Menerjemahkan Kemustahilan

madamerenoir.tumblr.com

 

Mungkinkah menerjemahkan puisi? “Tidak mungkin,” kata Robert Frost. “Ia akan raib saat diterjemahkan,” imbuhnya. Pernyataan ini populer, tapi tidak terbukti, karena ternyata banyak puisi tetap diterjemahkankan. Terus? Kita mau apa?

Ketidakmungkinan yang dimaksud dalam statemen di atas adalah jika menerjemahkan dipahami sebagai upaya untuk menghadirkan segala yang dibawa oleh sebuah puisi seutuh-utuhnya, termasuk pilihan kata (diksi), rima, hingga keterwakilan ungkapan dari bahasa asal (sumber) ke bahasa si penerjemah. Kesulitan ini pun masih seputar persoalan bentuk, akan lebih tidak mungkin jika harus mampu “menerjemahkan” gagasan dan sudut pandang lokalitas dan circumstance sang penyair, belum lagi jika yang diterjemahkan adalah puisi-puisi Arab konvensional (bermetrum atau bahar dengan pengaturan pemenggalan suku kata [scansion]).

Dulu, kita sering membaca puisi-puisi Kahlil Gibran, seakan-akan dia memang benar-benar penyair produktif, padahal Gibran hanya menerbitkan satu buku puisi (bermetrum dan konvensional), Al-Mawakib. Sisanya adalah prosa naratif (seperti “Sang Nabi” dan “Taman Sang Nabi”). Namun, karena model penerjemahan ke Bahasa Indonesia-nya mengikuti pola tipografi puisi, jadilah “prosa” tersebut seperti puisi panjang.

Dalam menerjemahkan puisi atau syair, rima dan persajakan dapat disiasati. Akan tetapi, bagaimana jika ia berupa sudut pandang lokal dan kearifan lokal? Kita lihat contoh di bawah ini:

تا يكبر الدوري و يحمر القرميد # يا دارة دوري دوري موعدنا عالعيد

Mari berputar, terus mengitar! Kita berkencan pada hari raya

hingga (burung) dori kian besar dan batu bata merah merona

Dalam kasus bait di atas, persamaan bunyi larik masih dapat diserupakan dalam pe-rima-an “raya” dan “rona”, tapi bagaimana cara menyelaraskannya jika yang dimaksud si penyair adalah mengungkapkan kemustahilan dalam frasa “burung dori menjadi besar” dan “batu bata berubah warna merah” sedangkan di tempat kita (Indonesia), burung dori tidak populer dan bata merah memang berwarnah merah? Barangkali, inilah yang dimaksud salah satu ketidakmungkinan itu.

Dari sekian banyak persoalan, yang paling rumit adalah jika penerjemah berhadapan dengan bait-bait puisi Arab Klasik, seperti Al-Muallaqat (puisi terbaik era Jahiliyah, puisi para pemenang lomba puisi yang digantung di dinding Kakbah).

Di sini, saya ambil contoh puisi-puisi Zuhair bin Abi Sulma, salah satu Penyair Muallaqat.

Di Depan Puing-Puing (6 larik; saya ambil contoh 3 larik saja)

أَمن اُمِّ أوفى دمنةٌ لم تكلَّمِ # بِحومانة الدُّرَّاجِ فالمُتَـثَـلّم

Masihkah (tersisa) dari Ummi Aufa reruntuhan

rumahnya yang (diam) tanpa kata, rumah yang ada pada distrik padat, yang terletak di antara Durraj dan Mutatsallam?

ودارٌلها بالرَّقْمَتَينِ كأنها # مرَاجيعُ وشْمٍ فى نواشر مِعْصَم

Juga masihkah ada sebuah rumah miliknya, di antara dua

kampung Raqmah, (yang) seumpama lukisan inai yang

(digurat) berulang-ulang pada urat nadi wanita (yang

menghias diri)?

