Mengintip Ketabahan Masyarakat Korea Selatan

Identitas Buku
Judul buku : Potongan Tubuh
Pengarang : Pyun Hye-young, Park Min-gyu, dkk.
Penerbit : Penerbit BACA
Cetakan : Cetakan pertama, Juli 2019
Tebal : vi + 235 halaman

Penerbit BACA semakin gencar menghadirkan karya sastra Korea Selatan di depan mata kita semua. Jika sebelumnya kita melumat sajian besar dari dua novel karya Han Kang dan satu novel karya Pyun Hye-young, kali ini kita disuguhkan sajian mini beraneka macam berupa kumpulan cerita pendek dari tujuh penulis produktif Korea Selatan.

Kumpulan cerita pendek (cerpen) berjudul Potongan Tubuh menawari pembaca judul-judul yang berhasil memantik rasa penasaran. Dalam kumpulan cerpen ini, kelihaian penerjemah dalam menyelaraskan judul patut diacungi jempol. Pasalnya, keselarasan hasil terjemahan karya sastra, antara bahasa utama dan bahasa target, adalah salah satu kunci kualitas sebuah sastra terjemahan. Bacalah ketujuh judul cerpen ini: “Benar, Aku Seekor Jerapah?” karya Park Min-gyu, “Pecinan” karya Oh Jung-hee, “Istri Lelaki Miskin” karya Eun Hee-kyung, “Tanah Milik Ayah” karya Lim Chul-woo, “Menara Pasir” karya Jo Jung-rae, “Sebatang Jarum” karya Cheon Un-yeong, dan “Potongan Tubuh” karya Pyun Hye-young.

Sebagai pembaca, saya gemar merangkai asumsi-asumsi yang muncul setelah membaca judul sebuah cerita. Dari setiap judul yang disajikan dari buku ini, saya hampir hanya mampu mengumpulkan sedikit asumsi. Ini terjadi akibat minimnya referensi yang saya miliki tentang kebudayaan Korea Selatan. Meski dalam keseharian kita kerap bersinggungan dengan lagu-lagu atau drama Korea, tapi saya merasa itu semua tidak bisa dijadikan acuan dalam mengenali kebudayaan Korea Selatan. Seperti halnya negara-negara lain, budaya pop Korea—atau yang lebih akrab dikenal sebagai Korean Pop (K-pop)—hampir tidak bersinggungan dengan sastra serius. Ditambah lagi, saya sempat membaca dua novel karya Han Kang; dan keduanya sama sekali tidak mencerminkan apa-apa yang kerap muncul dalam tayangan K-pop di Indonesia. Oleh karenanya, rasa penasaran saya terawat hingga akhir ketujuh cerpen ini tandas.

Salah satu kenikmatan membaca karya terjemahan adalah adanya peluang yang lebih luas bagi kita untuk mengintip realitas negara lain. Benar adanya jika buku adalah jendela dunia. Ia mengajak kita berkeliling bagai hantu ke sebuah negara yang mungkin tidak akan kita datangi jika tidak berkepentingan. Terkhusus karya sastra, ia lebih dari sekadar ensiklopedia ataupun koran internasional. Ia menyisipkan ideologi bebas si penulis. Dirangkai dengan gaya bahasa yang magis. Dalam Potongan Tubuh saya menilik kesungguhan penerjemah dalam mempertahankan gaya bahasa para penulis.

Pada cerpen pertama, “Benar, Aku Seekor Jerapah?” karya Park Min-gyu, saya teringat akan novel “Lubang dari Separuh Langit” karya Afrizal Malna. Gaya kepenulisannya yang tanpa tanda petik dua pada kalimat langsung ini memiliki kesan tersendiri. Ia lebih melebur. Pembaca seperti sedang membelah dirinya menjadi beberapa karakter kemudian berbicara pada dirinya sendiri. Gaya ini tidak kita temukan dalam enam cerita selanjutnya. Teknik peletakan cerita semacam ini sebagai pembuka buku kumpulan cerpen, saya rasa, cukup menghentak. Di sinilah ketertarikan pembaca semakin diikat.

Cerpen pembuka menghadirkan titik-titik realitas berbalut surealis. Diceritakan bagaimana pedihnya kehidupan anak muda yang terlahir dari keluarga dengan perekonomian menengah ke bawah. Bersekolah. Bekerja. Bertemu orang tua di tempat kerja tapi harus pura-pura tidak kenal. Orang tua sakit. Teman yang baik. Kemunculan jerapah di tengah kota. Di balik gaya cerita yang surealis, kita dapat mengintip kehidupan masyarakat urban Korea Selatan yang jauh dari kata tenang juga senang. Tiada senandung penuh optimisme macam drama Korea dan kilau-kilau perjalanan video musik para seleb. Semua, dalam cerita tersebut, dilakoni oleh masyarakat biasa. Masyarakat dominan.

