Mengapa Tuhan Menciptakan Monster?

Mengapa Tuhan membiarkan iblis itu hidup?

“Rasanya sudah lama aku tak ke sinagog.” Berulang kali bibir keriput Otto menyesap Fassbrauseapel dengan rasa gandrung tak biasa. Ketika celcius mulai naik di Munich, tiada yang lebih baik dari segelas jumbo pilsener atau soda dingin. Raut Otto mengisyaratkan sesuatu yang lain—dari jauh namun dekat dengan riwayat.

“Aku menduga, ayah dari ayahku seorang kabbalah.”

“Saya tak melihat gelang merah di tangan Anda,” kataku bernada humor.

“Keluarga kami mungkin beruntung. Tapi monster si anak jadah itu jelas jauh lebih beruntung dari kami,” ungkapnya menitikberatkan kata “kami” dengan tatapan dalam. Menunjukkan kontras.

Kulihat lagi foto hitam-putih yang telah menguning di setiap sisinya. Kucium dan kuraba teksturnya. Ini bukan cetakan hasil digital. Sebagian belum pernah kulihat di internet. Otto melengkapinya dengan kertas-kertas dokumen yang ia keluarkan dari map berwarna cokelat.

“Keberuntungan itu kini jatuh padamu,” ucapnya tersenyum penuh misteri.

Aku mengenal Otto pada awal der herbst, setelah liburan musim panas anak-anak berakhir. Sepulang dari meliput laga kandang FC Bayern di Frottmaning, aku mampir sesaat ke kafebar ini untuk rehat. Beberapa orang berkerumun menyanyikan yel-yel. Lelaki tua ini terlihat paling antusias menyambut musim baru. Ketika melihatku, ia langsung menebak asal leluhurku dengan tepat. Kami berbincang-bincang soal kamera yang kubawa. Sepertinya ia menggilai fotografi. Ia mengaku sering melancong ke negeri-negeri jauh untuk sekadar hunting.

“Masa pensiun harus diisi dengan seni. Jika tidak, kau bakal jadi lelaki paling menjengkelkan sedunia.”  

Mungkin ia hanya kesepian. Di usianya yang seusia ketika ayahku wafat, pembawaannya masih gesit. Sorot matanya tak menumpul. “Aku lahir lima tahun setelah negerimu merdeka,” dengusnya suatu hari. Wawasan sejarahnya luas. Selanjutnya kami kerap menghabiskan cerita di kafebar ini. Minum. Menikmati musik. Suatu hari ia menghubungiku, “Aku punya kisah menarik untuk kau tulis.” Insting jurnalisku segera terpancing.

***

Verdammt! Apa semua orang sudah lupakan Bach?! Bunyi trompet ini seperti anjing sekarat,” damprat Otto di meja yang telah sepi. Nomor Sonny Rollins mungkin mengusiknya. Sebelum itu ia menyebut-nyebut nama Fredella, istrinya yang telah wafat setahun lalu.

“Kakekku pernah menolong Fuhrer,” katanya tiba-tiba.

Wie?”

“Ya. Si Chaplin itu. Jika ia membiarkannya mampus, Eropa, bahkan dunia akan lain sama sekali,” Otto menatapku dengan lancip. Sangat serius. “Teror yang ia buat adalah kutukan atas kebajikan kakekku. Teror itu berasal dari mimpi buruk yang seumur hidup ia sesali.”

Kutebak kisahnya mungkin tak jauh dari apa yang pernah kubaca. Di suatu musim dingin tahun 1894, tersebutlah seorang bocah sekitar 4 tahun sedang asyik bermain dengan anak-anak lainnya di sekitar Sungai Inn yang beku di Passau. Ketika es tipis itu pecah, seorang anak pemilik rumah di sekitar sungai gegas berlari untuk menolong si bocah yang sedang termegap-megap. Si anak penyelamat kelak menjadi pendeta. Dan siapa sangka, di kemudian hari, si bocah 4 tahun itu malih rupa jadi sesosok monster yang terobsesi Reich Ketiga, pembantai jutaan manusia. Atau kisah lain saat Perang Dunia I ketika seorang tentara Inggris membatalkan bidikannya pada seorang tentara Jerman yang sudah tak berdaya karena belas kasihan. Dan pemuda yang lagi-lagi lolos dari maut itu beberapa tahun kelak malah merestui kamar gas pencabut nyawa.

“Kutukan mimpi buruk?”

“Kecelakaan sejarah. Bila kau tertarik, minggu depan kita jumpa lagi. Di sini. Aku punya sumber referensi primer.” Nadanya seperti negosiasi. Aku mulai mencium motif Euro untuk “kisah-kisah yang jarang diungkap” ala clickbait.

“Tapi saya di bagian olahraga.”

