Mengapa Kesetaraan Gender Tidak (Pernah) Tercapai?

Sumber gambar: Eman Allam

 

Membincangkan kesetaraan gender (gender equality) adalah sebuah keniscayaan. Kesetaraan gender dicapai ketika perempuan dan laki-laki menikmati hak dan peluang yang sama di semua sektor kehidupan, termasuk partisipasi ekonomi dan pengambilan keputusan. Juga ketika berbagai perilaku, aspirasi, dan kebutuhan perempuan dan laki-laki sama-sama dihargai dan diapresiasi. Kesetaraan gender—kesetaraan antara laki-laki dan perempuan—mencakup konsep semua manusia bebas untuk mengembangkan kemampuan pribadi mereka dan membuat pilihan tanpa batasan yang ditetapkan oleh stereotip, peran gender yang kaku, dan prasangka.

Kalimat di atas kurang lebih terdengar nyaring di telinga atau terus-menerus disampaikan dalam beberapa tulisan, dan dalam pemikiran yang terekam dalam sebuah video wawancara, misalnya. Namun, pada saat yang sama, ketika banyak orang yang membincangkan kesetaraan gender, perkataan itu kadang tidak sesuai dengan yang terjadi di masyarakat. Meminjam istilah Pram: “berpikir adil sejak dalam pikiran.” Artinya, sebelum membincangkan kesetaraan gender, bukankah lebih baik berpikir adil sejak dalam pikiran ketimbang melakukannya hanya dalam perbuatan? Masalah ini terjadi karena pembicaraan soal kesetaraan gender tidak pernah diajarkan di rumah maupun di sekolah sejak dini agar berlaku adil kepada semua gender apa pun.

Contoh kasus: apa jadinya bila seorang bos perusahaan memperlakukan seseorang secara berbeda hanya karena pegawainya seorang perempuan atau karena seorang laki-laki? Sang bos secara ilegal telah mempraktikkan diskriminasi gender atau boleh dibilang dengan istilah ketidaksetaraan gender (gender inequality). Sang bos, secara sadar atau tidak sadar, sebetulnya telah berlaku tidak adil karena memperlakukan seseorang berdasarkan gender. Ini yang sering kali dilupakan. Tidak diajarkan dalam praktik pendidikan kita. Kita bahkan terus-menerus menggaungkan kesetaraan gender dalam setiap kesempatan tetapi melupakan tujuan pendidikan yang “berkeadilan” bagi setiap orang tanpa memandang status sosial dan gendernya.

Secara singkat, saya akan membahas soal bagaimana ketidaksetaraan gender bisa terjadi dalam setiap arus zaman. Pada praktiknya, dominasi ketidaksetaraan lebih condong dialamatkan kepada kaum perempuan. Faktanya, jalan menuju kesetaraan tidak pernah menjadi garis lurus bagi kemajuan perempuan. Ketidaksetaraan gender terutama terhadap kaum perempuan telah dimulai dari zaman ke zaman. Dari zaman berburu, bertani, industri, hingga era digitalisasi yang kian masif. Perempuan selalu ditempatkan pada kelas kedua (second class).

 

Konstruksi Sosial

Bila kita kembali menengok pada abad ke 5000–3500 SM, di Mesopotamia tertulis dokumen-dokumen yang menunjukkan ketidaksetaraan kehidupan perempuan versus laki-laki. Perempuan tidak bisa menggunakan banyak kedaulatan pribadi di Mesopotamia Kuno. Struktur sosial mendefinisikan perempuan dalam kaitannya dengan keluarga mereka. Masyarakat memandang seorang perempuan sebagai putri dari ayahnya atau istri dari suaminya. Bukan sebagai individu yang otonom. Perempuan Mesopotamia tidak akan mewarisi harta suaminya. Ahli waris jatuh kepada kaum lelaki. Perempuan jarang bekerja di luar rumah. Beberapa bekerja menjual barang yang mereka buat atau bekerja sebagai penjaga kedai minuman.

Pada zaman Yunani Kuno merupakan titik terendah dalam sejarah perempuan. Filsuf Aristoteles memainkan peran besar dalam membentuk pandangan dunia tentang perempuan. Pandangan Aristoteles pada zaman Yunani Kuno bahwa perempuan memiliki sedikit hak dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan tidak dapat memilih, memiliki tanah, atau mewarisi, tempat perempuan berada di rumah dan tujuannya dalam hidup adalah membesarkan anak-anak.

Dalam bukunya, History of Animals (4 SM), Aristoteles menjelaskan “Oleh karena itu perempuan lebih berbelas kasih dan lebih mudah dibuat untuk menangis, lebih cemburu dan suka bertanya-tanya, pendiri pagar, dan lebih kontroversial.” Dalam karyanya yang terkenal “politics” bahwa laki-laki adalah pemimpin yang lebih baik daripada perempuan yang lebih sentimental dan kurang bijaksana secara inheren. Dia lebih jauh mengatakan, “Perempuan juga lebih tunduk pada depresi roh, dan keputusasaan daripada laki-laki. Dia juga lebih tak tahu malu dan salah, lebih mudah tertipu, dan lebih sadar cedera, lebih waspada, lebih menganggur, dan secara keseluruhan kurang bersemangat daripada laki-laki. Sebaliknya, laki-laki lebih siap untuk membantu, dan, seperti yang telah dikatakan, lebih berani daripada perempuan ….”