Latar masyarakat dominan juga dapat kita intip dari cerpen “Istri Lelaki Miskin” karya Eun Hee-kyung dan “Menara Pasir” karya Jo Jung-rae. Keduanya memberi celah kepada pembaca untuk melihat ruang-ruang domestik masyarakat urban. Hari-hari dipenuhi dengan pekerjaan. Lupa pasangan dan anak di rumah. Minum minuman keras bersama kolega dan teman. Bisnis. Seni urban. Politik nepotisme. Meski bukan hal yang baru di dunia sastra, teknik bercerita kedua penulis Korea ini patut diacungi jempol karena gagasannya mampu mengulik perasaan pembaca sampai cerpen selesai dibaca. Ia mencetuskan pokok pikiran baru di kepala pembaca; perihal keadilan pasangan dalam rumah tangga dan kejujuran dalam ruang kesenian—yang katanya bermartabat.

Lain halnya dengan ketiga cerpen di atas, “Pecinan” karya Oh Jung-hee dan “Tanah Milik Ayah” karya Lim Chul-woo justru membawa kita terbang ke ruang pedesaan. Ruang yang di sana waktu terasa berjalan lambat. Namun, jangan sangka kehidupan yang disuguhkan kontradiktif dengan kehidupan kota. Perbedaan relativitas waktu ternyata tidak mengubah nasib para tokoh. Mereka tetap menjalani hidup tertatih-tatih. Sampai di sini, saya sebagai pembaca pun bertanya, apakah memang realitas tidak pernah indah? Atau memang ada kesadaran dari penerbit untuk hanya memilih cerpen-cerpen Korea Selatan yang bernuansa tragis? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, realitas tragis yang muncul dari setiap cerpen terasa membekas. Betapa suatu tempat, sebagaimanapun maju dan berkelasnya, tetaplah memiliki kepedihan yang bisa juga dirasakan oleh masyarakat dari tempat berkembang. Kepedihan dalam cerpen-cerpen ini bersifat universal.

Dua cerpen terakhir adalah ping pong dari kehidupan kota dan desa. “Sebatang Jarum” karya Cheon Un-yeong melibatkan teka-teki menarik dalam teknik bercerita. Seperti sedang duduk di kelas matematika murni, kita tidak sedang memecahkan masalah menggunakan rumus yang telah disederhanakan, melainkan harus mengurai rumus sederhana tersebut. Ditambah dengan alur campur, pembaca akan menikmati bagaimana pergolakan batin seorang anak yang kerasan tinggal di kota tapi harus kembali ke desa karena suatu hal. Inilah gagasan klise yang berhasil diolah menjadi cerpen menarik!

Dan, “Potongan Tubuh” karya Pyun Hye-young yang menjadi cerpen terakhir sekaligus judul buku ini serupa bunyi “debbum!” pada akhir sebuah cerita cinta di sebuah kamar apartemen; ia seperti makian mantan kekasih yang sulit terlupakan. Tokoh yang harus berusaha keras menggenali tubuh istrinya. Terjerat utang. Kesulitan usaha. Hubungan suami istri yang dingin tapi awet. Ketabahan.

Ya, ketabahan. Manusia-manusia yang tabah. Akhirnya, itulah ungkapan yang menurut saya bisa merangkum gerak para tokoh dalam ketujuh cerpen ini.

Ilda Karwayu

Tinggal di Mataram. Mengajar Bahasa Inggris dan BIPA di Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI). Menulis puisi dan esai. Buku puisinya “Eulogi” (PBP, 2018). Pernah hadir sebagai salah satu emerging writers pada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019. Belajar menulis kreatif di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, NTB.
Ilda Karwayu

Latest posts by Ilda Karwayu (see all)

Comments

  1. Sayyidah Hartina Reply

    Lope lope, Mba~

  2. Anonymous Reply

    Salam NTB!

  3. Witri Reply

    Saya suka ulasannya. Terima kasih, Mbak! Saya jadi punya target bacaan baru dari sastra Korea Selatan. 🙏😃

  4. Agung Wahyudi Reply

    Salam dari Kudus… Sangat menginspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.