Mengendarai Masa Lalu

in Memorabilia by

Orang diminta memilih: sepeda motor atau buku. Pilihan terwaras tentu memilih sepeda motor. Di atas sepeda motor, orang melaju cepat di jalan beraspal. Ia melihat pemandangan atau pamer kecepatan. Mesin berisik dan berasap itu membuat kota terasa modern. Di Indonesia, sepeda motor membuat sejarah revolusi dan pembangunan bergerak cepat. Episode sepeda ontel cepat berganti ke sepeda motor. D

Masa Indonesia masih terjajah, sepeda motor sudah berseliweran di jalan-jalan. Para pengendara kagum dengan pemandangan dan suasana negeri jajahan. Mereka itu kaum Eropa ingin “menikmati” Hindia Belanda bukan dengan berjalan atau naik andong. Di jalan, mereka ingin turut memberi arti kekuasaan, kemajuan, dan keajaiban dengan meminta perhatian orang-orang untuk melihat sepeda motor melaju. Kita mengenang masa itu di buku Rudolf Mrazek berjudul Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni (2006).

Dulu, jalan-jalan jadi ruang penghiburan dan pameran bagi para pengendara sepeda motor. Mereka pemberi definisi berbeda dari gerak lambat kaum bumiputra. Mesin-mesin mengubah lakon orang capek dan berkeringat menjadi pengendara dengan pengentengan kerja tubuh. Predikat sebagai pengendara semakin keren asal sadar busana, kacamata, dan posisi raga. Di tatapan mata, pengendara sepeda motor di masa lalu memang pembuktian kemajuan menjadi “wajib” di negeri jajahan.

* * *

Pilihan orang pun benar mengutamakan sepeda motor ketimbang buku. Pada masa lalu, kita tak pernah mendengar dongeng atau bualan ada orang mengendarai buku menjelajah Nusantara. Buku-buku tetap kertas, belum memiliki mesin dan roda. Pilihan berbeda bisa diajukan ke orang sudah memiliki sepeda motor. Apakah memasrahkan urusan sepeda motor ke bengkel atau sanggup memperbaiki sendiri? Ia berhak memilih buku.

Di majalah Minggu Pagi edisi 4 April 1954, pembaca dibujuk membeli buku baru berjudul Montir Mobil dan Sepeda Motor Zonder Guru. Buku memuat gambar di sampul: mobil dan lelaki mengendarai sepeda motor. Buku disusun oleh KMS Amak Junus, terbitan Usaha Modern, Surabaya. Sejarah sepeda motor di Indonesia pun sejarah buku. “Dahulu memang sukar untuk mendapatkan buku jang sematjam ini karena masih berbahasa asing. Sekarang baru diterbitkan bahasa Indonesia. Isinja lengkap, meskipun zonder guru dengan mudah dapat dipeladjari sendiri…. Buku ini perlu dimiliki oleh setiap tjalon-tjalon montir, pengendara oto dan sepeda motor, bronfiet, peladjar montir, sopir, tentara dan semua jang menginginkannja,” tulis di iklan. Pada masa 1950-an, pengendara sepeda motor mungkin pembaca buku.

Pemilik sepeda motor tak boleh cuma mengendarai sampai rusak atau mogok. Sepeda motor perlu dirawat dan diperbaiki jika ada kerusakan-kerusakan. Pemilik jangan terlalu memikirkan gengsi atau sibuk di geng. Sepeda motor itu alat transportasi, sebelum dijadikan dalih macam-macam. Sepeda motor rusak bawalah ke bengkel agar lekas waras. Orang sudah khatam buku bisa memperbaiki sendiri, mengirit ongkos dan membuktikan “kasih” pada sepeda motor.

Pada masa berbeda, sepeda motor adalah asmara, pegawai negeri sipil, geng, dan bisnis besar di Indonesia. Pada masa 1970-an, jumlah pemilik atau pengendara sepeda motor bertambah. Pemerintah repot membuat peraturan-peraturan mengenai jalan. Polisi pun harus mengadakan tambahan aturan berkaitan lalu lintas. Aturan demi aturan dibuat dengan kepatuhan dan protes. Kita mengingat aturan terheboh masa lalu adalah helm. Heboh itu bertokoh Hoegeng. Pada masa 1990-an, helm jarang ada di kepala Dilan saat memboncengkan gadis manis. Di film “Dilan 1990”, kita melihat Dilan cakep dan gagah mengendarai sepeda motor di Bandung tapi tak memiliki koleksi helm.