بها العَينُ والأرَام يمْشـيْن خِلفةً # وأطْلاؤُهايَنْهِضْنَ مِن كُلِّ مِجْثَمِ

Di situ, ada seekor sapi liar serta kawanan rusa putih berjalan

saling bersicepat (saling saling-menyalip), sementara anak-anak mereka bangkit dari peristirahatannya

Puisi muallaqat di atas diterjemahkan oleh Muhammad “Pangapora” Shalahuddin. Menurutnya, puisi Jahili selalu punya gaya yang sama, seperti pada bagiannya, misalnya meratapi reruntuhan untuk mengenang. Jenis puisi ratapan (ratsa’) sangat berjaya dalam kebudayaan mereka. Ia diungkapkan untuk mengenang masa lalu (dan mengenang kekasih), dengan ekspresi yang mendalam dan terperinci.

Ada banyak kosakata yang sangat khas dalam puisi Zuhair di atas, yang ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonsia akan sulit diterapkan—bahkan nyaris tidak mungkin—kecuali dengan membiarkannya tetap ada dalam bahasa asalnya, Bahasa Arab, dan memberikan catatan kaki untuknya.

Sebut saja contoh untuk kata khilfah pada bait ketiga. Dalam konteks puisi tersebut, menurut Muhammad “Pangapora” Shalahuddin, kata itu menyampaikan gambaran segerombolan anak unta yang berjalan, berbaris, di mana yang satu sesekali menyalip yang lain, susul-menyusul, dan begitu pula seterusnya. Begitu pula dengan citraan inai di tangan yang putih, yang diberi pacar (hena) terus-menerus sehingga ia membekas. Begitu emosional gambaran itu diungkapakan sehingga kenangan itu membekas, ya, serupa bekas inai hena di tangan.

***

Puisi adalah upaya menyampaikan gagasan sepadat-padatnya dengan pilihan kata tertentu dan sudut pandang yang berbeda dari pandangan pada umumnya. Pemadatan dalam ekspresi tersebut dilakukan karena penyair tidak ingin bahasanya bertele-tele dalam mengungkapkan, tidak seperti yang terjadi dalam bahasa biasa, bahasa keseharian, vernacular. Intinya, puisi menyampaikan sebanyak mungkin hal dengan seminimal mungkin kata-kata.

Dalam kasus puisi-puisi muallaqat, tampak bagaimana penyepertian-penyepertian dan upaya penyair membanding-bandingkan sesuatu, terutama puing-puing dan kenangan, baik perbandingan analogi, personifikasi, hingga metafora. Monroe Breadsley menyatakan bahwa metafora itu “puisi miniatur”, ya, karena dengan definisi sederhana dapat dikatakan, bahwa puisi tak lebih dari sehimpun metafora (serta sedikit bumbu personifikasi).

Mengapa Puisi Harus Diterjemahkan?

Puisi tetap harus disampaikan kepada pengguna bahasa lain dan warga kebudayaan lain. Lewat cara ini, salah satunya, kebudayaan-kebudayaan besar di dunia akan saling bertukar dan dipertukarkan. Lalu, lahirlah asimilasi dan akulturasi budaya. Menerjemahkan puisi adalah upaya menyampaikan adanya “suatu hal lain yang belum diketahui” agar masyarakat tahu bahwa ada suatu pandangan dan cara ungkap yang berbeda di dunia ini.

Sebagaimana diungkapkan pada paragraf-paragraf awal, hujah kemustahilan penerjemahan yang ditengarai adalah perbedaan watak bahasa sumber dengan bahasa sasaran, misalnya seperti perbedaan bahasa rumpun Semit dan non-Semit. Jelas, perbedaan macam ini akan mereduksi banyak hal. Maka, apabila sebuah puisi terpaksa harus diterjemahkan, yang harus dilakukan adalah menjaga unsur-unsur dasar seketat mungkin agar tetap serupa atau berdekatan. Contoh: Jika yang kita menerjemahkan puisi Arab lama atau puisi terikat (bermetrum), maka yang dapat kita lakukan adalah menjaga bunyi akhir atau rima serta scansion atau taqthi’-nya. Dengan demikian, pemenggalan suku kata versi terjemahannya pun akan terasa sense atau dzauqnya, bisa mirip dengan versi aslinya. Berikut contoh:

BAIT: ثَلاَثَةٌ تُشرقُ الدُّنيَا بِبَهْجَتهَا # شَمْسُ الضّحىَ وأَبُو إسْحَاقَ وَالقَمَرُ

