Menjernihkan Moral Humanis Kapitalisme

Judul : Humanisme dan Kapitalisme: Kajian Pemikiran Moralitas dan Etika Ekonomi

Penulis: Bernard Murchland

Penerjemah : Afthonul Afif

Tahun terbit : Oktober, 2019

Tebal : viii + 100 halaman

Penerbit : Basabasi

Kapitalisme. Mendengar kata tersebut secara spontan kita lekatkan pada anti-kemanusiaan, anti-moral, kedzoliman, keserakahan dan istilah peyoratif lainnya. Secara serampangan kata kapitalisme digunakan sekadar sebagai cacian sekaligus kambing hitam atas segala kerusakan di muka bumi ini. Mereka yang memusuhi kapitalisme sendiri tampaknya memiliki gambaran keliru sekadar kritik retoris-metaforis yang hanya mengejar sensasi tanpa mendalami substansi, bahkan para pendukung kapitalisme sendiri malah membenarkan kesalahpahaman tersebut dibanding menjelaskan kapitalisme yang sebenarnya. Buku ini ditulis oleh Bernard Murchland dalam upaya menginterupsi pemahaman common sense tersebut dengan memperlihatkan bahwa sebetulnya kapitalisme itu adalah jenis humanisme yang integral. Argumentasi Bernard dimulai dengan pemetaan para pengkritik kapitalisme di Inggris dan perkembangannya di Amerika. Setelah itu, Bernard menuliskan pokok pemikirannya tentang kapitalisme integral dengan perumusan prinsip-prinsip moral demokratis. Prinsip-prinsip moral tersebut dibuat sebab kegagalan utama kapitalisme sebagai humanisme integral adalah tergerusnya basis-basis moralnya, bukan moral pra-modern yang secara getol disuarakan sosialisme dan humanisme konservatif untuk mengkritik kapitalisme.

 

Kapitalisme di Inggris dan Amerika

Sebagai tempat munculnya revolusi Industri yang dianggap embrio kapitalisme, Inggris menjadi fokus kajian di dalam bab pertama buku ini. Industri Inggris berkembang bersanding dengan struktur feodal yang masih mencengkeram, termasuk agama (Murchland, 2019: 2). Fenomena industri ini menciptakan kelompok yang cenderung mendukung industri dan yang menolaknya. Untuk itu, Inggris di era tersebut mencerminkan dua humanisme yang tengah dalam pertarungan (Murchland, 2019: 2). Di satu sisi, terdapat humanisme yang mendukung perkembangan-perkembangan modern, seperti dalam bidang sains, demokrasi, dan kapitalisme. Humanisme ini dipelopori oleh Francis Bacon, John Locke, Adam Smith, Jeremy Bentham hingga John Stuart Mill. Sedangkan humanisme yang menginduk terutama pada sumber-sumber keagamaan memuncak pada Thomas Carlyle, John Ruskin, dan Matthew Arnold. Humanisme corak ini menentang peradaban ekonomi dan industri yang sedang bertumbuh dengan alasan dianggap itu ajaran materialistik serakah dan egosentris yang tidak sesuai dengan ajaran moral keagamaan. Semangat tersebut datang dari idealisme Jerman yang saat itu begitu mempengaruhi Eropa termasuk Inggris, yakni anggapan bahwa moral ideal keagamaan dan feodal dapat mengatur kehidupan dengan sempurna.

Di samping itu, memang benar kaum sosialisme secara getol menyerang kapitalisme, hingga kita memiliki kesan bahwa satu-satunya fungsi kaum sosialis memang untuk menyerang kapitalisme. Dari sini seolah-olah fenomena budaya pasar diserang dari dua sisi, yakni dari kanan terdapat humanisme konservatif agama dan dari kiri terdapat kaum sosialis. Akan tetapi apabila ditelusuri sebenarnya baik konservatif maupun sosialis sama-sama mendasarkan kritik mereka pada ukuran norma-norma pra-modern, suatu norma ideal yang dibayangkan sebagaimana dampak idealisme Jerman. Sehingga Bernard merangkumnya menjadi satu dan menelanjangi pemikiran-pemikiran penyerang kapitalisme tersebut. Sebagaimana Carlyle yang mengganggap prinsip untung-rugi pasar bertentangan dengan hukum Tuhan karena akan menyengsarakan kaum buruh. Secara tidak langsung Carlyle membuka jalan bagi fasisme karena membatasi kemerdekaan manusia untuk bertransaksi secara bebas (Murchland, 2019: 8). Atau Ruskin yang menganggap menjadi kaya sama artinya dengan seni menciptakan ketimpangan maksimum (Murchland, 2019: 11). Justru kapitalisme membuka demokratisasi perdagangan sehingga manusia dapat bersaing secara bebas dan sehat dengan kecerdasan mereka masing-masing. Sebenarnya moral pra-modern itu sendiri yang malah membelenggu kemerdekaan berpikir manusia.

