Mengerjakan Cinta*

SAAT itu, hari masih pagi di surga.

Dua burung, jantan dan betina, terbang rendah, memberi salam kepada penduduk surga yang bahagia, tak kurang suatu apa. Sepasang kupu-kupu muda terbang dari bunga ke bunga yang harum baunya. Buah-buah matang dan tenang, disinari cahaya kuning keemasan. Angin bertiup tipis menambah kesejukan. Para penduduk surga tersenyum dan tertawa, menikmati kebahagiaan yang sungguh sempurna, melebihi yang mereka bayangkan sewaktu hidup di dunia.

Tapi Tuhan diam-diam meninggalkan taman surga.

Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang tahu, di dasar neraka, jauh di bawah sana, masih ada dua hamba-Nya yang tersisa, dua hamba yang terus tersiksa.

Seorang hamba bertubuh putih, putih bersih, seperti pualam tua yang tak lekang oleh api neraka. Si Putih terjebak di kubangan darah mendidih, tersangkut di dahan pohon besar dan berduri, ranting-rantingnya berduri, daun-daunnya berduri, buah-buahnya lebat dan berduri.

Itulah pohon zaqqum. Pohon yang dengan baik diketahui si Putih, sebab pada kitab suci yang dahulu senantiasa ia baca, telah disebut-sebut perihal pohon ini. Di dahan pohon tersebut, punggung si Putih tersangkut, terayun dan terombang-ambing ke kanan ke kiri, sesekali wajahnya yang pasih terperosok dalam kubangan darah mendidih.

Sedang seorang lagi termenung di atas batu hitam. Tubuhnya gosong. Wajahnya gosong. Matanya gosong. Mulutnya gosong. Tangan dan kakinya juga gosong. Ia, si Hitam gosong ini, duduk menghadap semangkuk nanah busuk yang mendidih, minuman yang setiap saat ia sesap, laiknya secangkir kopi kental yang dulu saban pagi ia nikmati tatkala masih gentayangan di bumi.

“Jibril, panggilkan Aku dua pemuda itu?”

Tentu kau tahu, di alam akhirat, di mana waktu tak lagi merambat dari awal menuju akhir itu, semua orang berumur sama rata, tampak muda dan sebaya.

“Baik, Gusti,” jawab Jibril.

Jibril membentangkan sayapnya yang bersih dan bersusun tujuh. Sayap maha luas yang bila dibentangkan akan menutupi bumi dan tujuh galaksi.

Tak lama kemudian, Jibril membawa dua penduduk neraka itu di jepitan kakinya, seperti seekor elang mencengkeram sepasang anak tikus.

“Turunkan mereka, wahai Jibril. Di hadapan-Ku tak boleh ada yang tersakiti.”

Sepontan Jibril memindahkan dua ahli neraka itu ke tangannya, si Putih di tangan kanan dan si Hitam di tangan kiri.

Pelan-pelan Jibril menurunkan dua makhluk hinadina yang sudah sepantasnya menjadi kerak neraka andai saja Tuhan terbatas kasih dan cinta-Nya. Si putih langsung sujud saat mengetahui yang di hadapannya adalah Tuhan semesta alam.

Sedangkan si Hitam tampak santai. Ia bahkan sempat menekuk kepalanya ke kanan dan ke kiri, menarik dan merentangkan tangannya seperti senam singkat untuk menyegarkan badan. Si Hitam sempat melihat ke atas sana, di mana semak dan perdu surga tampak menjulurkan daun-daunnya.

Tentu saja Jibril yang melihat tingkah si Hitam menjadi geram, namun Tuhan memberi isyarat bahwa ia tak boleh melakukan hal yang kurang berkenan kepada dua “tamu” yang pagi itu dipanggil Tuhan. Tahu bahwa Jibril masih menampakkan raut tak segan, si Hitam pun maju, berjalan dengan tangan dan dengkulnya seperti binatang dan bersujud persis di sisi si Putih.

“Tahukah kalian, kenapa Aku memanggilmu, wahai hamba-Ku?”

“Tidak, Tuhanku,” jawab si Hitam dan si Putih hampir bersamaan.

Ketahuilah, Si Hitam, waktu hidup di bumi adalah penyair durjana. Ia gemar mengumbar kebohongan dan menerabas perkara yang sungguh tabu. Ia rajin memfitnah, menghasut, mencaci, mabok, main judi, dan tentu saja main perempuan.

Sementara itu, si putih adalah ulama. Seorang ulama kondang dan banyak pengikutnya. Banyak orang, mulai dari politikus, pejabat, pedagang, artis, seniman, lonte, purel, begundal, gentho, garong, pengangguran, kaum tajir melintir, sampai gelandangan sowan kepadanya. Ia dicium tangannya, dipuja di mana-mana. Lantaran itu, tanpa ia sadari, pelan-pelan hati si ulama menjadi ujub, sombong, dan lupa diri. Ia nikmati popularitasnya. Ia gunakan kewibawaannya. Ia perdaya umat manusia. Ia kawin seenak kontolnya. Ia jadi lalai akan tugasnya sebagai ulama.

“Tahukah kalian, mengapa Aku memanggilmu, wahai hamba-Ku?” Tuhan mengulang pertanyaan-Nya.

“Tidak, wahai Tuhanku. Engkaulah yang Maha Mengetahui ini itu.”

“Wahai hamba-Ku, rupanya siksa neraka tak membuat kalian jeri dan menyadari kesalahan. Oleh sebab itu, kembalilah kalian ke asalmu!”