“Oh, kukira semua wartawan sama,” selorohnya lebih terdengar satire, “kau bisa menjualnya lagi atau apalah. Aku hanya butuh sedikit untuk liburan.”

“Ternyata ….”

“Hey, kau bisa menulis semacam novel dari cerita ini.”

Ia benar—lantunan saksofon itu terdengar bagai anjing sekarat kali ini. Apa memang setiap perjamuan harus berakhir dengan bisnis?

***

Mengapa Tuhan menciptakan monster?

Hampir saban malam Hanz dihantui iblis berkepala api yang melayang setinggi pohon oak, menyinggirkan taring setajam guillotine, makhluk bengis itu menghunus dan menghunjami orang-orang dengan ujung tembiang hingga memampatkan tiga sampai empat kepala sekaligus. Darah menggenang seperti rawa. Potongan tubuh berceceran. Sejauh Hanz berlari pontang-panting, di kanan-kirinya bangkai hewan-hewan lucu disula. Bayi-bayi polos jadi sasaran hyena. Rumah-rumah terbakar. Ia mendapati Black, anjing Keeshond kesayangannya mengerang tak berdaya. Ia melihat jasad orangtuanya mengambang di danau hitam. Langit berasap memerah. Burung-burung nasar terbang berpusingan sebelum akhirnya menukik, mencabik mayat-mayat gosong.

Seperti halnya mimpi anak belia, monster itu hidup, terngiang-ngiang menjadi ingatan. Bayangan monster itu mengikutinya ke mana pun pergi. Sebelum ia tidur, monster itu kerap bertengger di reranting pohon dekat jendela, kadang mengetuk bawah dipan dengan ujung kuku. Esoknya mimpi itu datang lagi. Kali ini Hanz tak bisa lari. “Agar dunia selamat, manusia-manusia tak berguna harus ditumbalkan. Bergabunglah jadi pasukanku,” dengus monster itu. Tatapannya menikam.

Hanz berubah jadi pemurung. Orangtuanya sadar ada yang tak beres. Mereka pergi ke orang pintar. Sudah beberapa kali para imam mencoba menyembuhkannya. Tetapi setiap upaya kandas.

“Hanz hanya anak Leonding biasa yang tak menonjol. Mengapa Tuhan membiarkannya diganggu roh jahat?”

Kekurangan tidur membuatnya makin depresi. Hanz seperti hidup di dunia lain. Suatu petang ia pergi bermain ke dekat stasiun. Menyusuri rel kereta, entah bisikan apa, tiba-tiba keinginan bunuh diri menyergap. Anak sekecil itu. Saat mencari posisi, di kejauhan, ternyata seseorang telah mendahului telentang di atas rel kereta. Seorang bocah laki-laki pirang mirip dirinya. Umurnya mungkin sedikit lebih muda. Ia menatap Hanz seolah malaikat maut datang lebih dini dalam rupa paling lugu. Sang malaikat memeluknya. Lalu meringis saat diperlihatkan luka-luka di punggungnya.

“Kalau sedang marah, ayahku seperti iblis,” keluh si bocah datar. Lupa dengan dirinya sendiri, Hanz mengantarkan bocah itu pulang. Sesampainya di rumah, mereka disambut isak tangis Klara, ibu sang bocah malang. Ia masih mendekap anaknya ketika Hanz melangkah pergi dari rumah kecil di pinggiran Michaelsbergstrasse itu. Mereka tak pernah bertemu lagi. Ketika Hanz mengunjungi rumah itu beberapa waktu berikutnya, penghuninya telah pindah.

“Anehnya, sejak itu hidup Hanz kembali normal. Iblis berkepala api lenyap. Bertahun-tahun lewat seiring usia mendekati senja, takdir seperti lelucon buruk. Mimpi laknat masa kecil berubah nyata. Bocah yang ia selamatkan itu bernama Adolf. Jauh sebelum kumis konyol itu mencungul. Sebelum kerisik dedaunan linden jatuh tertumpas musim.” Otto berpalis ke luar jendela bagai mengingat masa lalu. Berkelebat sesi montase horor. Mungkin Auschwitz II-Birkenau; para tahanan ceking, layuh, dan beluwek, satu per satu masuk ke insinerator. Bahunya bergidik. Rautnya mengernyih tanpa seteguk Jagermeister kecuali membayangkan sabun, pupuk, dan album foto dengan perasaan mual.

“Kebenaran itu mimpi sampai mimpi jadi kebenaran. Berkali-kali selamat dari kematian, beri aku alasan logis mengapa monster itu tetap dibiarkan hidup?!” ujarnya mengutip seorang filsuf.

“Mungkin semacam ‘memukul paku agar ia bermakna, atau melebur bijih emas dengan api hingga menjadikannya perhiasan’?”

Aku memberinya kesempatan mengunjal napas, menatap rasa sesal yang terbungkus amarah di balik mata.