Sedangkan di Amerika, kapitalisme dikritisi dengan semangat memelihara warisan klasik. Hal yang sama filsafat idealis dan para intelektual romantik mempengaruhi Amerika. Sehingga Amerika tumbuh dengan dua kebudayaan, yakni menjunjung moral budaya tinggi dari norma-norma tradisional dan mendorong kemajuan inovasi hal-hal baru (Murchland, 2019: 33). Mentalitas budaya tinggi itulah yang mendasari penolakan terhadap kapitalisme. Sebagai contoh T.S Eliot, seorang sastrawan dan humanis Amerika, menyatakan kecenderungan individualisme yang tak terbatas akan melahirkan masyarakat yang tercerabut dari tradisi, terasing dari agama dan semakin mudah terjebak dalam pengaruh massa, kapitalisme merupakan antitesis bagi masyarakat Kristen karena kapitalisme menghamba pada keuntungan, mengeksploitasi buruh dan sumber daya alam (Murchland, 2019: 56).  Kaum humanis ini berobsesi menjaga dan mempromosikan warisan klasik dengan menyerang berbagai naturalisme yang sedang muncul, seperti sains, filsafat, dan sastra, bahkan demokrasi sendiri. Sebenarnya yang mereka tolak tidak berdasar pada ekonomi-politik Adam Smith yang mana kebebasan individu dapat dipandu oleh moral manusia. Jadi, sebetulnya bukan kepemilikan yang perlu dikendalikan, namun hasrat alamiah manusia yang tiada habisnya. Melalui kesadaran akan kebenaran yang terbenam di dada manusia itu sendiri, maka kewajiban ideal masyarakat bukanlah hukum terpenting, bukan pula sumber integritas, melainkan kecerdasan dan kelembutan hati manusia akan menciptakan moralnya sendiri. Keadilan akan tercipta sendiri dalam sistem pasar dengan moral manusia yang terus bertumbuh, bukan moral primitif yang diciptakan dibelakang (Murchland, 2019: 59).

 

Kapitalisme Sebagai Humanisme Integral

Bab 3 dan 4 buku ini dapat dikatakan sebagai pokok pikiran dari Bernard Murchland. Sebab sudut pandang lain terhadap kapitalisme ditunjukkan Bernard, dan keterangan tentang segi irasional persoalan-persoalan sosial yang bersumber dari sudut pandang idealisme ditampilkan. Idealisme ditangan pengkritik kapitalisme hanya digunakan sebagai alat pemukul. Bagi Murchland, idealisme adalah filsafat yang tidak sesuai dengan dunia saat ini (Murchland, 2019: 77). Pengandaian visi moral yang disediakan idealisme justru mengarah pada pembungkaman dari perubahan, dan melupakan hubungan dialektis antara tujuan ideal dan kehidupan nyata yang membentuk humanisme integral. Humanisme integral tidak memenuhi suatu cita-cita dengan pemaksaan dalam bentuk moral abstrak, sebagaimana pengkritik kapitalisme.

Baik kaum sosialis maupun para penjaga budaya tinggi belum memberikan tempat yang layak bagi kapitalisme demokratik dalam kerangka kerja humanistik mereka. Padahal kapitalisme demokratik pada dasarnya humanisme itu sendiri. Moralitasnya didasarkan pada kepentingan-diri yang diatur oleh mekanisme pasar. Model pasar dan perdagangan ini justru melembutkan moral-moral barbar manusia yang dulunya diselenggarakan melalui peperangan tiada henti yang dihasilkan dari hasrat alamiah tiada habisnya. Jika bangsa-bangsa terlibat perdagangan maka kemungkinan untuk berperang akan menurun dan perdamaian antar-bangsa akan tumbuh. Apalagi semangat keunggulan dan persaingan akan dilahirkan oleh perdagangan, kemudian terbawa ke pertumbuhan sains dan seni. Hal tersebut berujung pada terhapusnya kebodohan besar, manusia benar-benar menikmati hak istimewa sebagai makhluk rasional yang berpikir sekaligus bertindak, dengan memelihara kesenangan rohani sekaligus rohani (Murchland, 2019: 83).

Perdagangan tentu saja mendukung kebudayaan, karena keduanya diatur oleh prinsip kebebasan. Kebebasan berpikir dirawat oleh kebebasan pasar, bahkan sangat mungkin jika tidak ada kebebasan pasar, maka tidak ada kebebasan berpikir. Kapitalisme dan demokrasi sebenarnya satu napas. Dibanding sosialisme, kapitalisme demokratik lebih meyakinkan berdasar ukuran kebebasan, kemerdekaan berpikir, dan kreativitas. Untuk itu, kapitalisme merupakan suatu humanisme dengan dasar-dasar empiris. Akan tetapi, itu tidak lengkap dan sempurna sehingga memerlukan suatu rumusan humanisme integral (Murchland, 2019: 88). Dari sini, Murchland merumuskan sepuluh prinsip humanisme sebagai basis dialog yang mungkin akan disepakati oleh pengkritik maupun pembela kapitalisme. Sepuluh prinsip tersebut adalah prinsip keterasingan, kebebasan, rasionalitas, naturalisme, moralitas, masyarakat, tradisi, agama, kreativitas, dan subjektivitas. Tanpa sepuluh prinsip tersebut, kapitalisme demokratik justru suatu kontradiksi dari dalam. Memang kapitalisme masih jauh dari ideal, baik ketika menghadapi persoalan-persoalan serius dari dalam maupun dari luar. Terakhir Murchland menyatakan, jika dalam situasi di mana kapitalisme secara terbuka dimusuhi oleh banyak intelektual saja sanggup melakukan dan menghasilkan banyak hal, bayangkan apa yang terjadi jika mereka mendukungnya.

Moch Zainul Arifin

Penulis merupakan penikmat dan pembelajar Filsafat Politik dan Keadilan, Sastra dan Budaya.

Latest posts by Moch Zainul Arifin (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.