Kita menemukan satu bukti kuat bahwa akar ketidaksetaran gender ini hasil dari konstruksi sosial-budaya bernama Patriarki. Patriarki (patriarchēs) adalah bahasa Yunani—itu berarti “Aturan Ayah”. Pada masa Kekaisaran Romawi, seorang ayah (pater) adalah seorang lelaki yang memiliki properti dan/atau kemampuan memiliki anak. Dia adalah kepala rumah tangga dan mengelola komunitas bersama dengan ayah lainnya. Bersama-sama laki-laki membentuk patriarki.

Patriarki sebisa mungkin merekonstruksi peran ayah sebagai “kepala” dalam artian peran sosial, kepala rumah tangga, alih-alih sebagai peran biologis dalam masyarakat komunal atau nomaden. Inilah bagaimana Patriarki dilahirkan. Mereka (baca: laki-laki) menciptakan kekuatan—semua didominasi dan dikendalikan oleh laki-laki—dan penguasa segalanya. Inilah (secara menyedihkan) alasan mengapa kebencian terhadap perempuan telah menjadi masalah serius. Hal ini berlangsung beberapa ratus ribu tahun kemudian, masih tersisa dan terus “dilembagakan” dalam kehidupan sosial kita hingga hari ini.

Sejak awal, peran perempuan menjadi penghalang serius dalam kehidupan sosialnya. Laki-laki digambarkan sebagai kaum yang kuat (superior) dan kaum perempuan adalah kaum yang lemah (inferior). Sejauh ini, tugas-tugas secara umum dibagi secara merata, tetapi kesepakatan khusus itu mengakibatkan laki-laki mengembangkan fisik, dan perempuan tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Ketidakseimbangan fisik inilah yang membuat laki-laki mengetahui inferioritas perempuan sebenarnya dan berusaha untuk mengambil alih posisi terkuat. Satu-satunya cara kikuk untuk menyeimbangkan “ketidakseimbangan” ini bisa dipikirkan laki-laki untuk menyelesaikan masalah khusus adalah dengan menggunakan kekuatan brutal demi kekuasaan (power).

 

Dominasi Kekuasaan Lelaki

Hingga hari ini, kita hidup dalam masyarakat yang didominasi oleh kekuasaan laki-laki. Laki-laki bahkan hampir mengambil semua keputusan dan perempuan hanya menerima semuanya secara diam-diam. Dan, itu masih terjadi—di dalam keluarga, di sekolah, di lingkungan kita. Dari penghasilan hingga menjalankan rumah, seorang laki-laki adalah satu-satunya pembuat keputusan. Bahkan, pada abad ke-21 ini, banyak perempuan yang masih tidak memiliki suara dalam keputusan yang berkaitan dengan diri mereka sendiri. Dari pernikahan hingga memulai keluarga—laki-laki yang menentukan dan perempuan hanya mengikuti.

Orang percaya bahwa perempuan adalah properti, seperti tanah, hewan, dan budak. Mereka adalah milik ayah mereka, saudara laki-laki, paman, dan akhirnya suami. Orang-orang biasanya mempertanyakan apakah perempuan memiliki jiwa dan laki-laki tidak yakin jika perempuan berpikir. Ada kepercayaan bahwa cara laki-laki dan perempuan berpikir sangat berbeda. Bahwa laki-laki dikendalikan oleh logika dan nalar sedangkan perempuan dikendalikan oleh emosi.

Juga, jika seorang perempuan diperkosa dan menjadi hamil—jelas bahwa dia telah melakukan hubungan seks—tetapi tidak dapat dibuktikan apakah dia melakukannya dengan sukarela atau tidak. Sedangkan, jika seorang laki-laki berhubungan seks, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa dia melakukan, kecuali dia tertangkap basah. Dulu, jika seorang laki-laki memerkosa seorang perempuan yang belum menikah, itu dianggap sebagai kejahatan terhadap harta ayah perempuan itu, tetapi dapat diperbaiki dengan menikahi korban. Tidak ada yang pernah bertanya apa yang dipikirkan korban (perempuan) setelah mendapat perlakukan tidak pantas itu.

Perempuan telah diajarkan bahwa mereka adalah makhluk yang lebih rendah agar tunduk kepada laki-laki. Mereka diajari hanya bisa mengasuh dan tidak bisa melakukan pekerjaan tertentu. Pekerjaan yang umumnya dihuni oleh laki-laki lebih baik daripada pekerjaan menyusui dan mengasuh anak. Juga, banyak perempuan menghabiskan sebagian besar hidup mereka melakukan pekerjaan bebas di rumah, membersihkan, merawat anak-anak, mengantar mereka berkeliling dan memasak. Namun, mereka merasa seperti berutang kepada suami mereka karena dia membawa pulang uang segepok.

Jadi, apa yang menyebabkan ketidaksetaraan gender ini masih terjadi dalam realitas sosial kita? Peradaban manusia yang memulainya, yang didasarkan pada fakta dan stigma bahwa laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Dari peradaban manusia zaman berburu, bertani, industri, hingga era digital telah memulai ketidaksetaraan gender, ketimpangan, dan ketidaksetaraan ras itu sendiri. Saya menginginkan keadilan bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan agar kesetaraan gender dapat tercapai. Dan, satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan meninggalkan egoisme usang masing-masing.*

Roy Martin Simamora
Latest posts by Roy Martin Simamora (see all)

Comments

  1. Panca andriyanto Reply

    Bacaan yang bagus❤️

  2. Nani Reply

    Isu2 gender tak akn prnah ppus selagi tmp yg qt tinggali msh dlm tahap penjjakn, merangkak berkembang. Selalu suka dg tulisan2nya om.. Selalu up date dg isu2 sosial dn lg saya penikmat sastra dn filsafat. Sukses sllu om

  3. Ruby Astari Reply

    Terima kasih telah menulis ini. 😇

Leave a Reply

Your email address will not be published.