Kita lupakan Dilan untuk mengingat masa lalu. Sebelum Dilan berasmara dan bertengkar disahkan oleh sepeda motor, para penonton film sempat melihat garapan “ulang” film “Galih dan Ratna”. Di situ, kita melihat sepeda motor menandai kelelakian dan situasi memburuk akibat persaingan status sosial di kota-kota. Sepeda motor diremehkan oleh mobil. Kasus mirip juga terdapat di novel berjudul Balada Si Roy (1989) gubahan Gola Gong. Lelaki dengan sepeda balap rawan diejek oleh para remaja di atas sepeda motor atau mobil. Kita bakal terjebak nostalgia saat telanjur masuk ke film atau novel. Kita memilih iklan-iklan saja sambil mendendam masa lalu.

* * *

Tempo 12 April 1980

Para tokoh di film dan novel mungkin sungkan memilih mengendarai Binter. Sepeda motor khas cowok itu dulu pernah jadi idaman. Di desa-desa, para aparat kelurahan biasa mengendarai Binter. Para pegawai di institusi pertanian pun tampak mengendarai itu saat berkunjung ke desa-desa dengan jalan-jalan belum tentu beraspal. Orang pun tak cuma mengingat Binter. Dulu, birokrasi Orde Baru masa 1990-an khas dengan sepeda motor Win 100. Pada masa 1980-an, Binter bertokoh Beng Soeswanto. Pembalap itu hadir dalam iklan di majalah Tempo, 12 April 1980. “Sepeda motor terbaru Binter GTO. Saya benar-benar merasa kagum dan puas. Belum pernah saya temui sepeda motor hebat yang luar biasa seperti ini. Binter GTO tak ada tandingannya. Penampilannya kompak, gagah, dan sportif. Kekuatan mesinnya sangat meyakinkan,” pengakuan di iklan.

Pada majalah berbeda, kita tak lagi melihat lelaki mengendarai sepeda motor. Kita kangen melihat perempuan masa lalu di atas sepeda motor. Bacalah majalah Kartini, 29 Oktober-11 November 1979. Iklan di kertas tebal dan berwarna. Iklan sepeda motor dari Yamaha. Tokoh dan diksi menjauh dari kegagahan. Lihatlah, dua gadis itu girang di atas sepeda motor Yamaha V 80. Apa keampuhan sepeda motor itu bagi para cewek seantero Indonesia? Keterangan menggoda: “Dimana ada Bebek V 80, disitu terdapat kelompok-kelompok kawan-kawan muda kita yang manis. Keremajaan anda akan hidup bersama Yamaha Bebek, dan persahabatan anda juga akan bertambah bersama Yamaha Bebek. Dan anda akan mengatakan itu bila anda berkendaraan Yamaha Bebek V 80 ini betul-betul paling aman dan mudah dikendalikan.” Sepeda motor bertokoh gadis tentu pantas ditulis dalam ratusan halaman ketimbang kita mengurusi Dilan dan Beng Soeswanto. Keberanian kaum perempuan di jalan mengendarai sepeda motor bebek adalah awalan dari lakon Indonesia berskutermatik. Kita anggap jumlah pengendara perempuan mengalahkan lelaki.

Majalah Kartini memuat pula saingan Yamaha. Iklan di Kartini edisi 10-23 Desember 1979 menampilkan perempuan cantik dan manis. Ia bermata bening, bibir merah, anting di telinga. Kita melihat dua cincin di dua jari. Pembaca berharap itu bukan cincin pertunangan atau pernikahan. Kalung di leher. Di iklan, wajah perempuan itu berukuran besar tanpa memamerkan baju. Di bawah wajah, kita melihat foto sepeda motor Honda C 70. Honda berwarna merah. Sepeda motor masih disebut bebek, khas dikendarai perempuan.

Keunggulan Honda C 70, sepeda motor sudah jadi “klasik” di abad XXI: “Kendaraan idaman serba guna. Praktis, tangguh dan aman. Sangat sesuai untuk memenuhi berbagai keperluan transportasi anda. Mudah dikendarai, gesit dan meyakinkan! C 70 juga dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan yang dirancang untuk memberikan kesenangan dan kenyamanan selama berkendaraan.” Pada masa 1970-an dan 1980-an, kita biasa melihat para perempuan sedang berangkat kuliah atau mengajar di sekolah mengendarai Honda C 70. Sepeda motor itu menandai para perempuan berasal dari keluarga berduit atau memiliki pekerjaan berkaitan dengan intelektual atau bisnis. Kita masih jarang melihat sepeda motor itu digunakan para perempuan untuk berdagang sayur. Para pengendara tak mutlak perempuan. Para lelaki pun boleh mengendarai Honda C 70.