“Saya sungguh penasaran, bagaimana keluargamu memperoleh keberuntungan dari sekian masif pembantaian?”

“Kau tak memercayai arsip-arsip itu?” Ia menunjukkan lagi beberapa foto dan dokumen lama di meja.

“Setiap profil sumber harus terverifikasi.”

“Ee … kami disembunyikan di ruang bawah tanah oleh seorang pastor. Tetangga kami.” Nadanya meragukan.

“Anda yakin masih mengingatnya, Tuan Otto Karl Fritz Rainart?”

“Bagaimana kau tahu nama belakangku?” Lelaki tua di hadapanku tercengang. Gelagatnya berubah gusar.

“Soal ‘semua wartawan sama’ mungkin ada benarnya, Tuan Fritz. Tak ada salahnya berteman dengan orang maskapai dan Dinas Kependudukan.”

Pandangan Otto masih mengambang.

“Setidaknya Anda jujur soal melancong ke Galapagos dua bulan lalu.”

“Oh, tentu saja. Data penumpang.” Otto tertunduk, mengeraskan rahang. Wajahnya yang mabuk malah semakin biram. Tidak terlalu banyak orang Jerman yang berlibur ke pulau eksotis tempat Darwin mengamati mockingbird, tortoise purba, dan sekian kekayaan spesies endemis selain piknik murah di Turki atau Mallorca yang telah dianggap “negara bagian ke-17”, jika bukan demi hobi masa tua yang sunyi. Semalam suntuk aku telusuri informasi tentang Otto ditemani kopi Bajawa yang masih kusimpan. Mendiang paman Otto pernah bekerja di perusahaan asuransi yang diajukan klaim oleh Hitler ketika ia mengalami kecelakaan mobil. Hanz Karl Rainart memang pernah tinggal di sekitar Linz namun tak ada penjelasan pasti soal pekerjaannya, kecuali jabatan mentereng yang disandang Nicolaus Fritz Rainart, sang ayah, seorang pilot Luftwaffe yang berkampanye menggempur negara-negara rendah hingga Rotterdam dengan rekor 1124 misi tempur dan menembak jatuh 157 pesawat Sekutu!

“Mengapa Anda mengaku sebagai Yahudi?”

“Baiklah. Baiklah. Aku akan cerita. Tidak gampang, kau tahu. Hidup dengan ingatan masa kecil yang salah. Bukan sekadar kriegskinder, anak-anak perang, kecuali anak-anak dari pelaku perang. Aku pikir ayah dulu pahlawan. Ia bekerja untuk negara. Aku pernah melihat jasad perempuan di sebuah kolam, roknya membalon, atau angin yang mengembuskan puntung rokok dari mayat seorang pria di pinggir jalan. Kami melempari mayat itu dengan batu sebelum ia diangkut ke atas truk. Menjulurkan lidah ke orang-orang bermata sedih ketika lewati ghetto-ghetto. Menertawakan pria kurus kering yang menaiki keledai liar yang ditepuk hingga terjengkang. Setelah cukup dewasa, betapa aku muak dengan semua ingatan itu. Dengan nama keluarga yang kusandang. Ayahku monster, bukan pahlawan. Sial! Nasibku ternyata mirip Adolf kecil. Aku memberontak pada tradisi. Sampai akhirnya aku bertemu Fredella, hidup rasanya beranjak lebih normal. Gadis itu benar-benar memikat. Setelah menikah, kami tak kunjung punya anak. Jujur aku sedikit bersyukur. Ada darah monster di sini,” Otto menunjuk dadanya yang tertahan sesuatu.

“Aku melihat Fredella pertama kali sepulang ia dari sinagog. Ia sangat suka lagu ‘You Don’t Know What Love Is’.” Tangannya menutupi wajah, menangis sesenggukan.

“Sejarah tak boleh dilupakan. Kebencian tak boleh langgeng.” Mataku menerawang.

Suasana sunyi melingkupi bagai puing-puing reruntuhan sisa perang. Embun di gelas mencair. Musik masih mengalun lembut. Berita di televisi menyiarkan potongan kampanye seorang calon presiden beserta supremasi kelompoknya. Di luar, matahari semakin turun.

Aku belum bercerita pada Otto perihal kakek. Tentang kawan seperjuangannya di Barisan Mahasiswa yang kerap kucing-kucingan dengan intaian Gestapo. Tentang Perhimpoenan Indonesia. Tentang puluhan Luftwaffe di langit Rotterdam—bagai burung-burung nasar—sebelum bom berjatuhan meluluhlantakkan kota, menewaskan kakekku.

Bojongsoang, Juni 2020

D. Hardi

Comments

  1. Aji Reply

    sebuah bacaan yang bagus, mantap!

Leave a Reply

Your email address will not be published.