RUMUS: (فَاعِلُنْ) (مُسْتَـفْعِلُنْ) (فَاعِلُنْ) (مُسْتَـفْعِلُنْ) # (فَاعِلُنْ) (مُسْتَـفْعِلُنْ) (فَاعِلُنْ) (مُسْتَـفْعِلُنْ)

TERJEMAH:

(tiga ihwal) – (yang bikin) – (dun-ia terang) – (benderang)

(cahya Duha,) – (dan Abu) – (Ishak, juga) – (rembulan)

Rincian: Puisi di atas adalah penggalan puisi Muhammad bin Wahib saat memuja Al-Mu’tashim yang berlakab Abu Ishak. Metrumnya menggunakan Bahar Basith. Rumusnya; mustaf’ilun – failunmustaf’ilun – failun (diulang 2x). Pemenggalannya; mustaf/ilun fa/ilun mustaf/ilun fa/ilun. Jika kita hendak menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sambil menjaga kesamaan pemenggalan suku kata dan rimanya, maka kita dapat membuat terjemahan kira-kira seperti ini:

tiga/ihwal yang/bikin dunya/terang ben/derang # cahya/Duha, dan Abu/ Ishak, juga/ rembulan.

Namun, jika bentuk puisi tidak ketat, kerja kita lebih ringan. Sekurangnya, kita bisa menerjemahkan bentuk atau polanya. Berikut adalah contoh puisi rubaiyat Omar al-Khayyam yang ditulis dalam bahasa Persia tapi diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Ahmad Ramy.

Puisi berikut adalah kuatrin (empat larik dalam satu bait) dengan sistem perimaan A-A-B-A, maka yang saya lakukan adalah menyamakan rima akhirnya, menjadi A-A-B-A juga. Inilah contoh penggalan puisinya.

القلبُ قد أضْناه عِشْق الجَمال

والصَدرُ قد ضاقَ بما لا يُقال

يا ربِ هل يُرْضيكَ هذا الظَمأ

والماءُ يَنْسابُ أمامي زُلال

Hati menyempit sebab rindu Keindahan

dada sesak, menahan yang tidak terkatakan

Oh, Tuhan, relakah Engkau diri ini dirundung haus

sementara air bening mengalir di hadapan?

أفِقْ خَفيفَ الظِلِ هذا السَحَر

نادى دَعِ النومَ وناغِ الوَتَر

فما أطالَ النومُ عُمرأ

ولا قَصَرَ في الأعمارَ طولُ السَهَر

Bangunlah, wahai si lena, di tengah malam gulita

Bangun, tinggalkan tidur, sapalah yang Esa

Sebab tidur tak akan memperpanjang umur

Demikian juga ia tak akan mengurangi usia

***

Bahar-bahar dalam bahasa Arab itu ada rujukannya. Salah satu bahar yang populer adalah bahar basith sebagaimana diterapkan pada puisi contoh di awal. Konon, inspirasi bahar basith sendiri berasal dari penggalan ayat al-Qur’an Surah Al-Ahqaf, ayat 25, yang berbunyi: فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ. Metrum ini biasa digunakan untuk syiir pujian, seperti Burdah Al-Bushiri, beda dengan bahar rajaz yang biasanya digunakan untuk nazam (puisi tapi digunakan untuk konten pelajaran). Jadi, metrum juga memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri.

Salah satu keunggulan metode seperti ini, yakni menerjemahkan puisi bermetrum sedekat mungkin dan semirip mungkin bahkan hingga menyelaraskan pemenggalan katanya dengan sumber asli akan dapat membuat terjemahan dapat dilagukan atau dinyanyikan seperti puisi aslinya. Perlu diketahui, puisi terikat dan bermetrum itu tidak semata-mata hanya dinilai berdasarkan diksi dan rima, tapi juga mempertimbangkan unsur musikalitasnya.

Mari kita lihat terjemahan Burdah pada bagian awal. Kita terjemahkan dulu secara agak longgar, yakni hanya “sekadar” menyamakan akhiran bunyinya saja. Seperti ini contohnya:

أمِنْ تَذَكُّرِ جِيران بِذِي سَلَمٍ # مَزَجْتَ دَمْعاً جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ

Apakah karena ingat seorang kawan dari Dzi Salam

sehingga air mata dengan darah engkau menguli?