Saat Tuhan menyuruh itu, si Putih langsung melesat, lari sekuat tenaga menuju tempat asalnya di neraka. Sedang si Hitam, penyair yang terbiasa menafsir dan mentadaburi kemungkinan makna di setiap kata, hanya tolah-toleh, celingukan, tak tahu hendak “kembali” ke “asal” yang mana.

“Wahai si Putih,” panggil Tuhan saat melihat si putih lari, “kembalilah!”

Si Putih pun kembali dan menghadap Tuhan seperti sediakala.

“Mengapa kau lari, cepat sekali?”

“Wahai Tuhanku, selama di dunia, tak ada perintahmu yang aku kerjakan dengan ikhlas. Hamba dikuasai riya dan pamrih. Kini Kau memerintahku dan inilah kesempatan terakhirku.”

Tentu saja Tuhan tersenyum mendengar jawaban si Putih. Ia Yang Maha Tahu sebetulnya telah tahu apa yang tersembunyi di setiap ceruk hati. Dan Ia bertanya begitu sekadar ingin mendengar jawaban dari lidah si Putih.

“Dan kau Hitam, kenapa kau tak berarajak sedikit pun dari sini?”

“Gusti, selama di dunia hamba telah menganiaya diri sendiri. Hamba terlanjur masyhur sebagai penyair, padahal tulisan hamba sekadar plagiat, sebagian akal-akalan, dan sebagian lagi curian. Hamba tak menyukuri bakat yang Kauberi. Dengan tulisan, hamba menghasut, memfitnah, memecah belah. Hamba suka mabok, berjudi, dan main perempuan. Hamba gemar akan kerusakan. Namun, apalah arti dosa hamba dibanding besarnya ampunan yang Kau janjikan. Karena itu, saat Kau menyuruh kembali, hamba ragu, itu seruan ke neraka atau kembali ke surga, tanah asal Adam, kampung kakek moyang hamba.”

Sekali lagi Tuhan tersenyum. Ia merasa tak mubazir memberi si Hitam akal yang licin dan lidah yang lincah.

“Jadi kau berprasangka baik kepada-Ku?”

“Tak kurang dan tak lebih, Gusti.”

Tuhan tersenyum kembali mendengar jawaban si Hitam yang tanpa malu-malu. Ia jadi iba dan terharu. Kasih sayang-Nya meluap-luap. Tapi Ia menahan diri, tak hendak menunjukkan itu kepada si Hitam yang gemblung ini.

“Masuklah kalian ke dalam surga-Ku. Bersenang-senanglah kalian dalam cinta dan ampunan-Ku.”

Mendengar itu, si Putih langsung menangis, sujud syukur, mencium kaki Tuhan dan segera bangkit menuju tangga taman surga. Sementara si Hitam tiba-tiba menjadi lesu, wajahnya masam, hatinya muram.

“Apakah belum jelas perintah-Ku bagimu, wahai Hitam?”

“Tidak, Gusti. Sungguh hamba tak pernah benar-benar dekat dan khusyuk mengingatmu, seperti ketika hamba di neraka. Hamba takut nikmat surga akan membuat hamba terlena dan lupa kepada-Mu.”

Kali ini Tuhan tidak tersenyum. Ia tahu betul apa yang ada di lubuk hati si Hitam. Tapi demi membesarkan hati si Hitam, Ia bertanya:

“Lalu apa yang kau kehendaki?”

“Izinkan hamba kembali ke neraka, menggenapkan mahabbah, Mengerjakan Cinta, agar neraka-Mu tidak kosong, agar ada yang mengingat dan menyebut-nyebut kebesaran-Mu di situ.”

“Baiklah jika itu maumu. Pergilah karena sesungguhnya kau bebas.”

Tuhan pun memberi sayap rangkap kepada si Hitam, sayap gelap, dengan bulu-bulu yang juga gelap. Dengan sayap gelap itu Si Hitam lalu terbang kembali ke neraka yang tampak lebih gelap dari biasanya.

Kepada Jibril yang sejak tadi terdiam dan takjub menyimak kejadian itu, Tuhan berkata: “Dia Hamba sejati. Buatlah neraka seperti kerajaan sebagaimana yang ia harapkan, sebagaimana yang ia inginkan…”

Sekejap kemudian Tuhan lenyap, meninggalkan wangi lembut yang merebak bersama bunga-bunga surga. Sementara itu, di ujung sana, si Hitam telah sampai di batu hitam tempatnya semula. Di batu itu, si Hitam duduk khusyuk seperti raja petapa.

Saat itu, di neraka, hari telah menjadi gelap-gulita.

Surabaya, 2024


  • Cerita ini berhutang kepada satu kisah dalam Ihya Ulumuddin, karya Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, perihal dua orang penghuni (terakhir) neraka yang dipanggil Allah setelah ribuan tahun mendekam di sana. Sementara itu, judul “Mengerjakan Cinta” (sebelumnya) telah dipakai penulis untuk buku berisi “30 Puisi Gandrung Kanjeng Nabi”. Buku tersebut adalah juara pertama lomba Mengarang Manuskrip Cinta Nabi yang diselenggarakan Diva Press dan akan terbit dalam waktu dekat.
A. Muttaqin
Latest posts by A. Muttaqin (see all)

Comments

  1. Athaya ilfi Syakirah Reply

    Sangat la bagus kak

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!