanda kecewa gara-gara gagal menemukan jawaban. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.