Kita mengingat dulu sepeda motor lanang dari Honda, sebelum memunculkan tokoh lelaki ketagihan sepeda motor bebek merek Honda.  Di kalangan lelaki masa 1970-an sampai 1990-an, sepeda motor itu penentu kegagahan, kecepatan, keberanian, dan ketangguhan. Di desa, lelaki memiliki sepeda motor lanang biasa diperbincangkan. Ia bisa idaman kaum perempuan asal berwajah ganteng dan berduit.

Iklan di Tempo, 3 Maret 1979, mengingatkan lelaki masa lalu bergantung ke sepeda motor. Iklan itu Honda 100-125. Lihatlah, lelaki ganteng dan gadis cantik. Mereka girang bersama sepeda motor. Di belakang, langit sedang pameran petir. Mereka bukan penakut. Mereka mau berpacaran dengan mengendarai Honda GL 100 di angkasa, bukan di jalan beraspal. Kemesraan sebagai risiko memilih Honda GL 100: “Rancangan baru kesempurnaan teknologi Honda, ditampilkan dalam bentuk yang gagah dan megah serta keistimewaan-keistimewaan yang nyaris tidak dimiliki kendaraan lain dalam kelasnya. Satu tingkat di atas segalanya!” Sepeda motor itu mau terbang, malu jika melulu di atas jalan berwarna hitam.

* * *

Lelaki kondang mengenang diri dan Honda. “Di kalangan masyarakat menengah ke bawah, termasuk guru, sepeda motor merupakan simbol status sosial. Sepeda motor, bagi masyarakat pedesaan yang mengais nafkah di Jogjakarta, identik dengan Honda. Mereka, bepergian ke mana pun, menggunakan sepeda motor merek apa pun, pasti akan bilang numpak (naik) Honda,” tulis J Sumardianta (2013). Sepeda motor Honda diakui turut menentukan biografi dan faedah guru bagi nusa dan bangsa.

Ia tak pernah muncul di iklan-iklan dimuat di Kartini atau Tempo. Ia mungkin pembaca iklan atau terpengaruh dari selera orang-orang pada sepeda motor masa 1980-an. J Sumardianta mengisahkan sepeda motor saat remaja: “Saya pertama kali mempunyai sepeda motor Honda tahun 1984. Honda bebek C 70 bekas warna merah buatan tahun 1979 itu dibelikan orangtua seharga Rp 500.000,00 sewaktu saya kelas 2 SMA. Sepeda motor jenis ini dijuluki Pitung. Singkatan dari Pitung Puluh (Tujuh Puluh). Di Jogjakarta, Paguyuban Pitung masih aktif hingga sekarang, beranggotakan para kolektor Honda C 70 buatan 1975-1980.” Ia memang keren, memiliki sepeda motor saat masih SMA. Dulu, cowok mengendarai sepeda motor bakal gampang bernasib baik atau beruntung dalam mencari pacar. Sepeda motor mencipta asmara dengan peristiwa rutin: menjemput dan mengantar pacar. Selingan tentu berpacaran saat akhir pekan ke pasar malam atau kebun binatang.

Pengakuan itu mungkin membuat perusahaan kepincut menjadikan J Sumardianta sebagai penerang atau tokoh di iklan. Kini, penjualan sepeda motor bebek mengalami sedih. Jumlah pembeli dan peminat semakin menurun. Jutaan orang memilih skutermatik. Mereka sudah malas mengendarai sepeda motor bebek sembarang merek. Jutaan skutermatik mulai berkeliaran di jalan dan menghuni rumah jutaan orang di desa atau kota. Zaman skutermatik cepat menggantikan para penanggung nostalgia sepeda motor bebek saat bekerja, pacaran, kecelakaan, berdagang, dan pelesiran.

Berita itu terbaca di Tribun Jateng, 26 November 2018: “Pamor sepeda motor bebek atau underbone kian tergerus akibat konsumen Indonesia yang membeli motor skutik.” Pada periode Januari-Oktober 2018, penjualan sepeda motor bebek cuma 8 persen dari pasar nasional. Orang-orang emoh repot dalam mengendarai dan mengasuh sepeda motor bebek. Segala kemudahan dan kementerengan ada di skutermatik.

Para orang tua lekaslah saja menulis memoar agar masa lalu sepeda motor bebek tak mudah dilupakan anak-cucu! Dulu, mereka terlalu memiliki cerita berkepanjangan dengan sepeda motor bebek bergelimang dalih. Cerita itu sulit mencari penerus saat jalan-jalan semakin ramai dan macet itu kewajiban setiap hari. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.