أمْ هَبَّتْ الريحُ مِنْ تِلْقاءِ كاظِمَةٍ # وأوْمَضَ البَرْقُ فِي الظلْماءِ مِنْ إضَمِ

Ataukah karena embusan angin dari Kazimah,

atau sebab denyaran kilat dalam gelap dari oase Idami?

فما لِعَيْنَيْكَ إنْ قُلْتَ اكْفُفاهَمَتا # وَما لِقَلْبِكَ إنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِمِ

Mengapa matamu itu, yang ketika kautagak, ia menangis?

Mengapa pula hatimu, yang ketika kaubujuk, ia tetap jeri?

أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أنَّ الحُبَّ مُنْكتِمٌ # ما بَيْنَ مُنْسَجِمٍ منهُ ومُضْطَرِمِ

Adakah si pencinta menduga bahwa cinta terselubung

di antara cucuran air mata dan bergejolaknya hati?

Lalu, kita coba metode yang lebih ketat, yakni mengatur terjemahannnya sehingga ia bisa menyejajari (meskipun itu tidak mungkin) dengan sumber asalnya. Paling tidak, kita juga menggunakan pemotongan kata (scansion) atau taqthi’ dalam ilmu arudl (ilmu menulis syair dan sajak) sehingga jumlah suku kata dalam bahasa Indonesia juga sama dengan jumlah suku kata dalam Bahasa Arab. Dalam kasus bahar basith ini, jumlahnya adalah 14. Mari diperhatikan.

أمِنْ تَذَكُّرِ جِيران بِذِي سَلَمٍ # مَزَجْتَ دَمْعاً جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ

Apakah kar/na ingat/ sorang kawan/ Dzi Salam

hingga air/ matamu/ dengan darah/ di-uli?

أمْ هَبَّتْ الريحُ مِنْ تِلْقاءِ كاظِمَةٍ # وأوْمَضَ البَرْقُ فِي الظلْماءِ مِنْ إضَمِ

Atau karna/ embusan/ angin dari/ Kazimah,

atau denya/ran kilat/ dalam gelap/ Idami?

فما لِعَيْنَيْكَ إنْ قُلْتَ اكْفُفاهَمَتا # وَما لِقَلْبِكَ إنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِمِ

Mengapa ma/tamu kau/tagak tetap/ menangis?

Juga hati/ kaubujuk/ tapi tetap/lah jeri?

أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أنَّ الحُبَّ مُنْكتِمٌ # ما بَيْنَ مُنْسَجِمٍ منهُ ومُضْطَرِمِ

Adakah pen/cinta men/duga cinta/ tersaput

di antara/ tangisan/ dan gejolak/nya hati?

Memang, harus diakui, ada “kesan dipaksakan agar cocok dengan bahar” dalam contoh kasus penerjemahan 14 suku kata di atas. Tapi, memang hanya cara seperti itu yang—sementara saya duga—dapat mungkin dilakukan untuk ngotot menerjemahkan sebuah teks semirip mungkin dengan aslinya. Demikianlah, meskipun menerjemahkan puisi itu mustahil alias tidak akan pernah benar-benar berhasil, tapi kiranya cari ini adalah cara yang paling “ambisius”.

M. Faizi

Comments

  1. Andi rusmana Reply

    Gokil, pusing sih bacanya. Tapi paham ko maksud yg ingin d sampaikan.

    • M. Faizi Reply

      He, he, he. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya, Andi Rusmana

  2. Iskak Wijaya Reply

    Ilmu yang sangat baik dan sangat diperlukan. Tabik

  3. Bagus Sigit Setiawan Reply

    Menarik sekali Kiai. Senang membacanya. 🙏

  4. Reza Prama Arviandi Reply

    Sungguh menarik. Memang beberapa puisi, hilang ruhnya ketika diterjemahkan. Walau menurut saya masih ada beberapa puisi yang masih “terbaca” walau turun kelas ketika diterjemahkan. Matur nuwun Pak.

  5. andri kurniawan Reply

    sekali lagi ini menegaskan apa yg saya suka dari Kyai shredder ini, prosa, tulisan bebas. sebagaimana njenengan dulu pernah tanya saya di messenger, apa yg membua saya tertarik, dari tidak kenal sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.